
“Kehamilan kali ini juga termasuk cepat. Jika aku tidak salah ingat, dokter meminta kalian untuk menunggu selama tiga bulan. Hendra mengalami kecelakaan, maka itu artinya kalian sudah kembali aktif sebelum kejadian itu.” Mama menatapku penuh selidik. “Ara, apa yang terjadi sehingga selama enam tahun pertama pernikahan kalian, kamu tidak hamil?”
Aku memejamkan mata, mempertimbangkan apa yang sebaiknya aku katakan. Aku tidak ingin menyakiti siapa pun lagi. Sudah cukup semua yang kami alami selama ini. Tetapi aku tidak boleh berbohong. Jika tidak sekarang, suatu hari nanti mereka bisa saja mengetahuinya. Entah aku atau Hendra yang keceplosan.
“Za, apa kamu meminum obat pencegah kehamilan?” tanya ibu mertuaku. Dia menyentuh tanganku. “Nak, kamu tidak perlu takut untuk berkata jujur. Anya juga aku hanya ingin tahu apa yang terjadi.” Aku terisak mendengar kalimat ibu mertuaku itu. Ara menggeram ke arah kedua mamaku.
“Ara? Mengapa kamu menangis? Jangan begini. Hendra bisa marah kalau dia sampai tahu,” ucap Mama panik. “Dengar, kami tidak akan marah kepadamu. Aku dan Naava bahagia sekaligus terkejut dengan kehamilanmu yang termasuk cepat ini. Kami hanya ingin tahu.”
“Ma-maafkan aku, Ma. Aku anak yang jahat. Aku juga istri yang jahat,” kataku terisak. “Iya. Aku minum obat pencegah kehamilan.” Mereka mendesah lega. Aku menatap mereka dengan bingung. “Apa Mama tidak marah kepadaku? A-aku sudah mengecewakan Mama berdua.”
“Kami tahu bahwa kamu belum mencintai Hendra pada tahun-tahun awal pernikahan kalian. Anak malang, apa kamu begitu takut kami akan memarahi kamu, hm?” Ibu mertuaku mengusap air mata di pipiku. Mama ikut membantu. Ara menggonggong begitu keras.
“Sudah, jangan menangis. Kami tidak akan marah. Ingat kandunganmu. Kamu sudah memberi kami dua orang cucu, tidak mungkin kami marah hanya karena masa lalu,” ucap mamaku menghibur. “Lihat, Ara juga ikut memarahi kami. Dia lebih galak daripada Hendra.”
“Benar? Mama berdua tidak marah?” tanyaku pelan. Mereka serentak mengangguk. “Terima kasih. Dan aku benar-benar minta maaf.”
Aku tidak tahu apa yang terjadi, tetapi aku sangat lega bisa mengeluarkan rahasia itu dari dadaku. Bahagia rasanya melihat reaksi mama dan ibu mertuaku tidak seperti yang aku khawatirkan. Aku memeluk mereka berdua, juga memeluk Ara agar berhenti marah.
“Mamamu hanya penasaran dengan dua kehamilanmu belakangan ini,” kata ayah mertuaku. “Dia terus menanyakan itu kepadaku yang tidak bisa aku jawab. Aku sudah bilang agar dia langsung bertanya kepadamu. Lagi pula kamu sedang hamil, tentu saja mereka tidak akan berani memarahi kamu. Siapa yang mau berurusan dengan amarah Hendra?” Kami semua tertawa mendengarnya.
“Bayangkan saja, bahkan ayah dan adik kandungmu tidak boleh memelukmu. Ada yang tidak beres dengan suamimu itu.” Papa menggeleng-gelengkan kepala.
“Aku sebagai ayah kandungnya saja tidak mengerti dari mana dia mendapat sifat itu.” Ayah mertuaku tertawa kecil.
Ponselku bergetar, keempat orang tuaku mengerang pelan. Aku tertawa kecil. Mama segera mengambil tisu yang ada di atas meja, lalu membantu mengeringkan wajahku. Ibu mertuaku membantu merapikan rambutku.
