
“Hei, jangan melihatku seperti itu. Aku tidak menguntitmu.” Dia mengangkat kedua tangannya.
“Teman kamu, Al?” tanya seorang pria yang berdiri di sisinya.
“Iya. Ah, kalian silakan pulang lebih dahulu. Aku akan bersama temanku,” katanya kepada pria itu. Aku melihat ada beberapa pria dan wanita lainnya yang melambaikan tangan ke arah Aldo saat mereka melewati kami. Baiklah. Dia tidak menguntitku.
“Sebaiknya kamu pulang bersama mereka. Aku tidak ada rencana ingin bersamamu malam ini,” tolakku sambil melanjutkan langkahku menuju pintu keluar.
“Kita adalah teman lama dan kamu bertingkah seperti bertemu dengan musuh bebuyutanmu.” Tentu saja dia mengabaikan kalimatku dan berjalan di sisiku.
“Pria dan wanita tidak berteman lagi setelah mereka menikah dengan yang lain. Aku punya seorang suami yang harus aku jaga reputasinya, Aldo,” kataku dengan tegas.
“Oke, oke. Aku tidak akan mengganggumu lagi.”
“Dan apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu membiarkan anak-anakmu sendiri lagi di rumah tanpa pengawasan orang dewasa?” tanyaku tidak percaya.
“Setelah bertemu dengan mereka, apakah sekarang kamu peduli kepada mereka?” tanyanya penuh selidik. Aku hanya diam, tidak menggubrisnya. “Mereka sudah tinggal bersama orang tuaku. Kemarin mereka memaksa ingin tinggal bersamaku meskipun aku sudah jelaskan bahwa hal itu tidak mungkin. Setelah mereka merasakan sendiri sulitnya hidup bersamaku, mereka mau kembali tinggal di rumah kakek dan nenek mereka.”
“Kebetulan kita sedang membahas mereka. Aku ingin berterima kasih kepadamu.” Dia ikut berdiri di sisiku saat aku menunggu Liando datang menjemputku. “Kamu mau makan apa? Aku yang traktir.”
“Kamu sudah berterima kasih. Itu cukup.”
“Aku sudah sangat merepotkanmu pada hari itu. Aku mohon. Aku tidak suka merasa berhutang budi kepada siapa pun. Satu traktiran dariku dan aku tidak akan pernah mengganggumu lagi,” ucapnya berjanji. Aku mempertimbangkan tawarannya tersebut.
“Kamu janji?” tanyaku memastikan.
“Janji.”
__ADS_1
“Baik. Ikuti aku. Aku sudah memesan tempat di sebuah restoran.” Mobilku berhenti tepat di hadapanku. Aku masuk dan tidak peduli apakah dia bisa mengikutiku atau tidak. Lebih baik lagi bila dia tidak menemukan di mana aku makan malam.
“Nyonya, bukankah Anda baru bertemu dengan Tuan Zach?” tanya Liando bingung.
“Iya. Pria tadi hanya kebetulan bertemu saja,” akuku dengan jujur. “Jangan khawatir. Jika Hendra mengetahuinya, aku yang akan menanggung segalanya.”
“Baik, Nyonya.” Liando mengemudikan mobil. Semua pekerja sangat takut kepadanya, tetapi aku belum pernah melihat suamiku memarahi seorang pelayan pun yang ada di rumah kami. Mungkin dia melakukannya di saat aku sedang tidak bersama mereka.
Sampai di restoran tujuan, seorang petugas menolong membukakan pintu mobil untukku. Aku mengajak Liando untuk ikut makan bersamaku, dia menolak. Maka aku memberinya sejumlah uang agar dia bisa membeli makanan untuknya.
Keadaan di dalam restoran itu sudah ramai dengan pengunjung. Aku menyebutkan namaku kepada wanita yang berjaga, lalu dia meminta rekannya untuk mengantarku ke meja yang sudah disiapkan untukku. Meskipun aku datang seorang diri, aku sengaja memesan meja untuk empat orang.
Aku sedang memesan makanan dan minuman ketika Aldo masuk ke restoran. Dia pasti menanyakan aku kepada wanita tadi karena dia menunjuk ke arahku. Aldo melihat ke sekelilingnya saat berjalan mendekati meja di mana aku berada. Setelah duduk, dia memesan makanannya dan pelayan pun meninggalkan kami berdua.
“Restoran ini mewah sekali. Selera kamu berubah sejak kamu menikah,” ucapnya pelan.
“Tidak. Aku yang bayar,” katanya bersikeras. Aku meminum air dalam gelasku, lalu melihat ke sekitarku. Syukurlah, tidak ada orang yang mengenaliku di tempat ini. Tetapi aku harus cepat, siapa tahu pengunjung berikutnya mengenaliku. Aku tidak mau terjadi kesalahpahaman antara aku dengan Hendra jika mereka sampai memberitahunya.
“Beberapa kali bertemu, aku tidak melihat suamimu. Ke mana dia? Mengapa dia membiarkanmu makan malam di sini seorang diri?” tanyanya ingin tahu. Aku hanya tersenyum. “Baik. Tidak boleh ada pertanyaan pribadi.”
“Kita hanya akan makan malam. Tidak lebih.” Aku mengingatkannya kembali.
“Anak-anak menanyakanmu. Mereka bilang kamu sangat baik dan mengingatkan mereka kepada mama mereka.” Dia tersenyum. “Kamu pasti akan menjadi ibu yang sangat baik, Ara. Sepertinya kamu dan suamimu belum memiliki anak?” Aku hanya diam.
