
Aku terlalu bahagia sehingga tidak seperti biasanya, aku bangun pagi lebih dahulu. Angka pada jam digital di atas nakas menunjukkan pukul empat dini hari. Wow. Ini adalah rekor pertama seumur hidupku. Aku tidak pernah bangun sepagi ini tanpa ada yang membangunkan aku.
Saat aku melihat ke arah suamiku, matanya sedang menatapku. Aku hampir memekik karena terkejut. Aku pikir dia masih tidur. Dia tertawa. Lalu tanpa memberiku peringatan, dia membopong tubuhku ke kamar mandi.
“Nyalakan lampunya,” katanya saat dia berdiri di ambang pintu. Aku menekan saklar di dekat bingkai pintu dan lampu ruangan itu pun menyala.
Dia menurunkan aku di bak mandi, lalu menyalakan air pancuran. Aku belum sempat mengatakan apa pun, air sudah membasahi kepalaku, turun ke tubuhku. Semua rencana yang sudah aku siapkan buyar begitu saja. Hendra yang mengambil alih semua aktivitas pagi kami.
Tiga bulan tidak bisa menyentuh satu sama lain secara intim, kami bercinta layaknya besok dunia akan kiamat. Kami tidak membuang waktu sedetik pun untuk bisa menyentuh satu sama lain. Dan teman-temanku benar. Joging itu ada gunanya. Aku bisa mengimbangi stamina suamiku.
“Jangan,” kata Hendra saat aku membuka laci nakasku. Kami sudah selesai mandi untuk kedua kalinya dan dia bersiap untuk pergi ke kantor.
“Aku tidak yakin aku akan sanggup merasakan kehilangan lagi, sayang,” kataku memohon. Aku ingin meminum obat pencegah kehamilan.
Hendra duduk di sisiku, mengambil obat itu dari tanganku, lalu memelukku dengan erat. “Kita akan jaga dia baik-baik. Aku akan menjaga kamu dengan baik. Kita tidak akan kehilangan anak lagi. Yang terjadi dengan anak ketiga kita adalah kecelakaan. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi kepadamu atau anak kita. Oke?”
Aku mengangguk pelan. Aku tersenyum merasakan dia mencium rambutku. “Aku tidak mau terlambat ke tempat kerja. Ayo, kita ke ruang makan sekarang.”
Setelah sarapan bersama, kami mengantar Hendra hingga ke teras. Sama seperti pada hari sebelumnya, aku merasa tidak enak melepasnya pergi. Tetapi kali ini perasaan itu lebih kuat. Apa ini karena kami sudah bercinta lagi dan aku merasa hubungan kami semakin dekat, lalu aku tidak ingin berpisah darinya sesaat pun?
Aku tidak mau membuat Hendra khawatir, jadi aku tidak mengatakan apa pun kepadanya. Aku berusaha mengantarnya dengan senyuman terbaik yang bisa aku berikan. Namun saat mobil mereka menjauh dari depanku menuju pagar, jantungku berdebar begitu cepat.
Ya, Tuhan. Tolong, lindungi suamiku.
Hadi dan Dira kompak ingin menggambar dan mewarnai bersama. Aku mengeluarkan buku dan semua peralatan yang akan mereka butuhkan. Aku bisa meneruskan mengerjakan konsep buku baruku sambil mengawasi anak-anakku beraktivitas.
Pada jam makan siang, kami menuju ruang makan bersama. Hadi bersorak senang melihat menu yang disajikan di atas meja. Aku tertawa melihatnya. Aku meminta Fahri untuk memasak hamburger, kentang goreng, dan salad. Makanan kesukaan putraku.
__ADS_1
“Nyonya, ponsel Anda bergetar.” Abdi mendekatiku sambil menyodorkan ponselku dengan sopan. Aku segera menerimanya.
“Terima kasih, Abdi.” Aku menggeser simbol telepon berwarna hijau, lalu melihat wajah ketiga sahabatku memenuhi layar.
“Bagaimana? Bagaimana? Apa semuanya lancar? Kalian tidak menunggu sampai malam untuk melakukannya, ‘kan?” tanya mereka berebutan. Aku melihat ke arah anak-anak yang asyik sendiri dengan makanan mereka.
“Apa kalian tidak bisa sekali saja menahan rasa ingin tahu kalian?” ucapku geram. “Aku sedang makan siang bersama anak-anak. Kita tidka bisa membicarakan ini sekarang.”
“Ah, wajahnya bersemu merah,” kata Qiana. “Mereka sudah melakukannya dan aku yakin, tidak hanya satu atau dua kali.”
“Gaya mana yang kalian lakukan? Apa kamu sudah mencoba semua gaya yang kami sebutkan? Tolong, jangan katakan gaya misionaris. Tidak, tidak. Membosankan. Hei, itu gaya yang asyik kalau kalian tahu cara memodifikasinya.” Mereka bicara secara bersamaan sampai aku bingung sendiri. Aku memutuskan untuk keluar dari ruang makan agar anak-anak tidak mendengar.
“Aku bilang, aku sedang makan bersama anak-anak. Mengapa kalian malah meneruskan topik ini bahkan sampai menyebut nama salah satu gaya, ukh! Bisakah kita bicarakan ini nanti saja?” ucapku kesal. Aku berdiri agak jauh dari pintu ruang makan.
Abdi yang berdiri tidak jauh dariku menahan senyumnya. Sial. Dia pasti mendengar percakapan kami tadi. Aku mengusirnya dengan tanganku, dia malah tertawa kecil ketika berjalan menuju bagian belakang rumah. Benar-benar memalukan.
