Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 54 - Putri Ayuku


__ADS_3

Aku dan Hendra memutuskan untuk tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga Helmut dan Qiana. Tidak akan ada gunanya bagi kami jika memberitahu Qiana mengenai apa yang baru saja kami lihat. Tetapi Hendra mengizinkan aku untuk memberitahunya pada saat yang tepat.


Dia benar. Kami sedang berlibur bersama. Membuat keributan di tempat ini hanya akan merusak suasana liburan yang sudah kami rencanakan bersama. Bila Qiana sendiri yang menangkap basah suaminya akan lebih baik daripada kami yang mengadukan tanpa bukti.


Suasana restoran pada saat makan siang jauh lebih buruk. Ada begitu banyak orang yang datang memenuhi ruang makan bagian dalam maupun luar restoran. Aku memanfaatkan keadaan itu untuk duduk di pangkuan suamiku. Teman-teman menggodaku yang aku responsi dengan senyuman.


“Apakah kalian para pria mau ikut bersama kami menonton film di kamarku atau kalian sudah punya rencana sendiri?” tanya Darla menyapukan pandangannya ke arah para suami.


“Aku hanya ingin duduk bermalas-malasan, jadi aku akan ikut istriku tersayang.” Edu tersenyum. Kami melihat ke arah Helmut dan Gio. Mereka juga setuju dengan Edu. Dan tidak ada seorang pun yang bertanya kepada Hendra.


“Dia tidak perlu ditanya. Kami sudah tahu jawabannya,” ucap Darla sambil mengedipkan matanya. Mereka tertawa bersama ketika aku hanya cemberut.


“Mau aku ambilkan buah lagi?” tanya Hendra melihat ke arah piringku yang sudah kosong. Aku segera menganggukkan kepalaku. Teman-teman bersiul menggoda kami.


Bukan hanya Hendra, para suami sahabatku juga ikut berdiri dan berjalan mendekati konter di mana buah-buahan yang sudah dipotong disajikan. Suamiku berjalan mendekati konter berisi kue dan roti. Kalau dia tidak berhati-hati, teman-temanku bisa curiga bahwa aku sedang hamil.


Seorang perempuan muda datang ke konter yang sama. Dia melihat ke arah Hendra, tetapi suamiku hanya fokus memilih kue dan tidak menoleh ke arahnya. Lalu mulut wanita itu bergerak sedang mengatakan sesuatu. Lalu tangannya dengan lancang berpura-pura mengambil roti yang sama sehingga tangannya bersentuhan dengan tangan Hendra. Perempuan kurang ajar.


Aku berniat berdiri untuk memberi perempuan itu pelajaran, tetapi Hendra telah lebih dahulu melakukannya. Entah apa yang dia katakan sehingga wanita itu pergi dengan kesal, menjauh darinya. Bagus. Apa dia tidak melihat ada cincin di tangan kanan Hendra? Dasar perempuan mata duitan. Dia pasti tertarik karena melihat penampilan suamiku yang menunjukkan bahwa dia pria beruang. Karena kalau hanya mengandalkan wajahnya saja, tidak akan ada wanita yang mau menggodanya.


Tidak tahu ada acara apa di hotel, kami melihat api unggun dinyalakan di tepi pantai. Selesai makan malam, kami berjalan mendekati kerumunan yang mengelilingi api tersebut. Ternyata mereka hanya rombongan yang sedang berlibur bersama, tidak ada acara khusus dan kami dipersilakan bergabung. Aku sudah memakai baju hangat, jadi aku tidak akan kedinginan bila berada di dekat pantai.


Kami duduk bersama mengelilingi api. Hendra yang sudah duduk lebih dahulu menepuk tempat di depan tubuhnya, maka aku duduk di antara kedua kakinya. Aku tersenyum saat dia memelukku dari belakang. Aku menyandarkan punggungku ke dadanya. Duduk dengan posisi ini terasa lebih hangat.

__ADS_1


Bukan hanya pasangan suami istri yang terdiri dari berbagai rentang usia yang duduk di sekitar kami. Ada juga yang membawa anak-anak atau datang bersama teman-teman. Aku tersenyum melihat anak-anak sedang memanggang sosis dan sayuran di dekat api unggun. Aroma sedap makanan segera memenuhi tempat itu.


“Apa kamu tahu legenda yang terkenal dari pulau ini yang aku suka?” bisik Hendra di dekat telingaku. Aku menoleh ke arahnya.


“Apa?” tanyaku ingin tahu.


“Legenda Putri Ayu,” jawabnya.


“Ah, aku tahu legenda itu. Mengenai empat anak raja yang mencari sumber bau harum yang mereka cium. Hanya satu dari mereka yang berhasil mencapai tujuan dan ternyata wangi itu berasal dari sebuah pohon. Ada seorang gadis cantik berdiri di dekat pohon itu yang membuat anak raja jatuh cinta. Mereka menikah dan anak raja tinggal bersama istrinya tersebut.” Aku menceritakannya dengan penuh semangat. “Mengapa kamu suka legenda itu?”


“Karena kamulah Putri Ayuku.” Dia mencium pipiku. “Tidak mudah mendapatkan kamu. Aku harus melewati berbagai rintangan dan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa bersamamu. Seperti yang dialami anak raja itu. Terima kasih bersedia tetap bersamaku, sayang.”


