Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 42 - Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Di luar kebiasaan, pada hari itu aku pergi ke penatu membawa semua pakaian kotor kami dan berbelanja ke supermarket. Aku memberikan uang untuk membeli makan siangnya, jadi Kafin tahu bahwa aku akan membutuhkan waktu yang lama untuk berbelanja.


Hendra sedang tidak ada di rumah sehingga aku jarang menghadiri pertemuan apa pun. Dia tidak mengizinkan aku pergi tanpanya. Hanya menghadiri acara amal pada malam Minggu nanti yang boleh aku hadiri karena ditemani Papa dan Mama.


Bosan hanya di rumah, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu di supermarket. Melihat rak khusus perlengkapan bayi, aku segera mendatanginya. Usia kehamilanku baru tujuh minggu, terlalu cepat untuk membeli keperluannya. Jadi, aku hanya melihat-lihat betapa lucunya semua pakaian dan perlengkapan mungil yang akan dia butuhkan nanti.


“Ara?” Aku tertegun mendengar panggilan itu. Hanya keluargaku dan teman-teman lama di sekolah yang memanggilku dengan nama itu. Aku menoleh dan melihat pria yang telah lama menghilang dari hidupku, berdiri di belakangku.


“Aldo?” tanyaku tidak percaya. Aku melihat ke arah keranjang yang dipegangnya. Sepertinya dia juga baru saja berbelanja di tempat ini.


“Hai, apa kabar?” Dia mengulurkan tangannya. Aku tidak menyambut uluran tangannya itu, Hendra tidak suka bila dia tahu aku bersentuhan dengan laki-laki lain. Aku hanya tersenyum.


“Kabar baik. Kamu?” Aku balik bertanya. Dia tetap tersenyum saat menarik tangannya turun begitu menyadari bahwa aku tidak mau berjabatan dengannya.


“Kabarku juga baik.” Dia tertawa kecil. “Ada apa? Kamu takut dilihat suamimu?”


“Bukan. Aku justru mengkhawatirkan istrimu.” Aku membalikkan badan saat tiba giliranku untuk membayar barang-barang belanjaanku di kasir. Satu-persatu barang aku letakkan di atas konter dan petugas memindainya pada alat yang tersedia.


“Kamu sibuk? Mau makan bersamaku?” tanyanya setelah aku menerima kartuku kembali. Giliran dia yang membayar barang belanjaannya. “Ayolah. Hanya sebentar saja. Biar bagaimana pun kita adalah teman lama. Aku berjanji, aku tidak akan mengungkit-ungkit masa lalu.”


Aku seharusnya menolak, tetapi mendengarnya berjanji, maka aku mengangguk setuju. Kami memilih sebuah restoran yang terletak tidak jauh dari supermarket tersebut. Aku menitipkan troli yang aku bawa dan masuk bersama Aldo. Kami diarahkan ke meja untuk empat orang. Setelah mencatat pesanan kami, pelayan wanita itu meninggalkan kami.


“Jadi, kamu tidak punya pembantu yang melakukan pekerjaan seperti ini? Bukankah suamimu adalah seorang yang kaya raya?” tanyanya bingung.


“Apa yang salah dengan melakukannya sendiri?” Aku balik bertanya.


“Kalau aku jadi dia, aku tidak akan membiarkan istriku kelelahan,” katanya. “Tetapi dia merawatmu dengan baik. Kamu masih cantik. Jauh lebih cantik daripada kamu saat masih muda.”


“Saat masih muda? Jadi, sekarang aku sudah tua? Begitu maksud kamu?” Dia tertawa lepas.


“Bukan.” Dia tertawa kecil. “Bukan begitu maksudku. Maaf. Aku sering lupa bahwa wanita tidak suka disebut tua. Maksudku, kamu cantik. Hanya itu.”

__ADS_1


“Terima kasih. Kamu juga masih ganteng. Istrimu mengurusmu dengan baik.” Aku balas memuji. Senyum di wajahnya perlahan menghilang. Dia menundukkan kepalanya dan melipat tangannya di atas meja. Perubahan sikap itu bukan pertanda baik. Apakah telah terjadi sesuatu kepada istrinya?


“Istriku meninggal tahun lalu karena kanker,” ucapnya pelan.


“Oh. Maafkan aku. Aku turut berduka cita mendengarnya,” kataku terkejut sekaligus bersimpati.


“Terima kasih.” Dia menarik napas panjang. “Dua tahun kami berjuang bersama melawan kanker yang dideritanya. Dia sangat bersemangat untuk sembuh. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Dia meninggal setelah dua tahun menjalani perawatan.”


“Dia wanita yang hebat.” Aku tahu beberapa kisah pejuang kanker, jadi aku bisa membayangkan apa yang harus dia jalani selama dua tahun tersebut.


“Iya.”


Untuk sesaat kami hanya diam. Aku tidak tahu harus berkata apa setelah baru beberapa saat memulai percakapan, kami malah membahas hal yang membangkitkan kesedihannya. Apa yang akan aku rasakan andai Hendra meninggal pada usia muda? Apakah aku akan sesedih yang dirasakan oleh Aldo? Atau aku justru akan merasa lega bisa lepas darinya?


“Maafkan aku. Sebaiknya kita bahas hal yang lain saja,” ucapnya memecah keheningan. Pada saat yang bersamaan, pelayan datang mengantarkan minuman pesanan kami. “Bagaimana denganmu? Kamu masih bersama pria itu, ‘kan? Kalian sudah punya berapa anak?”


