
Papa dan Mama pergi dengan wajah marah dan kecewa. Aku ingin menyusul mereka dan berniat mengatakan sesuatu, tetapi Hendra menghalangiku. Aku menoleh ke arahnya dan dia menggeleng pelan, seolah berkata ini bukan saat yang tepat untuk melakukannya.
Aku tidak percaya bahwa Papa dan Mama akan berhenti sampai di sini. Mereka tidak akan tinggal diam melihat aku dan putra mereka masih bersama. Apalagi mereka meragukan bahwa anak ini adalah keturunan mereka. Aku layak mendapatkannya.
“Apa kamu akan baik-baik saja bila aku tinggalkan di rumah?” tanya Hendra sambil membelai pipiku.
“Aku akan baik-baik saja. Mengapa kamu bisa ada di sini? Bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanyaku khawatir.
“Abdi memberitahuku bahwa mereka datang. Aku sudah memintanya untuk melaporkan siapa saja yang datang ke rumah untuk menemuimu saat aku tidak ada,” jawab Hendra. “Aku tahu bahwa orang tuaku tidak akan mengatakan hal yang baik jika mereka menemuimu setelah aku pergi.”
“Maafkan aku.” Ini semua adalah salahku.
Dia mendesah pelan, lalu memelukku. “Semuanya akan baik-baik saja. Ayo, teman-temanmu sudah datang dan mereka membawakan begitu banyak makanan untukmu.”
Hendra membawaku ke ruang tamu dan teman-temanku sudah menungguku di dalam. Mereka segera mendekat untuk memeluk dan mencium kedua pipiku. Sambutan yang rasanya tidak pantas untuk aku terima.
“Gadis-gadis, aku serahkan istriku kepada kalian. Perlakukan dia dengan baik,” ucap Hendra setengah mengancam. Mereka hanya tertawa. Suamiku memelukku, lalu mencium rambutku. “Bersenang-senanglah dengan temanmu. Lupakan kejadian tadi.” Aku mengangguk.
Hendra menghalangiku untuk mengantarnya. Aku masih menatap pintu saat dia sudah pergi. Perhatianku teralihkan saat aku mendengar dehemen dan suara batuk memenuhi ruangan. Aku menoleh dan melihat ke arah teman-temanku dengan drama mereka.
“Berhenti membuat kami iri dengan kemesraan kalian. Ayo, kita duduk.” Qiana menarik tanganku untuk mendekati salah satu sofa. Teman-teman hanya tertawa geli. Kami lalu duduk bersama.
“Tolong, jangan bicara menggunakan bahasa yang tidak akan bisa aku pahami,” pinta Claudia. Kami saling bertukar pandang lalu tertawa bersama.
“Kalian tahu. Kalian membuatku merasa bersalah dengan sikap baik kalian ini. Aku tidak pantas menjadi teman kalian lagi,” ucapku pelan.
“Mengapa kamu berkata begitu?” tanya Claudia bingung. “Aku beberapa kali selingkuh dari suamiku karena kami bertengkar hebat dan nyaris bercerai. Tetapi kami berhasil melewatinya dan aku sudah sepuluh tahun tidak menyentuh pria mana pun lagi, selain Mason kesayanganku.”
__ADS_1
“Yang benar saja, Claudia. Kamu selingkuh berkali-kali dari Mason yang sempurna itu? Dia pria yang sangat menjunjung etika, ramah, tampan, dan badannya adalah impian semua wanita. Aku lebih percaya kalau dia yang selingkuh darimu,” ucap Qiana tidak percaya.
“Menikah dengan pria sempurna justru lebih membuatmu tertekan. Percayalah. Karena dia juga menuntutku untuk selalu tampil sempurna. Aku tidak bisa melakukannya. Aku sudah terbiasa tampil apa adanya sesukaku.” Claudia mengangkat kedua bahunya.
“Masuk akal.” Qiana mengangguk pelan.
“Aku juga pernah selingkuh.” Lindsey berdehem pelan setelah mengucapkan pengakuannya tersebut. Kami menatapnya tidak percaya. “Oh. Ayolah. Kalian tidak perlu terkejut begitu. Edu mencintai mobil melebihi cintanya kepadaku, jadi aku mencari pelampiasan lain. Dan aku tidak bangga dengan itu. Pengkhianatanku menghancurkannya dan hampir mengakhiri pernikahan kami.”
“Suamiku mengkhianatiku dan menghamili wanita yang lebih muda dariku. Aku senang saat wanita itu keguguran,” ucap Qiana. Saat Darla membuka mulutnya, dia melanjutkan. “Aku tidak yakin aku akan siap mendengar apa pun yang akan kamu katakan, Darla. Tolong, jangan katakan bahwa kamu juga pernah selingkuh.”
“Tidak. Tetapi suamiku. Gio penyuka sesama jenis,” katanya dengan santai. Kami semua menarik napas terkejut.
“Apa maksudmu? Kalian punya anak-anak,” tanya Claudia tidak mengerti.
