
“Hai, Nak. Ayo, silakan duduk,” kata Mama menyambut kedatangan kami. Dia menunjuk ke arah sofa dengan tiga dudukan di mana tamunya sedang duduk.
Tentu saja Hendra lebih memilih sofa yang masih kosong. Aku menatapnya dengan bingung. Bila dia duduk di sofa satu dudukan, maka aku …. Para wanita, termasuk aku, menarik napas terkejut ketika dia menarikku untuk duduk di pangkuannya. Hanya Papa yang tertawa geli.
“Hendra, ada tamu. Tolong, bersikap sopanlah sedikit.” Mama terlihat tidak suka dengan sikap putranya, tetapi suamiku tidak menurutinya.
“Aku memangku istriku, di mana letak tidak sopannya, Ma?” tanya Hendra acuh tak acuh.
“Apa kamu juga ingin aku pangku, sayang?” kata Papa menggoda Mama. Aku harus menutup mulut dengan tanganku untuk menyembunyikan senyumku.
“Kalian berdua selalu kompak untuk membuat aku marah.” Mama menatap ke arah putranya sambil menggeleng pelan. Dia menoleh ke arah wanita yang ada di depannya. “Keva, maafkan sikap putraku. Ah, kamu mau menambah kuenya?”
“Tidak apa-apa, Tante.” Wanita itu memberikan piringnya kepada Mama. “Potongan yang kecil saja, ya, Tante. Kuenya enak tetapi kita baru selesai makan siang.”
“Aku mengerti. Aku senang kamu menyukai kue ini. Koki kami sangat ahli membuat masakan apa pun dari negara mana pun.” Mama memberikan piring yang telah diisinya dengan sepotong kue.
“Wah! Apa Tante mendaftarkannya untuk mengikuti les memasak?” tanya Keva ingin tahu.
“Tidak. Tetapi bila dia ingin ikut kursus memasak, kami selalu mengizinkannya dan membayar semua akomodasinya,” jawab Mama dengan bangga. Keva mengangguk pelan, lalu menoleh.
“Satya, aku melihat hotel milikmu berjalan dengan baik. Apa kamu sudah punya rencana untuk membeli hotel lainnya? Ada beberapa kenalanku yang berencana menjual hotel milik mereka karena ingin beralih bidang. Rata-rata masih dalam kondisi baik dan punya karyawan yang loyal juga.” Keva tersenyum begitu manis.
Satya. Mengapa dia memanggil suamiku dengan nama itu? Apa dia sengaja memamerkan di depanku bahwa mereka pernah punya hubungan yang dekat sebelumnya? Semalam Hendra tidak henti menggoda aku sehingga kami belum sempat membicarakan tentang dia.
__ADS_1
Aku menoleh ke arah suamiku karena dia hanya diam saja dan tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dari sudut mataku, aku juga bisa melihat Papa dan Mama menunggu respons darinya. Suamiku menoleh ke arahku, lalu tersenyum. Apa dia tidak mendengar pertanyaan tadi?
“Hendra, Keva bertanya kepadamu,” kata Mama dengan heran. “Apa kamu tidak mendengarnya?”
“Namaku Hendra, bukan Satya,” jawab suamiku memberi penjelasan. Oo, itu masalahnya.
“Kamu tidak keberatan sebelumnya. Semua teman-teman sekolah juga memanggil kamu Satya,” ucap Keva membela diri. Begitu. Mereka dahulu teman satu sekolah.
“Itu nama kakekku dan aku sudah bilang jangan. Aku tidak pernah menanggapi siapa pun yang menyebut aku dengan nama itu.” Hendra menelengkan kepalanya. “Kamu yakin kamu adalah teman satu sekolahku? Kalau iya, mengapa kamu tidak tahu itu?” Wajah wanita itu memerah.
“Baiklah, bila itu maumu. Hendra, apa kamu mau melihat profil beberapa hotel milik kenalanku yang dijual?” Keva mengulangi pertanyaannya kembali.
“Tidak, terima kasih,” jawab Hendra singkat.
Wanita ini berhadapan dengan pria yang salah. Hendra tidak akan mengubah pikirannya semudah itu. Jika dia bilang tidak, maka jawaban itu tidak akan berubah sekalipun gempa bumi sedang melanda. Sebaliknya, saat dia bilang iya, maka dia akan memberikan seluruh tenaganya untuk mewujudkan keinginannya.
