Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 43 - Konser Amal


__ADS_3

Aku memerhatikan penampilanku kembali di depan cermin. Semuanya sempurna. Gaunku tidak ketat dan tidak ada bagian yang terbuka secara berlebihan. Aku menyentuh perutku yang masih belum menunjukkan tanda kehamilan. Sebentar lagi memasuki usia delapan minggu.


Setelah memakai gelang berlian pemberian Hendra, aku mengambil tas dan turun ke lantai bawah. Tepat pada jam lima sore, mobil Ayah memasuki halaman rumah. Aku berterima kasih kepada Abdi yang membukakan pintu rumah dan mobil untukku. Aku mempersilakan mereka untuk beristirahat lebih dahulu karena aku akan menginap di rumah mertuaku.


Konser amal tersebut diadakan di sebuah convention hall yang mewah. Ada begitu banyak orang-orang terpandang yang menghadirinya. Sebagian besar dari mereka sudah aku kenal dengan baik berkat acara demi acara yang aku hadiri bersama suami dan mertuaku.


Tidak ada seorang pun yang bicara sepanjang konser berjalan. Lagu demi lagu dimainkan dengan emosi yang berbeda-beda. Aku bahkan tidak mengantuk sama sekali. Begitu konser berakhir dengan dirigen yang memimpin seluruh pengisi acara konser menundukkan badan ke arah penonton, riuh tepuk tangan pun memenuhi aula besar tersebut.


“Ini konser yang hebat, sayang!” Ayah memeluk dan mencium pipi Mama.


“Terima kasih. Kamu juga banyak berjasa mendorongku melakukan ini hingga bisa berjalan dengan baik.” Mama membalas dengan mencium bibir Papa. Aku tersenyum melihatnya. Setelah mereka saling melepaskan pelukan, aku bergantian mengucapkan selamat kepada ibu mertuaku.


Orang-orang berdatangan untuk mengucapkan selamat kepada Mama. Aku dan Papa mundur dan berdiri di belakangnya ketika satu-persatu orang menjabat tangan Mama dan menyampaikan kalimat dukungan mereka untuknya.


Orang terakhir yang mengucapkan selamat membuatku terkejut. Bukan orang tersebut tetapi yang datang bersamanya. Dilihat dari cara Mama yang memperlakukannya dengan hormat, aku mengerti bahwa pria itu mempunyai kedudukan penting di instansi pemerintahan.


“Selamat, Pak Adhyana. Anda memiliki istri yang luar biasa. Konsernya sempurna!” puji pria itu sambil menjabat tangan Papa.


“Terima kasih, Pak. Terima kasih juga sudah datang memenuhi undangan kami,” ucap Papa dengan sopan. Pria itu kemudian melirik ke arahku.


“Ini pasti menantu kalian. Dia jauh lebih cantik dari yang aku dengar dari orang-orang.” Pria itu mengulurkan tangannya kepadaku. Aku mengangkat kedua tanganku dan meletakkannya di depan wajahku, meminta maaf tidak bisa menjabat tangannya.


“Bapak terlalu memuji. Maafkan saya, suami saya tidak mengizinkan saya berjabatan tangan dengan siapa pun,” kataku berhati-hati. Pria itu menatap Papa dan Mama secara bergantian sebelum dia kembali melihat ke arahku. Dia tertawa kecil.

__ADS_1


“Aku mengerti. Pria mana pun pasti menjaga baik-baik istrinya bila dia secantik kamu.” Dia melihat ke arah Aldo. “Kamu lihat? Begini caranya menjaga istri yang benar.” Aldo hanya tersenyum.


“Dan pria muda ini adalah …,” kata Mama memberi sinyal untuk diperkenalkan.


“Vivaldo. Kepala sub bagian di instansiku,” ucap pria itu dengan bangga. Aldo menjabat tangan Papa dan Mama sambil menyebut namanya dengan sopan. Dia hanya tersenyum kepadaku, mengerti bahwa aku tidak akan mau menerima uluran tangannya.


“Apakah kamu sudah menikah atau,” kata Mama lagi. Aku menatapnya dengan bingung. Apa yang membuat Mama tertarik untuk mengetahui lebih jauh mengenai pria itu?


“Istri saya meninggal tahun lalu karena kanker, Bu,” jawab Aldo dengan sopan.


“Oh. Maafkan aku. Itu adalah sebuah kehilangan yang besar.” Mama melihat ke arah Papa. Seolah-olah mengerti, Papa melingkarkan tangannya di pinggang Mama.


Setelah saling mengatakan beberapa hal yang tidak penting, Papa pamit dan mengajakku untuk ikut bersama mereka. Ketika aku melewati Aldo, aku merasakan tangannya menyentuh tanganku. Hanya sesaat, lalu dia segera melepaskanku. Tidak ingin membangkitkan rasa curiga atasannya yang aku yakin masih mengarahkan perhatiannya kepadaku, aku tidak menoleh.


Kami memasuki ruangan di mana makanan dan minuman ringan telah disediakan untuk para tamu yang ingin berbincang dengan para pengisi acara konser tadi. Papa dan Mama mengajakku menuju meja saji untuk mengambil beberapa kue kemudian mendekati sebuah meja bundar di mana nama kami tercetak indah pada sebuah kertas. Seorang pelayan datang dan meletakkan minuman untuk kami di atas meja. Tiga gelas berisi air putih dan tiga gelas berisi jus jeruk.


