Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 152 - Cukup Tiga Puluh Menit


__ADS_3

Za akhirnya tertidur. Dia terus menahan matanya tetap terbuka sekalipun dia sudah sangat mengantuk. Benar-benar istri yang keras kepala. Padahal dengan kondisi tubuhnya yang sedang dalam tahap pemulihan, dia membutuhkan banyak istirahat.


Aku ada acara penting pada malam ini. Kami sudah cukup merasakan kehilangan, tidak lagi. Semuanya harus diakhiri malam ini juga. Setelah membaringkan Za di tempat tidur kami, aku segera bersiap-siap. Aku hanya mengenakan kaus dengan leher V berlengan panjang dengan celana jins, lalu dilengkapi dengan salah satu jas kerjaku.


Setelah pamit dengan mencium keningnya, aku pergi bersama Kafin menuju tempat wawancara diadakan. Tentu saja bangunan itu telah dipenuhi dengan wartawan dari stasiun televisi lain yang ingin mendapat satu kalimat konfirmasi dariku. Tetapi aku tidak mengucapkan sepatah kata pun.


Aku dibawa ke sebuah ruangan untuk menyiapkan diri. Aku tidak mengizinkan mereka memulas apa pun ke wajahku. Tetapi tidak menolak ketika mereka memasang mikrofon kecil di kerah jasku dan menyembunyikan pemancarnya di tali pinggang pada punggung bawahku.


Pada saat pembawa acara akhirnya mempersilakan aku untuk masuk, aku keluar dari balik panggung dan menolak untuk menjabat tangannya. Dia sudah tahu peraturannya, masih saja berusaha untuk mempermalukan aku di depan kamera. Tidak mengherankan, dia anak buah Dicky.


Dia berbasa-basi mengucapkan selamat atas posisi baruku di perusahaan. Pertanyaan pertama yang dia ajukan adalah hubunganku dengan Za yang langsung aku akui bahwa kami adalah suami istri. Aku mengangkat cincin pada jari manis kananku yang identik dengan yang Za kenakan pada acara ulang tahun perusahaan juga pernikahan Qiana. Mereka menampilkan foto yang aku maksud pada layar yang ada di belakangku dan pewawancara.


Wanita itu meminta bukti lain, aku tidak mengabulkannya. Akta pernikahanku dan Za, baik yang dikeluarkan oleh gereja maupun Disdukcapil adalah dokumen pribadi bukan untuk konsumsi publik. Mereka mau percaya atau tidak, aku tidak peduli.


“Kabarnya Anda bercerai dengan Ibu Zahara karena kehadiran pihak ketiga, apa itu benar?” Aku dan Za sudah kembali bersama dan mereka harus menanyakan masa lalu?


“Aku tidak akan menjawabnya. Itu sangat pribadi.” Penonton bersorak mengejekku yang segera ditenangkan oleh orang yang berdiri di depan kursi penonton.


“Vivaldo sudah mengakuinya sendiri, bahkan video yang membuktikan bahwa mereka melewati malam bersama di sebuah hotel tidak bisa disangkal. Apa Anda yakin bukan itu alasannya?” Dia belum menyerah.


“Aku sangat mencintai istriku. Aku tidak akan menceraikannya untuk masalah sepele,” jawabku dengan tenang.


“Bagaimana dengan tanggapan Anda terhadap pengakuan Vivaldo yang cukup mengejutkan bahwa putra Anda ternyata adalah putra kandungnya?” tanyanya dengan tetap tersenyum. “Dia bahkan menunjukkan bukti yang tidak terbantahkan.”

__ADS_1


“Silakan lihat sendiri perbedaan hasil tes yang dia tunjukkan dengan hasil tes asli milikku.” Aku yakin layar di belakangku menunjukkan perbandingan kedua hasil tes tersebut. “Dan amati hasil tesku dengan kedua anakku.”


Aku memerhatikan satu-persatu wajah yang ada di dalam studio tersebut. Penonton serta para kru yang mengarahkan pandangan mereka pada layar. “Aku dan Vivaldo bukan saudara kandung. Kalau pun iya, hasil tes DNA kami dengan Hadi tidak akan sama persis hasilnya. Hadi adalah putraku, begitu juga dengan Dira. Tolong, jangan bawa anak-anakku lagi dalam urusan ini.”


“Kami sepertinya membutuhkan tenaga ahli untuk bisa membantu membaca mana hasil yang asli dan mana yang palsu, Pak Mahendra.” Wanita itu tertawa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. “Jadi, itukah sebabnya Anda melaporkan Vivaldo ke pihak yang berwajib hingga dihukum penjara? Anda membalas perbuatannya yang telah tidur dengan istri Anda?”


“Seorang yang berani mencuri istri pria lain pasti juga pencuri dalam hal lain. Aku menemukan bukti bahwa dia melakukan beberapa kali transaksi tidak resmi bersama atasannya saat mencari tahu latar belakangnya mendekati istriku. Sebagai warga negara yang baik, maka sudah menjadi kewajibanku untuk melaporkannya.


“Setahuku moto jaringan televisi ini adalah mengungkap kebenaran. Lalu mengapa orang yang melakukan hal itu diberi cap membalas perbuatan pengganggu istrinya? Bukankah seharusnya kalian mendukung perbuatanku tersebut?


“Aku punya beberapa bukti bahwa istriku tidak selingkuh dengannya secara sukarela. Pria yang pernah kalian wawancara itu membayar orang untuk mengikuti istriku ke mana pun dia pergi. Lalu laki-laki itu akan datang menemuinya seolah-olah pertemuan mereka tidak terencana.”


