Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 235 - Sambutan di Rumah


__ADS_3

“Selamat datang kembali!!” sambut keluarga dan sahabat kami di ruangan yang berhubungan dengan kolam renang. Hendra tertawa mengenali setiap wajah yang hadir di tempat itu. Ara menyalak dan berdiri di depannya.


“Papa!!” sorak Hadi dan Dira yang segera berlari ke kakinya. Aku membantu menaikkan Dira ke pangkuannya, sedangkan Zach menolong mengangkat Hadi.


“Hati-hati jangan sentuh perban di kepala Papa, Nak,” ucapku sambil menurunkan tangan Hadi dari kepala papanya.


“Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa,” kata Hendra dengan suara terharu. “Aku punya anak. Mereka ganteng dan cantik, sayang.” Dia semakin terharu saat Dira mencium pipinya. Hadi juga melakukan hal yang sama.


“Makanya cepat sembuh, Kak. Masa anak sendiri saja Kakak lupakan,” goda Zach. Kami tertawa bersama. “Ayo, kita mulai makannya. Aku lapar.” Kami bersorak mendengar kalimat kesukaannya itu.


Setelah Papa memimpin doa makan, mereka mulai mendekati setiap meja saji mencari makanan yang mereka inginkan. Hendra duduk di salah satu sofa bersama kami, lalu Fahri memberikan menu khusus untuknya. Matanya berbinar senang melihat makanan di atas piring tersebut.


Hendra menyebut nama satu per satu orang yang menyapanya. Rasmi, Zeph, dan Charlotte yang perlu memperkenalkan diri karena dia belum ingat siapa mereka. Aku sengaja tidak mengundang tetangga kami agar dia tidak semakin bingung melihat begitu banyak wajah yang perlu dia ingat.


Saat seorang pelatih pria datang untuk mendampingi Hendra melakukan terapi, para tamu kami pamit kepadanya. Anak-anak dan Ara mengikuti Papa mereka memasuki ruang olahraga, sedangkan aku mengantar kepulangan keluarga dan teman kami.


“Aku tidak percaya ini.” Qiana tertawa geli. Aku menatapnya curiga karena itu adalah jenis tertawa mengejek. “Kalian baru buka puasa dan kamu harus puasa lagi?”


“Hentikan, Qiana!” omelku dengan wajah memerah. “Aku tidak tahu harus menunggu berapa lama sampai dia siap lagi. Tetapi aku tidak terima kamu malah mengejek aku seperti ini.”


“Zahara.” Qiana tertawa. “Kamu tidak tahu betapa senangnya aku setiap kali melihat kalian harus dipaksa dengan cara ini untuk menjaga jarak sejenak.” Aku cemberut.


“Jangan khawatir begitu. Yang penting dia sudah ingat kepadamu. Dan kalian tidak akan puasa selama tiga bulan seperti sebelumnya. Aku yakin setelah satu minggu, Hendra akan berinisiatif untuk melakukannya.” Lindsey melingkarkan tangannya di pundakku.

__ADS_1


“Sudah, berhenti mengganggu Zahara. Ayo, kita pulang. Hendra butuh istirahat setelah terapinya selesai. Kamu juga beristirahatlah, sudah beberapa hari kamu sibuk bolak-balik dari rumah ke rumah sakit,” lerai Darla, sahabat terbaikku.


Setelah berpelukan dengan mereka, juga dengan keluargaku, aku dan anak-anak melambaikan tangan mengantar kepergian mereka. Petugas keamanan terpaksa menyuruh wartawan itu untuk mundur memberi setiap mobil ruang untuk lewat.


Aku mendesah pelan. Kerumunan itu akan bertahan sampai berapa lama? Saat kasus dengan Nora, Dicky, dan Vivaldo, mereka sanggup berminggu-minggu berada di sana meskipun tanpa hasil. Apa aku sebaiknya membawa keluargaku untuk tinggal sementara di apartemen?


Ah, tidak. Kami tidak punya cukup kamar untuk para pekerja. Hendra membutuhkan diet khusus dan aku tidak bisa memberi menu sembarangan. Fahri sudah tahu menu apa yang cocok setiap kali kami jatuh sakit. Lagi pula Hadi masih libur sekolah, kami tidak perlu sering keluar rumah. Biar sajalah mereka berkumpul di depan gerbang rumah. Nanti juga mereka bosan.


Tantangan berikutnya yang kami hadapi adalah membawa Hendra ke kamar kami di lantai atas. Dia mencoba untuk melakukannya sendiri dengan berpegangan pada susuran tangga. Aku tersenyum melihat kakinya sudah cukup kuat untuk menaiki tangga.


“Bersandar padaku, sayang,” kataku sambil berjalan di sisinya. Dia melihat ke arahku sesaat.


“Kamu pendek, sayang. Bagaimana aku bisa bersandar pada tubuh kecilmu?” ejeknya. Aku segera bergerak menjauh, dia malah melingkarkan tangannya di bahuku. “Kamu ini pemarah sekali.”