“Mengapa dia harus menghubungi kamu sesering ini? Apa dia begitu curiga bahwa kami akan tega menyakiti kamu?” keluh ibu mertuaku.
Aku hanya bisa tertawa kecil. Setelah yakin aku siap untuk menjawab, aku menggeser simbol telepon berwarna hijau. Wajah Hendra segera memenuhi layar. “Hai, sayang!”
“Hai, cantik. Apa kabarmu dan bayi kita?” tanyanya dengan riang. Kedua mama kami mendekat sehingga wajah mereka tampak pada layar. “Ah, sepertinya orang tua kita masih di sana bersamamu, ya.” Wajah cerianya berubah cemberut.
__ADS_1
“Hai, sayang. Bagaimana pekerjaanmu hari ini?” tanya ibu mertuaku setengah menggodanya.
“Hentikan itu, Ma. Apa Mama berdua memperlakukan istriku dengan baik? Kalian tidak membuat dia menangis, ‘kan?” Hendra menatap dengan curiga. “Sepertinya mata istriku agak merah. Apa dia baru saja menangis? Jangan berbohong kepadaku.”
“Sayang, hentikan itu. Aku baik-baik saja. Orang tua kita sangat baik kepadaku. Dan kamu tahu sendiri bahwa aku sangat sensitif karena pengaruh hormon selama hamil ini. Kalau kamu mau cari siapa yang salah, salahkan diri kamu sendiri yang sudah membuat aku begini,” ucapku.
“Mengapa jadi aku yang disalahkan? Kita membuatnya bersama.” katanya membela diri. Hadi dan Dira segera naik ke sofa, ingin ikut bicara dengan papa mereka.
“Hendra, jangan memarahi menantuku. Kamu harus banyak mengalah. Bila dia bilang kamu yang salah, maka kamu yang bersalah,” ucap ibu mertuaku. Aku menjulurkan lidahku ke arah suamiku.
“Mengapa jadi aku yang dimarahi?” protesnya. Dia menoleh ke arah kanannya. “Gista, hentikan itu! Aku sudah bilang, kalau ada yang mau kamu laporkan, kirim lewat pesan saja. Jangan tunjukkan wajahmu di hadapanku.”
“Hei, hei, sayang. Mengapa kamu memarahi Gista seperti itu?” Aku berusaha untuk menenangkan dia. Sayup-sayup aku mendengar suara tawa seorang wanita.
“Bagaimana aku tidak marah? Aku sudah dua minggu kembali bekerja dan dia masih saja tertawa setiap melihat aku. Keterlaluan sekali.” Dia menggeram kesal. Aku menahan diri untuk tidak tertawa. Tetapi ibu mertuaku yang lebih dahulu tidak bisa menahan dirinya.
“Mama!” seru Hendra kesal. “Aku tidak seburuk itu dan rambutku pasti akan segera tumbuh. Berhenti menertawai aku!” Sebenarnya penampilannya tidak seburuk itu, tetapi reaksinya ini membuat kami tertawa. Dia terlihat begitu manis saat marah begini.
“Papa! Papa!!” sapa Hadi dan Dira serentak. Aku membiarkan Hadi memegang ponselku dan mendengarkan mereka bicara dengan papa mereka.
Entah apa yang terjadi padaku, tetapi saat aku menyambut kepulangan Hendra pada sore itu, aku menangis tersedu-sedu. Dia sampai memarahi orang tua kami meskipun Mama sudah menjelaskan bahwa ini hanya masalah hormon.
Dia pulang membawaku satu buket mawar merah dan sekeranjang buah-buahan segar. Aku tidak tahu mengapa aku tersentuh dengan itu sampai menangis. Setelah aku berhasil menenangkan diri, kami makan malam bersama. Orang tua kami pulang dengan mobil mertuaku. Aku tersenyum melihat keakraban mereka.