Minuman pesanan kami diantar ke meja, dia tidak lagi membicarakan hal yang sifatnya pribadi. Aku hanya mendengarkan ketika dia bicara mengenai pekerjaannya dan bagaimana dia bisa sampai pada posisinya saat ini. Setahuku dahulu dia ingin membuka usaha sendiri dengan bekerja menjadi pegawai swasta untuk mengumpulkan modal. Entah mengapa dia malah bekerja di pemerintahan.
Perutku rasanya bersorak girang saat makanan pesananku datang. Aku segera menikmatinya dan membiarkan Aldo bicara sendiri. Hanya pada saat dia membahas makanan, aku ikut memberikan pendapatku. Hampir semua menu yang disediakan oleh restoran ini sudah pernah aku coba. Dia tetap membahas topik aman tersebut sehingga aku mulai merasa nyaman.
__ADS_1
“Pantas saja kamu suka makan di sini sampai memesan meja terlebih dahulu.” Dia mempersilakan pelayan yang datang mengambil piring kosong di hadapannya. “Tetapi harganya, aku tidak akan bisa makan di tempat ini sebulan sekali.”
“Kamu bisa memberitahu atasanmu mengenai restoran ini. Bukankah dia selalu mengajakmu untuk ikut bersamanya setiap kali ada rapat?” kataku memberi usul. Dia membulatkan matanya.
“Benar juga! Dan aku pun bisa makan makanan enak secara gratis.” Dia mengangguk setuju. Aku tersenyum. “Aku senang melihatmu akhirnya tertawa lagi. Kamu terlalu muda untuk cemberut terus sepanjang waktu seperti tadi.” Aku tidak meresponsinya.
“Dan aku senang, aku yang membuatmu tertawa.” Dia menatapku dengan wajah serius. Aku kembali bersikap hati-hati. Aku tidak suka nada suara itu. “Kamu wanita yang baik, cerdas, seharusnya kamu melewatkan waktumu bersama pria yang bisa membuatmu nyaman menjadi dirimu sendiri. Aku sering bertanya apa jadinya hubungan kita andai kita masih bersama.”
“Aku tidak akan membahas masa lalu denganmu.” Aku mengambil tasku yang aku letakkan di atas sofa di sisiku. Dia menyentuh tanganku yang ada di atas meja, aku segera menariknya.
“Apakah kamu tidak pernah memikirkan hal yang sama? Apakah kamu tidak pernah memikirkan aku dan bagaimana kehidupan kita berdua andai kita menikah?” tanyanya lagi dengan dengan nada membujuk. “Kembalilah kepadaku, Ara. Aku sangat mencintaimu. Beri kesempatan kedua pada cinta kita. Beri satu kesempatan terakhir. Aku tahu bahwa kamu masih mencintaiku.”
“Apa kamu sudah gila?” Aku menatapnya tidak percaya.
“Iya. Aku sudah gila. Aku gila karena kamu. Aku tidak berhenti memikirkanmu sejak kita bertemu lagi. Aku tidak percaya pada kebetulan. Lihatlah berapa sering kita bertemu secara tidak sengaja. Ini pasti jalan yang diberikan kepada kita untuk kembali bersama,” katanya berusaha meyakinkan aku.
“Aku sudah menikah, Aldo. Kamu bisa saja berbicara semudah ini karena istrimu sudah meninggal. Aku tidak punya kebebasan itu, aku sudah punya suami,” ujarku dengan tegas.
“Suami yang tidak kamu cintai.” Kalimat itu seperti tamparan keras bagiku.
“Aku tidak mau membahas ini lagi denganmu. Kita sebaiknya tidak bertemu lagi. Jangan dekati aku kapan pun di mana pun kita berpapasan pada waktu berikutnya. Kamu sudah berjanji.” Aku berdiri, meletakkan uang di atas meja, dan berjalan menuju pintu keluar.
“Kamu meninggalkan aku untuk menikah dengan pria yang tidak kamu cintai. Sekarang kita punya kesempatan lagi dan kamu masih ingin membuangnya juga? Untuk apa? Untuk apa menyiksa diri begini, Ara?” Dia mengikutiku sampai aku keluar dari restoran. Aku tidak menghentikan langkahku dan berjalan sambil mencari mobilku. “Jangan bilang bahwa kamu mencintai suamimu.”
Aku sangat membenci kalimat itu. Aku tidak akan sudi jatuh cinta kepada orang yang telah merusak kebahagiaanku dan rencana yang telah aku buat untuk hidupku sendiri. Selama hidup bersamanya, aku bahkan tidak bisa melakukan apa pun karena kemauanku sendiri.
Entah apa yang Aldo lihat pada wajahku, tetapi saat dia menciumku, aku membalas ciumannya. Dia baru menjauhkan wajahnya saat kami berdua kesulitan bernapas. Ketika dia menggandeng tanganku, aku tidak menolak. Dia membawaku ke tempat parkir, mendekati sebuah sepeda motor. Hanya ada satu helm. Dia memakaikannya ke kepalaku lalu menyatukan pengaitnya.
__ADS_1
Aku duduk di jok belakang dan berpegangan pada tubuhnya. Kemudian aku merasakan angin bertiup kencang saat kami sudah bergabung dengan kendaraan lain di jalan utama. Sebentar saja dia sudah memarkirkan sepeda motornya, membantu melepaskan helmku, dan menggandengku masuk ke sebuah gedung. Aku mengangkat kepala dan melihat tulisan di atas pintu masuk utama. Hotel.