
“Dia seorang pegawai pemerintahan?” tanya Papa kepadaku. Aku mengangguk. “Bukankah kamu bilang dia ingin menjadi pegawai swasta, lalu nantinya akan membuka usaha sendiri?”
“Iya, Pa.” Itu yang dia katakan pada saat kami masih bersama. Aku juga terkejut melihat dia menjadi pegawai negeri. Pekerjaan yang tidak pernah disebut-sebutnya dahulu.
“Lalu mengapa dia menjadi pegawai negeri dan sekarang terjerat kasus suap?” tanya Papa lagi.
“Papa ini bagaimana? Ara tidak mungkin mengetahuinya,” ucap Mama. Papa tertawa merasa bersalah. Dia menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak gatal. “Pria itu. Aku tidak pernah percaya kepadanya. Dan aku sangat bersyukur sekarang bahwa kamu tidak menikah dengannya, Ara.”
“Mengapa Mama bilang, Mama tidak pernah percaya kepadanya?” tanyaku ingin tahu.
“Kalian berpacaran sejak SMU tetapi dia tidak pernah sekalipun datang untuk memperkenalkan dirinya kepada kami. Dia mengajakmu bertemu, jalan-jalan, tetapi tidak pernah meminta izin kepada kami. Jika kamu tinggal di kamar sewa seperti dia, tidak apa-apa. Masalahnya, kamu tinggal bersama kami, di rumah orang tuamu.” Mama menggeleng pelan.
“Aku saja selalu meminta izin kepada kakekmu setiap kali mengajak ibumu malam mingguan. Jangan kamu kira aku tidak gemetar setiap kali datang ke rumahnya. Kamu tahu sendiri bahwa kakekmu itu orang yang menyeramkan. Tetapi pada akhirnya, aku mendapatkan restu juga,” kata Papa dengan bangganya. “Vivaldo tidak melakukan itu selama bertahun-tahun kalian bersama.”
“Bagaimana kami bisa percaya kepada orang yang suka sembunyi-sembunyi seperti dia?” tanya Mama retorik. “Papa kamu melarangmu berhubungan dengan laki-laki pada usia sekolah bukan berarti kalian boleh berpacaran di belakang kami.”
“Sudah kuliah, bahkan sampai bekerja pun, dia tidak juga datang menemui kami.” Papa berdecak pelan. “Karena itu aku langsung setuju ketika Hendra datang ke rumah dan tanpa ragu melamarmu. Pria itu mencintaimu dan menghargaimu sebagai seorang wanita. Dia juga menghormati kami sebagai orang tuamu. Dia tidak meminta izin untuk sekadar menjalin asmara tanpa tujuan yang jelas. Dia meminta restu untuk menikahimu.”
“Vivaldo bahkan tidak bisa bicara sendiri menyatakan niatnya. Malah kamu yang bicara panjang lebar mengenai hubungan kalian dan rencana kalian untuk menikah. Orang tua mana yang akan rela memberikan anak gadisnya kepada pria pengecut seperti itu?” ucap Papa tidak suka.
Wow. Kami tidak pernah bicara dari hati ke hati seperti ini sebelumnya. Aku tidak pernah tahu mengapa Papa dan Mama menentang hubunganku dengan Aldo pada saat itu. Sebaliknya, begitu bersemangat agar aku mau menikah dengan Hendra. Jadi, ini alasannya?
__ADS_1
“Mengapa Papa dan Mama tidak pernah mengatakan ini kepadaku?” tanyaku heran. Mereka saling bertukar pandang.
“Kamu masih bertanya? Apa kamu lupa seperti apa kamu dahulu menentang kami?” Mama balik bertanya. “Kamu cinta mati kepada pria itu sampai apa pun yang kami katakan hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Kamu tidak mau mendengarkan kami sama sekali.”
“Kamu menganggap Vivaldo adalah pilihan yang terbaik, tidak ada yang lain. Kamu mencintainya sampai buta dengan segala kekurangannya yang akan membuatmu susah suatu hari nanti. Kami melihatnya, memberitahumu, tetapi kamu tidak mau dengar,” kata Papa menimpali.
“Lalu mengapa Papa mudah saja menerima lamaran Hendra? Papa belum mengenalnya sama sekali. Bagaimana Papa bisa tahu bahwa dia akan menjadi suami yang baik untukku?” tanyaku menantang.
“Kalian bersahabat baik sejak kuliah. Kamu sendiri mengatakan itu. Dan aku yakin kamu membenci dia bukan karena dia berbuat jahat kepadamu, tetapi karena dia mencintaimu. Kamu masih bersama Vivaldo, makanya kamu menolaknya. Aku yakin, andai kamu masih sendiri, kamu tidak akan menolak pria sebaik dia. Karena jika dia orang jahat, kamu tidak akan mau menjadi sahabatnya.” Papa memberi jawaban telak yang tidak bisa aku sanggah.