Kehamilan ini benar-benar aneh. Satu waktu aku menangis, lalu di waktu yang hampir bersamaan aku tertawa. Aku penasaran, anak yang aku kandung ini laki-laki atau perempuan?
Hadi meminta aku untuk menghubungkan panggilan video dengan ponsel ayah Colin. Aku melihat jam dan memang sudah pagi hari di sana. Aku memintanya dan Dira untuk menyikat gigi dan memakai piyama sebelum aku menghubungi Colin. Mereka menurut.
Aku dan Will bicara sebentar sebelum aku memberikan ponselku itu kepada Hadi. Tidak ingin ikut campur dengan pembicaraan mereka, aku meninggalkan kamar putraku dan membiarkan mereka bertiga mengobrol.
Hendra sudah selesai mandi dan memakai celana panjang serta kaus. Aku memintanya untuk memeriksa keadaan anak-anak beberapa menit lagi. Dia segera mengerti bahwa mereka sedang berbincang dengan Colin.
__ADS_1
“Apakah terjadi sesuatu hari ini di rumah?” tanya Hendra yang menolongku berbaring di tempat tidur. Aku tidak ingin berdebat lagi dengannya, maka aku membiarkan dia memanjakan aku.
“Semuanya baik-baik saja. Bahkan sangat baik,” kataku teringat dengan percakapanku dengan mama dan ibu mertuaku. “Bebanku sekarang sudah terangkat semua. Orang tua kita sudah tahu bahwa dahulu aku mengonsumsi obat pencegah kehamilan.”
“Oh, ya? Lalu bagaimana tanggapan mereka?” tanya Hendra ingin tahu. Dia duduk di tepi ranjang.
“Mereka hanya ingin tahu, dan sama sekali tidak memarahiku,” jawabku senang.
“Syukurlah, kalau begitu.” Hendra memegang kedua tanganku. “Apa ada lagi yang kalian bicarakan?” Aku menggeleng pelan.
“Sayang? Semuanya akan baik-baik saja, ‘kan? Kita tidak akan mengalami perpisahan atau masalah besar lagi, ‘kan? Kebahagiaan ini nyata dan bukan mimpi, ‘kan? Setelah begitu banyak hal yang terjadi, aku takut. Aku takut ini semua hanya mimpi,” kataku terisak.
...*******...
Sementara itu di kamar anak-anak.
“Di sini tidak ada kemah musim panas, jadi aku tidak bisa ikut acara apa pun,” ucap Hadi kepada sahabat baiknya. “Apa di sana kamu punya banyak teman, Colin?”
“Aku berkenalan dengan banyak teman baru. Tetapi tidak ada yang sebaik kamu, Hadi. Mereka tidak suka berbagi mainan denganku,” jawab Colin.
“Mengapa mereka tidak suka berbagi? Apa mereka tidak belajar itu di sekolah?” tanya Hadi bingung.
“Aku tidak tahu. Aku juga banyak didekati anak-anak perempuan, tetapi aku abaikan mereka semua. Karena aku sudah berjanji kepada papa dan mama kamu bahwa aku akan menikahi Dira saat kami besar nanti,” kata Colin dengan nada bangga.
“Jangan khawatirkan Dira. Aku menjaga adikku dengan baik sesuai janjiku. Saat kamu pulang nanti kamu bisa lihat sendiri.” Hadi merangkul adiknya. “Dira katakan halo kepada suamimu.” Dira hanya tertawa melihat wajah Colin memenuhi layar ponsel.
“Aku bukan suaminya, Hadi,” ucap Colin. Hadi mengerutkan keningnya.
“Lalu apa?” tanyanya.
“Calon suami,” jawab Colin. “Hai, Dira. Kamu sabar, ya. Sebentar lagi aku pulang. Aku akan bawa banyak mainan untuk kamu dan Hadi.”
__ADS_1
Hendra yang mendengar percakapan itu dari ambang pintu hanya menepuk kening dan menggeleng tidak percaya.