“Kamu bilang aku pendek dan kecil, kalau begitu biar Sakti atau Liando saja yang memapahmu,” protesku. Dia hanya tertawa dan melanjutkan langkahnya menaiki tangga.


Hendra mengulurkan kedua tangannya kepadaku setelah dia menghentikan kursi rodanya di tepi tempat tidur. “Tolong aku, sayang,” pintanya.


“Kamu bisa menaiki tangga, mengapa berpindah dari kursi ke tempat tidur tidak bisa?” tanyaku curiga. Hadi segera berdiri di depannya.


“Sini, Pa. Aku yang bantu,” ucap Hadi antusias. Hendra tertawa kecil. Dia menuruti permintaan putra kami. Tentu saja Hadi tidak bisa mengangkatnya. “Papa harus diet. Tubuh Papa berat sekali.” Kami tertawa mendengar keluhannya.


Aku mengalah dengan berdiri di depan suamiku lalu membiarkan dia melingkarkan tangannya di leherku. Mudah saja bagi kami untuk berdiri bersama, lalu mendudukkannya di tepi ranjang. “Dasar manja,” ejekku. Dia tertawa. “Hadi, ajak Adik ke bawah, ya. Mama harus mengganti pakaian Papa dan membantunya mandi sebentar. Nanti mama menyusul.”

__ADS_1


“Oke, Ma. Ayo, Dira.” Hadi menggandeng tangan adiknya, lalu keluar dari kamar. Aku menoleh ke arah Ara yang masih berdiri di dekat kakiku.


“Kamu juga keluar, gadis muda,” ucapku kepadanya. Dia protes dengan menggonggong tetapi tidak mau bergerak sama sekali. “Kalau kamu bersikap baik, aku akan mengizinkan kamu tidur sore di sini bersama tuanmu. Beri aku beberapa menit untuk membantunya membersihkan diri.”


Aku tidak tahu bagaimana dia bisa memahami kalimatku, tetapi aku berhasil membuatnya bergerak ke arah pintu kamar. Aku menutup pintu, lalu membantu melepaskan pakaian suamiku. Luka bekas sayatan kaca pecah pada wajahnya mulai sembuh, pada leher dan tangannya juga. Bagian tubuhnya yang lain baik-baik saja, kecuali bahu dan pinggul kanannya yang lebam karena antukan keras.


“Kamu bisa mandi sendiri atau perlu aku bantu?” tanyaku setelah mendudukkannya di bak mandi.


“Aku bisa mandi sendiri, sayang,” katanya. Aku memberinya kepala pancuran agar bisa mengarahkan benda itu ke bagian yang aman untuk dibasahi. Lalu aku meletakkan semua peralatan mandinya di tepi bak. Aku mencium bibirnya sebelum keluar.


“Jangan basahi perbanmu,” ucapku mengingatkannya.


“Baik, Suster,” candanya. Aku tertawa. Aku membiarkan pintu terbuka agar aku bisa mendengar andai dia membutuhkan bantuanku.


Bunyi air terdengar saat aku memilihkan pakaian ganti untuknya. Aku meletakkan semuanya di atas ranjang. Baru saja duduk di sofa, ponselku yang ada di sakuku bergetar. Aku mengeluarkannya dan membaca nama Irwan pada layar. Aku menyapanya.


“Nyonya Mahendra, aku punya kabar baik sekaligus kabar buruk untuk Hendra. Apa aku boleh bicara dengannya?” tanyanya dengan nada mendesak.


“Ng, aku tidak yakin aku bisa melakukan itu. Maaf, aku tidak mengatakan ini kepadamu sebelumnya. Hendra kehilangan ingatannya. Dia menderita Amnesia Disosiatif. Dia baru mengingat sampai kehidupan kami sebelum berpisah. Jadi …,” kataku berusaha untuk menjelaskan.


“Aku tidak menduga bahwa akibat dari kecelakaan ini akan separah itu. Tetapi dia sudah pulang apa itu tidak masalah?” tanyanya khawatir.


“Tidak. Pulang justru akan membantu dia mengingat segalanya lebih cepat.” Aku mengulang apa yang Dokter sampaikan. “Jadi, apa kabar baik dan buruknya?”

__ADS_1


“Kabar baiknya, kami sudah mendapatkan siapa yang merencanakan kecelakaan itu. Mereka berniat mengakhiri hidup Hendra, tetapi gagal. Kabar buruknya, kita akan sulit menuntut orang ini ke jalur hukum,” jawab Irwan yang justru membuat aku semakin tidak tenang.


Mereka tidak berhasil membunuh suamiku, apa itu artinya mereka akan kembali untuk mencoba cara yang lain? Orang yang sulit dibawa ke jalur hukum berarti suamiku berurusan dengan orang penting. Mengapa dia selalu saja mencari masalah dengan orang-orang tak tersentuh hukum?


__ADS_2