Tetapi itulah yang membuat aku jatuh cinta semakin dalam dengan suamiku. Dia adalah pria yang memegang kata-katanya. Karena itu dia sangat berhati-hati dalam mengucapkan janjinya. Aku menoleh ke arahnya saat aku merasakan dia mengusap-usap punggungku. Yang benar saja. Apa dia ingin membuat mamanya bertambah marah.
“Aku datang ingin membicarakan hal yang serius dengan Mama.” Hendra melihat ke arah mamanya. “Aku sangat berharap bisa bicara berempat saja. Sayang sekali, Mama memanfaatkan kedatanganku dengan mengundang orang asing ke rumah ini.”
“Apa maksudmu, Nak? Aku tidak punya maksud apa pun dengan mengundang Keva dan anaknya ke rumah ini,” ucap Mama keberatan.
“Ma, aku tahu maksud Mama memperkenalkan aku secara khusus dengannya kemarin. Setelah gagal mendekatkan aku dengan perempuan muda, Mama mengubah strategi dengan membawa seorang janda yang usianya tidak jauh dariku?” Hendra mengarahkan pandangannya kepada Mama.
__ADS_1
“Sebentar, Tante. Apa maksud Hendra bicara seperti itu? Apa Tante punya maksud lain mengundang aku dan Valeria makan siang bersama?” tanya Keva kepada Mama. Pertanyaan itu membuat Mama menatapnya cukup lama. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
“Aku masih bicara dengan ibuku, kamu telah bersikap tidak sopan dengan memotong ucapanku,” ujar Hendra dengan tajam. Keva membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, suamiku segera menambahkan, “Aku dan Za akan tetap bersama, Ma. Tolong, berhenti melakukan kebodohan ini. Jangan bawa lagi orang yang akan membuat masalah dan menimbulkan skandal dalam keluarga kita. Apa Mama lupa siapa dia?”
“Apa maksudmu, Nak?” tanya Papa. Dia melihat ke arah Keva. “Memangnya siapa dia?”
“Dia yang dahulu menyebarkan gosip tidak benar mengenai aku. Dia sudah punya tunangan tetapi menolak karena dia hanya ingin menikah denganku. Aku susah payah memberi penjelasan kepada keluarga tunangannya. Jangan sampai terjadi lagi. Aku tidak mau berhadapan dengan Nora versi kedua.” Hendra menatap Mama yang hanya bisa merapatkan bibirnya.
“Kamu telah menuduhku sembarangan, Hendra. Aku tidak pernah melakukan hal itu,” ucap wanita itu membantah. “Aku akui bahwa aku mencintai kamu. Tetapi itu karena aku masih muda dan naif. Dengar, ya, aku tidak pernah menyebarkan gosip apa pun.”
“Aku tidak pernah menuduh orang tanpa bukti. Apa perlu aku tunjukkan semua bukti dan saksi kepadamu?” tanya Hendra mengancam. Keva terdiam. “Aku beritahu kamu satu hal. Aku tidak mau menikah dengan perempuan dari kalangan orang kaya karena kalian selalu merasa paling benar.”
“Aku tidak pernah merasa dipermalukan seperti ini. Aku hanya datang memenuhi undangan dan kamu menuduh aku sembarangan.” Keva berdiri. Dia mengulurkan tangannya kepada putrinya. “Ayo, kita pulang, sayang.”
Wanita itu menggandeng tangan putrinya menuju pintu. Aku melihat Mama dengan bingung. Tidak biasanya Mama hanya diam saja dan tidak melakukan sesuatu. Bukankah Mama ingin mendekatkan perempuan itu dengan Hendra?
Melihat tidak ada yang berdiri mengantar Keva keluar, aku berniat untuk melakukannya tetapi Hendra menahan tubuhku dengan tangannya. Aku memberinya tatapan bahwa yang kami lakukan ini tidak benar. Dia tetap saja tidak mau melepaskan aku.
“Ada apa, Ma? Tidak biasanya Mama tertegun begitu. Apa aku telah bicara terlalu keras?” tanya Hendra. Kami semua mengarahkan perhatian kami kepada Mama. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyakiti Mama. Tetapi aku melakukan ini demi kebaikan kita semua.”
“Bukan kamu,” kata Mama pelan, nyaris berbisik.
“Apa?” tanya Hendra, sepertinya dia tidak mendengar apa yang Mama ucapkan.
__ADS_1
“Bukan kamu. Aku terkejut Keva bicara seperti itu. Dia yang ingin datang untuk makan siang bersama. Aku tidak mengundangnya.” Mama melihat ke arah pintu. “Aku hanya bersikap sopan kepadanya. Lalu mengapa dia mengatakan bahwa aku yang mengundang dia dan anaknya untuk datang?”