Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 239 - Salah Mengenal


__ADS_3

~Hendra~


Dadaku terasa sakit saat aku bangun pada pagi itu. Mimpi itu terasa begitu nyata. Za, istri yang sangat aku sayangi, tidur dengan pria lain? Dan dia bukan pria biasa. Dia tidur dengan Vivaldo? Pria yang sangat dipuja dan dicintainya itu?


Aku seharusnya tahu bahwa dia tidak mungkin tulus mencintai aku. Apa yang ada padaku yang membuatnya tertarik kepadaku? Tidak ada. Aku tidak tampan, keadaanku saat ini juga hanya bisa merepotkan, mungkin aku tidak akan bisa kembali lagi seperti semula. Dia pasti berbohong.


Aku mengulurkan tangan dan menemukan saklar lampu di atas nakas. Tanpa mengeluarkan suara atau bunyi, aku berpindah dari ranjang ke kursi roda. Aku mengambil ponselku yang ada di atas nakas dan memilih nomor Yuyun.


“Segera ke kamar dan kemasi semua pakaianku. Abaikan pakaian kerja,” kataku setengah berbisik.


Sepelan mungkin aku keluar dari kamar setelah membawa beberapa peralatan mandi dan baju ganti. Aku memilih salah satu kamar kosong yang memiliki kamar mandi di dalamnya.


Perjuanganku berikutnya adalah menuruni tangga. Tetapi aku berhasil melakukannya sendiri tanpa bantuan Abdi atau pekerja rumah kami yang lain. Mereka menatapku dengan heran tanpa berani bertanya atau mengatakan apa pun.


Aku menelepon Papa saat sudah berada di ruang depan. Dia terkejut mendengar permintaanku, tetapi dia tidak banyak bertanya dan berjanji akan segera tiba secepatnya. Aku menarik napas panjang yang sayangnya tidak bisa mengurangi rasa sesak di dadaku. Aku harus segera pergi dari tempat ini.


Saat Yuyun masuk dan memberitahukan bahwa semua pakaian sudah berada di dalam koper, aku memintanya untuk memasukkan semua koper itu ke bagasi mobil. Dia menatapku sesaat sebelum keluar dari ruangan.


Papa dan Mama yang tiba lebih dahulu. Papa menatapku dengan khawatir, sedangkan Mama memeluk aku dengan bahagia. Aku tertegun dengan respons mereka yang berbeda atas keputusan yang aku ambil. Tetapi aku memahami satu hal sekarang. Inilah alasan Mama membenci Za.


“Kamu seharusnya membicarakan ini dengan istrimu, Nak. Pergi dari rumah bukanlah jawaban,” kata Papa menasihati aku.


“Tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Ini adalah keputusan yang tepat. Aku bilang juga apa. Dia pasti akan terluka saat mengingat kejadian ini. Perempuan itu bukan hanya tidur dengan satu laki-laki saja. Dia juga tidur dengan banyak pria yang lain,” kata Mama menghancurkan hatiku. Apa? Za tidur dengan banyak laki-laki?


“Dia pasti sudah banyak membohongi kamu. Apa dia mengatakan kepadamu bahwa Hadi dan Dira adalah anak-anakmu? Dia berbohong,” kata Mama lagi. Aku membulatkan mata tidak percaya.


“Sayang! Jangan menyebarkan fitnah lagi! Ingat apa kata dokter. Dia tidak bisa dikejutkan dengan ingatan masa lalu yang terlalu banyak. Biar dia memproses ingatan barunya dahulu,” seru Papa. Apa yang terjadi? Aku tidak pernah melihat Papa memarahi Mama sebelumnya.

__ADS_1


“Dia sudah mengingat perempuan itu selingkuh, lalu apa salahnya aku memberitahu dia kebohongan lain yang sudah dikatakannya kepada putra kita?” protes Mama.


“Hadi dan Dira adalah anak kandung Hendra. Bila kamu tidak percaya dengan hasil tes DNA itu, maka simpan tuduhan itu untuk dirimu sendiri. Aku memercayainya. Dan Zahara tidak membohongi putra kita,” ucap Papa tidak mau kalah.


