
Aku menatap satu-persatu orang yang duduk dengan kepala tertunduk di depanku. Petugas polisi mengatakan bahwa sesuai dengan bukti pada rekaman CCTV supermarket, ketiga orang itu adalah tersangka yang telah melecehkan aku secara fisik.
Sang pria itu akhirnya terbukti meremas bokongku, wanita pertama memegang tanganku, dan yang terakhir mengusap bagian belakang tubuhku. Hilang sudah wajah sombong dan penuh ejekan yang mereka tunjukkan kepadaku kemarin. Mereka bertiga menunduk tidak mau menatap ke arahku.
“Mereka bertiga terbukti bersalah. Ibu hanya perlu menandatangani surat pernyataan ini untuk meneruskan tindakan hukum atas perbuatan mereka terhadap Ibu.” Sebuah surat diletakkan di depanku. Aku menoleh ke arah Pak Oscar. Dia mengangguk pelan. Aku melihat ke arah Hendra.
“Keputusan ada di tanganmu, sayang.” Dia tersenyum.
“Saya sebenarnya tidak mau memperpanjang persoalan sepele ini. Seandainya saja kemarin Bapak langsung mengaku dan meminta maaf, saya yakin kita tidak perlu berada di tempat ini. Tetapi saya tidak mau hal yang sama terulang. Saya memaafkan Bapak dan Ibu sekalian, tetapi proses hukum akan tetap berjalan. Tolong, hormati orang lain dan jangan sentuh tubuh mereka tanpa izin lagi.” Aku menandatangani surat pernyataan tersebut.
Hendra menolongku untuk berdiri dan kami keluar dari ruangan tersebut. Aku bersyukur tidak ada wartawan yang mencium kejadian ini sehingga kami bisa pergi dengan leluasa. Kafin mengantarku pulang lebih dahulu sebelum menuju kantor suamiku.
Orang-orang yang tinggal di gedung apartemen ini tidak terlalu peduli dengan orang yang tidak mereka kenal. Aku bersyukur belum pernah terjadi insiden apa pun dengan orang yang berpapasan denganku di elevator. Mereka bahkan tidak mau repot menatap wajahku.
“Serius sekali. Sedang melihat apa, Yun?” tanyaku sambil mendekatinya yang sedang menatap layar ponselnya. Aku mengisi air dalam gelas.
“Media sosial, Nyonya. Sampai sekarang orang-orang tidak berhenti mengutuk Nyonya.” Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mengutuk bagaimana?” Aku melihat ke arah layar ponselnya.
“Apa Nyonya tidak punya akun media sosial?” tanyanya terkejut. Aku menggeleng.
“Hendra tidak mengizinkan aku. Kamu tahu bagaimana ketatnya dia dalam menjagaku sejak kami menikah.” Aku duduk di kursi di sampingnya. “Apa saja kutukan mereka?”
__ADS_1
Dia memberikan ponselnya kepadaku. Aku melihat apa saja yang ada pada layar tersebut. Ada sebuah berita mengenai aku yang mendadak menghilang, tidak terlihat lagi di rumah. Hanya Hendra yang sesekali berhasil mereka potret ketika datang dan pergi dari gedung kantornya.
Lalu pada bagian komentar, ada seseorang yang dari namanya, bukanlah orang yang aku kenal. Dia bercerita panjang lebar mengenai pentingnya seorang istri tetap setia kepada suami. Berikutnya, kata-kata yang sudah sering aku dengar ditulis oleh orang-orang yang namanya tidak aku kenal. Pèläcur, wanita murahan, hipèrsèksuäl, menyuruhku untuk mati saja, bahkan mengutuk supaya hidupku tidak akan pernah bahagia.
“Wow. Apakah orang-orang menggunakan media sosial untuk melakukan ini?” tanyaku bingung.
“Tidak, Nyonya. Abaikan saja komentar mereka. Sudah ada banyak kasus di mana komentar mereka dijadikan bukti untuk melaporkan mereka ke polisi, mereka malah menangis-nangis meminta maaf. Mereka aslinya tidak segarang komentar pedas mereka di media.” Dia menggeleng pelan.
Aku sudah melihat buktinya tadi. Dua wanita yang menghina hingga menyentuh badanku seenak mereka di depan umum, begitu dibawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan mereka, hanya bisa menunduk. Mereka bahkan tidak berani menatap wajahku.
Kadang-kadang ucapan mereka masih terngiang di kepalaku, sentuhan mereka masih membuatku bergidik, senyuman licik laki-laki itu juga masih terbayang di mataku. Tetapi aku segera menepisnya. Aku tidak akan membiarkan mereka menang dengan menjadi lemah. Aku harus kuat. Media belum berhenti memberitakan hal buruk mengenai aku. Perjuangan kami masih panjang.
Hadi pulang sekolah bersama Colin. Dira senang melihat kakaknya bermain bersamanya. Tetapi dia sedikit takut berada di dekat teman kakaknya itu. Aku menemani mereka bermain setelah menutup pintu kembali. Yuyun dan Liando pamit kembali ke rumah.
