
“Sebaiknya kamu segera menghabiskan makananmu sebelum dingin.” Aku duduk di sofa.
“Aku tidak akan makan sebelum kamu duduk di sini,” katanya bersikeras. Liando dan Sakti tertawa kecil. Aku menatap mereka, keduanya segera berhenti dengan berdehem pelan.
Karena aku sudah lapar dan tidak ingin berdebat dengannya di depan para pekerja kami, aku terpaksa menurut. Aku duduk, lalu dia mulai makan. Kami makan dalam diam. Bagaimana kami bisa bicara bila lidah kami menari-nari merasakan lezatnya makanan di dalam mulut kami?
Hendra makan dengan hati-hati. Fahri sengaja memberinya makanan yang lunak agar dia tidak kesulitan makan. Kepalanya akan terasa sangat sakit bila dia mengunyah makanan yang keras. Dia juga memasukkan porsi kecil ke mulutnya untuk mempermudah setiap gigitannya.
Selesai makan, aku menyusun kotak makan itu kembali dan memasukkannya ke masing-masing tasnya. Liando menerima tas itu dariku. Sakti mendekat dan memberikan sebuah tas dari kertas kepadaku. Katanya, dia pergi ke rumah sejenak untuk mengambil beberapa benda yang akan aku butuhkan. Yuyun yang menyusun semua barang tersebut di dalam tas.
“Aku tidak tahu bahwa kamu tadi pulang ke rumah,” kataku bingung.
“Hanya spontanitas, Nyonya. Semoga ini bisa membantu. Kami akan menunggu di luar,” pamitnya dengan sopan. Mereka keluar dari kamar, meninggalkan aku berdua saja dengan suamiku.
“Mahendra Satya Perkasa. Itu namaku, ‘kan?” tanyanya pelan. Aku menganggukkan kepalaku. Dia bicara jujur. Perlahan-lahan ingatannya kembali. Dalam berbagai dokumen, bahkan pada papan namanya yang digantung di kaki tempat tidurnya, namanya selalu tertulis Mahendra S. Perkasa.
Bila dia bisa menebak S tersebut adalah inisial dari Satya, maka itu bukan tebakan asal. Dia memang ingat dengan namanya. Apakah amnesia yang dia alami bersifat sementara? Apa lagi yang dia ingat selain namanya?
“Jadi, nama kamu Zahara?” tanyanya. Aku mengangguk pelan. Aku bingung harus bersikap bagaimana terhadap dia. Bila aku bersikap akrab, aku tidak mau merasakan sakit saat dia menolak aku lagi. Aku mencoba untuk menjaga jarak, sikapnya kepadaku malah berubah.
“Kamu bisa melihat nama yang terukir di bagian dalam cincin yang kamu pakai.” Aku melihat ke arah tangan kanannya. Dia mengikuti pandangan mataku.
Hendra menggeser cincin emas itu ke ujung jari manisnya, kemudian melihat bagian dalamnya. Aku tahu ada nama lengkapku terukir di sana. Seperti halnya nama lengkapnya terukir di cincin kawinku. Aku tidak tahu bahwa cincin ini akan berguna pada situasi seperti ini.
“Zahara Aprilia. Nama yang bagus. Sepertinya kamu tidak berbohong karena cincin ini berbekas di jariku. Aku pasti sudah mengenakannya cukup lama.” Dia mengamat-amati cincin tersebut.
“Dua belas tahun,” kataku pelan. Dia mengangkat wajahnya dan bertemu pandang denganku.
“Apa?”
__ADS_1
“Kamu sudah mengenakan cincin itu selama dua belas tahun. Sama seperti aku.” Aku melepaskan cincin itu dari jariku, lalu memberikannya kepadanya. Dia melihat ke arah tangan kananku sebelum menerima cincin tersebut.
“Mahendra S. Perkasa,” katanya saat membaca nama yang terukir pada bagian dalam cincin. Dia mengulurkan tangannya kepadaku. Aku menatapnya dengan bingung. “Berikan tanganmu.”
Aku menurut, lalu dia memasang cincin itu kembali. Saat aku akan menarik tanganku kembali, dia menahannya. Aku menatapnya dengan bingung. Dia melihat aku dengan saksama. Apa dia sedang berusaha untuk mengingat siapa aku?
“Mengapa jantungku berdebar cepat sekali saat aku menyentuh tanganmu?” tanyanya.
“Mungkin jantung kamu mengenal siapa istri kamu saat kamu tidak bisa mengingat dia?” tebakku. Dia tertawa kecil.
“Apa kamu buta atau kamu sudah tidak waras?” tanyanya heran.
“Apa maksudmu menuduh aku seperti itu?” kataku tersinggung.
“Aku melihat wajahku di cermin. Dan aku yakin kamu bisa melihat juga bahwa aku tidak masuk dalam standar laki-laki yang menarik. Bagaimana bisa wanita secantik kamu mau menjadi istriku?” tanyanya tidak mengerti. Aku tertegun sejenak mendengar pertanyaan itu.
