Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 74 - Restu Orang Tua


__ADS_3

“Di mana kamar si kecil?” tanya Claudia dengan riang. Hendra melepaskan tanganku dan berjalan menuju tangga, mengantar orang-orang tersebut. Aku hanya bisa mengangakan mulutku. “Mereka akan bekerja dengan cepat. Jangan khawatir.”


Mengikuti rasa penasaranku, aku berjalan menaiki tangga menuju lantai atas. Aku mendengar langkah halus teman-temanku yang mengikutiku juga. Hendra menoleh saat aku hampir berada di dekatnya. Kami berdiri di ambang pintu dan melihat para pria itu bekerja dengan cepat memasang tempat tidur bayi, kabinet, lemari, alas lantai yang aman untuk bayi, dan beberapa mainan.


Kemudian mereka keluar dari kamar dan aku masuk untuk menyentuh setiap perabotan dan barang tersebut. Aku membuka salah satu laci dan menemukan ada begitu banyak pakaian bayi. Pada laci lain ada popok baru untuk sekali pakai. Claudia dan Mason tidak main-main memberikan hadiah.


“Bagaimana? Apa kalian menyukainya? Ada lagi yang perlu kami tambahkan?” tanya Claudia yang sudah berdiri di ambang pintu.


“Apakah ini sogokan agar kami merelakan putra kami untuk menjadi menantumu?” tanya Hendra bercanda. Kami tertawa mendengarnya. “Terima kasih, Claudia, Mason. Semua ini lebih dari cukup.”


“Sama-sama. Istriku senang berteman dengan kalian semua. Karena itu kami ingin memberikan ini sebagai hadiah. Tidak ada maksud lain. Tentu saja kami juga tidak keberatan jika putramu dan cucu perempuan kami benar-benar menjadi pasangan nanti.” Mason merangkul istrinya.


“Claudia, dia adalah cucuku. Bagaimana bisa kamu melakukan ini?” protes ibu mertuaku. Claudia segera mendekatinya dan memeluknya. Aku mengulum senyum.


“Tante, jangan marah. Aku sangat menyukai Zahara karena itu aku ingin memberi hadiah untuk anaknya,” bujuk Claudia. “Masih ada detail lain yang belum sempat aku beli. Nanti Tante yang tambahkan, ya?”


“Aku tidak marah hanya karena kamu akan menjadi calon mertua cucuku.” ucap Mama penuh arti. Claudia menatapnya tidak percaya.


“Tante merestui rencanaku?” tanyanya tidak percaya. Mama mengangguk dengan cepat. Claudia bersorak senang.


“Yang kamu butuhkan itu restu orang tua, bukan nenek.” Hendra menggeleng-gelengkan kepalanya. Kami kembali tertawa bersama.


Setelah puas melihat keadaan kamar untuk si kecil, kami turun bersama ke lantai bawah. Abdi mendekat dan memberitahu Hendra bahwa para pria tadi telah pergi. Dia kemudian berjalan ke bagian dalam rumah. Kami mengikuti teman-teman kami kembali ke ruang keluarga.


“Acara tujuh bulanan apa ini yang tidak mengundang ayah sang bayi?” Terdengar suara seseorang yang sudah sangat aku kenal bicara dari arah pintu depan.

__ADS_1


Aldo berdiri di ambang pintu depan yang terbuka melihat ke arahku dan Hendra dengan wajah yang tersenyum penuh kemenangan. Seluruh perhatian orang yang ada di ruang depan tertuju kepadanya dan aku yakin, mereka mendengar kalimat yang diucapkannya tersebut.


“Kamu? Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Papa dengan heran. Aldo menoleh ke arahnya.


“Mengatakan yang sebenarnya.” Dia kemudian melihat ke arahku. Papa segera menarik tangan pria itu untuk mengikutinya ke lantai atas. “Ada apa, Om? Takut ada yang mendengar skandal dalam keluarga Om?” Teman-temanku segera mengalihkan perhatian para tamu. Aku hanya bisa berdiri dengan kaku di tempat.


“Aku akan menemani Papa,” bisik Hendra. Aku segera meraih tangannya saat dia melepaskan tanganku. “Kamu di sini saja.”


“Tidak. Aku harus ikut,” kataku bersikeras. Aku tahu bahwa kondisiku menghalanginya untuk berjalan lebih cepat menuju lantai atas. Tetapi aku harus ikut. Tanpa perlu mencari, kami tahu ke mana Papa membawa Aldo. Ruang duduk. Bukan hanya Papa. Ketiga orang tua kami juga sudah bersamanya di ruangan itu.


“Katakan, ada apa kamu datang ke sini?” desak Papa. Aldo melihat ke arahku yang baru memasuki ruangan. Hendra segera menutup pintu di belakangku.