Aku menoleh ke arahnya, lalu mengecup bibirnya. Dia tersenyum dan menciumku lagi. Kami masih saling berpelukan dan menikmati angin yang semakin dingin, mendengar bunyi ombak yang beradu dengan gelombang datang, juga bunyi gemerisik kayu yang terbakar api.


Seseorang memetik gitar, aku tersenyum mendengar nada yang aku kenal tersebut. Ketika pria itu menyanyikan lirik pertama lagu, kami juga ikut bersenandung bersamanya. I finally found someone who knocks me off my feet. I finally found the one who makes me feel complete.*


Usai sarapan pada hari Minggu, kami bersantai di kamar masing-masing. Hendra tidak mengizinkan aku yang mengepak pakaian. Karena aku yang melakukannya sebelum keberangkatan, maka giliran dia yang mengepak sebelum kepulangan kami. Aku tidak keberatan dengan itu.


Teman-teman keluar bersamaan dari kamar mereka saat Hendra menutup pintu kamar. Kami berjalan bersama menuju elevator. Hanya Helmut yang tidak ada di antara kami.


“Dia sudah menunggu di bawah. Aku ketinggalan sweater kesukaanku di kamar mandi, makanya aku kembali lagi ke kamar,” ucap Qiana. Kami mengangguk mengerti.


Tiba di lantai dasar, kami berjalan menuju konter resepsionis. Darla dan suaminya yang bicara dengan petugas, sedangkan kami duduk di sofa yang disediakan. Qiana melihat ke sekitar kami dengan bingung. Mungkin dia mencari suaminya. Karena kopernya ada di ruang tunggu, sedangkan Helmut tidak terlihat di mana pun.

__ADS_1


“Biar aku yang mencarinya,” kata Hendra menawarkan diri. Qiana segera menggelengkan kepalanya.


“Kamu jaga istrimu, biar aku yang mencari suamimu,” ucap Qiana dengan nada menggoda. Aku dan Lindsey tertawa kecil mendengarnya. “Aku segera kembali.”


Aku tahu apa yang Hendra pikirkan ketika menawarkan bantuannya. Tetapi kami tidak bisa berbuat apa-apa. Seandainya Helmut sedang berada di suatu tempat berciuman dengan wanita yang kemarin, aku kehilangan rasa hormat untuknya. Satu kali adalah kesalahan yang bisa dipahami, tidak untuk yang kedua kalinya.


“Kamu harus mengikuti sahabatmu,” bisik Hendra mengingatkan. Aku mengangguk. Aku mengikuti Qiana dengan menjaga jarak aman. Mendengar langkah kaki di belakang, aku menoleh. Lindsey ikut berjalan bersamaku dengan wajah bahagia.


“Apakah kamu juga mau ke toilet? Aku ikut.” Dia salah paham, tetapi aku tidak meralatnya. Qiana berhenti saat dia melihat sesuatu di sebelah kirinya. “Ada apa dengan Qiana?”


“Mengapa Nidya ada di sini?” tanya Qiana setelah kami berada di dekatnya. Aku dan Lindsey melihat ke arah yang dilihatnya. Wanita yang kemarin dicium Helmut.


“Kami tidak sengaja bertemu saat aku keluar dari toilet,” jawab Helmut. Dia berjalan mendekati istrinya. Wanita itu terlihat tidak suka ketika pria itu merangkul sahabatku.


“Oh, ya? Kamu datang ke hotel ini bersama siapa, Nidya? Mengapa kamu hanya menyapa suamiku dan tidak menyapaku juga?” tanya Qiana ingin tahu.


“Aku ada rapat dengan rekan satu partai kita,” jawab wanita itu dengan tenang. Qiana melihat ke sekitarnya. Wanita bernama Nidya itu bertukar pandang dengan Helmut.


“Siapa? Di mana mereka? Mengapa tidak mengajak suamiku juga dalam rapat kalian?” tanya Qiana.


“Sayang, kita harus pergi.” Helmut melihat ke arah resepsionis. Kami juga melihat ke arah yang sama. Darla melambaikan tangannya ke arah kami. “Darla sudah menunggu kita.”


“Mau sampai kapan kalian membohongiku seperti ini? Apa kalian pikir aku tidak melihat apa yang baru saja kalian lakukan di balik dinding ini tadi?” ucap Qiana dengan suara bergetar. Aku melihat wajah Helmut memucat. Oh. Tidak. Apakah Qiana melihat apa yang juga sudah aku dan Hendra lihat?

__ADS_1


“Suamiku sudah menikah, apa kalian tidak malu dengan orang yang lalu-lalang melihat perbuatan dosa kalian?” Qiana mengangkat tangannya saat Nidya membuka mulut seperti ingin mengatakan sesuatu. “Tidak perlu menyangkal karena di atas ada CCTV. Mudah saja bagiku untuk mendapatkan bukti bahwa kalian baru saja berciuman begitu mesra.”


Judul lagu: I Finally Found Someone*; Pencipta: Barbra Streisand, Bryan Adams, Marvin Hamlisch, Robert John “Mutt” Lange; Label: Columbia, A&M; Produser: David Foster; Diproduksi: 1996.


__ADS_2