Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 208 - Terburu-buru


__ADS_3

Mereka baru saja kencan pertama, Will sudah memikirkan untuk menikahi Gista pada akhir tahun ini? Cepat sekali. Aku tahu bahwa tidak ada batasan kapan waktu yang tepat bagi dua orang yang ingin menikah. Tetapi dia dan Gista baru bertemu dua kali. Keputusan ini terlalu terburu-buru.


“Ada apa dengan kalian? Aku memang sedang kasmaran, tetapi aku bukan remaja lagi. Aku tahu apa yang sedang aku bicarakan dan putuskan. Kalian tidak perlu terkejut begitu. Lagi pula kalian tahu bahwa Gista bekerja di lingkungan yang mempertemukan dia dengan banyak pria berduit. Jika aku tidak cepat menjadikannya istriku, pria lain bisa saja menyalip,” katanya menjelaskan.


“Kamu baru bertemu untuk kedua kalinya dengan dia. Siapa yang tidak akan terkejut mendengar kamu mendadak membicarakan pernikahan? Sebaiknya kamu tidak mengatakan itu kepadanya nanti. Aku khawatir Gista akan kabur darimu jika kamu terlalu cepat melamarnya.” Aku memberinya peringatan. Dia tersenyum.


“Aku tahu, Zahara. Jangan khawatirkan hal itu. Aku akan membaca bahasa tubuhnya sebaik mungkin. Aku hanya akan melamarnya jika aku tahu bahwa dia sudah siap untuk menikah denganku,” katanya berjanji. Aku mendesah lega.


Kami melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tuaku. Sesuai dengan dugaanku, anak-anak sudah tidur pulas saat kami sampai. Mama mengatakan bahwa mereka bertiga bersikap baik, begitu juga dengan Ara. Mereka juga sudah menyikat gigi sebelum tidur. Pantas saja mereka sudah memakai piyama mereka masing-masing.


Aku dan Hendra membawa anak-anak ke mobil, sedangkan Will membopong Colin ke mobilnya. Kami mengucapkan terima kasih dan selamat malam kepada Papa dan Mama, lalu pulang ke rumah kami masing-masing. Hendra hanya diam sepanjang perjalanan pulang.


“Jadi, itukah yang kamu khawatirkan saat membantu Will mendekati Gista?” tanyaku saat kami sudah berada di kamar dan bersiap untuk tidur. Dia menatapku penuh tanya. “Kamu takut Will akan membawanya ke negaranya dan kamu harus mencari sekretaris baru.”


“Iya. Proses mencari sekretaris wakil itu jauh berbeda dengan direktur utama. Aku tidak mau menjalani proses itu lagi. Gista baru bekerja selama dua bulan, masih dalam tahap pelatihan. Dia belum sepenuhnya menduduki posisi sebagai karyawan tetap. Coba saja kamu bayangkan bila aku harus mencari sekretaris baru lagi dan menunggu sampai dia terbiasa dengan ritme kerjaku.”


“Hm ….” Aku mendekat dan memeluk tubuhnya. “Pasti sulit mendapatkan sekretaris yang tahan dengan kata-kata kasarmu dan ketidaksabaranmu dalam menyelesaikan setiap proyek baru. Iya, akan sulit mendapatkan perempuan setangguh Sherry dan Gista.” Dia tertawa.


“Mengapa kamu menyebut nama mantan sekretarisku itu?” tanyanya heran. Mantan sekretarisku. Mengapa dia harus menyebut posisi gadis itu sejajar dengan kata aku seolah-olah perempuan itu adalah miliknya? Aku tidak suka itu.

__ADS_1


“Jangan sebut siapa pun dengan kata aku. Sekretarisku, wakilku, karyawanku, terutama bila yang sedang kita bicarakan adalah seorang wanita. Aku tidak suka,” kataku tanpa menutupi rasa kesalku.


“Wah, wah, istriku cemburu?” Dia mencium keningku sambil tertawa kecil. “Baiklah, sayangku, istriku, cintaku, aku tidak akan menyebut orang lain dengan kata itu lagi.” Aku tersenyum puas.


“Mengenai rencana Will, apa menurutmu dia tidak terlalu terburu-buru?” tanyaku pelan.


“Jarak dari sekarang ke bulan November itu sekitar enam bulan. Memang terlalu cepat untuk menikah. Tetapi bila mereka menggunakan setiap pertemuan untuk membicarakan rencana masa depan mereka dengan serius, maka itu waktu yang cukup untuk saling mengenal. Kamu tahu sendiri dari pengalaman pernikahan kita. Selama apa pun kita saling mengenal, selalu ada hal baru yang kita pelajari dari pasangan kita.” Apa yang dia ucapkan itu benar. Baiklah, aku tidak akan khawatir lagi.