“Terserah kamu saja. Yang penting putraku sudah mengingat segalanya dan dia akan pulang bersama kita. Titik. Sudah saatnya Zahara keluar dari kehidupan Hendra.” Mama menatapku dengan bangga. “Apa yang kamu lakukan sudah benar. Ayo, kita pergi sekarang.”


“Aku tidak bisa pergi seperti ini, Ma. Kita tunggu sampai Za bangun.”


“Dia tidak akan bangun sampai hari siang. Kamu tahu sendiri kebiasaan buruknya. Perempuan pemalas. Dia tidak mengerjakan apa pun di rumah ini, tetapi selalu bangun tidur paling belakangan,” ucap Mama ketus. Aku menatapnya dengan saksama.


Apa yang terjadi kepada Mama? Dia sangat menyayangi Za dan memujanya sebagai menantu terbaik di dunia. Mengapa sikapnya kepada istriku berubah total? Benarkah ini hanya karena Za selingkuh dengan laki-laki lain? Atau karena dia selingkuh dengan lebih dari satu pria?


Za bukan wanita seperti itu. Dia tidak akan memberikan dirinya dengan mudah kepada siapa saja. Saat bersamaku, dia terpaksa melakukannya dan menganggapnya sebagai kewajiban seorang istri. Itu karena aku adalah suaminya. Lalu mengapa Mama menuduh Za memberi dirinya juga kepada pria lain? Istriku tidak akan melakukan itu.


Begitu banyak pertanyaan di kepalaku, tetapi semuanya sirna ketika dia memasuki ruangan dengan wajah bahagianya. Ya, Tuhan. Dia cantik sekali. Aku seharusnya tahu dari awal bahwa wanita ini tidak mungkin tulus mau mencintai aku dan menikah denganku. Ini hanya delusi.


Aku hampir saja membatalkan kepergianku ketika melihat dia memohon agar kami bicara. Aku harus menguatkan diriku sendiri untuk pergi dari rumah itu. Terlalu menyakitkan untuk berada di dekatnya saat aku tahu bahwa dia bukan hanya milikku seorang.


“Arrggh!” Kepalaku tiba-tiba terasa sangat sakit. Aku tidak berani menyentuhnya, jadi aku hanya bisa mencengkeram jok mobil untuk menahan rasa sakitnya.


“Tuan? Tuan tidak apa-apa? Perlu saya bawa ke rumah sakit?” tanya Sakti dengan panik.


“Tidak,” aku kembali mengerang kesakitan. “Tetap lanjutkan ke rumah orang tuaku. Aku akan baik-baik saja. Kepalaku selalu sakit saat ada ingatan baru yang muncul.”


Mengapa? Mengapa dia mengatakan cinta bila hatinya tidak sepenuhnya milikku? Apa aku telah salah mengenalnya? Apa dia perempuan yang suka mempermainkan hati laki-laki? Tidak. Itu tidak masuk akal. Saat dia masih bersama Vivaldo, dia bahkan tidak tertarik kepadaku. Aku yang bisa memberikan seluruh dunia kepadanya ditolaknya mentah-mentah. Jadi, tidak mungkin selama ini dia memberikan dirinya kepada siapa saja.


Keadaanku sudah lebih baik saat kami tiba di rumah keluargaku. Rumah itu masih sama seperti yang aku ingat. Hanya ada sedikit perubahan pada warna cat, dan jenis tanaman yang ada di sepanjang jalur di bawah jendela.

__ADS_1


Aku tidak perlu naik turun tangga karena mereka telah mengubah salah satu ruangan di lantai dasar menjadi ruang tidur. Para pelayan segera mengeluarkan koperku dari mobil, lalu membawanya ke kamar tersebut. Mama mengajakku untuk sarapan. Aku sama sekali tidak punya selera, tetapi aku harus makan agar bisa pulih dengan cepat.


