Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 252 - Kita Hadapi Bersama


__ADS_3

Reaksi mama dan ibu mertua mengenai alasan aku tidak hamil selama enam tahun pertama pernikahan kami masih sangat mengejutkan aku. Masih segar di ingatanku bahwa mereka begitu menginginkan cucu. Hampir setiap kali kami bertemu, pertanyaan mereka hanya seputar apa aku sudah punya kabar baik.


Mereka tidak marah atau kecewa dengan jawabanku. Benarkah mereka hanya penasaran dengan jawabanku dan tidak ada rasa sedih? Atau aku yang berpikir berlebihan karena respons mereka di luar dugaanku?


Aku benci dengan cara berpikirku yang penuh curiga. Tetapi aku tidak kuasa mencegah kepalaku memikirkan hal itu. Setelah berkali-kali melewati masa damai yang harus dirusak oleh kejadian yang menyakitkan, aku selalu khawatir ketika keadaan baik-baik saja.


“Ini bukan mimpi, Za. Ini kenyataan,” kata Hendra menghiburku. “Kamu tidak perlu menyusahkan diri dengan mengkhawatirkan segala hal, sayang. Bila sesuatu yang buruk terjadi, kita akan hadapi bersama. Kamu tidak sendirian. Kamu punya aku, keluarga kita, dan teman-teman kamu yang tidak akan membiarkan kamu menghadapi masalah seorang diri.”


Aku tersenyum. “Masalah pasti datang lagi, ya?” tanyaku pelan.


“Selama kita masih hidup, itu pasti. Sekarang, tenangkan dirimu. Pikirkan hal yang indah saja.” Dia mengecup bibirku, lalu menolongku untuk berbaring. “Istirahatlah. Aku akan memeriksa keadaan anak-anak, lalu kembali menemanimu.”


Hendra benar. Aku tidak perlu memikirkan segala hal buruk, cukup pikirkan hal yang indah saja. Seharusnya aku bersyukur karena keadaan kami baik-baik saja. Jika ada masalah nanti, aku tidak akan menghadapinya sendirian. Aku punya keluarga dan sahabat di sisiku.


Usai senam kehamilan pagi itu, aku mengajak orang tuaku ke toko buku. Aku ingin melihat apa toko buku itu masih memiliki stok bukuku. Dan jawaban mereka mengecewakan aku, seharusnya aku bahagia, tetapi aku ingin sekali bisa berfoto dengan buku karyaku yang dipamer di salah satu toko.


Karyawan toko itu mengantar aku ke rak di mana bukuku tadinya berada. Kosong, dan ada sebuah catatan yang menjanjikan bahwa buku sedang dipesan dan akan segera dipajang setelah mereka memiliki stoknya lagi.


“Kamu tidak bilang bahwa kamu seorang penulis, Ara,” kata Mama bingung. “Seperti apa sampul bukumu?” Aku menunjuk ke arah atas kami. Ada spanduk dengan pengumuman tanggal terbit bukuku, lengkap dengan judul, sinopsis, dan nama pengarangnya.


“Wow. Aku juga baru tahu bahwa kamu adalah penulis, Za.” Ibu mertuaku berdecak pelan. “Aku coba hubungi teman-temanku, siapa tahu ada yang punya bukunya. Aku mau pinjam.”


“Aku juga akan tanya teman-teman arisanku,” kata mamaku tidak mau kalah. Aku tertawa kecil. Mereka berdua menatapku dengan bingung.


“Ma, aku penulisnya. Aku punya beberapa stok bukunya bila mama berdua mau baca. Aku berikan secara gratis lengkap dengan tanda tanganku.” Aku merangkul mereka berdua.


“Ah, aku mau cap bibirmu juga,” kata ibu mertuaku. Aku mengerutkan keningku. “Pasti ada banyak buku yang dibubuhi tanda tanganmu, sedangkan yang ada cap bibir hanya milikku dan Anya.”


“Baiklah.” Aku tertawa. “Ayo, kita pulang. Aku lapar.”