“Dahulu dia punya pengalaman kelam dengan itu. Tentu saja kami menikah karena kami saling mencintai. Lalu beberapa tahun yang lalu, dia bertemu dengan mantannya. Pria itu sangat terobsesi dengannya. Kalian tidak akan percaya dengan apa yang sanggup dia lakukan agar Gio mau kembali lagi kepadanya. Sedikit banyak, mirip dengan apa yang pria semalam lakukan kepada Zahara.
“Bagaimana kalian bisa tahu dan melaporkannya?” tanya Lindsey tidak mengerti.
“Dia melihat tanda-tandanya. Sopir pria itu masih muda dan dia bertingkah sedikit aneh. Gio curiga bahwa mantannya itu melakukan hal yang tidak seharusnya kepadanya. Dan dia benar. Begitu polisi tiba di apartemennya, pria itu sedang memaksakan kehendaknya kepada pemuda malang itu,” ucap Darla pelan. Kami menarik napas terkejut.
“Jadi, kamu lihat, ‘kan, Zahara? Kami juga memiliki kehidupan yang tidak sempurna. Kami pernah melakukan kesalahan dan tidak bangga dengan itu.” Qiana menyentuh tanganku. “Kamu tidak perlu merasa bersalah. Kami adalah teman-temanmu di saat suka juga dukamu.”
“Aku tahu bahwa ada yang kamu sembunyikan dari kami,” kata Darla menimpali. “Hendra begitu mencintaimu, tidak ingin jauh darimu, tetapi ekspresimu kepadanya sangat dingin. Kamu sama sekali tidak bahagia berada di dekat suamimu. Walaupun kadang-kadang aku bisa melihat kamu sangat mencintainya. Sekilas.”
“Itu sebelum operasi jantung mamamu. Pada hari itu di rumah sakit, tatapanmu kepadanya sangat berbeda. Kami bahkan membicarakannya ketika kamu dan keluargamu membawa Tante Anya pulang.” Darla melihat ke arah teman kami. Qiana dan Lindsey mengangguk setuju.
“Kamu hanya manusia biasa, Zahara. Kami justru takut kepadamu karena kamu begitu sempurna. Dengan satu kesalahan ini, maka kami tahu bahwa kamu juga manusia, sama seperti kami. Bukan seorang malaikat,” ujar Lindsey menimpali.
__ADS_1
“Terima kasih. Terima kasih.” Aku terharu mendengar pengakuan dan penerimaan mereka.
“Apa pun yang terjadi dalam pernikahanmu, kami akan selalu siap untuk menjadi temanmu. Kamu tidak sendirian.” Qiana tersenyum kepadaku. Mereka memelukku. Aku hanya bisa menangis.
Yuyun datang bersama Liando dan Abdi, kemudian meletakkan semua makanan yang dibawakan oleh teman-temanku. Aku meminta mereka untuk mengambil bagian mereka juga. Ternyata keempat sahabatku itu sudah memisahkan bagian untuk para pekerjaku dan untuk kami santap bersama. Kami menikmati semua kudapan sambil mengobrol dengan santai.
“Zahara, aku ingin kamu tahu, aku tetap ingin putramu menjadi suami cucu pertamaku,” kata Claudia dengan nada serius. Teman-temanku tertawa mendengarnya.
“Oh, Claudia. Kamu tidak tahu betapa bahagianya aku mendengar itu.” Aku mengulurkan tangan dan dia mendekat untuk memelukku.
“Aku hanya memberi saran, oke? Aku tidak sedang memaksakan perjodohan ini. Tetapi kamu perlu tahu, putriku tidak keberatan dengan usulku ini.” Claudia tersenyum bahagia.
“Aku juga tidak keberatan.” Lindsey menatapku penuh arti.
“Kita bisa sering mempertemukan mereka nanti. Siapa tahu dengan menjadi teman sejak kecil, mereka kelak akan jatuh cinta saat remaja,” kataku penuh harap.
Percakapan kami terhenti saat pintu diketuk. Aku menoleh dan Abdi masuk dengan wajah sangat serius. “Ada seorang pria yang ingin bertemu dengan Anda, Nyonya.”
“Siapa?” tanyaku bingung. Tidak biasanya petugas keamanan mengizinkan orang tak dikenal masuk melewati gerbang.
“Pria yang semalam datang,” jawab Abdi.
“Berani sekali dia datang lagi setelah merusak acara semalam.” Darla segera berdiri dan berjalan menuju pintu. Lindsey dan Qiana menolongku untuk berdiri. Kami bersama menuju ruang depan. “Keluar. Kamu tidak diterima di rumah ini. Dasar laki-laki tidak tahu diri!”
“Hai, Ra. Kamu sudah siap?” ucap Aldo mengabaikan ucapan Darla.
“Kamu dengar apa yang dikatakan sahabatku. Keluar dari sini,” kataku dengan tegas.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan kamu dan anak kita tinggal lebih lama lagi di rumah ini. Kamu sudah cukup menderita, Ra. Ayo, kita pergi dari tempat ini.” Dia berjalan mendekatiku. Teman-teman segera berdiri di depanku, melindungiku.