
Tiba di rumah, aku tidak ingin melakukan apa pun selain menuju kamar. Aku merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Air mata kembali mengalir membasahi wajahku tanpa dapat aku tahan. Berakhir sudah harapanku untuk berpisah dari Hendra.
Selamanya aku harus hidup bersamanya. Sampai mati, aku akan berada di rumah ini menemani pria itu. Sampai akhir hayatku, aku tidak akan pernah bisa merasakan cinta lagi. Aku tidak akan pernah merasakan kebebasan lagi. Hidupku telah berakhir.
Aku memukul bantal sekeras mungkin. Bodoh. Mengapa dia sampai menemukan obat itu di laci? Aku bodoh sekali tidak menyembunyikannya dengan baik. Enam tahun sudah aku melakukan ini tanpa pernah ketahuan sama sekali. Hanya gara-gara sebuah jam, hidupku berubah total seperti ini. Surat perjanjian menjengkelkan. Sekarang keluargaku ikut terlibat karena ulahku.
Mendengar bunyi getaran dari tas, aku ingin mengabaikannya. Tetapi jika itu Hendra, dia tidak akan senang kalau aku sampai mengabaikan panggilan telepon darinya. Aku meraih tas tersebut. Melihat nama pada layar ponsel, cepat-cepat aku duduk. Papa. Mengapa Papa menelepon? Apakah terjadi sesuatu pada Mama?
“Ya, Pa?” kataku dengan nada khawatir.
“Ara, kamu tidak akan percaya ini!” ucap Papa yang bersorak senang. Aku mengelus dadaku, bernapas lega. Papa tidak menelepon untuk memberi kabar buruk. “Rumah telah dibayar lunas!”
“Dan dana untuk operasiku sudah cukup!” timpal Mama dengan nada yang sama. Aku bisa membayangkan mereka saling berpelukan di seberang telepon. Meskipun aku tidak bisa melihatnya, aku tahu mereka sedang menangis bahagia.
Baru beberapa jam yang lalu aku menandatangani surat perjanjian itu, masalah rumah dan biaya operasi Mama telah teratasi? Hendra menepati ucapannya. Masalah Zach dengan para mafia itu juga pasti telah diselesaikannya. Sekuat tenaga aku menahan diri agar tidak menangis lagi. Aku tidak ingin Papa dan Mama mendengarnya.
“Aku senang mendengarnya, Pa, Ma,” ucapku pelan. Terima kasih, Hendra. Dadaku terasa lebih lega karena masalah itu telah terangkat.
“Kami harus pergi mengurus rumah. Nanti akan kami kabari lagi,” ucap Papa dengan antusias.
“Baik, Pa.” Aku meletakkan ponsel di atas tempat tidur setelah hubungan telepon berakhir.
Aku harus membayar semua itu dengan hatiku. Kebahagiaan orang tuaku tidak hanya aku bayar dengan hatiku, tetapi juga dengan tubuh, jiwa, dan hidupku. Sebaliknya, jika aku melakukan kesalahan yang sepele sekalipun, keluargaku juga yang akan menanggung akibatnya.
Apa yang aku miliki yang membuat Hendra begitu menginginkan aku? Untuk apa dia menahan seorang wanita dalam genggamannya, ketika dia tahu bahwa wanita itu tidak mencintainya? Mengapa dia tidak mencari wanita lain saja? Ada begitu banyak wanita yang memperebutkan perhatiannya. Dia akan lebih bahagia bersama mereka. Mengapa harus aku?
Seandainya saja aku punya daya untuk lepas darinya. Baru kali ini aku memahami betapa uang dan kekuasaan mampu membeli segalanya. Aku tidak punya apa pun untuk bisa lepas dari Hendra. Dia jelas lebih kuat dalam segala hal dibandingkan aku. Andai aku punya pekerjaan yang hebat, uang yang banyak, orang-orang yang berpengaruh, aku bisa saja lepas darinya.
Namun hukum mana yang akan membebaskan aku? Aku sepenuhnya sadar saat bersumpah setia pada hari pernikahan kami. Aku juga sepenuhnya sadar saat menandatangani surat perjanjian itu siang tadi. Zach atau pengacara hebat sekalipun tidak akan bisa menolong aku. Aku harus tetap menikah dengan Hendra untuk selamanya.
