
Tiba-tiba saja Darla mendekat, meletakkan papan bertuliskan namanya dan Gio, lalu memindahkan papan namaku dan Hendra ke meja sebelah. Di mana teman-temanku dan suami mereka berada. Aku tidak tahu harus berkata apa karena dia sudah menyelamatkan kami.
“Nyonya, Anda tidak bisa …,” ucap wanita yang mengantar kami. Dia berhenti melihat sinyal tangan dari Keva. Wanita itu menunduk penuh hormat, kemudian kembali ke arah pintu masuk aula. Masalah pun teratasi dengan baik.
Kami mengikuti acara itu dengan tenang. Lindsey dan Qiana memberiku tatapan cemburu melihat aku makan begitu banyak. Aku hanya tertawa. Sampai kapan mereka akan memberiku tatapan itu? Apa bersahabat selama bertahun-tahun tidak juga membuat mereka terbiasa?
“Jangan salahkan aku. Bukan aku yang memaksa istriku untuk menjaga bentuk tubuhnya.” Helmut melihat ke arahku. “Aku tidak keberatan andai berat badannya sedikit bertambah.”
“Iya. Kamu tidak keberatan. Aku yang keberatan,” protes Qiana. “Ada banyak wanita yang bertubuh bagus yang setiap hari kamu temui di luar sana. Kalau sampai aku berubah gendut yang membuat kamu tidak betah di rumah, kamu bisa saja tergoda wanita lain.”
“Sudah, sudah. Jangan bertengkar di depan makanan enak,” ucap Edu melerai. Kami tertawa kecil.
“Kalian benar-benar teman yang baik, tertawa di atas penderitaanku.” Qiana cemberut.
“Aku harus ke kamar kecil.” Aku mengambil serbet yang ada di pangkuanku, lalu meletakkannya di atas meja. Hendra mengangguk pelan. Dia kemudian menoleh ke arah Lindsey dan Qiana. Aku tertawa kecil. Sejak insiden pada hari ulang tahun perusahaannya, aku tidak lagi diizinkan pergi jauh darinya tanpa didampingi orang lain.
Qiana yang menemaniku, sedangkan Lindsey belum membutuhkan toilet. Kami bersyukur tidak banyak antrian di toilet wanita. Mengantri sebentar saja, giliranku dan Qiana tiba. Aku mencuci tangan di wastafel setelah selesai menggunakan toilet.
“Aku sudah lama menunggu saat ini,” ucap seorang wanita di sebelahku. Aku menoleh dan melihat Keva sedang membersihkan tangannya. Dia bicara tanpa melihat ke arahku. “Aku tidak akan membiarkan kamu atau siapa pun lagi menghalangi aku mendapatkan apa yang aku mau.”
“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.
“Bila aku tidak bisa mendapatkan dia, maka kamu pun tidak akan aku biarkan bahagia bersamanya,” katanya lagi, mengirim aliran listrik ke sekujur tubuhku. A-apa maksudnya bicara begitu?
“Kamu tidak sedang mengigau, ‘kan? Apa kamu baik-baik saja?” tanyaku yang semakin heran melihat tingkahnya.
Dia mengarahkan pandangannya kepadaku. “Bagaimana dengan makan malamnya? Apa kamu suka dengan menu yang kami sajikan malam ini?” Aku menatapnya dengan heran. Apa dugaanku benar? Perempuan ini berkepribadian ganda? Ah, tidak. Bukan itu. Dia hanya mengenakan topeng, sama seperti strategi yang digunakan Nora.
__ADS_1
Ada banyak orang di sekitar kami, jadi dia tidak mau menunjukkan sifat aslinya di depan semua orang. Mengapa? Mengapa orang-orang yang masuk ke dalam kehidupan kami punya pikiran yang tidak waras? Demi Tuhan, aku dan Hendra tidak pernah merusak pernikahan siapa pun. Lalu mengapa orang-orang suka mengusik kehidupan kami?
Aku tidak membutuhkan cenayang atau memaksa dia mengatakan yang sebenarnya. Aku tahu yang dia maksud sebagai ‘apa yang dia mau’. Dia pasti membicarakan Hendra. Ada banyak laki-laki kaya raya di negeri ini, mengapa Hendra lagi, Hendra lagi?
“Ada apa, Zahara? Apa dia mengganggumu?” tanya Qiana yang datang dari arah belakangku. Aku menoleh ke arahnya, sedangkan Keva tertawa kecil.
“Kami hanya saling menyapa. Iya, ‘kan, Zahara?” ucap Keva dengan senyum di wajahnya. “Ayo, kita kembali mengikuti acara. Masih ada banyak penyanyi terkenal lainnya yang akan tampil.”
Keva mengeringkan tangannya, kemudian melangkah keluar dari toilet. Wanita yang ada di sekitar kami tidak menunjukkan kepedulian mereka terhadap obrolan kami. Mereka fokus dengan apa yang mereka lakukan di toilet ini.
Melihat semakin banyak orang yang mengantri, aku dan Qiana keluar dari tempat itu. Kami kembali ke aula. Aku tahu bahwa aku tidak bisa menyembunyikan apa pun dari suamiku. Karena dia curiga melihat ekspresi yang aku buat-buat. Padahal aku sedang tersenyum sangat manis.
