
~Hendra~
Pekerjaan sangat menyita waktuku. Selalu saja ada pertemuan, undangan makan, undangan sebuah perayaan, bahkan rapat dengan kepala daerah. Aku meminta Gista untuk memadatkan semua acara tersebut pada jam kerja. Aku tidak mau waktuku untuk keluarga terpakai juga untuk menemui orang lain. Tetapi hal itu tidak selalu bisa aku lakukan, kadang-kadang aku harus menghadiri acara pada malam hari. Saat pulang ke rumah, aku menemukan istri dan anak-anakku sudah pulas
Aku beruntung memiliki Za sebagai istri dan ibu dari anak-anakku. Aku tidak perlu mengkhawatirkan apa pun mengenai rumah dan buah hati kami. Aku bahkan bersyukur dia membantah perintahku untuk beberapa hal. Salah satunya adalah mengenai Mama.
Hubungan mereka masih sama saja, tetapi aku menghargai usahanya untuk mendekati ibuku. Aku tidak tahu mengapa perselingkuhan yang Za lakukan menyakitinya begitu dalam. Akulah yang dikhianati dan disakiti secara langsung. Lalu mengapa Mama yang membencinya sedalam itu?
Mungkin aku akan merasakan hal yang sama yang dia rasakan bila ada orang yang menyakiti anak-anakku. Tetapi kebahagiaannya lebih penting daripada amarahku. Jika putraku memaafkan dan kembali meraih kebahagiaannya bersama orang yang dia inginkan, mengapa aku harus dendam?
Yang paling tidak masuk akal adalah usahanya untuk mendekatkan aku dengan wanita-wanita muda yang masih lajang. Ampunlah. Aku tidak akan meninggalkan atau menceraikan Za. Dia adalah istriku dan selamanya akan begitu. Kapan Mama bisa memahami hal itu?
“Kamu tahu bahwa segala bentuk komunikasi yang diizinkan selama jam kerja adalah yang ada hubungannya dengan pekerjaan, ‘kan, Gista?” Aku memergoki dia tersenyum-senyum sambil mengetikkan sesuatu pada ponselnya.
“A … I-iya, Pak.” Dia segera berdiri dan meletakkan ponsel itu di atas meja. “Berkas yang Bapak minta sedang dicetak.” Dia melihat ke arah mesin pencetak di belakangnya yang sedang berbunyi pertanda sedang mengerjakan fungsinya. “Setelah selesai akan segera saya antar ke ruangan Bapak.”
“Kosongkan semua janji dan jadwal apa pun pada akhir bulan depan selama dua minggu. Aku dan keluargaku akan berlibur. Pastikan kamu memesan tiket dan penginapan kami selama di sana. Sudah ada kabar mengenai VISA?” tanyaku tidak sabar.
“Ah, iya, mengenai itu. Saya sudah meneruskan surel yang saya terima kepada Bapak. VISA sudah bisa diambil hari ini,” lapornya sambil melihat layar ponselnya.
“Tunggu apa lagi? Segera ambil dan pesan tiket perjalanan kami,” kataku memberi perintah.
“Baik, Pak. Setelah saya mengantar dokumen ke ruang Bapak, saya akan pergi,” katanya menurut. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku melihat tingkahnya. Pekerjaannya memang tidak terganggu. Dia masih bisa melakukan semua tugasnya dengan baik. Tetapi aku saja tidak menelepon atau berkirim pesan cinta dengan istriku pada jam kerja.
Aku memasuki ruanganku, kemudian duduk di salah satu sofa. Ponselku tergeletak di atas meja. Dorongan untuk menelepon Za sangat kuat. Baru beberapa jam berlalu sejak aku tiba di kantor, aku sudah rindu mendengar suaranya. Tetapi aku berhasil menahan diri. Aku bukan lagi remaja yang sedang jatuh cinta. Sudah seharusnya aku bertingkah layaknya ayah dari dua anak.
__ADS_1
Pintu ruanganku diketuk, dan sebelum aku mempersilakan, pintu itu terbuka. Zach yang memang selalu bersikap tidak sopan hanya karena dia adalah adik iparku masuk dengan wajah serius. Hanya karena ekspresi itu, aku tidak memarahinya.
“Sidang putusan untuk Dicky akan diadakan pada hari Jumat dan sidang untuk Vivaldo akan dimulai minggu depan. Ada yang perlu kami siapkan secara khusus?” tanyanya sambil meletakkan sebuah map di atas meja dan duduk di seberangku.
“Tidak. Aku harap hakim akan memberikan hukuman maksimal kepada Dicky. Semoga kalian juga beruntung dalam sidang Vivaldo. Pastikan bahwa kalian sudah melampirkan semua pasal berlapis yang telah dilanggarnya. Aku ingin dia jera berurusan denganku. Aku tidak mau istriku terluka lagi karena ulahnya.” Aku menatapnya dengan serius.
“Aku dan Pak Oscar sudah menelusuri semua pasal pada KUHP Pidana dan UU pendukung lainnya. Kami kurang tidur demi kamu, jadi jangan ragukan kemampuan kami.” Dia menguap pelan. Aku tertawa melihatnya. “Rasmi sampai senewen karena aku lebih sayang pada pekerjaanku daripada dia dan Zeph.”
“Begitu sidang putusan Nora berakhir, kamu dan Oscar akan aku beri liburan panjang. Apa satu bulan cukup? Tanpa pemotongan gaji dan tunjangan lainnya. Aku juga akan memberikan akomodasi penuh bila kalian ingin membawa keluarga kalian berlibur,” kataku berusaha untuk menghiburnya.
