
Aku harus mengingatkan suamiku untuk kesekian kalinya agar memerhatikan jalan yang ada di depan kami. Dia tertawa kecil sambil memberikan satu kedipan mata kepadaku. Padahal aku hanya mengenakan dress berwarna kuning lembut yang cukup sopan dengan kerah sabrina dan berlengan pendek, serta rok lebarnya yang sedikit di atas lutut. Aku memilih sepatu berhak tinggi karena tidak mau terlihat seperti gadis kerdil saat berdiri di sisinya. Hanya itu.
Wajahku tidak diberi riasan yang berlebihan, rambutku juga hanya digerai tanpa hiasan rambut apa pun. Tetapi sejak aku keluar dari ruang pakaian, matanya tidak berhenti menatap penampilanku. Dia bahkan masih melakukannya sesekali saat sedang menyetir.
Kami dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya. Hari ini Mama mengadakan acara syukuran untuk pemulihannya dari kanker. Karena ini hanya makan siang biasa dan yang diundang adalah orang-orang terdekat kami, penampilan kami tidak istimewa. Hanya pakaian yang biasa kami kenakan sehari-hari.
Ara juga ikut serta agar dia tidak terlalu kesepian ditinggalkan begitu lama. Beberapa petugas menyambut kami dan mengarahkan ke mana kami bisa memarkirkan kendaraan. Sepertinya sudah banyak tamu yang datang.
Hendra menggendong Dira, sedangkan aku menggandeng tangan Hadi saat kami berjalan menuju rumah mertuaku. Ara berjalan santai di sisi kami. Suamiku sudah mengingatkan dia agar bersikap baik. Dia juga mengingatkan aku untuk menjaga emosiku selama kami mengikuti acara. Jadi, Ara tidak akan terpancing untuk melindungi aku dari orang jahat. Aku tidak berjanji bisa mengendalikan amarah bila ada yang membuat aku kesal, tetapi aku akan berusaha.
Pekarangan depan rumah sudah dihiasi dengan bunga dan pita berwarna-warni. Beberapa meja bundar dan kursi memenuhi halaman. Setiap meja diberi taplak berwarna putih dengan vas kaca berisi rangkaian bunga mawar serta peralatan makan yang diatur dengan rapi.
Kami mendekati Papa dan Mama yang menyambut kedatangan para tamu. Papa terlihat tampan dengan kemeja dan celana panjangnya. Mama mengenakan dress berwarna putih. Dia terlihat sangat cantik dengan senyum bahagia di wajahnya.
“Aku harap anjing besar itu akan bersikap baik pada hari ini karena aku mengundang kedua dokterku untuk datang.” Mama melihat ke arah meja di mana dokter bedah dan onkologinya sedang duduk.
“Mama jangan khawatir. Aku dan Ara sudah bicara dari hati ke hati agar dia bersikap baik pada acara ini. Itulah sebabnya aku membawanya serta.” Hendra memberikan buket bunga mawar yang dibawanya. Mama membuka mulutnya untuk protes, tetapi suamiku lebih cepat, “Aku tidak peduli apa pun peraturannya, aku tetap ingin membawa sesuatu yang istimewa untuk mamaku tersayang.”
“Baiklah.” Mama mengalah. Dia menerima buket bunga tersebut. “Terima kasih.”
“Ayo, segera cari tempat duduk kalian. Antrian sudah panjang dan aku sudah lapar.” Papa setengah mengusir kami menjauh. Kami tertawa mendengarnya. Aku menoleh ke belakang kami dan Papa benar. Tamu lainnya sudah mengantri untuk menyapa mereka.
__ADS_1
Acara dimulai dengan Papa mengucapkan terima kasih atas kedatangan kami semua. Berikutnya, Mama dipersilakan untuk berbagi pengalaman dan perasaannya sejak divonis sakit hingga akhirnya bebas dari kanker setelah operasi. Dia tidak menutupi fakta bahwa dia belum sepenuhnya lepas dari bahaya sebelum melewati lima tahun pertama pascaoperasi.
Kami kemudian dipersilakan makan dan acara puncak pun selesai. Papa dan Mama mengundang sebuah band. Mereka menghibur kami sepanjang siang itu dengan musik dan nyanyian yang sudah mereka persiapkan.
Aku dan Hendra bergantian mengambil makanan. Dia yang pertama antri untuk mengambil makanan Hadi dan Dira. Begitu dia kembali, aku mengambil makanan untuk kami berdua. Aku tidak mengenal semua orang yang mengantri tetapi wajah mereka cukup familier.
“Menurutmu dia pakai kapas untuk menyembunyikan kekurangannya atau dia melakukan operasi plastik?” tanya seorang wanita di sebelahku kepada wanita di sampingnya setengah berbisik. Tetapi suaranya cukup keras untuk bisa aku dengar.
“Dia tidak melakukan operasi untuk menutupi kekurangannya. Jadi, dia pasti pakai busa di balik pakaian dalamnya,” jawab wanita di sebelahnya tersebut.