Menjelang acara puncak ulang tahun perusahaannya, Hendra sering sekali pergi pagi dan pulang malam. Aku hanya bertemu dengannya saat membersihkan diri bersama di kamar mandi pada pagi hari. Dia pulang pada malam hari, kami semua sudah pulas.
Untuk menghindari kejaran wartawan, aku dan teman-teman tidak bisa bertemu seperti biasanya. Namun kami sudah cukup puas bisa mengobrol lewat panggilan video. Qiana sedang sibuk dengan persiapan ulang tahun pernikahannya. Dia sudah menyebarkan undangan, memastikan berapa tamu yang akan datang, dan menyewa tempat yang bisa menampung semua orang.
Aku kagum dengan kerja kerasnya. Dia masih bisa menyiapkan acara sebesar itu di tengah-tengah kesibukannya mendampingi Helmut sebagai istri dewan. Aku malah belum sempat menyiapkan apa pun karena tidak bisa ke sana kemari untuk menyiapkan ulang tahun pernikahan kami bulan depan.
Darla sedang bahagia karena akhirnya putrinya hamil dan dia akan segera menjadi seorang nenek. Dia sudah menyiapkan dua nama untuk laki-laki dan perempuan. Kami berusaha mencerna dan memahami ekspresi bahagianya. Menyadari apa yang ingin dia sampaikan, kami bersorak bahagia. Dafhina sedang mengandung anak kembar!
Lindsey sedang bahagia karena mereka baru kembali dari perjalanan ke Norwegia. Aku sedikit cemburu ketika dia bercerita betapa indahnya negeri itu. Mereka bermalam di sebuah pulau yang dekat dengan danau yang bersih hingga pantulan bangunan tua di kota itu tampak jelas di air. Mereka juga mengunjungi katedral dan gereja tua yang sangat terkenal di sana. Charlotte sangat senang ketika mereka mengunjungi gletser yang terkenal di sana. Dia bisa bermain salju.
__ADS_1
Percakapan yang bahagia itu harus rusak karena aku. Ketika giliranku yang bicara, aku hanya bisa berbagi berita tidak menyenangkan. Hadi yang harus pindah sekolah. Tetapi dia sangat menyukai sekolah barunya dan bahagia dengan teman dan guru di sana. Aku yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan di supermarket serta perundungan yang aku terima secara daring.
“Oh. Kamu tidak akan percaya ini. Aku mendengar dua wanita membahas kamu di sebuah restoran saat aku makan malam dengan suamiku. Mereka adalah dua orang wanita terhormat tetapi kata-kata yang keluar dari mulut mereka membuatku jijik.” Darla memasang wajah marah.
“Aku segera memarahi mereka dan menyuruh mereka tutup mulut. Mereka tidak terima dan kami perang mulut untuk beberapa saat. Kalau bukan karena Gio menarikku pergi dari tempat itu, kami mungkin sedang jambak-jambakan karena kata-kata mereka menyakitiku. Mereka tidak mengenal kamu tetapi seenaknya mengutuk begitu.” Aku tersenyum mendengarnya.
“Aku juga melakukan hal yang sama saat menghadiri acara di hotel bersama Helmut,” ucap Qiana tidak mau kalah. “Mereka adalah istri anggota dewan, hobinya bergosip. Aku tidak akan marah bila mereka hanya membahas kamu dan Hendra. Tetapi mereka malah menjelek-jelekkan kamu dan mengatakan hal yang buruk mengenai kamu.”
“Heran. Aku menegur mereka baik-baik, mereka malah marah kepadaku. Aku berjuang sendirian karena ibu-ibu yang lain juga membela mereka. Padahal aku tahu bahwa mereka juga hobi selingkuh. Mengapa kamu bisa punya banyak musuh, Za? Apa mungkin ada orang yang punya pengaruh di balik isu perselingkuhan kamu?” tanya Qiana curiga.
“Orang yang punya pengaruh?” Darla menggumam pelan. “Kamu ada benarnya juga, Qiana. Isu ini sudah berjalan berminggu-minggu, tetapi wartawan masih saja mengejar-ngejar orang yang dekat dengan Zahara dan Hendra. Rumah mereka juga masih dikerumuni media.”
“Maksud kamu, orang yang berpengaruh ini ada hubungannya dengan wartawan?” tanya Lindsey. Darla membulatkan matanya.
“Kamu jenius juga, Lindsey! Iya. Isu ini pasti ada hubungannya dengan orang yang bisa mengontrol media. Coba kalian pikirkan, jika isu ini terus dibiarkan, pernikahan Zahara dan Hendra ada di ujung tanduk. Bila mereka berpisah, siapa yang akan diuntungkan dari situasi itu?” tanya Darla misterius.
“Vivaldo?” ucap Lindsey dan Qiana serentak. “Supaya dia bisa dekat dengan Zahara?” tambah Qiana.
“Tetapi dia tidak akan bisa menyetir media, Darla.” Aku menatapnya dengan bingung.
“Coba pikirkan lagi siapa yang aku maksud,” kata Darla. Aku berpikir dengan keras.
“Oh, Oh! Aku tahu! Dasar laki-laki tidak tahu malu. Aku dan Helmut akan bicara dengan serius dengannya,” geram Qiana. Siapa yang sedang mereka bicarakan?
__ADS_1