“Maaf,” ucap seseorang yang menyapaku saat kami baru saja membalikkan badan.

__ADS_1


“Ya?” tanyaku sambil melepaskan rangkulanku dari kedua ibuku.


“Benarkah kamu Zahara Aprilia?” tanyanya dengan sopan. Aku memandang dia dan kedua temannya dengan heran. Aku mengangguk pelan seraya mengiyakan. Mereka segera bersorak senang. “Kami adalah pembaca semua buku karya kamu!”


“Apa kami boleh berfoto bersamamu? Ah, aku membawa buku lama kamu, apa aku boleh minta tanda tangan? Apa kami boleh memesan buku barumu langsung darimu? Kami kehabisan.” Mereka bertiga terus menghujani aku dengan pertanyaan sehingga aku tidak punya kesempatan untuk menjawab. “Wah! Teman-temanku akan cemburu denganku!”


Kami berfoto bersama, lalu aku membubuhi tanda tangan pada buku karyaku yang mereka bawa. Karena aku berada di rak di mana seharusnya bukuku berada, mereka pasti berencana membeli buku tersebut. Mungkin mereka baru memeriksa di toko lain yang juga kehabisan dan berharap akan mendapatkan buku tersebut di sini.


Walaupun tidak mendapat buku, mereka lebih beruntung bisa bertemu dengan penulisnya langsung. Bukan hanya mereka bertiga yang mengenali aku. Beberapa orang lagi datang untuk memeriksa rak dan berteriak histeris melihat aku ada di sini.


Petugas keamanan sampai harus turun tangan untuk membantuku keluar dari toko buku tersebut. Wah, begini rasanya menjadi orang terkenal. Terkenal karena hal baik yang aku lakukan, bukan karena kejaran wartawan yang haus berita skandal hidupku.


Ruang makan yang biasanya ramai dengan percakapan tiada henti kami menjadi sunyi karena mama dan ibu mertuaku begitu serius membaca bukuku. Setiap kali papa atau ayah mertuaku mencoba untuk mengajak mereka bicara, mereka serentak menyuruh mereka diam. Aku tertawa melihatnya.


Aku meletakkan undangan eksklusif di pangkuan kedua mamaku. Mereka mengalihkan pandangan mereka sejenak dari halaman buku yang sedang mereka baca. Mereka mengambil undangan tersebut dan membacanya. Mata mereka kemudian serentak membulat.


“Syukuran sekaligus penandatanganan buku?” tanya mereka tidak percaya. Aku mengangguk.


Mama melihat ke arah aku dan Papa. “Apa kedua papamu tidak diundang juga?” tanya Mama bingung. Aku tertawa kecil.


“Itu hanya contoh undangan, Ma. Aku ingin memberitahu Mama mengenai acara besar yang akan diadakan Rasmi untukku. Papa dan Mama adalah keluargaku, tidak membutuhkan undangan untuk datang. Tetapi Mama membutuhkan ini untuk membeli buku. Stoknya terbatas, jadi hanya mereka yang punya undangan ini yang bisa membeli buku pada saat acara diadakan.”


Mereka mengangguk mengerti. “Baiklah. Kami pasti datang,” ucap kedua mamaku dengan riang.


Sejak bangun tidur hingga keberangkatan kami ke acara besar itu, Hendra cemberut. Kedua mamaku sudah bekerja keras untuk membuat aku tampil sempurna dengan dress berwarna pirus berlengan panjang dengan rok melebar ke bawah sedikit di atas lututku. Mereka mengepang rambutku di belakang kepala dan memberi jepitan berwarna putih, riasan wajah minimalis, dan penampilanku itu disempurnakan dengan sepatu berhak rendah warna putih.


Tetapi suamiku tetap saja cemberut dan tidak tertarik melihat aku. Orang tua kami sampai bingung dibuatnya. Aku tidak mau pusing memikirkan sikapnya itu agar suasana hatiku tetap baik. Hari ini adalah hari yang sangat membahagiakan untukku.


