
Laporan pertama adalah mengenai identitas lengkap Keva, mulai dari tanggal lahir, nama orang tua, hingga pendidikan dan pekerjaan terakhir. Aku seperti membaca daftar riwayat hidup seorang calon karyawan yang melamar pekerjaan.
Aku mengabaikan beberapa foto dan keterangannya, lalu mataku tertuju pada sebuah laporan forensik. Nama yang tertera pada laporan tersebut adalah nama almarhum suami Keva. Aku tidak memahami setiap detail yang tertulis pada beberapa lembar kertas tersebut. Jadi, aku fokus mencari hasil akhir atau kesimpulan dari laporan itu. Aku tetap tidak memahami bahasanya.
Laporan itu aku kesampingkan. Aku memilih salah satu kontak pada ponselku dan menghubungi Dokter Andreas. Dia sedang berada di ruang praktiknya dan mempersilakan aku datang kapan saja sebelum jam delapan malam. Baik. Aku bisa menanyakan pendapatnya nanti.
Hal berikutnya yang aku baca adalah keadaan keuangan perusahaannya yang bergerak di bidang perhotelan. Ini adalah hal yang bisa aku kuasai dengan baik. Aku membaca angka demi angka yang ada pada lembar pertama dan kedua. Wah, wah, pantas saja dia begitu nekat untuk mendekati suamiku. Perusahaan itu berada di ambang kebangkrutan tetapi belum ada yang menyadarinya.
Dia menutupinya dengan membuat laporan keuangan palsu dan mendapat tanda tangan dari pihak terkait. Dengan bukti itu, dia meminjam uang yang cukup besar dari bank. Hal yang seharusnya tidak bisa dia lakukan karena kalau bank tahu kondisi yang sebenarnya, mereka tidak akan memberi pinjaman kepada perusahaan yang nyaris kolaps.
Keva benar-benar Nora yang kedua. Bicara cinta, tetapi tujuan mereka yang sebenarnya mendekati suamiku hanyalah persoalan uang. Inilah sebabnya aku tidak mau menyamankan diri dengan uang suamiku. Aku tidak tahu sampai kapan kami bertahan di atas. Bisa saja suatu hari nanti kami juga mengalami yang mereka alami, dan aku harus siap untuk kembali hidup sederhana.
“Apa yang begitu menarik dari semua kertas itu dibandingkan memerhatikan suamimu yang sedang mengikuti terapi?” tanya Hendra yang tiba-tiba saja sudah berada di depanku. Dia sudah duduk di kursi roda dan perawat tadi yang berdiri di belakangnya.
“Ah, maafkan aku,” kataku sambil menyimpan kembali semua dokumen itu ke dalam amplop. “Ayo, kita kembali ke kamar sekarang.”
Sebentar saja, Hendra sudah pulas di tempat tidurnya. Berolahraga dan mandi membuatnya lebih cepat tertidur. Aku melihat ke arah Sakti yang masih duduk di tempatnya. Memahami maksud pandangan mataku, dia mengangguk. Aku hanya pergi sebentar, jadi aku tidak perlu khawatir dengan Hendra. Sakti akan menjaganya.
Aku menuju ruang praktik Dokter Andreas. Susternya memintaku untuk menunggu sebentar karena ada pasien yang sedang diperiksa di dalam. Aku mengangguk dan duduk di salah satu kursi yang kosong. Wanita yang ada di sisiku menyapa, tetapi aku hanya membalas seadanya. Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapa pun.
__ADS_1
Ketika suster akhirnya mempersilakan aku masuk, aku berdiri dan membawa amplop tadi bersamaku. Dokter Andreas menyambut aku dan mempersilakan duduk di kursi kosong di hadapannya.
“Apa yang bisa saya bantu, Bu Mahendra?” tanyanya dengan sopan.
“Ng, aku tidak tahu bagaimana membaca hasil laporan ini.” Aku mengeluarkan dokumen hasil forensik tersebut, lalu memberikan kepadanya. “Aku harap Dokter bisa merahasiakannya dari siapa pun. Ini adalah hal yang diminta oleh suamiku untuk diperiksa dan aku tidak mungkin membahas ini dengannya. Dia tidak akan bisa mengingatnya.”
“Ibu jangan khawatir. Kadang-kadang Pak Mahendra meminta saya untuk membacakan sebuah laporan medis untuknya. Saya bisa menjaga rahasia.” Dia membaca laporan tersebut dengan wajah yang serius. Kadang-kadang dia bergumam hingga matanya membulat, lalu mengangguk pelan.
“Baik. Siapa pun orang yang namanya tercantum ini, dia tidak meninggal karena serangan jantung. Tetapi dia direncanakan untuk meninggal karena penyakit ini.” Dokter Andreas memberikan dokumen itu kembali kepadaku.