Aku baru saja selesai mandi ketika ponselku bergetar. Aku meletakkan sikat rambut dan mengambil ponselku yang ada di atas nakas. Papa. Aku berdehem pelan sebelum menyentuh simbol telepon berwarna hijau. Aku sudah terlalu banyak menangis hari ini.
__ADS_1
“Iya, Pa? Apakah semuanya baik-baik saja?” tanyaku sambil berjalan menuju ruang pakaian.
“Apakah kamu akhirnya memutuskan untuk bicara dengan suamimu?” tanya Papa dengan nada riang. Aku mengerutkan keningku mendengarnya. “Dia mengirim seseorang untuk membantu kami mengurus rumah. Sertifikat hak milik sudah di tangan kami lagi.”
“Terima kasih, Ra,” ucap Mama terharu. “Terima kasih kamu mau membicarakan ini dengan Hendra. Kita tidak perlu kehilangan rumah kita. Aku tahu bahwa kamu berat melakukan semua ini. Terima kasih banyak, Nak.”
“Ma, tidak perlu dipikirkan.” Aku menguatkan diriku agar tidak menangis mendengar isakan Mama. “Yang penting semuanya sudah beres. Iya?”
“Iya,” jawab Mama terisak. “Apakah Nak Hendra sudah pulang? Kami ingin berterima kasih langsung kepadanya. Kami tidak ingin mengganggu pekerjaannya, jadi kami segan menghubungi ponselnya.”
“Belum, Ma. Nanti aku minta dia menelepon Mama, ya,” ucapku pelan.
“Kami akan ke rumah sakit besok. Hendra sudah mentransfer sejumlah uang untuk membiayai operasi pemasangan cincin di jantung mamamu juga pemeriksaan lainnya,” kata Papa. “Semoga saja operasinya bisa segera dilaksanakan.”
“Baik, Pa. Aku akan menjemput Papa dan Mama, lalu kita ke rumah sakit bersama.”
“Kami bisa pergi sendiri, Ra. Kamu sebaiknya melakukan pekerjaanmu seperti biasanya saja. Kami akan menghubungimu jika kami memerlukan sesuatu.”
“Tidak. Aku akan menjemput Papa dan Mama besok, lalu kita pergi ke rumah sakit bersama.” Aku memaksa. Aku mendengar mereka tertawa kecil. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku.
Aku terduduk di tepi tempat tidur. Jantungku berdebar lebih cepat. Aku menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Hendra sebentar lagi akan pulang. Apa yang akan dilakukannya malam ini? Apakah dia akan bersikap kasar atau lembut kepadaku?
Tepat pada jam enam, aku mendengar bunyi deru halus mesin mobil. Hendra pulang. Aku segera keluar dari ruang duduk dan berjalan menuju pintu depan. Aku merapikan rambut dan dress yang aku kenakan. Pintu depan terbuka saat aku sudah berdiri menunggu di posisiku. Hendra masuk ke dalam rumah dengan wajah ceria. Aku tersenyum kepadanya.
“Hai, sayang.” Seperti biasanya, Hendra melingkarkan tangan di pinggangku lalu mencium bibirku. “Ini untukmu.” Aku membulatkan mata melihat buket lili putih yang dibawanya.
“Terima kasih.” Aku tersenyum bahagia.
“Bunga yang indah untuk istri yang cantik,” pujinya sambil mencium pelipisku. “Aku lapar. Apakah makan malam sudah siap?”
“Sudah. Ayo, kita ke ruang makan,” ajakku. Buket bunga itu aku serahkan kepada Yuyun yang sudah berdiri di sisiku. Semua pekerja di rumah ini sudah tahu kebiasaan kami berdua. Jadi, mereka selalu siap sedia kapan saja kami butuhkan.