“Hadi selalu bertanya mengenai hal-hal baru yang dia dengar.” Aku menatap tajam ke arah mereka semua. Mereka serentak tertawa.
“Kamu tinggal jawab sembarangan saja. Apa susahnya?” kata Lindsey sambil tertawa geli. “Aku tidak pernah kesulitan menjawab pertanyaan Charlotte. Dia juga tidak mengeluh bila jawaban dariku kurang memuaskan. Nanti juga dia tahu sendiri.”
“Aku belum selesai makan dan aku sangat lapar. Aku akan akhiri panggilan video ini sekarang.” Mereka tertawa sambil mengucapkan sampai nanti. Layar ponselku pun kembali ke halaman utama. Aku mendesah pelan.
Aku kembali ke ruang makan dan bersyukur Hadi tidak mengajukan pertanyaan apa pun kepadaku. Dia dan Dira sudah selesai makan, lalu Yuyun memberikan masing-masing semangkuk es krim. Mereka bersorak senang.
Kami berada di ruanganku sampai sore hari. Bahkan kami menikmati kudapan bersama juga di ruang kerjaku tersebut. Konsep bukuku akhirnya selesai juga. Aku bisa mulai mengetik bab pertama pada hari Senin nanti. Untuk sekarang, ini sudah cukup. Aku ingin bersantai sepanjang akhir pekan bersama keluargaku. Hm …. Aku tidak sabar menunggu suamiku pulang.
Aku mengajak anak-anak menonton di ruang keluarga. Ara segera meringkuk di kakiku. Hadi memilih salah satu film anak mengenai kehidupan binatang di peternakan. Baru menonton beberapa menit, ponselku bergetar. Aku tersenyum membaca nama suamiku pada layar.
__ADS_1
“Hai, sayang!” Hendra menyapaku lebih dahulu. Aku tertawa melihat dia memberiku sebuah ciuman.
“Papa!” sapa anak-anak, bahkan Ara ikut menyalak senang menyapa tuannya.
“Apa kabar kalian semua? Sudah tidak sabar menunggu papa pulang?” tanyanya kepada anak-anak.
“Cepat pulang, Pa! Paman Fahri memasak piza untuk makan malam!” ucap Hadi. “Siang tadi kami makan burger besaaar sekali. Ada kentang goreng juga, dan aku makan sayur yang banyak.”
“Anak pintar. Iya, papa segera pulang.” Kami berbincang sesaat sebelum dia mengakhiri panggilan video. Dilihat dari pemandangan di belakangnya, sepertinya dia masih berada di kantornya. Aku melirik jam tangan. Dia akan tiba sekitar satu jam lagi.
Jantungku berdebar dengan cepat, tidak sabar menanti melanjutkan apa yang kami lakukan pagi tadi. Aku tidak akan membiarkan dia tidur tepat waktu. Dia harus memuaskan aku sampai kami berdua tidak bisa bergerak lagi. Aku sudah sabar menunggu selama tiga bulan, aku berhak mendapatkan sedikit hadiah atas penantianku itu.
Aku mengingat semua saran dari para sahabatku. Tidak, tidak. Aku tidak bisa melakukan itu. Selama ini Hendra yang berinisiatif, aku tidak yakin aku bisa mendominasi saat kami sedang bercinta. Aku membuang jauh pikiranku itu saat aku merasakan wajahku memerah.
Ara menelengkan kepalanya sambil menatapku. Apa dia bisa membaca pikiranku. Tetapi saat dia meletakkan kepalanya kembali di atas kedua kakinya, aku mendesah pelan. Sebaiknya aku jangan berpikir yang macam-macam sekarang.
Satu jam berlalu, Hendra belum tiba juga. Lalu lintas pasti sedang padat karena menjelang akhir pekan. Mungkin mereka sedang terjebak kemacetan entah di mana. Aku menenangkan jantungku yang berdebar dengan cepat. Ini bukan karena perasaan tidak sabar untuk bercinta lagi dengannya. Aku mulai mengkhawatirkan keadaannya.
Sudah waktunya makan malam, Hendra tidak sampai juga. Aku tidak bisa lagi menenangkan diriku. Aku meninggalkan anak-anak dan Ara di ruang keluarga. Abdi sedang berdiri di dekat pintu, aku segera mendekatinya.
“Tuan Besar tidak pulang untuk makan malam, Nyonya?” tanyanya bingung.
“Dua jam yang lalu dia mengatakan bahwa dia akan pulang. Aku tidak tahu ada apa sampai sekarang mereka belum tiba juga.” Aku membuka layar ponselku dan memilih nomor Hendra. “Aku akan coba menghubungi dia.”
Aku mendengar bunyi nada sambung. Tetapi sampai nada itu berakhir, tidak ada jawaban. Aku dan Abdi saling bertukar pandang. Kami tidak bisa lagi menyembunyikan rasa khawatir kami. Aku mencoba meneleponnya sekali lagi. Masih tidak ada jawaban.
“Saya akan coba menghubungi Kafin.” Abdi mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dia memilih salah satu nomor, lalu menyentuh pengeras suara agar kami bisa mendengarnya bersama. Panggilan itu juga berakhir tanpa ada yang menjawab.
__ADS_1
“Hendra tidak pernah begini. Apa yang telah terjadi? Di mana mereka berdua sekarang berada?” tanyaku khawatir. Abdi hanya diam, tidak bisa memberi jawaban.