“Maksud Dokter, dia sengaja membuatnya dirinya sendiri meninggal karena sakit jantung atau ada orang yang sengaja melakukannya?” tanyaku tidak percaya. Dia mengangguk pelan.
“Wow. Aku tidak percaya jika ada orang yang sanggup berbuat sejahat ini,” gumamku pelan.
“Keadaan yang terjepit bisa membuat siapa pun berbuat nekat, Bu. Sebagai seorang dokter, saya sudah melihat banyak hal yang tidak masuk di akal manusia normal.” Dia menggeleng pelan. “Dari tanggal laporan itu, saya menduga bahwa penyelidiknya belum mendapatkan pelaku atau motif korban mengonsumsi obat tersebut.”
“Jadi, maksud Dokter, seseorang meminta dilakukan autopsi kepada korban, lalu setelah hasilnya keluar, mereka belum punya cukup bukti untuk menyimpulkan apakah ini murni perbuatan korban atau ada orang lain yang melakukannya?” tanyaku pelan.
“Atau bisa jadi, laporan ini tidak sampai ke tangan siapa pun dan korban disimpulkan meninggal karena serangan jantung. Aku tidak mengenal pria itu, tetapi namanya cukup familier. Aku tidak bisa membantu dengan mencari informasi lebih lanjut karena komputer ini diawasi oleh IT. Kami para dokter tidak bisa sembarangan membuka situs web,” ucapnya tidak enak.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, Dokter. Aku bisa memahami apa yang tertulis pada laporan ini saja sudah cukup.” Aku berdiri berniat pamit kepadanya. “Aku tidak akan menyita waktu Dokter lebih lama lagi.”
“Besok pukul delapan pagi, saya dan dokter saraf akan memeriksa keadaan Pak Mahendra. Saya harap Ibu bisa datang pada waktu yang sama karena kami sepakat bahwa keadaan pasien sudah cukup baik untuk melanjutkan perawatan di rumah.”
“Benarkah, Dokter?” tanyaku senang. Dia mengangguk.
“Pak Mahendra akan pulih lebih cepat bila dia berada di tempat yang lebih nyaman. Dia sudah tidak sabar untuk pulang. Ingatannya juga akan lebih cepat kembali bila dia berada di lingkungan yang dikenalnya,” katanya memberi kabar baik.
Syukurlah, aku tidak perlu meninggalkan anak-anak di rumah. Kami bisa berkumpul bersama lagi seluruh keluarga. Ara juga akan bahagia bisa bertemu kembali dengan tuan yang dia rindukan. Aku harus meminta Yuyun untuk menyiapkan penyambutannya besok.
Aku membawa amplop itu kembali bersamaku saat keluar dari ruang praktik Dokter Andreas. Menyusuri koridor rumah sakit, aku kembali teringat dengan pembahasan kami tadi. Mengerikan juga bila kali-laki kaya itu mengakhiri hidupnya sendiri. Tetapi untuk apa menyiksa diri jika bisa mati dengan cara yang lebih cepat dan tanpa rasa sakit?
Bila Keva yang sengaja mengakhiri hidup suaminya, itu hal yang masuk akal. Karena tidak lama kemudian, dia mendekati suamiku dan terang-terangan berusaha agar dia menjadi miliknya. Tetapi bagaimana cara membuktikannya?
Ah, tidak, tidak. Ini bukan urusanku. Rumah tangganya adalah urusan wanita itu sendiri. Korban punya keluarga yang bisa menolong dia mendapatkan keadilan bila mereka mau. Aku bukan siapa-siapa dan terlibat dalam urusan mereka justru akan membuat mereka curiga dengan motifku.
Namun kata Dokter Andreas, bisa jadi mereka tidak pernah tahu hasil forensik yang sebenarnya. Aku menatap amplop yang ada di tanganku. Sebaiknya aku cari tahu dahulu apa yang terjadi pada pria itu. Jika memang tidak ada yang tahu mengenai laporan ini, aku akan meminta bantuan Irwan.
Hendra juga sering melakukan hal itu. Dia tidak pernah turun tangan sendiri berurusan dengan orang-orang yang jahat kepadanya. Bila dia tidak menyerahkannya kepada Irwan, maka dia memercayakannya kepada Zach atau Pak Oscar.
__ADS_1
Tiba-tiba saja rambutku ditarik dari belakang. Aku menggunakan kedua tanganku untuk memegang tangan itu agar siapa pun orang ini tidak menarikku semakin jauh. Tubuhku dihempaskan ke dinding dengan keras. Aku memekik kesakitan.