
Suamiku tertawa terbahak-bahak saat aku menceritakan apa yang terjadi di rumah orang tuanya pada siang hari tadi. Aku cemberut melihat penderitaanku ternyata dianggap sebagai lelucon olehnya. Menjengkelkan sekali. Aku menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku dan berniat turun dari tempat tidur. Tetapi tangannya bergerak lebih cepat.
“Itu, itu lucu sekali, sayang.” Dia tertawa begitu keras saat kedua tangannya memeluk aku dengan erat. Aku mencubit, memukul, tetapi pegangannya tidak melonggar. “Sebentar … jangan marah … aku hanya butuh ….” Dia kembali tertawa begitu puasnya sampai telingaku sakit.
“Aku sangat marah tetapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Biar bagaimana pun juga, Mama adalah mertuaku. Orang tua kamu yang perlu aku hormati. Tega sekali aku diusir dengan cara seperti itu. Aku hanya perlu suasana tenang selama lima menit agar bisa menghabiskan makanan yang ada di piringku. Mama malah menyuruh pelayan untuk mengemasinya.” Aku memajukan bibir bawahku. Dia kembali tertawa dengan keras. Aku mendesah dengan keras.
Dia akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk pulih dari serangan sistem tubuhnya yang sensitif terhadap humor. Hendra jarang tertawa selepas ini. Jadi, aku membiarkannya saja walaupun hatiku jengkelnya minta ampun. Dia menertawakan orang lain, bukan masalah. Masa iya dia menertawakan kemalangan istrinya juga?
“Hendra! Sudah cukup! Mau sampai kapan kamu tertawa begini? Perut dan tulang pipi kamu bisa sakit.” Aku mengingatkannya. Dia menutup mulut berusaha menahan tawanya, tetapi dia kembali tertawa dengan keras. “Lepaskan aku! Kamu benar-benar tidak mengerti perasaanku!” Aku mencubit tangannya, dia masih belum mau melepaskan pelukannya.
“Sebentar … cintaku … tunggu sebentar.” Dia menarik napas panjang dan tawanya sedikit berkurang. “Aku sangat mengerti … perasaanmu.”
“Kamu sama sekali tidak mengerti perasaanku,” ucapku kesal. Dia memutar tubuhku agar kini kami bisa berhadapan. Dia mengulum senyum, tetapi dia berusaha untuk tidak tertawa lagi.
“Aku sudah tahu cepat atau lambat kalian akan bertengkar lagi. Harus berapa kali aku mengatakan kepadamu agar tidak datang ke rumah orang tuaku tanpa aku? Kamu yang bandel dan merasa bisa mengendalikan suasana dan perasaanmu.” Dia mencium pipiku. “Aku menghargai usahamu, sayang. Yang kamu lakukan pada hari ini sudah benar. Jangan biarkan ibuku menghinamu lagi.”
Kalimat itu selalu membuatku terkejut dan tidak percaya. “Suami lain pasti marah kalau tahu aku berbuat begitu kepada ibu kandungnya.”
“Suami lain? Kamu punya suami lain selain aku?” Aku memutar bola mataku mendengar dia malah mengubah topik pembicaraan.
“Sudah cukup bercandanya. Maksudku, suami dari perempuan lain,” kataku meralat.
“Aku bukan pria lain. Aku adalah aku. Aku mengenal orang tuaku, sebaik aku mengenal kamu. Akan tiba saatnya Mama siap menerima kita berdua telah kembali bersama. Tetapi bukan sekarang. Dia masih membutuhkan waktu. Bersabarlah.” Dia mencium aku lagi. “Apa kamu akan ke sana besok?”
__ADS_1
Aku mempertimbangkannya sebelum memberi jawaban. “Mungkin. Aku belum tahu.”
“Baiklah. Terserah kamu mau melakukan apa. Aku akan mendukungmu.” Dia mencium keningku. Aku tersenyum merasakan cintanya.
“Oh, iya. Mama mengadakan acara syukuran pada hari Sabtu ini. Kita semua diundang,” kataku teringat dengan ucapan Mama tadi. “Dan Mama bilang, tidak perlu membawa kado apa pun.”
“Beres.” Hendra menciumku lagi. Aku menatapnya dengan bingung. Mengapa dia agak manja malam ini? “Ada apa? Mengapa kamu melihat aku seperti itu?”
“Sikap kamu malam ini agak berbeda. Apakah telah terjadi sesuatu? Atau ada rahasia yang kamu sembunyikan dariku?” tanyaku curiga.
“Aku hanya ingin menyenangkan hatimu. Kamu sudah menjalani hari yang berat, jadi aku akan membuat kamu merasa lebih baik.” Dia mencium pipiku dengan gemas. Aku tertawa geli.
