
“Hai, Zahara. Aku pikir aku adalah temanmu. Mengapa kamu tidak mengundangku ke acara ini?” tanya Dicky. Dia mengulurkan tangannya kepadaku.
“Kamu tidak diundang, maka artinya kamu bukanlah temannya. Mengapa kamu datang?” Hendra segera berdiri di antara kami berdua, menghalangi pria itu berjalan lebih dekat.
“Setahuku, Zahara adalah tuan rumah ini. Kamu siapa sehingga berani bersikap tidak sopan begini?” tanya Dicky menantang Hendra. Apa dia serius dengan ucapannya itu? Rumah ini adalah rumah Hendra, bukan rumahku.
“Kamu yang perlu bersikap sopan, Dicky.” Helmut menengahi. “Hendra adalah tuan di rumah ini. Dan andai kamu belum tahu, mereka sudah berbaikan. Tolong, jangan ganggu Zahara lagi.”
“Berbaikan? Mereka masih bercerai, maka aku masih punya kesempatan untuk mendekati Zahara,” kata Dicky tidak mau kalah. Dia menatapku. “Za, kamu serius mau berbaikan dengan orang yang sudah menyia-nyiakan hidupmu selama lima tahun terakhir ini? Aku selalu hadir di masa suka dan dukamu. Di mana dia? Di luar sana bersama wanita lain. Apa kamu tidak tahu?”
Sebelum Hendra sempat mengatakan sesuatu, Helmut meletakkan tangannya di dada Dicky dan mendorongnya keluar dari ruangan. Pria itu protes tetapi tidak membuat keributan apa pun. Qiana menatapku penuh permintaan maaf. Mau bagaimana lagi, yang terjadi sudah terjadi.
“Apakah istriku pernah memberikan harapan kepadanya? Sedikit saja.” Hendra menatap sahabatku, satu-persatu. “Dia kelihatan sangat yakin bahwa perasaannya berbalas.”
“Zahara tidak pernah memberinya harapan. Dia berkali-kali mengajaknya bicara atau bertemu, Zahara selalu menolaknya. Selalu,” jawab Darla dengan tegas. “Kamu lihat saja bagaimana gigihnya Aldo mendekatinya dahulu. Seperti itu juga dengan Dicky. Masih ada laki-laki yang lain, tetapi mereka sudah menyerah.”
“Masih ada laki-laki yang lain?” Hendra menatapku penuh protes. “Aku pikir sudah tidak ada rahasia lagi di antara kita, sayang.”
“Itu bukan rahasia.” Aku memutar bola mataku. “Kamu sudah lama tahu bahwa ada banyak pria yang tertarik kepadaku. Karena itu kamu menjagaku begitu ketat selama kita bersama.”
“Apa ada pria lain selain pria itu yang perlu aku waspadai?” Hendra kembali melihat ke arah ketiga sahabatku. Mereka serentak menggelengkan kepala mereka.
“Bagaimana denganmu?” Darla menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya. “Apa ada wanita lain di luar sana yang kamu berikan harapan? Aku dengar dari Qiana, baru-baru ini kamu terlihat bersama seorang wanita muda, cantik, dan kaya di sebuah restoran.”
__ADS_1
Kedua temanku ikut melakukan hal yang sama. Mereka menyilangkan tangan di depan dada mereka. “Aku tidak punya waktu untuk perempuan. Yang Qiana lihat itu adalah wanita yang ibuku dekatkan kepadaku. Tetapi aku tidak tertarik kepadanya.” Hendra melingkarkan tangannya di pinggangku. “Kalian sudah tahu bahwa hanya ada satu wanita yang aku cintai di dunia ini.”
“Oh, ya?” tanya Darla curiga. “Perempuan itu tidak akan terus mencoba jika benar kamu tidak pernah memberinya harapan.” Aku tertawa kecil.
“Aku pamit ke kamar mandi sebentar.” Hendra menatapku dengan wajah memelas, tetapi aku tidak bisa menahan lebih lama lagi. Dia harus menghadapi sendiri teman-temanku yang mempertanyakan kesetiaannya saat kami lama berpisah. Lagi pula dia sendiri yang memulai topik itu.
Menggunakan kamar mandi yang ada di kamar kami akan memakan waktu lebih lama, maka aku memutuskan untuk ke toilet yang ada di belakang rumah. Suara percakapan antara dua orang pria menghentikan langkahku. Dicky dan Helmut. Mengapa pria itu masih ada di sini?
“Tolong, pergilah, Dicky. Yang kamu lakukan ini tidak benar. Hendra dan Zahara tidak mengundang juga tidak menginginkan kehadiranmu di sini. Harus berapa kali aku mengatakan ini?” tanya Helmut terdengar frustrasi. Aku bersembunyi di balik pilar untuk mendengar pembicaraan mereka.
“Ada banyak orang di rumah ini, mengapa hanya aku yang diusir keluar?” tanya Dicky tersinggung. “Aku kecewa kepadamu, Helmut. Seharusnya kamu memberitahuku bahwa kamu akan datang ke rumah ini. Bukan malah membatalkan rencana kita lalu diam-diam datang ke sini.”
