
Jangan sampai Hendra mengetahuinya. Jangan sampai Hendra tahu bahwa aku telah tidur dengan laki-laki lain. Dia pasti akan sangat marah. Pria ini bahkan bukan orang biasa melainkan mantan kekasihku. Pria yang selalu aku sebut masih mengisi hatiku setiap kali kami bertengkar. Dia tidak akan pernah mengampuniku jika dia sampai mengetahuinya.
Aku tidak mau membayangkan konsekuensi apa yang akan dialami oleh keluargaku atas perbuatan dosaku. Ya, ampun, Ara. Apa yang merasuki kepalamu pada malam itu? Mengapa kamu mau saja dibawa ke hotel dan tidur dengannya?
Tidak. Ini bukan saatnya untuk menyalahkan diri sendiri atau mengasihani diri. Aku harus fokus. Aku tidak boleh bersikap seperti orang yang baru saja melakukan kesalahan besar. Hendra akan curiga dan semuanya akan berakhir untukku dan keluargaku.
Oke. Aku harus berusaha untuk tetap tenang. Hendra akan pulang besok malam, jadi waktuku tidak banyak. Aku hanya perlu bersikap seperti biasanya. Turuti apa yang dia mau, dengarkan apa yang dia katakan, dan jangan membantah. Seperti yang selama ini aku lakukan sejak kami menandatangani surat perjanjian yang mengekangku ini.
Alarm ponselku berbunyi, aku menoleh. Aku sengaja memasang alarm lebih dari satu kali agar aku tidak lupa dengan tugasku pada hari ini. Yuyun sangat pintar membuat kue, jadi aku memintanya memasak kue cokelat yang pasti akan disukai Lindsey.
Tempat tinggalnya sangatlah besar. Apalagi dengan koleksi mobil mewah milik suaminya, mereka mengkhususkan lantai satu sebagai garasi dan ruang pameran. Edu suka sekali membicarakan tentang mobil koleksinya kepada tamu yang datang. Ruang pameran itu memudahkannya untuk bercerita sambil menunjukkan kelebihan pada masing-masing koleksinya tersebut.
Lindsey menyambut kedatangan kami dengan wajah bahagia. Kami terkejut bahwa kami tiba pada saat yang hampir bersamaan. Darla lebih dahulu, kemudian Qiana, dan yang terakhir aku. Kami bergantian memeluk dan mencium pipi satu sama lain, lalu masuk ke rumahnya dan segera menuju ke lantai atas. Aku tidak pernah berhenti kagum melihat koleksi mobil Edu.
“Aku harap kalian tidak keberatan makan masakan Padang hari ini.” Lindsey berterima kasih kepada pelayannya yang membukakan pintu ruang makan untuk kami. “Aku rindu masakan Indonesia.”
__ADS_1
“Aku lapar. Aku akan makan apa pun yang rasanya enak,” ucap Darla berkelakar.
Setelah makan siang, kami duduk bersama di ruang santai sambil menikmati minuman kopi dan kue cokelat. Kami memutuskan untuk menghabiskan rujak yang dibawa oleh Darla belakangan. Lindsey menjadi orang pertama yang menceritakan pengalamannya selama berada di Amerika.
Calon besannya adalah orang yang baik dan sangat ramah. Mereka diajak mengunjungi tempat-tempat wisata selama berada di sana. Karena belum pernah datang ke Indonesia, mereka sepakat untuk mengadakan acara pernikahan anak-anak mereka di sini. Lalu setelah acara, mereka akan berlibur ke beberapa obyek wisata yang terkenal, termasuk Bali.
Menyebut nama Bali, kami juga mendiskusikan tentang rencana kami pada minggu berikutnya. Putri Darla akan menikah pada hari Jumat depan. Darla sudah membeli tiket pesawat pulang-pergi, juga memesan kamar untuk kami selama akhir pekan. Dia mengingatkan kami agar menjemput pakaian kami masing-masing dari penjahit. Kami akan berpakaian seragam pada acara tersebut.