“Sayang, kamu tidak perlu melakukan ini. Aku lebih baik tidur dalam pelukanmu saja. Berciuman dan bermesraan begini tidak membantuku sama sekali. Kita masih menjalani puasa yang menjengkelkan ini.” Aku memegang kedua pipinya ketika dia masih berusaha untuk mencium aku lagi. Aku tahu bahwa dia sengaja menggoda aku. “Ceritakan kepadaku, bagaimana kabar Gista?”
“Bisakah kamu berhenti menggoda aku dan jawab saja pertanyaanku?” Aku memicingkan mataku.
“Dia baik-baik saja. Seperti kebanyakan orang yang sedang jatuh cinta, dia selalu tersenyum. Aku yakin itu yang ingin kamu dengar. Dia menatap ponselnya nyaris sepanjang hari, tetapi dia tetap melakukan pekerjaannya dengan baik.” Akhirnya dia menjawab pertanyaanku.
“Syukurlah. Hubungan mereka masih berjalan dengan lancar.”
“Beritahu Will, kita tidak di rumah pada hari Sabtu ini. Jadi, dia harus memikirkan ke mana dia akan menitip Colin.”
“Dia bisa menitipkannya kepada kita. Aku yakin Mama tidak akan keberatan ada satu anak lagi yang datang bersama kita.”
__ADS_1
Tidak peduli bahwa pada hari sebelumnya aku diusir dari rumah, aku datang lagi untuk menemani Mama pada siang itu. Papa menyambutku dengan wajah lelah, sedangkan Mama tidak mengatakan apa pun. Dia sedang sibuk bicara dengan seseorang melalui ponselnya.
Papa kemudian melakukan hal yang sama saat ponselnya bergetar. Aku menatap mereka berdua dengan bingung. Papa dan Mama terlihat bicara dengan nada serius. Dari percakapan yang bisa aku tangkap, mereka sedang bicara dengan kerabat mereka.
Seorang pelayan masuk mengantarkan minuman untukku dan Dira. Kami berterima kasih kepadanya. Mama baru saja mengakhiri percakapannya dengan seseorang, ponselnya bergetar. Dia mendesah pelan, lalu menjawab panggilan tersebut setelah memeriksa layarnya.
“Ini sudah cukup. Saatnya untuk makan siang. Kamu juga harus beristirahat.” Papa mengambil ponsel Mama. “Kedua benda ini untuk sementara kita matikan saja. Mereka tidak mengerti bahwa kamu sedang pemulihan, malah menelepon terus.”
Aku tidak bertanya kepada mereka. Melihat wajah lelah mereka, aku tidak mau menambah beban mereka lagi. Kami menuju ruang makan, lalu menyantap masakan yang tersaji di atas meja dalam diam. Bahkan saat aku menemani Mama untuk melakukan senam ringannya di kamar, dia hanya diam saja. Terlalu lelah untuk membuka mulutnya.
Tidak ada bekas kemarahan di wajahnya kepadaku. Dia juga hanya melihat aku seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Sepertinya kami punya pemikiran yang sama. Apa yang terjadi kemarin ingin kami lupakan dan tidak diungkit-ungkit lagi.
Papa sedang duduk berselonjor dengan Dira duduk di sisinya bermain dengan bonekanya ketika aku masuk ke ruang keluarga. Televisi sedang menyala. Papa memilih siaran berita yang menayangkan perkembangan perekonomian di tanah air.
“Mamamu sudah tidur?” tanya Papa. Aku mengiyakannya. “Dia sempat khawatir bahwa kamu tidak akan datang hari ini. Masih saja dia berani mengharapkan kehadiranmu setelah tingkahnya kemarin. Semakin hari aku semakin tidak bisa mengerti jalan pikirannya.”
“Tidak apa-apa, Pa. Setidaknya kejadian kemarin membuat suamiku tertawa bahagia sepanjang malam.” Aku memutar bola mataku. Papa tertawa kecil.
“Apa dia menyinggung tentang sikap keras kepalamu yang tetap datang ke sini meskipun dia sudah melarang?” tanya Papa menebak. Aku menggerutu pelan. “Abaikan dia. Dia hanya menggodamu.”
“Aku tidak mau membahas putra Papa yang menjengkelkan itu.” Aku melirik ke arah dua ponsel mereka yang ada di atas meja. “Apa yang terjadi? Mengapa Papa dan Mama mendapat telepon dari keluarga? Apa Papa sudah mengundang mereka ke acara pada hari Sabtu ini?”
“Iya. Kami juga mulai memberitahu mereka mengenai keadaan mamamu. Mereka semua protes karena tidak diberitahu lebih awal. Kami baru menghubungi dua orang, berita itu langsung menyebar. Dan ponsel kami tidak berhenti berdering sejak kemarin sore.” Papa mendesah pelan.
__ADS_1
“Itu sebabnya tidak ada keluarga yang menjenguk Mama sejak masuk rumah sakit bahkan sampai hari ini. Mengapa penyakit Mama dirahasiakan dari keluarga besar kita, Pa? Kondisi Mama juga membaik setelah menjalani operasi. Tetapi mengapa baru memberitahu mereka sekarang?”