Rasmi puas dengan penampilanku. Walaupun dia sudah menyediakan penata rias untuk membantu aku tampil sempurna, dia tidak kecewa batal menggunakan jasa mereka. Tim event organizer kembali mengingatkan aku apa yang perlu aku lakukan. Kami sudah membicarakan ini semua pada rapat, tetapi aku tetap mendengarkan mereka.


Aku terkejut melihat begitu banyak orang yang memenuhi aula kantor penerbitan milik keluarga Rasmi. Aku benar-benar tidak menyangka aku mempunyai fans sebanyak itu. Semoga saja tangan kananku cukup kuat menulis begitu banyak tanda tangan pada hari ini.

__ADS_1


Sesi pertama adalah diskusi dan tanya jawab mengenai buku yang aku tulis dan tema yang aku angkat. Aku melihat ibu mertuaku menangis di tempat duduknya. Hubungan kami adalah inspirasiku saat menulis buku tersebut, jadi aku mengerti mengapa dia terharu.


Usai sesi pertama, mereka pun mulai berbaris untuk mendapatkan tanda tangan dariku. Sebagian besar dari mereka meminta aku menambahkan kalimat apa saja sebelum membubuhi tanda tangan, sebagian lagi meminta aku menulis kalimat yang sudah mereka siapkan.


Ketika orang berikutnya yang berdiri di depanku adalah Mama, aku tertawa kecil. Ibu mertuaku ikut berdiri di sisinya. “Kami ingin kamu menulis kalimat apa saja di buku kami, jangan lupa, kami mau kamu memberi cap bibir saat di rumah nanti,” kata ibu mertuaku.


“Iya. Jangan lakukan sekarang, nanti banyak yang meminta hal yang sama,” kata mamaku.


Aku menulis hal yang sama pada empat buku yang mereka letakkan di depanku. “Aku bangga menjadi putri Mama. Aku sangat menyayangi Mama. Terima kasih sudah menerima aku apa adanya. Zahara Aprilia.” Aku melihat mereka berdua terharu membaca kalimat itu. Kami saling membantu menyeka air mata yang membasahi pipi kami.


*******


    Sementara itu, tidak jauh dari pintu masuk aula.


    Hendra cemberut melihat istrinya begitu bahagia di depan aula. Za tersenyum setiap kali seorang fans datang mendekat dan mengatakan sesuatu kepadanya sebelum istrinya itu membubuhkan tanda tangannya pada buku tersebut.


    “Ada apa denganmu, Nak?” tanya Adhyana geli. “Istrimu sedang bahagia di puncak karirnya sebagai seorang penulis, kamu malah cemberut begini.”


    “Justru karena dia sedang bahagia, dia melupakan sesuatu yang lebih penting pada hari ini,” jawab Hendra masih dengan wajah tidak enak dipandangnya.


    “Sesuatu yang lebih penting?” tanya Adhyana bingung. Hendra mendesah pelan. Dia tidak heran bila papanya melupakan hari penting ini, tetapi dia tidak menyangka bahwa istrinya juga akan begitu.


    “Papa sedih?” tanya Dira dengan tatapan ingin tahunya. Hati Hendra luluh melihat wajah malaikat kecilnya. Dia mengangkat gadis kecil itu ke pangkuannya, lalu mencium pipinya.


    “Papa sudah tidak sedih lagi. Apa itu yang kamu makan?” tanya Hendra melihat potongan buah yang digenggam putrinya.


    “Apel. Papa mau?” Dia mendekatkan buah itu ke mulut Hendra. Dia mengambil gigitan kecil agar putrinya masih kebagian.


    “Terima kasih, sayang,” kata Hendra sambil mencium pipi putrinya lagi. Dira tertawa geli.


    Hendra kembali melihat ke arah antrian panjang orang-orang yang ingin mendapatkan tanda tangan istrinya pada buku milik mereka. Dia mendesah pelan, hilang harapan bahwa hari ini akan berakhir bahagia seperti yang dia harapkan.

__ADS_1


__ADS_2