Layar menayangkan rekaman CCTV yang berhasil diretas oleh timku dari berbagai lokasi di mana seorang pria terlihat jelas mengikuti Za. Lalu rekaman di mana Vivaldo datang mendekatinya. Juga foto-foto kebersamaan istriku dengannya yang diambil secara diam-diam, kecuali foto mereka di tempat parkir. Aku tidak akan pernah mengizinkan siapa pun melihatnya.


Semua orang terdiam, begitu juga dengan pewawancara. Kesempatan itu aku gunakan untuk meneruskan pidatoku. Aku sengaja membiarkan layar terus menampilkan bukti demi bukti yang Irwan kumpulkan agar perhatian pewawancara teralihkan dan lupa dengan pertanyaan selanjutnya.


“Rekaman CCTV hotel itu sifatnya sangat rahasia dan hanya akan dikeluarkan untuk keperluan penyelidikan kepolisian. Tetapi Nora selaku Wakil Dirut Kencana Karya Grup yang memiliki hotel tersebut sengaja memberikan rekaman itu kepada Dicky Ardiyanto untuk ditayangkan pertama kali di INITV dan INI.com untuk merusak nama baikku dan keluargaku.”


Irwan berhasil menemukan rekaman di mana Nora dan Dicky bertemu lagi untuk memberikan rekaman CCTV tersebut. Pertemuan mereka bertiga dengan Vivaldo di restoran yang ada di hotel milik keluarga Nora juga ditampilkan pada layar.


“Selama aku dan istriku berpisah, ada beberapa orang yang ingin mendekati kami. Beberapa dari mereka tidak suka melihat kami kembali bersama, di antaranya adalah Dicky Ardiyanto dan Nora Camillia. Perkara ini pasti akan aku bawa ke jalur hukum. Ini adalah pencemaran nama baik.


“Untuk setiap kata jahat yang kalian labelkan kepada istriku pasti akan kalian bayar mahal. Dia menjadi korban pelecehan, direndahkan oleh laki-laki dan perempuan yang berpapasan dengannya, bahkan sampai anakku mendapatkan perlakukan tidak adil, semua karena ulah kedua orang ini.”

__ADS_1


Aku sengaja tidak menyebutkan mengenai keguguran yang baru saja Za alami. Kami tidak butuh simpati palsu dari mereka semua. Aku juga tidak perlu membuktikan bahwa tuduhan mandul yang mereka berikan kepadaku itu tidak benar. Tujuanku mau datang menunjukkan diri di depan kamera hanya satu. Membersihkan nama istriku.


“Mulailah hapus komentar jahat kalian di media sosial. Karena timku akan mulai memburu kalian satu-persatu dan menuntut keadilan untuk semua hinaan yang sudah kalian sebarkan di dunia maya yang membuat reputasi istriku hancur.”


Studio itu segera dipenuhi dengan bunyi krasak-krusuk dari arah penonton, kru, bahkan wanita yang mewawancaraiku. Mereka semua fokus pada ponsel mereka. Luar biasa. Terdengar teriakan seseorang dari headset yang terpasang di telingaku agar segera mengganti tayangan langsung ke pariwara. Tetapi aku belum selesai.


“Dicky, aku tahu perbuatanmu di Puncak.” Layar pasti sedang menunjukkan selebaran gambar wajah penculik yang kabur tersebut dengan label DPO dari kepolisian setempat. Yang diikuti dengan foto wajah aslinya yang baru diambil setelah dia ditangkap yang sangat mirip dengan gambar pertama.


“Bersiaplah membayar semua perbuatan jahatmu kepada keluargaku.” Layar menampilkan rekaman CCTV saat pria itu berulang kali datang ke kantornya, juga foto mereka bertemu diam-diam di tempat parkir yang berhasil dipotret rekan Irwan sebelum pria itu ditangkap.


Aku mengabaikan teriakan panik entah siapa pada telingaku. Aku melepas earphone tersebut. Tidak ada yang bisa mereka lakukan. Irwan sudah meretas saluran mereka dan membantuku menampilkan bukti demi bukti pada layar. Kini mereka tahu apa yang akan terjadi bila mereka berani bermain kotor. Aku akan bertindak lebih kotor lagi.


Situasi di studio itu menjadi kacau sesuai dengan rencanaku. Aku berdiri dan berjalan menuju bagian belakang panggung. Kafin berdiri di sana dengan tatapan khawatir. Dia memberikan ponselku kembali kepadaku. Aku membaca nama pada layar.


“Iya, Yun.” Aku berjalan menuju pintu keluar.


“Tuan, Nyonya Besar ….” ucap Yuyun dengan suara bergetar.


“Aku segera pulang.” Tanpa bertanya apa yang terjadi, aku mempercepat langkahku.


“Kamu tidak bisa pergi begitu saja setelah mempermalukan aku.” Dicky berdiri begitu sombongnya di depanku, menghalangi jalanku begitu berada di lapangan parkir. Beberapa orang berpakaian serba hitam berkumpul dan berdiri di antara kami berdua.


“Oh, ya?” Semua orang yang berpakaian serba hitam itu membalikkan badan mereka. “Kamu bahkan tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan?”

__ADS_1


Dicky mulai panik. “Apa? Apa yang kalian lakukan? Yang harus kalian hadapi itu dia, bukan aku,”


__ADS_2