Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 178 - Biar Aku yang Balas


__ADS_3

“Siapa yang sedang kalian bicarakan?” tanya Annora.


“Wanita muda yang memakai gaun berwarna putih yang berdiri tanpa pasangan,” jawab Lindsey. Annora mengangguk.


“Apa ada sesuatu sehingga dia menarik perhatian kalian?” tanya Annora ingin tahu. Kami semua saling bertukar pandang.


“Ceritanya panjang dan sangat membosankan.” Claudia memberi peringatan.


“Aku siap untuk mendengarkan.” Annora menegakkan tubuhnya. Teman-teman segera berebut untuk menceritakan apa yang terjadi di antara aku, Hendra, dan wanita itu. Ternyata Annora dan Xavier mengikuti berita mengenai pencemaran nama baik aku dan keluarga kami. Mereka berdua ikut geram dengan apa yang sudah perempuan itu lakukan.


“Setelah berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, sampai sekarang dia memang belum berulah. Tetapi aku mengagumi rasa tidak tahu malunya tetap berada di sini di antara keluarga yang sudah dia permalukan habis-habisan di media,” ucap Qiana geram.


“Uang bisa membeli segalanya. Kalian lupa, uang juga bisa membalikkan keadaan,” kata Annora penuh arti. Aku segera mengerti arti ucapannya itu.


“Tidak, Annora. Aku tidak mau kamu atau Xavier melakukan apa pun terhadap wanita itu. Dia tidak berulah bukan berarti dia tidak akan membalas bila kita melakukan serangan.” Aku menatapnya dengan serius. Annora membalas tatapanku.


“Dia telah mempermalukan kamu dan Hendra, juga telah menyebabkan kamu beberapa kali dilecehkan orang. Itu bukan perkara kecil yang cukup diselesaikan dengan kata maaf, Za,” kata Annora bersikeras.


“Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Claudia ingin tahu.


“Oh, jangan khawatir. Istriku tahu bagaimana membalas serangan dengan benar tanpa membuat lawan bisa berkutik lagi.” Xavier tersenyum. Teman-teman menatap mereka berdua dengan bingung.


“Sebentar. Apa kalian Xavier dan Annora Morris?” tanya Claudia sambil memicingkan matanya. Kedua pasangan itu saling bertukar pandang, lalu menganggukkan kepala mereka. “Oh, Tuhan! Kalian pengusaha terkaya di Inggris. Apa yang kalian lakukan di sini?!”


“Sepertinya aku pernah dengar nama itu.” Darla mengerutkan keningnya.


“Mereka pengusaha yang bergerak di bidang industri dan real estate terbesar di Eropa.” Claudia menjelaskan. “Mereka sangat disegani di sana. Tidak ada yang berani bermain-main dengan mereka. Kalau kalian pernah dengar tentang skandal Clark bersaudara, Morris yang disebut sebagai saksi kunci adalah mereka berdua.”

__ADS_1


“Oh. Perseteruan hak ahli waris mengenai apartemen mewah di London? Clark bersaudara bukannya sangat kuat juga di Inggris?”


“Karena itu mereka berani memandang rendah Morris. Clark yang sangat kuat saja bisa mereka jatuhkan dengan bukti yang kuat, apa kamu pikir Nora yang hanya seorang anak dari pengusaha kaya di negeri ini bisa berkutik jika Annora sudah turun tangan?” Claudia mengangkat kedua alisnya. Annora tertawa kecil.


“Kamu terlalu memuji.” Annora tersipu. Teman-teman menatap kami secara bergantian.


“Lalu bagaimana kalian bisa saling mengenal?” tanya Darla tidak percaya.


“Ceritanya panjang,” jawab Annora. “Singkatnya, kami memesan kamar yang sama pada sebuah hotel di Paris. Ada kesalahan pada sistem hotel tersebut. Hendra bersikeras bahwa mereka yang memesan kamar lebih dahulu, tentu saja suamiku juga begitu. Pihak hotel tidak mungkin mengusir tamu yang ada di jenis kamar yang sama, sedangkan kami bersikeras menginginkan kamar tersebut.


“Akhirnya, Za meminta Hendra untuk mengalah. Kalian tidak akan percaya betapa mudahnya seorang pria yang bertekad kuat langsung tunduk kepada istrinya hanya dengan satu kata saja.” Annora dan Xavier serentak tertawa geli.


“Oh, kami melihatnya setiap kali kami bertemu mereka. Jadi, kami tidak terkejut mendengarnya,” ucap Qiana menimpali. Kami tertawa bersama.


“Mereka pindah kamar dan kami pun menjadi teman. Kami mengunjungi tempat wisata bersama, makan bersama, dan kedua suami bicara tentang bisnis sampai akhirnya mereka sepakat untuk bekerja sama. Semuanya berlangsung sangat cepat. Walaupun aku dan Za tidak sedekat sebelumnya, Hendra dan Xavier tetap menjaga hubungan baik.”


“Aku sudah tahu masalah pernikahanmu dan Hendra, jadi aku mengerti bahwa kamu tidak bisa dekat dengan mereka yang juga dekat dengan suamimu,” katanya penuh pengertian. “Yang sudah lalu, lupakan saja. Kita masih bisa memperbaiki hubungan kita ke depan.” Dia menyentuh tanganku. “Dan aku serius akan memberi perempuan itu pelajaran.”