“Anak dalam kandungan Ara adalah anakku, bukan anak Hendra,” katanya dengan lancang.


“Apa?!” tanya keempat orang tua kami dengan nada terkejut. Mereka melihat ke arahku dan Aldo secara bergantian.


“Ara?” tanya Papa kepadaku.


“Ini anak suamiku.” Aku menyentuh perutku berusaha melindunginya dari tuduhan jahat itu. Anak dalam kandunganku adalah anak suamiku, bukan pria lain.


“Istriku benar. Anak ini adalah anakku.” Hendra membelaku. Aldo tersenyum sinis.


“Mana buktinya?” tanyanya menuntut.


“Mengapa aku perlu memberimu bukti?” tanya Hendra.

__ADS_1


“Kalian sudah menikah selama enam tahun dan dia tidak juga hamil. Setelah dia tidur denganku, barulah dia mengandung seorang anak. Apa kamu yakin itu adalah anakmu? Ada apa? Mengapa kamu diam? Tidak bisa menjawab pertanyaanku? Kamu harus menceraikannya. Karena aku tidak akan membiarkan dua orang yang aku cintai hidup bersamamu lebih lama lagi,” ucap Aldo.


“Kamu bermimpi jika kamu pikir anak ini adalah anakmu. Aku sudah memberimu peringatan dan kamu mengabaikannya. Jangan salahkan aku bila anakmu akan hidup tanpa ayah mereka untuk waktu yang lama.” Hendra menatap Aldo dengan tajam.


“Selalu saja dengan ancaman kosong itu. Aku juga punya bukti bahwa usaha keluargamu penuh dengan kecurangan. Kita lihat saja yang akan menang di meja hijau.” Aldo melihat ke arahku. “Ayo, Ara. Kamu ikut denganku. Mereka semua akan menyiksamu setelah mengetahui hal ini. Hanya aku yang akan bisa melindungimu.”


“Kamu tega sekali. Aku telah susah payah memperbaiki keadaan yang telah hancur. Kamu malah datang lagi dan merusak segalanya. Apa salahku padamu sampai kamu setega ini?” tanyaku pelan.


“Ara, aku mencintaimu. Yang aku lakukan adalah membawamu kembali kepadaku. Mengapa kamu tidak mengerti juga?” Dia mendekat, Hendra segera berdiri di depanku.


“Segera pergi dari tempat ini dan tutup mulutmu itu. Kalau kamu tidak segera keluar dari rumahku, aku akan melaporkanmu karena telah masuk ke properti pribadi tanpa izin. Aku punya kuasa hukum yang bisa membuatmu mendapatkan hukuman maksimal. Silakan pilih,” kata Hendra dengan tegas. Aldo menantang tatapan suamiku.


“Aku akan kembali lagi. Dan pada saat itu sebaiknya kamu melepaskan Ara dan membiarkan aku membawanya bersamaku. Dia dan bayinya adalah milikku,” kata Aldo sebelum dia keluar.


Tubuhku bergetar dengan hebat. Habislah sudah. Riwayatku tamat sampai di sini. Rahasia yang aku simpan sebaik mungkin akhirnya terbongkar juga. Usaha kerasku untuk mendapatkan hati Hendra lagi kini sia-sia saja. Hanya tinggal menunggu waktu sampai pernikahan kami hancur di depan mata.


“Ara? Sayang? Apa yang terjadi, Nak?” tanya Mama dengan wajah sedih. “Apa yang baru saja dikatakan Vivaldo tadi? Kamu dan dia kembali bersama? Mengapa dia menyebut-nyebut bahwa anak ini adalah anaknya?”


“Kami tidak kembali bersama, Ma. Dan ini adalah anak Hendra. Anak suamiku. Bukan anak laki-laki lain,” ucapku meyakinkannya.


“Aku tidak pernah mengajarimu untuk menyakiti siapa pun. Aku tidak ingin kamu menyakiti suami yang sudah sangat mencintaimu. Hendra tidak pantas diperlakukan seperti ini, Ara.” Mama terisak.


“Sayang, tenangkan dirimu. Kamu tidak boleh emosional begini.” Papa memeluk Mama, berusaha untuk menenangkannya.


“Hendra, maafkan aku. Aku gagal mendidik putriku,” ucap Mama kepada suamiku.

__ADS_1


“Mama?” tanyaku saat melihat Mama mengerutkan kening sambil menyentuh dada kirinya. Tiba-tiba saja dia terjatuh. Aku segera memeluknya bersama Papa. “Jangan lakukan ini kepadaku, Ma. Maafkan aku. Aku mohon, maafkan aku.”


__ADS_2