__ADS_1
Kami makan malam sambil membicarakan kegiatan kami sepanjang hari itu. Aku juga menceritakan kepadanya mengenai Papa dan Mama yang menelepon dan memberitahuku mengenai keadaan rumah dan kabar mengenai operasi jantung Mama. Tetapi Hendra tidak banyak bicara seperti biasanya. Dia kelihatan sibuk dengan pikirannya sendiri.
Ketika masuk ke kamar, aku tersenyum melihat lili putih yang ada di dalam vas bunga kaca sudah diletakkan di atas bufet. Mendengar pintu ditutup di belakangku, aku menoleh. Aku mendekati Hendra dan menolong membukakan dasinya.
“Terima kasih. Kamu menepati ucapanmu. Rumah sudah dilunasi dan uang operasi untuk Mama sudah cukup,” ucapku pelan.
“Aku harap kamu menepati ucapanmu juga,” ucapnya dingin. Aku menarik napas perlahan berusaha menenangkan diri. Tidak apa-apa, dia tidak akan menyakitiku.
“Aku janji. A, aku tidak akan menolakmu,” ucapku yang mendadak gugup.
“Juga tidak ada air mata.” Hendra menyeka air mata yang tidak aku sadari sudah membasahi pipiku. Aku menelan ludah dengan berat.
“I, iya,” ucapku dengan suara bergetar.
Hendra menundukkan kepala dan mencium bibirku. Semoga saja dia tidak menyakitiku lagi. Aku belum sempat membalas ciumannya, dia sudah menjauhkan diri. Aku membuka mata dan menatapnya dengan bingung. Melihat Hendra hanya diam saja, aku mengambil inisiatif. Aku membuka kancing kemejanya. Dia memegang tanganku, menghentikan aku pada kancing kedua.
“Aku bisa melakukannya sendiri. Aku masih punya pekerjaan. Aku akan ke ruang kerja setelah mandi. Kamu boleh tidur lebih dahulu.” Dia membelai pipiku lalu menuju kamar mandi. Aku berdiri di tempatku dengan bingung.
Bukankah dia menginginkan anak? Mengapa dia tidak mau melakukan hubungan intim sekarang? Apa mungkin dia terlalu lelah? Atau benarkah dia sedang ada pekerjaan? Tetapi tidak pernah selama kami menikah Hendra membawa pekerjaannya ke rumah. Tidak pernah.
Jangan-jangan aku telah melakukan kesalahan. Tetapi kesalahan apa yang telah aku lakukan sehingga dia menghindar? Dia tidak akan membuat susah keluargaku, ‘kan? Bukankah kalau aku melakukan kesalahan, maka Papa, Mama atau Zach yang akan terkena akibatnya?
Oh, tidak. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak boleh sampai membuatnya marah dan kecewa kepadaku. Aku tidak mau ada yang disakiti karena aku, terutama keluargaku. Mendengar bunyi pintu kamar mandi dibuka, aku menoleh.
“A, apa aku telah melakukan kesalahan?” tanyaku begitu Hendra keluar dari kamar mandi. Dia menghentikan langkahnya yang berniat ke ruang pakaian. Dia menatapku sejenak.
“Tidak. Mengapa kamu berkata begitu?” Dia mengerutkan keningnya.
“Kalau aku telah melakukan kesalahan, aku minta maaf. A, aku tidak mau kamu membalasnya pada keluargaku,” ucapku sambil meremas tanganku sendiri karena merasa khawatir. Dia melihat ke arah tanganku, kemudian kembali melihat wajahku. Tatapan matanya melembut.
“Kamu tidak melakukan kesalahan, Za,” ucapnya pelan. Itu adalah ekspresi wajah Hendra yang selalu bersikap baik kepadaku.
__ADS_1
“Baik. A, aku akan tidur sekarang.” Aku membuka mantel sutraku dan meletakkannya di sandaran kursi. Merasakan tangannya melingkari tubuhku, aku membeku. Dia memelukku dari belakang.
“Aku tidak pernah menyakitimu. Mengapa kamu begitu gugup dan takut kepadaku sekarang? Tubuhmu sampai gemetar begini. Kamu benar-benar percaya aku sanggup menyakitimu, Za?” ucap Hendra sedih. Aku hanya diam. “Aku mencintaimu, Za. Sangat mencintaimu.”