
“Orang-orang tidak akan percaya ini. Zahara yang tidak bisa kita pegang kini ada dalam genggaman kita.” Pria pertama tertawa bahagia.
“Jangan banyak bicara. Cepat lakukan,” desak pria kedua. Aku berusaha untuk melepaskan diri dari pegangan mereka. Aku menendang sekuat tenaga, yang mereka lakukan kemudian membuatku memekik tertahan. Mereka mendorongku ke dinding.
“Kamu tidak akan menyesal, cantik. Aku bisa membuatmu sangat puas sehingga menginginkan aku lagi.” Pria pertama menarik rok gaunku agar terangkat. Udara dingin khas ruangan dengan penyejuk menyentuh kakiku. Tidak. Aku memberontak sekuat tenaga. Mereka memegang kedua tanganku, menutup mulutku, dan kedua kaki mereka menahan kakiku.
Hendra! Hendra! Tolong aku! Apa yang ada di dalam kepala kedua pria ini? Mengapa mereka mau memaksakan kehendak mereka kepadaku? Aku tidak memedulikan rasa sakit yang aku rasakan, aku terus memberontak sekuat tenaga melindungi diriku sendiri. Pegangan tangan mereka pada mulutku melonggar, aku segera menggigit sekeras mungkin.
“Toloong!!” Aku kembali berteriak mengeluarkan seluruh udara yang ada di dadaku. Pria pertama itu membungkamku dengan mulutnya. Menjijikkan. Dia bukan suamiku. Apa haknya melakukan ini kepadaku? Mulutku kemudian bebas dan sebuah erangan kesakitan keluar dari mulutnya. Pegangan pada salah satu tanganku terlepas. Aku menoleh ke arah datangnya suara. Hendra. Dia memukul wajah pria itu hingga dia tersungkur di lantai.
Tangan keduaku juga akhirnya lepas karena tinju yang mendarat di wajah pria kedua. Pria pertama segera berlari pergi. Pria kedua bernasib lebih malang. Dia harus merasakan pukulan demi pukulan pada wajahnya. Hendra mengeluarkan ponselnya dan meminta seseorang menahan seorang pria yang dia sebutkan namanya. Sepertinya itu adalah nama pria yang kabur tadi.
“Maafkan aku.” Hendra memelukku. “Maafkan aku datang terlambat, sayang.” Aku menggelengkan kepalaku. Kakiku rasanya kehilangan kekuatannya tetapi aku masih punya sedikit tenaga. Tatapanku tidak lepas dari pria kedua itu saat aku melepaskan diri dari pelukan suamiku dan melayangkan tendangan ke bagian di antara kedua kakinya. Dia segera melenguh panjang kesakitan.
Dasar laki-laki lemah. Pantas saja mereka bekerja sama untuk menyakiti aku. Ketika mereka seorang diri, mereka bahkan tidak bisa satu lawan satu dengan Hendra. Jangankan melawan, pukulan Hendra saja tidak bisa mereka balas.
Petugas keamanan datang dan mereka terkejut melihat pemandangan di depan mereka. Seorang pria sedang mengerang kesakitan dengan tangan berada di alat vitalnya. Salah satu dari pria itu meminta maaf, sedangkan yang lainnya membawa laki-laki itu pergi.
“Bawa dia dan pria tadi ke kantor polisi. Jangan lewat pintu depan. Aku dan istriku akan datang memberi pernyataan,” kata Hendra yang masih memelukku dengan erat. Badanku gemetar karena amarah tetapi dia tidak mengizinkan aku menyakiti laki-laki lemah itu lebih jauh lagi.
Aku melepaskan diri dari Hendra dan bergegas menuju kamar kecil. Aku menuju wastafel terdekat, menyalakan airnya, lalu berkumur-kumur. Menjijikkan. Aku masih merasakan mulutnya di mulutku. Benar-benar menjijikkan. Aku jelas berkata tidak, juga tidak menunjukkan bahwa aku malu-malu atau pura-pura tidak mau. Hanya Hendra yang aku inginkan melakukan semua itu kepadaku. Bukan laki-laki lain, bahkan tidak dengan Vivaldo.
__ADS_1
“Sayang.” Hendra menyentuh tanganku. Tanpa aku sadari aku memegang wadah wastafel tersebut dengan erat. Aku melepaskannya. “Teman-temanmu akan datang membantumu merapikan diri.” Aku mengangguk pelan. “Kita pulang, ya.”
Aku ingin sekali melakukan itu. Aku ingin kami berada di kamar berdua saja di mana aku bisa memeluknya dan tidur bersamanya sampai hari ini berlalu dan melupakan semua yang baru saja terjadi. Tetapi aku sadar bahwa aku punya kewajiban baru. Begitu juga dengan dia.
“Tidak. Kamu adalah direktur utama, jadi kehadiranmu sangat penting dalam acara ini. Aku baik-baik saja. Aku masih bisa mengikuti acara. Setelah teman-teman merapikan riasanku, tidak akan ada yang tahu sesuatu telah terjadi.” Aku melihat ke arah tangannya. “Kamu perlu mengobati tanganmu, sayang.” Aku melihat darah pada buku-buju jarinya.