“Benarkah? Bagi kamu, aku tampan? Bagaimana dengan laki-laki yang bernama Zach, lalu Dokter Andreas?” tanyanya, menyebut nama-nama pria yang memang tampan. “Aku tidak ingat nama-nama yang lain, tetapi ada juga yang menurut standar kamu termasuk ganteng.”
“Aku tidak punya standar. Ayolah, aku bukan lagi wanita muda yang buta oleh karena penampilan fisik seseorang. Apa kamu tidak bisa melihat aku bukan remaja lagi? Bagiku, kamu tampan,” kataku sekali lagi. “Jadi, berhenti menyebut dirimu sendiri jelek.”
Dia diam sejenak, lalu pandangannya teralih pada tas yang ada di atas sofa. “Apa isi tas itu?” Karena aku juga tidak tahu, maka aku tidak bisa menjawabnya.
Aku berdiri, mendekati sofa, lalu memeriksa isi di dalamnya. Oh. Sakti dan Yuyun benar-benar berpikir dengan cepat. Aku mengeluarkan salah satu album foto, lalu memberikan kepadanya. Sebelum dia sempat membuka sampulnya, pintu kamar diketuk, kemudian seorang suster masuk. Dia meletakkan sebuah wadah berisi obat di atas nakas.
“Tolong, obatnya diminum segera,” katanya dengan ramah.
“Terima kasih, Suster,” ucapku dan Hendra serentak.
Aku berjalan memutar tempat tidurnya untuk mengambil wadah tersebut, Hendra mengambilnya lebih dahulu. “Aku masih bisa menggerakkan tanganku sendiri. Untuk apa kamu repot-repot berjalan jauh begitu?” candanya. Aku menahan diri untuk tidak marah. Mengapa dia tidak melakukannya sebelum aku berada di sisi nakas tersebut?
__ADS_1
“Jangan marah. Merawat orang sakit itu butuh kesabaran,” Dia meletakkan wadah yang sudah kosong tersebut, lalu mengambil segelas air dan meminum obatnya.
“Lain kali, hentikan aku kalau kamu bisa mengurus dirimu sendiri. Bukan malah membiarkan aku memutar, lalu kamu mengambil obat itu dengan mudahnya.” Aku kembali ke posisiku semula.
“Aku sengaja melakukannya. Sepertinya aku sering melakukan itu, ya? Karena kamu mudah sekali marah.” Dia mengulum senyumnya. “Baiklah. Coba kita lihat, apa yang dibawa oleh teman kamu.”
“Sakti bukan temanku, dia salah satu pekerja di rumah kita.” Aku kembali duduk di tepi ranjangnya. Dia berhenti saat baru membuka sampul album foto di atas pangkuannya.
“Kamu juga menyebut hal itu saat memperkenalkan Liando. Untuk apa kita butuh pekerja di rumah? Apa kita orang kaya?” tanyanya dengan lugu. Aku mengangguk pelan. “Wow. Semoga saja aku bukan koruptor.” Aku tertawa mendengar celetukannya itu.
Dia menarik napas terkejut melihat foto pertama. Album itu adalah album khusus mulai dari hari pertunangan, pernikahan, hingga beberapa foto kami berdua selama kami menjadi suami istri. Ada foto saat kami bulan madu di Eropa, berlibur berdua, hingga saat aku mengandung Hadi.
“Kamu cantik sekali,” pujinya dengan kekaguman yang tidak dibuat-buat. Matanya tidak berpaling dari fotoku yang sedang berdiri di sisinya dengan gaun pengantinku. Setelah puas, dia membalik halaman itu dan ada beberapa foto kami masih menggunakan pakaian pernikahan kami.
Saat membalik ke halaman berikutnya, kami sedang berbulan madu. Dia tidak mengatakan apa pun ketika satu per satu foto diamatinya. Saat dia menguap, aku mencegahnya untuk membuka album itu ke halaman berikutnya.
“Kamu bisa melanjutkan ini besok. Sebaiknya kamu beristirahat sekarang. Obatnya sudah bekerja, jangan dilawan.” Aku mengambil album foto itu darinya. Dia tidak melawan.
Bagian kepala ranjangnya perlahan bergerak turun, aku menatapnya dengan bingung. Melihat tangannya menggenggam sesuatu, aku akhirnya mengerti. Dia diberi alat untuk mempermudahnya menaikkan dan murunkan sendiri kepala tempat tidurnya. Baguslah.
“Kamu sebaiknya pulang dan beristirahat di rumah. Aku yakin tidur di sofa atau di ruang tunggu tidak akan nyaman untukmu,” katanya. Aku membantu memperbaiki posisi selimutnya.
“Iya. Sampai besok pagi.” Aku berjalan menuju pintu.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya. Aku menghentikan langkahku. Bukannya tadi dia meminta aku untuk pulang? Apa lagi maunya sekarang? “Apa hubungan kita sebagai suami istri sedingin ini?”
“Apa maksudmu?”
“Kamu tidak memberi ciuman selamat tidur kepada suamimu.”
__ADS_1