Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 179 - Terpukul


__ADS_3

“Perempuan sialan,” umpat Hendra kesal. Aku menyentuh tangannya. Dia mendesah pelan, tetapi wajahnya masih terlihat marah.


Kami duduk bersama di kebun setelah meninggalkan ruangan tadi. Para pelayan hotel sibuk merapikan kebun tersebut, tetapi mereka tidak keberatan kami menggunakan dua meja untuk berkumpul sejenak. Semua orang sangat marah mendengar pertanyaan terakhir tadi. Wartawan itu sengaja membuat kekacauan setelah konferensi pers berjalan dengan baik.


“Minumlah, Gista.” Darla memberikan sebuah gelas berisi air kepada gadis malang itu. Wajahnya memucat dan tubuhnya gemetar sejak mendengar pertanyaan yang mengejutkan itu. Dua orang pelayan meletakkan gelas berisi air di depan kami masing-masing.


“Itu tidak benar, Pak. Saya bukan anak haram,” ucap Gista untuk kesekian kalinya. “Saya adalah anak kandung kedua orang tua saya.”


“Iya, Gista. Aku tahu ini ide siapa. Kamu jangan dengarkan mereka. Aku tahu bahwa kamu bukan anak ayahku,” kata Hendra.


“Ini ide gila siapa, Hendra?” tanya Qiana menuntut ingin tahu.


“Aku tidak bisa mengatakan apa pun sebelum ada buktinya.” Hendra menggeleng pelan. Dia menoleh ke arahku. “Maafkan aku, sayang. Acara hari ini malah berakhir berantakan.”


“Bukan salahmu.” Aku melihat ke arah teman-temanku. “Kita semua pasti lelah. Abaikan saja kejadian tadi. Sebaiknya kita pulang sekarang dan beristirahat.”


Mereka setuju. Darla dan Giovanni yang mengantar Gista pulang. Para pekerja rumah kami pulang bersama Liando, sedangkan aku dan keluargaku bersama Kafin dan Yuyun. Kami hanya diam saja sepanjang perjalanan pulang. Hadi, Dira, dan Ara sudah tidur karena kelelahan.


Sampai di rumah, Abdi membantu menggendong Hadi ke kamarnya, sedangkan Yuyun membawa Dira. Hendra segera memasuki ruang kerjanya. Aku tidak mau mengganggu apa pun yang akan dia kerjakan, maka aku langsung menuju kamar kami.


Perempuan. Perempuan mana yang Hendra maksudkan tadi? Apa ini masih ada hubungannya dengan Nora? Tetapi mengapa Papa yang diseret-seret? Bukankah dia sudah berjanji bahwa dia tidak akan berbuat jahat lagi? Lalu mengapa timbul hal yang baru lagi?


Ponselku yang ada di atas nakas bergetar saat aku baru keluar dari kamar mandi. Aku segera mengambilnya dan membaca nama Papa pada layar. Mereka pasti ingin menanyakan apa yang terjadi di konferensi tadi. Aku menjawab panggilan tersebut.


“Apa yang terjadi, Ara? Mengapa kamu malah mendapat berita yang tidak enak di televisi?” tanya Papa khawatir. “Apa Hendra baik-baik saja?”


“Suamiku baik-baik saja, Pa. Gista yang shock,” jawabku jujur.

__ADS_1


“Masalah apa lagi ini? Apa menurutmu Nora dan Vivaldo terlibat?” tanya Papa pelan. “Tetapi bukankah Vivaldo sudah masuk penjara?”


“Kami belum tahu, Pa. Aku yakin Hendra sedang melakukan sesuatu untuk mencegah hal ini semakin membesar. Aku ingin sekali menghubungi mertuaku, tetapi aku tidak percaya bahwa mereka akan mau menjawab telepon dariku,” ucapku pelan.


“Biarkan Hendra yang bicara dengan orang tuanya. Sebaiknya kamu tidak menambah besar masalah. Meskipun mereka menghadiri acara kalian tadi, aku melihat Naava belum memaafkan kamu,” kata Papa memberi nasihat.


“Baik, Pa,” kataku menurut. Setelah mengucapkan salam, aku mengakhiri hubungan telepon.


Hendra masuk ke kamar dengan wajah lelah. Dia menatapku sesaat lalu memasuki kamar mandi. Ini masalah keluarganya. Orang yang paling tertekan dengan berita ini adalah dia dan orang tuanya. Aku yakin Gista dan keluarganya juga ikut terpukul karena masalah ini.


Ada apa dengan orang-orang di luar sana? Mengapa mereka harus berusaha menghancurkan sebuah keluarga hanya karena sebuah berita yang belum diperiksa kebenarannya. Orang tua Gista akan bertengkar karena sang suami berpikir bahwa istrinya berselingkuh. Papa dan Mama juga pasti berdebat keras membahas Papa yang ternyata tidak setia.


Lalu mereka yang menyebarkan kebohongan hanya tersenyum bahagia karena berhasil merusak ketenangan hidup orang lain. Dan mereka yang menerima dan meneruskan kebohongan itu menjadi terkenal karena lebih dahulu mendapat berita tersebut. Jahat sekali.