“Aku akan membuat surat perjanjiannya sebentar. Aku tidak percaya pada ucapanmu. Aku lebih percaya pada perjanjian hitam di atas putih.” Dia berdiri dan berjalan mendekati pintu.
“Aku tunggu.” Aku tertawa kecil.
Aku dan keluargaku hidup di kota ini. Tentu saja kami akan merasa bangga bisa ikut membangunnya menjadi lebih baik. Kafin tidak bisa keluar dari tempat parkir karena dia akan kesulitan untuk mendapat izin masuk lagi. Lagi pula mereka telah menyediakan tempat untuk para sopir duduk dan makan siang, menunggu sampai pertemuan selesai.
“Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi, Satya,” ucap seorang wanita dari belakangku. “Mahendra.” Aku menoleh mendengar nama itu dan melihat seorang yang wajahnya familier tetapi aku tidak ingat pernah bertemu dengannya di mana. “Ini aku. Keva Heilyn. Apa kamu sudah lupa?”
“Hai, Ibu Keva,” sapaku dengan sopan. Aku kembali melihat ke arah depanku. Kami sedang mengantri untuk berjabatan tangan dengan walikota.
“Terbiasa dengan nama Mahendra, apa kamu lupa bahwa dahulu semua orang memanggilmu dengan nama Satya?” ucapnya masih berusaha mengajakku untuk berbincang. Aku mengabaikannya.
Aku tidak heran ketika kami duduk di dalam ruang besar dengan meja yang telah dipenuhi dengan makanan, wanita itu duduk di sisiku. Seorang pria berniat duduk di sebelah kiriku, tetapi dia sengaja memintanya untuk pindah. Aku menganggapnya tidak ada selama acara berlangsung.
Seperti dugaanku, dia tidak bisa menjanjikan laporan keuangan yang transparan mengenai proyek yang dia usulkan kepada kami semua. Aku tidak mau memberikan uang hanya untuk membuat perutnya dan pegawai lainnya tambah buncit. Lebih baik aku membuat proyek sendiri tanpa membawa nama pemerintah seperti yang dilakukan Mama.
__ADS_1
“Jangan menatapku seperti itu. Aku meminta kamu untuk mencari tahu tentang dia bukan karena aku tertarik kepadanya. Aku hanya ingin tahu mengapa dia bersikap begitu kepadaku selama rapat tadi,” kataku kepada Gista yang menatapku dengan tajam.
“Bapak sudah mengetahuinya, apa saya sekarang bisa kembali ke meja saya?” tanyanya dengan nada kesal. Aku mempersilakannya.
Keva Heilyn. Ah, pantas saja aku seperti pernah melihatnya. Dia adalah perempuan yang dahulu terobsesi denganku padahal dia sudah ditunangkan dengan laki-laki lain. Wanita yang menyebarkan gosip bahwa aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkan keinginanku, sekalipun itu adalah milik orang lain.
Suaminya meninggal karena serangan jantung beberapa bulan yang lalu, jadi dia yang sekarang memimpin perusahaan mereka. Aku tidak membutuhkan drama ini. Kalau Mama sampai tahu, jangan-jangan aku akan dipaksa untuk dekat dengannya. Semoga saja kami tidak pernah bertemu lagi pada kesempatan berikutnya.
Memenuhi undangan orang tuaku, kami pergi ke rumah mereka. Aku hampir membatalkan rencana kami tersebut saat melihat betapa cantiknya istriku. Tetapi menciumnya sampai kami berdua kesulitan bernapas, sudah cukup untuk saat ini.
Aku tidak menyangka bahwa tamu yang datang sangat banyak. Kalau tahu akan begini, lebih baik kami tidak usah datang. Merepotkan saja. Apalagi aku tahu bagaimana watak kerabat Mama. Salah satu tanteku cinta mati kepada Papa. Dia menyebarkan gosip yang tidak benar yang masih dipercaya keluarganya juga banyak orang sampai hari ini.
Will mengirim pesan saat aku bersiap untuk makan dan memberitahu bahwa dia sudah ada di depan. Hari ini dia dan Gista akan kencan berdua saja, jadi Colin akan di sini bersama kami. Setelah pamit sejenak kepada keluargaku, aku berjalan menuju gerbang.
Masih ada beberapa tamu yang datang. Mereka tersenyum kepadaku. Aku hanya mengangguk pelan. Colin segera melompat keluar dari mobil ketika seorang petugas keamanan membukakan pintu untuknya. Will menurunkan jendela, lalu melambaikan tangannya kepada kami.
“Kamu sudah siapkan perutmu untuk makan banyak?” tanyaku kepada Colin saat kami berjalan menuju kebun.
“Sudah, Om. Tetapi menu apa saja yang tersedia?” tanyanya penasaran dengan menggerakkan lidahnya membasahi bibirnya.
“Ada daging sapi dan ayam panggang, juga kentang goreng kesukaanmu.” Aku sengaja menyebut menu itu saja. Dia segera menarik tanganku mempercepat langkahku.
Saat keluargaku sudah tampak di depan kami, Colin melambaikan tangannya. Hadi membalasnya. Aku bertemu pandang dengan istri cantikku, lalu tersenyum kepadanya. Sebaiknya kami langsung pulang saja setelah makan. Aku ingin segera berduaan dengannya.
“Kak Hendra!” Aku mendengar seseorang memanggil dari arah belakangku diikuti dengan langkah cepat kakinya. “Kak Hendra!” Aku terpaksa menoleh dan tiba-tiba saja seseorang memeluk aku. Matilah aku. Kesempatan untuk bermesraan dengan istriku sepulang dari acara ini bisa gagal total.
__ADS_1