“Iya, aku masih bersama Hendra.” Aku tidak mau membahas mengenai anak.


“Dia benar-benar mencintai kamu. Dia telah merawatmu dengan baik.” Dia menatap ke arah tubuhku. Apa maksudnya bicara seperti itu? “Aku dan istriku punya tiga orang anak.”


“Untuk sementara ini mereka tinggal bersama kakek dan nenek mereka. Sebulan sekali aku pulang untuk menjenguk mereka,” jawabnya mulus tanpa segan sedikit pun. Seolah-olah kami tidak pernah terpisah lama dan masih berteman.


“Kamu tidak merindukan mereka?”


“Sangat rindu. Tetapi aku harus bekerja. Aku tidak bisa bersama mereka seperti saat istriku masih hidup. Aku tidak bisa memercayakan mereka pada sebuah tempat penitipan anak atau di bawah pengawasan seorang pengasuh. Biar bagaimana pun, mereka adalah orang asing. Maka jalan keluar yang terbaik adalah meminta Papa dan Mama untuk merawat mereka.”


“Aku mengerti.”


“Setelah cukup umur, mereka akan tinggal bersamaku lagi. Itu janjiku kepada mereka.”


“Berapa usia mereka sekarang?”

__ADS_1


“Yang pertama lima tahun, kedua tiga tahun, dan yang paling kecil belum genap dua tahun,” jawabnya. Aku mengerutkan keningku, mulai menghitung di kepalaku.


“Kamu menikah dengan istrimu tepat setelah hubungan kita berakhir?”


“Harus. Dia hamil.” Dia menyentuh cangkir kopinya dan memutar-mutarnya. “Saat itu aku sangat sedih dengan berakhirnya hubungan kita. Dia setia menemani dan menghiburku. Hubungan kami memang terlalu jauh. Tapi aku mempertanggungjawabkan perbuatanku itu.”


“Istrimu adalah wanita yang sama yang kamu bawa ke pernikahanku, ‘kan?” tanyaku mengonfirmasi. Dia menganggukkan kepalanya.


Makanan kami datang, maka kami tidak lagi membahas mengenai kehidupan kami secara pribadi. Kami hanya membicarakan mengenai makanan kami masing-masing. Dia kemudian membicarakan tentang pekerjaannya di sebuah instansi pemerintahan. Dia begitu bangga dengan posisinya saat ini. Aku hanya mendengarkan tanpa memberi tanggapan apa pun.


Ponsel di dalam tasku bergetar. Aku segera mengeluarkannya dan melihat nama Hendra pada layar. Aku pamit kepada Aldo, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah dan meletakkannya di atas meja.


“Biar aku yang bayar, Ra.” Dia mengembalikan uang itu kepadaku. Aku menolak.


“Kita bayar masing-masing.” Aku bersikeras. Sebelum panggilan itu berakhir, aku berhasil berada di luar restoran dan mendorong troli menuju pintu keluar.


“Halo, istriku sayang,” sapa Hendra dengan wajah riang. Aku membalas sapaannya. “Maaf, aku menelepon di luar jam biasanya. Aku rindu kamu.”


“Tidak apa-apa,” kataku pelan. Dia terdiam sesaat. Aku memeriksa ponsel, panggilan telepon masih terhubung. Oh, dia pasti terdiam karena aku tidak membalas ucapan rindunya.


“Apa kabarmu dan anak kita?” tanyanya.


“Kami baik-baik saja.” Aku melihat ke arah kanan dan kiri. Biasanya Kafin memarkirkan mobil di mana dia bisa melihat ke arah pintu keluar. Jadi aku tidak perlu memberitahunya untuk datang menjemputku.


“Syukurlah. Apakah kamu sedang berbelanja?” tanyanya.


“Iya,” jawabku jujur. “Kamu tidak ada di sini, aku bosan hanya di rumah saja. Jadi, aku ke penatu dan belanja kebutuhan sehari-hari tadi. Aku juga sempat makan siang.”


“Baguslah. Ingat untuk selalu menjaga kesehatan kalian.” Aku segera menjawab patuh. Dia tertawa. “Hari ini aku dan Xavier mendiskusikan banyak hal mengenai masalah dalam perjanjian kami.”


Hendra bercerita panjang lebar mengenai kegiatannya pada hari ini. Dia terpaksa berhenti saat aku harus masuk ke mobil. Kafin menolak bantuanku untuk memindahkan kantong belanjaan dari troli ke bagasi mobil. Pasti Hendra yang memintanya melakukan hal itu. Setelah aku tiba di rumah, Hendra mengakhiri panggilan telepon kami.

__ADS_1


Sejak aku menikah dengan Hendra, aku mencegah diriku sendiri untuk hamil. Aku tidak mencintai suamiku karena itu aku tidak ingin memiliki anak dengannya. Aku juga tidak punya keinginan bertahan dalam pernikahan ini. Tetapi hal yang sama tidak terjadi kepada Aldo.


Aku memang bodoh. Selama ini aku terlalu naif dalam mencintainya. Aku pikir setidaknya dia akan membutuhkan waktu selama beberapa minggu untuk melupakanku. Ternyata dia hanya butuh waktu beberapa hari saja untuk jatuh dalam pelukan wanita lain.


__ADS_2