
“Masuk, Za. Kita harus mengejar mereka,” desak Hendra dari dalam mobil. Oh, iya. Aku segera menutup pintu mobil yang terbuka, lalu duduk di jok depan, dan memasang sabuk pengamanku. Seluruh tubuhku gemetar. Putriku. Putriku.
“Ma, Dira ke mana? Siapa mereka, Ma?” Hadi mulai terdengar panik.
“Tenang, ya, Nak. Kita akan membawa Dira kembali.” Hendra tidak mengalihkan pandangannya dari mobil yang melaju beberapa mobil jaraknya di depan kami. Dia memberikan ponselnya kepadaku. “Tolong, hubungi pria bernama Irwan.”
“A-aku,” ucapku dengan suara bergetar. Hendra menggenggam tanganku.
“Za, fokus. Kuatkan dirimu. Dira membutuhkan kita tetap tenang. Jadi, segera hubungi pria bernama Irwan. Lalu aktifkan pengeras suaranya,” kata Hendra memberi instruksi.
“Ba-baik.” Aku membuka layar ponselnya menggunakan PIN yang dia sebutkan, lalu menyentuh lambang telepon dan mencari nama Irwan. Aku menghubunginya dan menyentuh pengeras suara. Bunyi nada sambung pun memenuhi mobil.
“Ya, Hendra,” sapa pria yang bernama Irwan tersebut.
“Tolong ikuti mobil ini.” Hendra menyebutkan nomor plat mobil yang sedang kami ikuti dan jenis mobilnya. Dia juga menyebutkan di mana tepatnya kami berada.
“Oke. Kami sudah menemukannya. Aku juga melihat Range Rover-mu di belakangnya,” kata pria itu. Bagaimana dia bisa tahu? Apakah di sekitar sini ada kamera yang terhubung ke satelit? “Sebaiknya kamu cepat karena beberapa meter lagi tidak ada CCTV terdekat yang bisa kami masuki untuk terus memantaunya. CCTV berikutnya terlalu jauh dan mereka bisa saja berbelok di salah satu gang saat kita kehilangan jejak mereka.” CCTV? Siapa orang yang bernama Irwan ini? Polisi?
“Jalan sedang ramai dan aku tidak bisa sembarangan menyetir. Lakukan sesuatu, Irwan.” Hendra mulai terdengar panik. “Mereka mengambil putriku!”
“Kami kehilangan mereka. Apa kamu masih melihatnya di sana?” tanya Irwan. Aku semakin panik. Mobil itu sudah berada jauh di depan kami, jadi aku tidak bisa melihatnya di antara mobil yang ada di depan kami. “Iya. Kita kehilangan mereka. Aku melihat mobilmu melintas, tetapi mereka tidak muncul lebih dahulu darimu. Mereka pasti berbelok di antara jalan yang ada di sepanjang titik buta.”
Hendra memukul setir dengan keras. “Lakukan sesuatu, Irwan.” Aku semakin panik.
“Aku akan hubungi semua rekanku yang ada di sekitar sana dan memeriksa setiap jalan yang ada di titik buta. Maafkan aku, Hendra. Tapi kita pasti akan mendapatkan putrimu kembali.”
__ADS_1
“Oke.” Hubungan telepon terputus. Hendra menepikan mobilnya.
Aku mulai menangis. Putriku. Kami kehilangan jejaknya. Bagaimana kami akan mencari dia sekarang? Dia pasti sedang menangis ketakutan. Apa yang mereka inginkan dari mengambil putriku dariku? Oh, Tuhan. Semoga mereka tidak akan menyakitinya.
Tanpa mengatakan apa pun, Hendra mengendarai mobilnya kembali. Kami tiba di vila beberapa saat kemudian. Dia keluar dari mobil dan membantu Hadi untuk turun. Aku terkejut ketika dia juga membantuku untuk keluar dari mobil. Kami memasuki vila bersama. Anak anjing itu segera menyambut kami, tetapi kami tidak bisa memberi respons yang dia harapkan.
“Aku akan menidurkan Hadi,” ucap Hendra. Aku mengangguk dan duduk di sofa. Aku melompat terkejut ketika merasakan getaran dari dalam tasku. Nama Zach muncul pada layar.
“Halo,” sapaku pelan.
“Hai, Kak! Mama ingin bertemu dengan cucu-cucunya tetapi kalian tidak ada di rumah tadi. Jadi kami hanya makan malam berlima. Apa yang dikatakan Abdi benar? Kamu menginap bersama mereka di apartemen Hendra?” tanya Zach dengan nada menggoda. Aku akan marah dan membalasnya dengan kesal andai saja kondisinya tidak seperti ini.
“Tidak. Kami sedang berada di Puncak, di vila Hendra.” Aku tiba-tiba saja terisak.
“Putriku. Seseorang menculik Dira.” Aku merasakan sentuhan pada punggungku. Aku menoleh, kemudian Hendra mengambil ponselku dari tanganku.
“Jangan beritahu siapa pun, Zach. Aku tidak ingin Om Yosef atau Tante Anya khawatir,” ucap Hendra dengan tegas. “Aku belum bisa menceritakan apa pun kepadamu sekarang. Aku harus menelepon temanku dan menanyakan perkembangan pencarian mereka. Benar, Irwan. Iya. Sampai nanti.”