“Apa maksudmu? Mereka mengundangku, bukan kamu. Untuk apa aku memberitahumu tentang acara ini?” tanya Helmut bingung. “Dengar, dari awal aku selalu katakan bahwa Zahara bukanlah untukmu. Dia sudah punya seorang suami. Kamu jangan bicara seakan-akan aku yang mendorongmu untuk mendekatinya. Bahkan pada saat kita masih kampanye, aku melarangmu dengan keras untuk tidak mendekatinya.”
“Tidak, Dicky. Kamu tidak bisa kembali ke sana.” Aku mendengar langkah kaki mendekat ke arahku. “Ah, Liando, bantu aku. Sakti, kamu juga.”
“Lepaskan aku!” protes Dicky. Mereka kemudian melewati pilar di mana aku berada. Liando dan Sakti setengah menyeret Dicky keluar dari rumahku. Helmut bergegas membuka pintu depan, lalu menutupnya kembali. Aku menyembunyikan diri agar mereka tidak bisa melihatku.
Masalah apa lagi ini? Aku tidak pernah memberi harapan apa pun kepadanya, mengapa dia bersikap begitu? Hendra bisa salah paham andai dia yang ada di sini mendengarkan mereka bicara tadi. Apa yang ada padaku sampai laki-laki bersikap posesif? Dia bahkan bukan kekasihku.
Hanya Hendra yang aku izinkan melakukan hal itu kepadaku. Aku semakin mengerti mengapa dia lebih memilih dibenci orang karena terlalu melindungiku daripada menanggung risiko membiarkan mereka sekadar berjabatan tangan denganku. Dicky dan Aldo adalah buktinya.
Apa iya aku harus berpakaian lusuh dan bersikap jahat kepada semua orang agar mereka tidak tertarik kepadaku? Masa setiap kali aku bersikap ramah kepada lawan jenis, mereka menganggap bahwa aku tertarik kepada mereka?
__ADS_1
Seseorang memelukku dari belakang membuatku memekik terkejut. “Apa yang dilakukan oleh istriku di tempat ini seorang diri? Bersembunyi supaya teman-temanmu bisa menginterogasi aku sepuas mereka?” Aku tertawa mendengarnya. Dia mencium pipiku. “Sebaiknya kamu bersiap menerima hukumannya malam nanti.”
“Hendra, apa kamu serius akan melakukannya setiap malam?” tanyaku terkejut.
“Seandainya bisa, aku ingin melakukannya sepanjang hari. Tetapi tubuh istriku tidak akan kuat menanggungnya. Baru dua kali saja kamu sudah tertidur pulas.” Dia meletakkan tangannya di pipiku, lalu mengarahkan wajahku kepadanya agar dia bisa mencium bibirku.
“Mama! Mama! Papa!” Suara anak-anak mendekati kami diikuti oleh salakan anjing. Hendra mengeluh pelan karena harus mengakhiri ciuman kami. Aku tertawa. “Kami sudah selesai berenang.”
“Aku akan membantu Hadi, kamu membantu Dira.” Hendra mencuri satu ciuman lagi sebelum menaiki tangga menuju lantai atas.
Selesai membantu Dira mandi dan berganti pakaian, aku mengurus hal pribadi yang tadi tertunda. Hendra dan Hadi menjemput kami agar kami bisa turun bersama ke lantai bawah. Aku melihat teman-temanku berjalan keluar dari ruangan di mana acara berada.
“Hendra, Zahara, ada yang sedang terjadi. Ayo, cepat, kita ke ruang keluarga,” ucap Darla terburu-buru. Aku dan Hendra saling bertukar pandang. Kami membawa anak-anak bersama kami ke ruangan yang mereka tuju.
Lindsey segera menyalakan televisi mencari saluran entah yang mana, kemudian berhenti pada sebuah tayangan. Aku membaca tulisan besar yang ada pada layar. “Konferensi Pers - PHK yang Semena-mena.” Begitu melihat wajah Sherry, aku menoleh ke arah Hendra.
“Bapak Mahendra Satya Perkasa dari Satya Perkasa Grup telah memecat saya secara sepihak tanpa alasan yang jelas. Saya telah bekerja sebagai karyawan di perusahaannya selama tujuh tahun lebih. Pekerjaan saya sangat baik, bahkan bagian SDM tidak menemukan adanya cela. Saya telah melapor ke Dinas Tenaga Kerja Provinsi agar kasus ini ditindaklanjuti. Saya mengundang sahabat wartawan supaya ikut mengawasi perjuangan saya menuntut keadilan.”
“Wow, Hendra.” Edu melihat ke arah suamiku dengan tatapan kagum. “Aku harap kamu siap dalam peperangan ini dan menyimpan bukti untuk melawan pernyataannya.”
“Berurusan dengan karyawan yang tidak terima dengan pemecatannya, lalu ditambah lagi dengan melibatkan instansi yang terkait, kamu butuh keajaiban untuk menang, Hendra,” tambah Giovanni.
Edu dan Giovanni adalah pengusaha juga seperti Hendra. Mereka pasti mengerti bahwa yang sedang dihadapi oleh suamiku bukanlah hal yang mudah. Perempuan itu benar-benar tidak menyerah. Dia gagal saat datang menemui Hendra di vila. Kini dia menggunakan cara lain. Apa yang akan terjadi nanti seandainya permintaannya untuk kembali bekerja sebagai sekretaris suamiku dikabulkan?
__ADS_1