“Aku baik-baik saja, Ma. Terima kasih.” Aku tersenyum kepadanya.


“Meskipun aku yang lebih tua, aku tetap tidak mau berurusan dengan putraku sendiri. Hendra yang sedang marah bukanlah orang yang menyenangkan.” Mama bergidik pelan. Hal yang sebelumnya tidak bisa aku pahami itu, kini sudah bisa aku mengerti dengan baik.


Kami tidak bisa mengobrol lebih lama karena beberapa orang datang untuk mengajak Papa atau Mama mengobrol. Sudah terbiasa diabaikan oleh orang-orang, aku hanya mendengarkan. Sikap posesif suamiku membuatku kesulitan bergaul setiap kali kami menghadiri undangan dan mereka yang mengenalku sudah tahu bahwa aku tidak bisa bersikap ramah kepada mereka.


Menepati ucapannya, Mama mengajak kami pulang begitu makanan di atas piring kami bersih tak bersisa. Dia mengatakan sesuatu kepada seorang wanita yang aku kenal sebagai asistennya, lalu mendekatiku dan Papa. Kami pun berjalan keluar dari aula tersebut. Papa terlihat bahagia dengan kami berdua ada dalam rangkulannya.

__ADS_1


Menginap di rumah mertuaku bukanlah hal yang baru bagiku. Kadang-kadang saat Hendra pergi keluar kota atau negeri, mereka mengajakku menghabiskan akhir pekan di rumah mereka. Aku tidak keberatan karena aku bisa melakukan apa saja yang aku mau tanpa harus mengikuti rutinitas mereka. Rumah mereka sudah seperti rumah kedua untukku.


Kamar yang aku tempati adalah kamar Hendra sejak dia masih kecil. Kamar itu dibiarkan apa adanya tanpa ada satu perabotan pun yang diganti. Kami tidur di sini hanya pada satu minggu pertama pernikahan. Selanjutnya, kami tinggal di rumah kami sendiri. Jadi beberapa baju kami dibiarkan tetap ada di dalam ruang pakaian.


Pagi itu aku bangun dalam keadaan kacau. Perutku mual dan aku muntah-muntah di kamar mandi. Aku terduduk lemas di lantai kamar mandi berusaha untuk mengumpulkan tenaga. Pintu kamar diketuk, aku mendengar suara seorang pelayan mengatakan bahwa dia mengantarkan makanan ringan. Saat dia melihatku terduduk di lantai kamar mandi, dia segera meletakkan baki di atas nakas, lalu mendekatiku. Aku sangat berterima kasih dia menolongku untuk kembali ke tempat tidur.


“Apakah saya perlu memanggil Nyonya Besar?” tanyanya panik. Aku menggeleng pelan.


“Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengantarkanku makanan. Setelah mengisi perut, rasa mual ini akan hilang.” Aku menenangkannya.


“Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak memerhatikan ponsel. Tuan Mahendra sudah menghubungi saya beberapa kali tetapi saya sedang melakukan pekerjaan lain. Kalau saya datang lebih cepat, Nyonya pasti tidak sakit begini,” ucapnya menyesal.


“Aku baik-baik saja. Terima kasih. Kamu sudah bisa kembali ke pekerjaanmu.” Wanita itu pergi dengan enggan. Semoga saja dia tidak curiga bahwa aku sedang hamil dan semoga saja dia tidak memberitahu Mama apa yang baru saja disaksikannya di kamar mandi. Aku dan Hendra sepakat untuk merahasiakan kehamilanku sampai umurnya sudah cukup.


Papa dan Mama sudah lebih dahulu ada di ruang makan saat aku bergabung bersama mereka. Selera makanku segera membaik melihat menu sarapan yang disajikan di atas meja. Koki mertuaku adalah mentor koki yang bekerja di rumah kami. Jadi, masakannya jelas lebih enak daripada muridnya.


“Dari tatapan para pria yang menatapmu semalam, aku mengerti mengapa Hendra berat sekali memberikan izin kepada kami untuk membawamu menghadiri undangan tanpa dirinya.” Papa tersenyum penuh arti. Aku hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala.


“Mengapa pria melakukan itu, Pa?” tanya Mama bingung. “Mereka sudah menikah, Zahara juga. Untuk apa kalian melihat wanita cantik seperti itu? Apakah kalian sedang mencumbu wanita yang kalian tatap di kepala kalian?”


“Itu pertanyaan retorik. Mama sudah tahu jawabannya.” Papa menyentuh tangan Mama yang ada di atas meja. “Aku tidak melakukan itu dengan wanita mana pun, sayang.” Mama menatapnya tidak percaya. Aku tertawa kecil.


“Aku percaya kepada Hendra, tapi tidak dengan Papa,” kata Mama dengan nada serius. Papa menoleh ke arahku dengan tatapan memohon. “Oh, iya, Zahara. Apakah kamu mengenal laki-laki yang bernama siapa itu namanya … oh, iya. Vivaldo. Namanya sulit sekali.”

__ADS_1


“Ada apa dengan dia, Ma?” Jantungku mulai berdebar dengan kencang. Aku benci sekali jika aku harus membahas masa lalu.


“Dia tidak melepaskan tatapannya darimu. Sikapnya terlalu berani untuk seseorang yang baru saja mengenalmu semalam,” kata Mama curiga. “Apakah kamu mengenalnya? Siapa dia? Mengapa dia menatapmu seolah-olah dia sangat merindukanmu?”


__ADS_2