“Kasihan sekali. Dia begitu bangga dengan tubuh sempurnanya, eh, dia malah terkena kanker. Dia pasti sudah banyak berbuat hal jahat sehingga Tuhan menghukum dia.” Wanita pertama itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Hal jahat pertama yang pernah dia lakukan adalah merebut tunangan kakaknya sendiri. Karma itu nyata,” bisik wanita kedua. “Kita lihat saja hal buruk apa yang berikutnya akan dia alami. Dia telah menanggung malu karena perbuatan menantunya yang suka selingkuh itu, lalu kanker. Aku yakin para cucunya juga akan kena kutuk.”
“Ibu-ibu, hati-hati kalau bicara,” ucapku menengahi. Siapa saja orang di dunia ini aku perbolehkan menghina dan merendahkan aku. Tetapi sekali lagi, tidak dengan anak-anakku. “Jangan libatkan anak-anak dalam gosip murahan kalian.”
“Siapa dia? Mengapa dia tiba-tiba marah kepada kita?” tanya wanita kedua. Wanita pertama segera meletakkan telunjuk di bibirnya sendiri.
“Itu Zahara, menantu Naava. Masa kamu tidak tahu?” ucap wanita tersebut. Dia kembali melihat ke arahku. “Kami hanya mengatakan yang sebenarnya. Kamu tidak perlu marah begitu.”
“Apa Ibu-ibu tidak tahu malu? Kalian datang ke sini dalam acara syukuran ibu mertuaku dan kalian berani menjelek-jelekkan dia juga keluarganya di atas tanahnya sendiri?” kataku keberatan. Orang yang berada di sekitarku mulai menyatakan sikap setuju mereka dengan kalimatku tersebut.
__ADS_1
“Kalian salah. Kanker yang diderita oleh Ibu Naava bukan karena Tuhan menghukumnya. Penyakit itu diwarisi dari nenek dan ibunya. Hanya butuh sedikit pemicu untuk membuat sel kanker itu tumbuh besar dan membahayakan nyawanya.” Aku tidak menyadari kehadiran Dokter Rahmad. Ternyata dia mengantri di belakang wanita kedua tersebut.
“Ibu-ibu dengar itu?” ucapku sambil menatap mereka satu-persatu.
“Mereka hanya tukang gosip. Tidak perlu diambil hati, Zahara,” ucap seorang wanita di belakangku. “Mereka bisa mati kalau tidak menghina orang satu hari saja. Tolong, majulah, kami semua sudah lapar dan ingin makan.” Kini orang-orang yang mengantri tertawa geli.
“Ah, iya. Maafkan aku.” Orang yang ada di depanku telah berada jauh dariku. Aku segera mengambil sebuah baki, tiga piring, dan mulai mengisinya dengan nasi dan berbagai lauk-pauk.
Hendra tersenyum penuh arti saat aku kembali ke meja kami. Aku memutar bola mataku melihatnya. Dia segera mengambil baki itu dari tanganku. Aku duduk dan membiarkan dia yang meletakkan piring di depan kami. Lalu dia mengembalikan baki itu kepada seorang pelayan yang lewat. Ara sedang asyik memakan daging dan tulang bagiannya di rumput dekat kakiku.
“Apa ada yang menghina mereka berdua sehingga kamu semarah itu?” goda Hendra. Dia sengaja hanya menunjuk anak-anak dengan bola matanya agar mereka tidak tahu bahwa mereka yang sedang kami bicarakan.
“Kami pasti akan melakukan yang aku lakukan jika kamu ada di posisiku.” Aku mulai memotong daging panggang yang ada di atas piringku. Hendra mendekat, lalu mencium pipiku. Aku tersenyum.
“Nah, begitu lebih baik. Aku tidak suka melihat kamu cemberut. Ini hari bahagia.” Dia membelai pipiku. Baiklah. Dia benar. Dia menoleh ke arah meja ketika ponselnya bergetar. “Ah, Will sudah datang. Aku akan menjemput Colin sebentar.”
“Colin?” tanya Hadi dan Dira serentak. Kami tertawa melihat ekspresi mereka berdua.
Hendra berdiri, lalu berjalan ke arah gerbang. Dia akan membutuhkan waktu untuk berjalan ke sana. Rumah ini berada cukup jauh dari gerbang masuk. Dira dan Hadi tiba-tiba saja bertengkar karena putraku itu mencuri sepotong kentang goreng dari piring adiknya. Aku melerai mereka dengan memberikan kentang tambahan pada piring mereka masing-masing dari piringku.
Merasakan ada gerakan dari arah mana Hendra tadi pergi, aku menoleh. Dia datang bersama Colin. Anak laki-laki itu mengangkat tangannya dengan riang ke arah Hadi. Putraku segera melambaikan tangannya. Suamiku tersenyum kepadaku saat dia semakin dekat ke arah meja kami.
__ADS_1
Salah satu dari wanita yang berjalan di belakang mempercepat langkahnya. Aku bisa mendengar dia memanggil nama suamiku. Hendra menghentikan langkahnya, lalu menoleh. Wanita itu segera memeluknya dengan wajah sangat bahagia. Tanganku refleks menggenggam erat garpu dan pisau yang aku gunakan untuk makan. Apa-apaan itu?!