Hari yang kami tunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Mama terlihat tegang saat kami menuju rumah sakit. Hari ini Mama akan menjalani pemeriksaan untuk mengetahui apakah sel kankernya kembali atau Mama sudah bebas dari sel jahat tersebut.


Demi menghindari antrian yang panjang, kami sudah menelepon Dokter Rahmad dan Gerhard untuk memberitahu waktu tepat kedatangan kami. Dokter bedah Mama tidak menemukan adanya infeksi atau masalah pada bekas luka di dada kiri Mama. Aku tidak pernah melihat bagian tubuhnya itu. Hanya Papa yang tahu dan ikut masuk ke ruang periksa.


Kami menunggu selama lima menit saat akan menemui Gerhard. Dia masih konsultasi dengan pasien yang lain. Suster mempersilakan kami masuk setelah pasien tersebut keluar. Gerhard bersikap lebih baik hari ini. Dia tidak lagi tersenyum secara berlebihan, justru bersikap formal kepadaku. Baguslah. Sepertinya gonggongan Ara manjur juga.


Mama berkonsultasi panjang lebar dengan Gerhard. Aku dan Papa hanya duduk diam mendengarkan percakapan di antara mereka. Gerhard berusaha untuk menggunakan istilah-istilah yang bisa kami pahami. Setiap kali dia menyebut sebuah istilah medis yang rumit dan kami mengerutkan kening, dia menjelaskannya kembali dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar.


Dia meminta Mama mengikuti suster ke ruangan sebelah untuk melakukan USG. Tidak seperti pada kedatangan pertamaku dan Mama, dia tidak menunggu sampai susternya memanggil. Dia berdiri dan meninggalkan aku juga Papa.


“Aku akan menemani mamamu. Kamu tunggu di sini bersama Dira.” Papa meletakkan putriku ke pangkuanku. Aku mengangguk menurutinya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat menunggu, mereka kembali. Wajah Mama terlihat semakin ceria. Melihat itu, aku yakin bahwa hasil pemeriksaannya baik. Mereka kembali duduk kemudian dokter memberikan sebuah resep kepada Mama. Dia kembali mengingatkan Mama untuk menjaga pola hidup yang sehat, tetap berpikir yang positif, dan menghindari pekerjaan yang berat. Kami meninggalkan ruang praktik tersebut menuju apotek.


“Bagaimana hasil USG tadi, Tante?” tanyaku ingin tahu saat kami menunggu nomor antrian obat Mama dipanggil.


“Dokter tidak menemukan adanya sisa kanker di dada maupun kelenjar getah beningku. Tetapi aku belum sepenuhnya lepas dari ancaman, jadi aku harus datang lagi bulan depan. Aku meminta untuk dilakukan mamografi. Dokter menolak, katanya, aku baru bisa melakukan pemeriksaan itu lima atau enam bulan ke depan. Semoga saja hasilnya akan terus sebaik ini.” Mama tersenyum bahagia.


“Syukurlah, Tante,” kataku ikut merasa lega.


“Itu bukan berarti kita berhenti melakukan senam setiap tiga kali sehari. Adhy akan menemani aku pada pagi dan malam hari, kamu masih harus membantu aku pada siang hari. Kamu tidak perlu datang pada hari Sabtu dan Minggu. Aku tidak mau egois. Anak-anakmu pasti ingin bersamamu pada akhir pekan.” Mama menoleh ke arah Papa. “Sudah saatnya untuk memberitahu keluarga kita.”


“Apa kamu yakin, sayang?” tanya Papa terkejut. Mama menganggukkan kepalanya.


“Kita tidak bisa menyembunyikan ini lebih lama lagi. Aku sudah siap untuk menghadapi apa pun yang akan mereka katakan nanti.” Mama tersenyum, tetapi Papa justru terlihat khawatir.


Ada apa dengan keluarga kami? Seingatku, semua kerabat suamiku adalah orang yang baik. Aku memang jarang bersosialisasi dengan mereka. Setiap kali ada pertemuan keluarga, aku tidak bisa pergi dari sisi suamiku. Jadi, aku tidak dekat dengan siapa pun. Hanya menyapa mereka seadanya saja. Aku bahkan sering lupa yang mana adik Mama dan yang mana saudara Papa.


“Beritahu Hendra. Hari Sabtu ini kami akan mengadakan acara syukuran di rumah. Teman-teman kamu juga diundang bila mereka bisa datang,” kata Mama kepadaku. Mendengar itu, aku teringat dengan sesuatu yang sudah lama ingin aku lakukan.


“Bagaimana dengan keluargaku, Tante? Apa orang tua dan keluarga adikku boleh datang juga?” tanyaku memberanikan diri.

__ADS_1


__ADS_2