
“Mama tidak perlu menyusahkan diri mengenai sikapnya itu. Yang penting, dia sudah pergi,” kata Hendra dengan santai. Dia melingkarkan kedua tangannya di tubuhku. “Tetapi Mama jangan coba-coba menyangkal bahwa Mama ingin mendekatkan aku dengannya.”
“Iya. Karena aku ingin kamu menikah dengan wanita yang mencintai kamu dan bisa membahagiakan kamu,” aku Mama. “Kamu hanya perlu membuka matamu untuk melihat bahwa wanita yang ada dalam pelukanmu itu akan menyakiti kamu lagi. Aku hanya berusaha melindungi kamu, Hendra.”
“Berhenti menggunakan alasan itu untuk menghancurkan pernikahanku,” kata Hendra dengan tegas.
“Kamu sudah lama dibutakan oleh cintamu kepadanya. Bagaimana bisa kamu kembali kepadanya setelah dia berulang kali menyakiti kamu? Kalau kamu tidak bisa melihat sifat aslinya, aku bisa. Aku tidak peduli bila kalian berdua berada di pihaknya. Aku tidak mau menerima Zahara kembali menjadi menantu di rumah ini!” seru Mama menantang Hendra.
“Aku tidak membutuhkan izin atau restu Mama. Suka atau tidak, Za adalah istriku. Maaf, tetapi aku sudah lelah dengan semua ini. Aku tidak mengizinkan istriku datang ke rumah ini bila dia masih dianggap tidak ada. Mama pekerjakan seorang suster saja untuk merawat Mama.” Hendra membantu aku untuk berdiri. Lalu dia berdiri di sisiku.
“Mulai hari ini, aku menolak semua ajakan makan, bertemu, atau undangan apa pun dari Mama. Aku muak berhadapan dengan perempuan yang hanya membawa masalah dalam hidupku. Aku hanya mencintai Za seumur hidupku. Aku tidak akan berpaling kepada wanita mana pun yang Mama sodorkan kepadaku.”
“Apa maksud kamu?” kata Mama keberatan.
“Tolong, jaga reputasi kita, Ma. Jangan sampai skandal dalam keluarga kita bertambah lagi. Apa Mama tidak tahu bahwa orang-orang mulai membicarakan sikap Mama kepadaku dan Za? Kami sudah mengikrarkan janji setia kami di hadapan semua orang, tetapi Mama masih saja mencari cara untuk menikahkan aku dengan perempuan lain.
“Dan yang paling parah, Mama berusaha mendekatkan pria lain kepada istriku. Tolong, satu kali saja, jadilah ibu kandungku, bukan Nyonya Besar Adhyana Perkasa.”
“Kamu, kamu berani bicara selancang ini kepada ibumu hanya karena dia? Kamu lebih memilih percaya kepada perempuan yang menyakiti kamu daripada aku, ibumu sendiri?” ucap Mama tidak percaya. “Aku yang melahirkan dan membesarkan hingga dewasa, ini balasanmu?”
“Aku tidak minta dilahirkan, Ma. Papa dan Mama yang menginginkan anak. Jika aku bisa memilih, aku lebih baik tidak pernah dilahirkan. Aku begitu bangga kepada Mama yang membebaskan aku menjalani hidupku. Wanita yang ada di hadapanku saat ini bukanlah ibu yang aku kenal.” Hendra menggandeng tanganku. “Kami pamit pulang.”
“Kamu akan menyesali semua ucapanmu hari ini, Hendra. Kita lihat saja. Kamu akan kembali ke rumah ini dan berlutut di kakiku, memohon ampun!” kata Mama yang membuatku tidak percaya. Dia adalah seorang ibu, mengapa dia tega mengatakan hal seperti itu kepada putranya sendiri?
__ADS_1
“Cukup, Naava! Cukup! Kamu sudah cukup menyakiti putraku,” lerai Papa. “Jika kamu masih terus bersikap aneh begini, aku juga akan meninggalkan kamu. Jadi, silakan pilih.”
“A-apa??” tanya Mama tidak percaya. “Kamu juga lebih berpihak kepada perempuan itu?”
Itu adalah kalimat terakhir yang aku dengar. Aku menoleh ke arah Hendra yang menggandeng aku menuju pintu depan. Kepala pelayan membukakan pintu untuk kami. Aku segera menuruni tangga teras mengikuti langkah cepat suamiku.
Aku menahan tangannya saat dia akan melepaskan genggamannya. “Aku tidak mau kamu menyetir dengan keadaan seperti ini. Tenangkan dirimu, sayang. Kita masih punya anak-anak yang akan kehilangan kita bila sesuatu yang buruk terjadi di perjalanan nanti.”
Hendra menarik napas panjang. Dia mencium keningku, lalu melepaskan tanganku. “Masuklah. Aku akan menyetir dengan hati-hati.”
Dia menepati ucapannya. Kami melintasi jalan dengan mulus tanpa insiden. Jalan raya sudah ramai dengan kendaraan seperti biasanya pada hari Minggu sore. Kami membutuhkan waktu sekitar satu jam lebih untuk tiba di rumah orang tuaku.
Zach dan keluarganya sudah datang, jadi kami bisa mengobrol dengan santai. Aku senang melihat Hendra sudah tenang dan bersikap seperti biasanya. Mama menyibukkan diri di dapur dan mengusir aku juga Rasmi yang ingin membantunya.