Gista mengumumkan bahwa sudah saatnya untuk berfoto bersama. Kami pun berkumpul dan membiarkan mereka yang mengatur posisi berdiri kami semua. Usai berfoto, para tamu mulai pamit pulang. Sebagian dari mereka tidak menitipkan kado di bagian penerima tamu karena ingin memberi secara langsung. Teman-teman membantu aku mengumpulkannya.


“Terima kasih sudah mengundang kami datang. Semoga kalian selalu bahagia,” ucap Papa dengan tulus. Aku dan Hendra berterima kasih. Mama hanya melewati aku tanpa mengatakan apa pun. Tetapi dia menyempatkan diri untuk memeluk putranya. Nora juga hanya melewati aku. Dia sadar bahwa Hendra tidak akan menjabat tangannya, maka dia tidak mencoba peruntungannya.


Papa dan mamaku juga pamit bersama Zach dan keluarganya. Rasmi ingin tinggal lebih lama untuk membantu membereskan tempat acara, tetapi aku melarang. Dia sedang hamil dan dia sudah banyak membantu dari pagi hari tadi.


“Apa kalian tinggal bersama kami?” tanyaku kepada Annora penuh harap.


“Tidak. Kami menginap di hotel ini, lalu besok siang terbang ke Bali. Kamu tahu bahwa Xavier ingin sekali berlibur ke sana. Kami memanfaatkan acara hari ini untuk sekalian berlibur.” Annora menyentuh tanganku. “Maaf, kami tidak bisa berkunjung ke rumah kalian.”

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Lalu bagaimana dengan anak-anak?” tanyaku menyadari bahwa mereka hanya datang berdua.


“Mereka tidur di kamar. Jet lag,” jawabnya. Aku mengangguk mengerti.


“Terima kasih kalian sudah jauh-jauh datang menghadiri acara ini,” ucapku terharu.


“Bukan masalah. Kalian bisa datang besok dan kita sarapan bersama di sini. Sebelum kembali ke London, kami akan mampir dan menginap di rumah kalian. Jadi kita punya waktu untuk berbagi cerita.” Annora melihat ke arah suaminya. Xavier mengangguk setuju.


“Itu lebih baik lagi,” ucapku senang. Kami saling berpelukan, lalu mereka pamit untuk kembali ke kamar mereka.


Teman-teman sudah membantu memasukkan beberapa kado ke dalam mobil boks. Aku melihat ke arah Hendra. Padahal kami sudah jelas meminta mereka untuk tidak membawa hadiah, tetap saja ada yang keras kepala. Ke mana semua barang ini akan kami simpan di rumah kami?


Menepati janjinya, Hendra membawaku ke sebuah ruang konferensi di mana para wartawan sudah menunggu. Kami tidak mengizinkan mereka masuk ke ruang acara untuk meliput. Tetapi Hendra bersedia menjawab pertanyaan bagi mereka yang tertarik untuk menayangkan berita mengenai ulang tahun pernikahan kami.


Setelah teman-teman membantu merapikan penampilanku, kami memasuki ruang konferensi. Lampu kilat segera diarahkan kepada kami. Gista masih setia membantu memimpin jalannya acara tersebut. Dia melakukan hal yang sama seperti konferensi sebelumnya bersama Nora. Dia membagi dua sesi dan setiap sesi hanya diberikan kepada tiga orang dengan satu pertanyaan saja.


Hendra sudah memberitahu agar aku mengizinkan dia yang menjawab pertanyaan. Para wartawan tahu bahwa ini kesempatan yang langka, jadi mereka berebut mengajukan pertanyaan yang akan memuaskan banyak pihak. Aneh rasanya menjadi pusat perhatian, tetapi aku berhasil bertahan. Suamiku menjawab semua pertanyaan dengan mulus.


“Kami tidak akan bisa menyenangkan semua pihak dengan keputusan yang kami ambil. Tetapi pernikahan ini adalah kehidupan pribadi kami. Bukan hanya istriku yang melakukan kesalahan, aku juga. Jadi, berhenti berasumsi dan menyebarkan berita bohong, terutama bila kalian tidak mengenal kami,” kata Hendra saat Gista mempersilakan kami menyampaikan pesan terakhir.


“Seperti yang sudah aku sampaikan sebelumnya, timku mengawasi setiap komentar kalian dan tidak akan segan-segan melayangkan laporan untuk setiap kata jahat dengan tuduhan pencemaran nama baik. Terima kasih untuk waktu dan kerja sama dari sahabat media. Selamat sore.” Hendra mengajak aku berdiri dan berjalan menuruni panggung.


“Hendra, Hendra, tolong, satu pertanyaan lagi!” Para wartawan itu memohon agar mereka diberi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan. Apa lagi yang mau mereka ketahui?


“Bapak dan Ibu sekalian, waktunya sudah habis. Mohon maaf, tidak ada pertanyaan yang akan dijawab lagi oleh Pak Mahendra.” Gista berusaha untuk menenangkan suasana.


“Hendra,” kata seorang wartawan yang berhasil mengambil salah satu mikrofon yang ada di atas meja di mana tadi aku dan Hendra berada. “Satu pertanyaan saja. Apa benar sekretarismu ini adalah anak haram dari ayahmu?”

__ADS_1


__ADS_2