“Aku tidak apa-apa.” Dia mengambil tisu kemudian membantu mengeringkan wajahku.
“Apa yang terjadi? Mengapa tidak ada orang yang menggunakan toilet saat mereka melakukan itu kepadaku?” tanyaku bingung.
“Mereka menyuruh orangnya berjaga dan memasang tanda bahwa toilet rusak sehingga para tamu yang datang langsung beralih ke toilet lain.” Dia membelai pipiku. “Seharusnya aku datang lebih cepat. Aku sudah gelisah ketika kamu belum kembali juga.”
“Tidak apa-apa, sayang. Semuanya sudah berlalu.” Aku tersenyum. Dia menatapku dengan ragu sebelum ikut tersenyum. “Terima kasih, kamu datang tepat waktu.”
“Bisakah kalian membantunya? Aku harus mengurus sesuatu sebentar. Dan tolong, temani istriku kembali ke aula,” pinta Hendra.
“Baik, Pak Dirut,” jawab ketiga sahabatku dengan serentak. Hendra tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia pergi, teman-teman segera mendekatiku.
“Apa yang terjadi? Apa kalian bercinta di wastafel ini?” tanya Qiana pelan. Aku tertawa mendengar leluconnya. Mereka memang sahabat yang baik. Selalu tahu cara membuatku ceria lagi.
Orang-orang yang menggunakan toilet mulai berdatangan. Iya. Seperti inilah seharusnya yang terjadi tadi. Para wanita keluar masuk ke tempat ini. Bila tidak untuk menyelesaikan urusan pribadi, setidaknya untuk memperbaiki riasan wajah mereka.
__ADS_1
Teman-temanku saja melakukan itu. Iya, mereka membantu memperbaiki riasan wajahku, tetapi mereka juga tidak lupa mengurus diri sendiri. Jantungku berdebar dengan keras saat melewati koridor itu lagi. Bayangan wajah mereka yang begitu bernäfsu menatapku, membuatku mual. Aku menarik napas panjang untuk menenangkan diri.
“Kamu tidak apa-apa, Zahara?” tanya Darla yang menatapku dengan wajah khawatir.
“Aku tidak apa-apa.” Kami berjalan dengan lengan saling bertautan, jadi dia sangat membantuku bisa tetap berjalan dengan tegak. Aku hanya perlu menguatkan diri beberapa jam lagi. Hanya tinggal acara makan dan penutup, lalu kami bisa pulang.
“Ini adalah perayaan ulang tahun yang terbaik. Aku sangat mencintai Hendra yang mengundang penyanyi pria idolaku. Ya ampun!! Suaranya seindah suara rekamannya. Dan aku tadi sudah sempat berfoto dengannya di belakang panggung. Gista yang mengantarku sendiri ke sana.” Qiana berteriak histeris. Kami sampai menutup telinga dengan tangan kami.
“Jangan mencintai suamiku, Qiana. Dia hanya milikku seorang.” Aku memicingkan mataku. Dia malah tertawa bahagia.
“Kamu tidak akan tahu betapa susahnya aku mendapatkan jadwalnya untuk hadir di acara ulang tahun pernikahan kami. Jadi, melihatnya tampil di sini itu seperti impian yang menjadi kenyataan!” Dia kembali berteriak histeris.
“Oke, tenangkan dirimu. Kita akan masuk ke aula sekarang.” Lindsey tertawa kecil.
Seorang petugas membukakan pintu untuk kami dan terdengar bunyi musik pengantar sebuah lagu. Sepertinya acara penutup sudah selesai sehingga tinggal acara hiburan saja. Qiana berteriak histeris bersama beberapa tamu lainnya. Oh, Tuhan.
Pria yang berdiri di tengah panggung itu menyanyikan salah satu lagunya yang terkenal dari awal rilis hingga sekarang, “Panah Asmara”. Beberapa orang ikut bernyanyi bersamanya pada refrein. Qiana tidak mau kalah. Aku, Darla, dan Lindsey hanya bertukar pandang penuh arti.
Mereka mengantarku sampai ke meja dan tidak kembali ke tempat duduk mereka karena Qiana ingin melihat penyanyi kesukaannya dari jarak dekat. Papa dan Mama berdiri. Mereka pamit untuk pulang lebih dahulu. Hendra berdiri dan kami tetap berdiri berdampingan mendengar lagu tersebut. Aku melihat tidak banyak tamu yang bergerak menuju pintu keluar.
Banyak juga penggemar penyanyi pria ini. Aku tidak punya penyanyi khusus yang lagu-lagunya aku sukai. Bila lagu itu enak didengar, maka aku akan menyukai lagunya tidak peduli siapa penyanyinya. Jadi, hal yang dialami Qiana tidak akan pernah aku alami.
__ADS_1
Tiba-tiba saja listrik padam. Suasana hening sejenak. Aku tidak bisa melihat apa pun. Lalu mulai terdengar suara panik dari para tamu. Aku segera memeluk Hendra. “Sayang, apa yang terjadi?”