Iya. Papa dan Mama tahu bahwa aku selalu berhati-hati dalam memilih teman. Aku tidak pernah mengecewakan mereka dalam hal itu. Hendra adalah pemuda yang baik, senior yang sopan, karena itu aku nyaman bersahabat dengannya. Bila aku sedang sendiri, bisa jadi aku akan menjalin asmara dengannya setelah mendengar kata cintanya.
“Ada apa, Ra?” Mama tersenyum penuh arti. “Kamu kehilangan kata-kata?”
“Itu adalah dosa yang akan aku bawa sampai mati. Aku sendiri masih belum bisa memaafkan diriku.” Aku menahan air mata yang mendesak keluar. Papa dan Mama menyentuh tanganku.
Pintu kamar diketuk, Papa mempersilakan masuk. Seorang petugas rumah sakit datang mengantar makanan untuk Mama. Aku dan Papa menatap Mama penuh arti. Saat wanita itu akan menutup pintu, terdengar suara yang sangat aku kenal. Aku menoleh dan teman-temanku masuk ke kamar dengan wajah bahagia.
“Hai, Tante! Hai, Om!” sapa mereka secara bersamaan. Mereka segera memeluk dan mencium Mama, juga aku dan Papa. Aku terkejut melihat Lindsey dan Claudia juga datang.
“Bukankah kalian akan pergi berlibur hari ini?” tanyaku bingung.
__ADS_1
“Penerbangannya malam ini, masih ada waktu. Tenang saja,” jawab Lindsey.
Seorang suster datang untuk mengingatkan kami agar tidak terlalu berisik. Oh, Tuhan. Hal ini terjadi lagi. Itu tidak akan menjadi peringatan terakhir yang diucapkan oleh suster jaga. Teman-temanku tidak akan bertahan lama bicara pelan, mereka akan lupa tempat lagi dan berebutan untuk bicara.
Aku dan Papa membantu menghabiskan makanan Mama yang disediakan oleh rumah sakit. Mama hanya mau menyantap makanan yang aku dan teman-temanku bawa. Suster datang lagi meminta kami untuk tenang saat kami tertawa bersama. Benar, ‘kan?
“Ah, lihat, lihat!” ucap Lindsey sambil menunjuk ke arah televisi. “Ini berita yang tadi aku maksudkan di elevator.” Kami melihat ke arah layar. Ternyata yang dia maksud adalah berita penangkapan Aldo.
“Dia pria yang datang kemarin, ‘kan, Zahara?” tanya Claudia. Aku mengangguk pelan.
“Datang? Datang ke mana, Ara?” tanya Mama dengan nada khawatir.
“Kemarin Aldo datang ke rumah, Ma. Dia memintaku meninggalkan rumah dan ikut bersamanya,” jawabku dengan jujur.
“Apa dia sudah gila? Setelah merusak acara dan mempermalukan kita semua, dia masih berani datang menunjukkan wajahnya lagi?” ucap Mama kesal. Aku segera menyentuh tangannya.
“Ma, tidak terjadi apa-apa. Aku langsung mengusirnya keluar dan dia tidak akan bisa datang lagi ke rumah. Dan dengan kasus yang sedang dia hadapi, dia tidak akan bisa mengganggu kita untuk waktu yang lama, Ma. Tolong, tenangkan diri Mama.” Aku mengusap-usap punggung tangannya.
“Ada apa, Tante? Apa ada yang membuat Tante khawatir?” tanya Claudia yang ikut panik.
“Mama berpikir sesuatu terjadi kemarin di rumahku karena kedatangan pria yang ada di TV itu,” kataku menjelaskan.
__ADS_1
“Begitu. Jangan khawatir, Tante. Zahara langsung menyuruh pelayannya untuk mengusir pria itu dengan paksa dari rumah. Kami juga ada di sana dan menghalangi pria itu untuk menyakiti Zahara,” ucap Claudia dengan mata berapi-api. Papa yang menerjemahkannya untuk Mama. Aku menoleh ke arah teman-temanku dan kami tertawa.
Pintu kamar diketuk, kemudian dibuka. Seorang suster masuk dan melayangkan pandangannya kepada kami semua. “Ini peringatan terakhir, ya, Ibu-ibu. Harap tenang. Anda sedang berada di rumah sakit. Kegaduhan di kamar ini bisa mengganggu ketenangan pasien lain. Bila masih ribut lagi, Anda sekalian akan saya usir keluar.”