“Sebaiknya kita menunda perjalanan liburan keluarga kita untuk bulan ini, sayang,” usulku saat Hendra keluar dari kamar mandi. Dia mengangguk. Dia memasuki ruang pakaian dan keluar beberapa saat kemudian setelah memakai kaus dan celana panjang.


“Ada apa ini? Apa sesuatu terjadi tadi di ruang kerja?” tanyaku khawatir.


“Tidak. Aku hanya tidak habis pikir. Mengapa masalah tidak selesai juga?” Dia mencium pipiku, lalu melepaskan pelukannya. “Papa dan Mama bertengkar. Padahal itu tidak baik untuk kondisi Mama yang sedang mempersiapkan diri untuk operasi pada hari Senin nanti.”


“Apa ada yang bisa aku bantu?” tanyaku penuh harap. Dia menggeleng.


“Itu urusan mereka berdua. Papa harus bisa meyakinkan Mama bahwa berita itu bohong dan tidak benar. Keterlaluan sekali. Mereka tidak punya hubungan apa pun di masa lalu. Papa mengenal ayah Gista tetapi tidak punya hubungan dekat di masa lalu dengan ibunya. Bagaimana bisa mereka malah digosipkan punya hubungan ayah dan anak?”


“Perempuan yang kamu maksudkan di hotel tadi, siapa, sayang?” tanyaku teringat hal itu.


“Nora. Kemarin Mama mengundang aku makan siang bersamanya dan Papa. Ternyata perempuan itu juga diajak. Kami membicarakan mengenai Gista dan keterampilannya sebagai sekretarisku. Lalu Mama curiga dan berpikir bahwa wanita itu ada hubungannya dengan Papa. Lalu Papa menegaskan bahwa hubungan yang dia miliki hanya dengan papa Gista. Mereka teman lama.”

__ADS_1


“Nora sudah berjanji tidak akan melakukan ini lagi, sayang.” Walaupun dia ada di sana, bukan berarti dia yang menyebarkan berita tersebut. “Lagi pula dia tidak akan merusak hubungan baiknya dengan Mama. Dia ada di sana, dia tahu bahwa dia bisa menjadi tersangka utama. Orang lain yang tidak suka denganmu atau cemburu dengan Gista yang melakukan ini.”


“Kamu ada benarnya juga. Tetapi, cemburu kepada Gista?” tanyanya bingung.


“Iya. Dia baru beberapa bulan bergabung sudah diangkat menjadi sekretaris direktur utama. Siapa yang tidak akan cemburu dengannya?”


“Kamu benar juga. Aku akan meminta Irwan untuk menyelidiki hal itu. Terima kasih, sayang.” Dia mencium pipiku. Aku tersenyum.


“Terima kasih sudah mengundang Xavier dan Annora datang. Aku bahagia semua orang yang aku sayangi berkumpul bersama pada hari ini. Termasuk Papa dan Mama.” Aku memeluknya.


“Apa pun untukmu, sayang.” Hendra membelai kepalaku. “Annora sudah membuat aku sakit kepala dengan permintaannya. Dia ingin sekali bicara denganmu lagi. Tetapi aku tidak mau memaksa kamu bicara dengannya. Kalian sudah lama berhenti berkomunikasi.”


“Aku sudah bersikap tidak adil kepadanya. Hanya karena aku benci kamu, aku membenci semua orang yang dekat denganmu. Seharusnya aku tidak menolak ajakanmu untuk pergi menemui mereka saat kita masih bersama.” Aku mendesah pelan.


“Belum terlambat untuk memperbaiki hubungan kalian.”


Kami sarapan bersama sesuai kesepakatan kami pada hari sebelumnya. Kedua anak laki-laki Xavier dan Annora sudah tumbuh menjadi remaja. Mereka sangat suka bicara. Hadi yang ikut bersama kami senang bisa bicara dengan mereka dan menunjukkan kemampuan berbahasa Inggrisnya.


Walaupun mereka berlibur, mereka tetap sekolah secara daring. Mereka akan mengikuti kelas melalui rekaman video dan mengerjakan apa yang ditugaskan oleh guru mereka pada hari tersebut. Setiap tugas dikirim ke surel guru mereka masing-masing. Praktis. Liburan tetap jalan tetapi sekolah tidak terbengkalai.


“Kami turut bersimpati atas apa yang terjadi pada keluargamu, Hendra. Pasti berat bagi kalian untuk menghadapi isu sebesar itu,” ucap Xavier saat mengantar kami ke lobi hotel.


“Terima kasih, Vier,” kata suamiku.


“Aku sudah meminta timku untuk mencari tahu siapa yang melakukannya. Penyelidikan terhadap Nora juga sudah mulai dilakukan.” Annora menepuk tangannya dengan senang.


“Ann, sungguh. Aku bisa mengatasi ini sendiri.” Hendra menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Tidak. Aku tidak pernah hanya memberi omong kosong. Bila aku katakan aku akan memberi dia pelajaran, maka aku akan melakukannya. Aku mau semua orang tahu bahwa tidak ada seorang pun yang boleh bermain-main dengan sahabat Annora Morris.”


__ADS_2