Anak anjing itu merintih kecil di kakiku. Aku menoleh dan melihat dia sedang mencari-cari sesuatu. “Apakah anjing ini sedang lapar?” tanyaku kepada Hendra.
“Dia sepertinya gelisah karena kita sudah pulang tetapi tidak menemukan Dira.” Hendra duduk di sisiku lalu menelepon seseorang. “Bagaimana? Oke. Aku tunggu.”
“Apa yang terjadi? Mereka sudah menemukannya?” tanyaku penuh harap. Dia menggeleng pelan.
“Mereka masih menyisir lokasi di mana kita kehilangan Dira. Irwan meminta kita menunggu sampai dia menghubungi kita. Dia membutuhkan ponselnya tetap siap sedia untuk menerima telepon dari rekan kerjanya yang sedang melakukan pencarian.”
__ADS_1
“Dira pasti sedang menangis sekarang. Dia tidak bisa dekat dengan orang asing. Apa yang terjadi padanya sekarang? Bagaimana kalau mereka sampai menyakitinya karena dia tidak berhenti berteriak memanggil kita? Dan bagaimana kalau mereka mengakhiri hidupnya dan membuangnya begitu saja ke jalan?” Aku tidak bisa menghentikan kepalaku memikirkan semua kemungkinan buruk itu. “Tolong, lakukan sesuatu.”
“Tidak akan ada yang akan bisa lolos dari kejadian ini, Za. Siapa pun mereka, aku akan membuat mereka menyesal pernah menyentuh Dira.” Hendra menyentuh tanganku. “Kuatkan dirimu. Dira akan sangat membutuhkanmu nanti.”
Aku menyandarkan kepalaku kepadanya. Hendra melepaskan genggaman tangannya, lalu memeluk tubuhku. Dan akhirnya aku menumpahkan semua ketakutan dan kekhawatiran yang sedari tadi aku tahan dalam pelukannya. Oh, Tuhan. Semoga Dira baik-baik saja.
Anak anjing itu menyalak menarik perhatianku. Kami melihat dia sedang menatap pintu sambil menggonggong sedih. Dia bahkan mulai mencakar-cakar pintu dengan gelisah. Aku melihat ke arah Hendra. “Apa menurutmu dia tidak bertingkah aneh?”
“Mungkin dia mencium bau Dira di mobil, jadi dia pikir putri kita bersembunyi di sana.” Hendra melepaskan pelukannya dan berdiri. Dia membukakan pintu dan benar, anak anjing itu melesat ke mobil. Dan menyalak tepat di pintu di mana biasanya Dira duduk. “Ara, Dira tidak ada di sini.” Hendra membukakan pintu mobil.
Anak anjing itu merintih sedih. Dia kembali menyalak keras ketika Hendra menutup pintunya. Dia membukanya lagi dan kini anjing itu berusaha menggapai-gapai untuk masuk ke mobil. Hendra menurutinya. Dia mengangkat tubuhnya dan memasukkan ke mobil. Anak anjing itu mengendus-endus kursi Dira. Lalu dia menyalak keras ke arah Hendra. Kami saling bertukar pandang.
“Aku tahu ini terdengar gila. Tapi sepertinya dia ingin kita pergi mencari Dira.” tebakku seadanya. Hendra tertegun sejenak.
“Labrador Retriever adalah anjing pencari jejak yang hebat. Kemampuan Golden Retriever ada di bawahnya, tetapi dia masih kecil. Aku juga belum pernah melatihnya untuk itu.” Hendra menggeleng pelan. “Tidak ada salahnya dicoba. Aku akan memanggil pengurus rumah untuk menjaga Hadi.”
“Sebentar. Kamu yakin akan meninggalkan putra kita dalam pengawasan orang lain?” tanyaku khawatir. Dia tersenyum lalu membelai pipiku.
“Aku tidak pernah tidak memeriksa latar belakang orang yang bekerja untukku. Mereka bersih dan sangat setia. Mereka belum pernah mengecewakan aku satu kali pun. Jadi, jangan khawatir. Mereka akan menjaga Hadi dengan baik.” Dia masuk ke rumah. Aku melihat ke arah anak anjing yang menyalak penuh protes karena berpikir tuannya tidak mendengarkan permintaannya.
“Dia hanya memanggil orang sebentar agar ada yang menjaga Hadi. Kita akan pergi mencari Dira. Aku mohon, bantu kami menemukan putri kami.” Dia menelengkan kepalanya saat mendengar aku bicara. Dia menyalak ketika aku menyebut nama Dira.
“Masuklah. Kita pergi.” Hendra memutari mobil. Aku melihat ke arah pintu. Pasangan yang menjaga vila itu tersenyum sedih ke arahku. Aku menganggukkan kepala lalu masuk ke mobil.
“Rekan-rekan Irwan masih belum menemukan apa pun. Semoga saja Ara bisa membantu kita.” Anak anjing itu menyalak mendengar namanya disebut.
__ADS_1