Seorang pelatih datang, aku tidak ingat bahwa aku masih harus menjalani terapi. Sepertinya Za tidak lupa dengan jadwal terapiku. Karena kedatanganku yang tiba-tiba, Papa maupun Mama belum menyiapkan ruangan khusus untukku. Maka aku melakukan terapi fisik dengan peralatan seadanya.


Usai latihan dan pria itu pamit pulang, aku menuju kamar. Baru saja membuka pakaian, pintu kamarku diketuk dan Mama masuk. Seorang wanita berpakaian serba putih mengikutinya dari belakang. Aku menatap mereka dengan heran.


“Kamu akan kesulitan mengurus dirimu sendiri, jadi aku mempekerjakan seorang perawat untuk membantumu.” Mama mempersilakan perempuan itu untuk mendekati aku.


“Aku tidak butuh bantuan, Ma. Kalau pun Mama mau mempekerjakan seorang perawat, aku mau perawat laki-laki, bukan perempuan.” Aku melihat perempuan itu. “Tolong, keluar dari kamarku.”


“Tidak. Kamu tetap di sini.” Mama menahan tangannya. “Perawat perempuan lebih telaten daripada laki-laki. Kamu jangan banyak protes. Kamu meminta tinggal di sini, jadi kamu harus menuruti apa yang aku katakan.”


“Kalau begitu, aku pergi ke tempat lain saja di mana aku bisa menentukan sendiri siapa yang bisa merawat aku,” ancamku. Mama langsung terlihat ketakutan.


“Kamu pergilah. Tunggu di luar, aku akan bicara denganmu,” kata Mama tanpa melepaskan pandangannya dariku. “Berhenti bersikap kekanak-kanakan, Hendra.”


“Aku tahu mengapa Mama melakukan ini. Maaf, Ma. Tetapi aku tidak tertarik untuk dekat dengan perempuan lain. Aku bisa mengurus diriku sendiri. Tolong, tinggalkan aku, aku harus mandi setelah terapi tadi.” Aku sedang tidak ingin berdebat dengannya.


“Ya, sudah. Bunyikan bel itu bila kamu butuh bantuan apa pun. Salah satu pelayan akan datang ke kamar ini,” kata Mama yang membalikkan badannya dan keluar dari kamar.


Belum dua puluh empat jam dan aku sudah menyesal memutuskan untuk pindah ke rumah ini. Aku harus cari tempat tinggal lain. Tetapi siapa yang bisa aku mintai tolong untuk mencarikan tempat tinggal yang baru? Sherry sudah tidak bekerja untukku, sedangkan aku tidak kenal Gista.


Setelah membersihkan diri dan berpakaian, aku menuju ruang makan. Sudah saatnya untuk makan siang, tetapi kepala pelayan mendekat dan mengatakan bahwa Mama menunggu aku di ruang tamu. Dia membukakan pintu untukku. Papa dan Mama ada di ruangan itu bersama seorang pria memakai setelan. Aku tidak mengenalnya.


“Masuklah, Nak,” kata Mama dengan wajah riang. Papa yang duduk di sebelahnya terlihat kesal.


“Ada apa ini, Ma? Aku lapar. Pertemuan ini tidak lama, ‘kan?” tanyaku sambil menggerakkan kursi rodaku ke dekat mereka.

__ADS_1


Pria itu memperkenalkan diri, lalu memberikan sebuah map kepadaku. Aku menerimanya dan membuka sampulnya. “Bapak hanya perlu membubuhkan tanda tangan dan semua proses akan saya urus. Saya jamin prosesnya akan cepat sekalipun istri Anda tidak setuju.”


“Surat permohonan cerai?” tanyaku bingung. Aku melihat ke arah Mama. “Aku bisa mengurus ini sendiri, Ma. Aku lebih percaya kepada Oscar daripada pengacara mana pun. Ini peringatan terakhir. Bila Mama masih mencoba mengatur aku lagi, aku pergi dari rumah ini.”


__ADS_2