Pekikan histeris tiba-tiba memenuhi aula ketika jalinan nada awal sebuah lagu dimainkan. Qiana ikut melakukannya. Ya, Tuhan. Mereka mengundang penyanyi pria favoritnya. Hendra mendekatkan kursinya kepadaku, lalu melingkarkan tangannya di bahuku. Kami menikmati acara untuk beberapa saat karena Qiana jelas tidak akan mau diajak pulang sebelum penyanyi itu turun panggung.
Saat tiba di rumah, Hendra yang mandi lebih dahulu karena aku ingin memeriksa keadaan anak-anak. Melihat mereka sudah tidur pulas, aku tersenyum lega.
“Katakan, apa yang terjadi di toilet tadi?” tanya Hendra saat aku keluar dari kamar mandi. “Jangan coba-coba berbohong kepadaku. Ingat, tidak boleh ada rahasia di antara kita.” Aku memutar bola mataku. Apa dia pikir aku lupa dengan kesepakatan kami itu?
“Iya. Aku melihat dia menyusul kamu dan Qiana. Apa yang dia katakan?” tanyanya.
“Katanya, tidak ada yang bisa menghalangi dia untuk mendapatkan apa yang dia mau,” jawabku. “Aku tidak perlu memberitahu kamu apa yang dia maksudkan, ‘kan?”
“Tidak usah dipikirkan. Biar saja dia berhalusinasi. Aku tidak akan pernah berpaling dari kamu.” Hendra menarik aku agar berbaring di dekatnya.
“Mengapa semua perempuan itu menginginkan kamu? Kamu tidak tampan, apa yang membuat mereka tiba-tiba tertarik kepadamu?” tanyaku tidak mengerti. Hendra melonggarkan pelukannya dan menatapku tanpa berkedip.
“Tiba-tiba? Sudah sejak aku masih muda, banyak perempuan memperebutkan perhatianku. Kamu saja yang buta karena pacar gantengmu itu. Apa kamu pikir semua wanita mengejar laki-laki demi wajahnya saja? Hei, kantong tebal juga membuat banyak wanita tertarik,” katanya dengan arogan. Aku mendengus mengejeknya.
__ADS_1
“Aku penasaran,” kataku mengalihkan topik pembicaraan. Aku tidak suka setiap kali kami membahas masa laluku bersama Vivaldo. Apa salahnya jatuh cinta dengan pemuda yang tampan? “Apa yang terjadi di masa lalu sehingga kamu tidak memilih dia?”
“Aku tidak mencintainya,” jawabnya singkat.
“Sayang,” kataku tidak puas dengan jawabannya.
“Saat aku masih SMU, dia menyatakan cinta kepadaku. Aku tidak ingat dengan wajahnya, tetapi aku ingat siapa ayahnya. Aku menolak, dia malah menyebarkan gosip tidak benar mengenai aku.” Dia memulai ceritanya dengan nada bosan.
“Pada usia delapan belas tahun, dia seharusnya menikah dengan tunangannya. Tetapi beberapa minggu sebelum harinya, dia mengakhiri pertunangan mereka dengan alasan bahwa dia mencintai aku dan hanya mau menikah denganku.
“Keluarga tunangannya itu mendatangi aku meminta pertanggungjawaban. Aku mengatakan apa yang terjadi secara jujur. Aku punya saksi, jadi mereka tidak bisa memarahi aku. Pernikahan itu pun tetap dilanjutkan.” Hendra mengankhiri ceritanya.
“Apa tunangan yang kamu sebutkan itu adalah suaminya yang baru saja meninggal?” tanyaku pelan. Hendra mengangguk. “Pantas saja dia mengatakan bahwa ini adalah saat yang sudah lama dia tunggu. Dia ingin mendekati kamu lagi setelah suaminya meninggal.”
“Aku sudah tahu. Dia bersikap begitu akrab denganku saat kami memenuhi undangan walikota. Dia bahkan mengusir orang yang duduk di dekatku agar kami bisa duduk berdampingan,” katanya. Aku menatapnya dengan marah.
“Apa? Dia menempel denganmu pada acara itu dan kamu tidak mengatakan apa pun kepadaku? Apa yang terjadi dengan kesepakatan kita bahwa tidak akan ada rahasia lagi? Mengapa kamu baru mengatakan hal ini kepadaku sekarang??”
...*******...
...~Author's Note~...
Hari Seniiinn ...! Hari karcis merah dibagi-bagi secara gratis. Kalau teman-teman tidak ada bacaan lain yang ingin dihadiahi karcis, berikan vote ke cerita Hendra dan Zahara, ya. Terima kasih atas dukungannya. (。・ω・。)ノ♡
Terima kasih telah memberikan jempol, hadiah, rating, juga komentar pada karyaku ini sejak awal. Sebagai pemberitahuan, karya ini dapat giliran untuk Crazy Up. Aku diminta untuk publikasi 3 bab baru per hari selama satu minggu penuh. Semoga saja bisa.
Selamat membaca. ♪ ♬ ヾ(´︶`♡)ノ ♬ ♪
__ADS_1
Salam sayang,
Meina H.