Tidak seperti biasanya, Will tidak menghubungi kami untuk menitipkan Colin. Mereka pasti pergi bertiga ke suatu tempat hari ini. Itu adalah hal yang baik. Mereka akan segera menjadi keluarga, jadi menghabiskan waktu bersama seperti ini akan membantu mereka lebih cepat akrab.
Hendra tidak membiarkan aku duduk sendiri. Dia menarik tanganku agar duduk di pangkuannya. Entah ada apa dengannya hari ini. Aku mengerti dia ingin menegaskan hubungan kami di depan orang tuanya tadi. Tetapi di depan keluargaku, dia tidak perlu menunjukkan kemesraan kami. Keluargaku tahu bahwa kami tergila-gila terhadap satu sama lain.
“Minggu depan kami mengadakan acara tujuh bulanan. Kalian harus datang. Aku juga sudah mengundang teman-teman Kakak yang heboh itu.” Rasmi melirik ke arahku. Aku tertawa. “Mereka boleh tidak menghadiri acara Tante Naava, tetapi harus pada acaraku.”
“Mereka pasti datang. Acara yang ibu mertuaku adakan itu sifatnya mendadak, jadi mereka tidak sempat mengatur ulang jadwal mereka.” Aku menerima secangkir teh dari suamiku. “Bagaimana keadaan si kecil? Apa kalian sudah tahu jenis kelaminnya?”
Rasmi dan Zach saling bertukar pandang. “Kami memutuskan untuk merahasiakannya. Kami berharap kali ini perempuan supaya sama seperti Kakak, tetapi laki-laki juga tidak masalah,” jawab Rasmi dengan senyum bahagia.
__ADS_1
Ada sedikit rasa cemburu ketika aku melihat gerakan tangan posesifnya pada perutnya yang sudah besar. Tidak ingin membiarkan duka kehilangan anak menguasaiku, aku membuang jauh pikiran itu dari kepalaku. Bayi kecilku sudah tenang di sana.
“Ayo, saatnya makan!” panggil Mama. Kami segera bersorak bahagia.
Sudah lama tidak bertemu dan berbagi cerita, teman-teman mengajakku bertemu di kafe kesukaan kami. Ara mengeluh pelan karena ditinggal sendiri lagi di rumah. Tetapi aku tidak bisa membawanya, kafe yang kami datangi tidak mengizinkan pengunjung membawa hewan peliharaan.
Qiana memulai ceritanya dengan membanggakan putra pertamanya yang sebentar lagi akan wisuda. Dia mengundang kami semua untuk menghadiri acara syukurannya nanti di rumah mereka. Dia melanjutkan ceritanya mengenai Helmut yang berusaha sebaik mungkin membagi waktunya antara menjadi anggota dewan dan pengurus partai.
Lindsey lebih banyak bercerita mengenai perkembangan Charlotte dan rencana mereka untuk pergi ke Amerika. Claudia sudah mulai menerima kepergian putrinya dan ingin menghabiskan musim panas bersama cucunya. Aku ikut senang mendengar kabar baik tersebut.
Darla berbagi mengenai perkembangan kehamilan putrinya. Dia bahkan menunjukkan foto hasil USG cucu pertamanya tersebut. Aku senang melihat semua orang sedang bahagia. Aku berharap semoga saja kehidupan kami akan terus seperti ini.
“Apakah Keva adalah wanita berikutnya yang akan menjadi sainganmu, Zahara?” tanya Darla dengan senyum penuh artinya. Aku tertawa kecil. Qiana ikut tertawa, hanya Lindsey yang bingung sendiri.
“Iya. Tetapi suamiku sudah bicara dengan serius dengan mamanya. Dan kebetulan sekali, Keva juga sedang ada di rumah mertuaku. Hendra menolak untuk didekatkan dengan perempuan mana pun lagi. Karena dia dan aku sudah menikah,” jawabku.
“Kalian sedang membicarakan apa? Siapa Keva?” tanya Lindsey tidak mengerti.
“Keva Heilyn. Pengusaha perhotelan yang mengambil alih perusahaan milik suaminya setelah dia meninggal dunia enam bulan yang lalu,” jawab Qiana. “Aku dan Darla datang terlambat ke acara Tante Naava. Kami melihat dia bicara akrab sekali dengan perempuan itu. Pertanda awal bahwa dia adalah wanita yang Tante pilih untuk menjadi menantunya.”
“Aku tidak mengerti. Mengapa Tante Naava begitu membenci kamu sampai ingin memisahkan kamu dan suamimu? Aku tahu rasanya memiliki anak yang tetap memilih bersama orang yang kita tidak sukai. Tetapi bukankah kebahagiaan anak kita adalah yang terpenting? Iya, kamu telah melakukan kesalahan. Kamu dan Hendra berhasil mengatasinya dengan baik, lalu apa lagi masalahnya?” tanya Lindsey. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
“Ngomong-ngomong, aku mendapat undangan peresmian hotel baru milik Keva. Apa kalian juga diundang?” tanya Darla. Aku terkejut ketika melihat kami bertiga serentak menganggukkan kepala. Kami tertawa bersama karena hal ini jarang terjadi. Biasanya hanya dua atau tiga dari kami yang mendapat undangan pada acara yang sama.
__ADS_1
“Hai!” Seseorang berdiri di dekatku, menyapa kami semua. “Aku tidak tahu bahwa kalian berteman. Ini kejutan yang menyenangkan.” Aku mengangkat kepalaku untuk melihat wajah wanita tersebut.