Para suami mengejek rencana kami itu, tetapi kami tidak peduli. Kami bukan lagi orang asing. Kami adalah sahabat baik dan telah mengalami banyak hal bersama, jadi menunjukkan kepada orang-orang bahwa kami adalah sahabat dengan memakai baju berwarna senada adalah sebuah keharusan. Kami senang melakukannya.
“Tidak biasanya suamimu tidak meneleponmu, Zahara.” Qiana melihat ke arahku dengan tatapan penuh arti. Darla dan Lindsey melakukan hal yang sama. Aku tertawa kecil.
“Kamu baru menyampaikannya sekarang?” protes Lindsey.
“Karena aku tahu kalian pasti akan menanyakannya.” Aku tertawa geli.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, selama di Bali nanti, aku tidak ingin ke mana-mana. Aku hanya mau duduk dan menikmati pantai. Aku tidak akan pergi ke mana pun di luar hotel. Tetapi kalian bisa pergi ke mana saja yang kalian mau. Aku hanya lelah setelah berjalan ke sana kemari selama di Amerika,” ucap Lindsey dengan wajah memelas.
“Kalian boleh melakukan apa pun yang kalian mau,” kata Darla. “Bersantai, jalan-jalan, belanja, tidak ada peraturan khusus selama kita berlibur bersama. Aku akan ikut Lindsey. Persiapan pernikahan ini telah menyita seluruh tenaga dan waktuku. Aku ingin sekali duduk dan bersantai.”
“Aku tidak keberatan.” Qiana menimpali. Aku juga setuju dengan rencana tersebut. Bali bukanlah tempat baru bagiku. Aku sudah pernah ke sana beberapa kali dengan Hendra. Walaupun ada tempat yang ingin aku jelajahi, aku bisa melakukannya pada kesempatan yang lain.
Waktu yang kami tunggu-tunggu pun tiba. Dua orang pelayan masuk ke ruangan dengan membawa baki, lalu meletakkan dua piring besar berisi potongan buah-buahan dan empat mangkuk berisi bumbu rujak. Air liur kami segera terbit melihatnya.
Seharusnya buah itu terasa asam seperti yang ditunjukkan teman-temanku lewat ekspresi wajah mereka. Tetapi aku tidak merasakannya. Buah itu sangat enak dan dipadukan dengan bumbu rujak yang manis dan pedas, hmm, tidak ada makanan yang bisa menandingi lezatnya.
Melihat teman-teman menatapku dengan heran, aku menahan diri untuk tidak mengambil terlalu banyak buah untuk aku makan sendiri. Aku tidak mau membuat mereka curiga dengan kondisiku. Hendra berharap kami merahasiakan kehamilan ini sampai tiba waktu yang tepat untuk mengabari semua orang. Menyimpan rahasia bukanlah hal yang mudah.
Aku menunggu kedatangan Hendra dengan duduk di ruang keluarga. Banyak sekali yang telah terjadi dalam waktu dua minggu saja. Aku berhasil bersikap senormal mungkin di depan teman-temanku. Sekarang aku juga harus berhasil melakukannya di depan suamiku.
Bunyi kendaraan masuk ke halaman rumah adalah sinyal bahwa Hendra sudah pulang. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan debaran jantungku. Kemudian aku berdiri dan menyambutnya di depan pintu. Dia masuk dengan wajah bahagia. Ekspresi yang tidak pernah aku lihat sebelumnya.
__ADS_1
Dia memberikan buket bunga yang dia sembunyikan di balik tubuhnya. Beberapa kuntum mawar merah. Aku tersenyum melihatnya, lalu menerimanya dan menghirup wanginya. Yuyun yang sudah berdiri di sisiku segera menerimanya saat aku memberikan buket itu kepadanya.
Hendra melingkarkan tangannya di pinggangku, lalu menciumku begitu lama dan dalam sampai kami berdua kesulitan bernapas. “Aku sangat merindukanmu, sayang. Dan aku sangat mencintaimu.” Dia memeluk begitu erat. Aku merasakan dia menghirup leherku. Apa yang terjadi? Mengapa dia terlihat bahagia begini?