Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 192 - Beri Dia Kesempatan


__ADS_3

“Editor memuji buku Kakak dan aku penasaran. Jadi, aku membacanya tadi sambil bekerja di kantor. Dan aku total mengabaikan semua pekerjaanku karena aku tidak bisa berhenti sebelum ceritanya berakhir! Bagaimana bisa buku ini terasa berbeda dari buku Kakak yang lain? Aku suka, Kak!” pujinya histeris. Aku sampai menjauhkan sedikit ponselku dari telingaku agar tidak melukai pendengaranku.


“Rasmi, itu hanya buku biasa. Kamu berlebihan.” Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku pikir apa yang membuatnya histeris begini. Ternyata hanya naskah buku keempatku.


“Aku tidak berlebihan. Apa karena karakter utama wanitanya punya sifat yang lain maka bukunya terasa berbeda? Pokoknya, aku suka, Kak!” pujinya lagi. Aku tertawa mendengarnya. “Pertama, kita akan melihat respons pembaca dahulu. Bila reaksi mereka seperti yang kita harapkan, maka kami berencana untuk mengangkatnya ke layar lebar.”


“Kamu serius, Rasmi? Cerita pada buku itu sangat biasa.” Aku menganga tidak percaya.


“Kakak bicara begitu karena Kakak adalah penulisnya. Percaya kepadaku, Kak. Buku Kakak kali ini akan diterima dengan sangat baik.” Dia terdengar sedang berbicara dengan seseorang. “Aku akan bicara dengan Kakak lagi nanti. Zeph merengek memanggil aku.”


“Oke, Rasmi. Terima kasih. Salam dari kami untuk Zach dan Zeph.” Kami mengakhiri hubungan telepon. Aku membalikkan badan dan bertemu pandang dengan suamiku yang menatap aku dengan heran. Aku menurunkan pandanganku menikmati tubuh bagusnya. Dua bulan lagi.


“Sabar, sayang. Sebentar lagi juga kita bisa bercinta.” Hendra tertawa puas. Aku cemberut melihatnya. “Siapa yang menelepon? Ada berita apa?”


“Rasmi. Katanya, bukuku bagus. Dia menyukainya.” Aku masih tidak percaya dengan itu.


“Bukumu tidak bagus kalau kamu masih menggunakan cara menulis yang sama.” Dia berjalan melewati aku menuju tempat tidur. Huh. Dia akan menarik kata-katanya itu nanti jika Rasmi benar dan bukuku laku keras. “Sebaiknya kamu mandi sekarang, kalau kamu masih mau aku bantu untuk tidur pulas.” Dia menatapku penuh arti. Aku bergegas masuk ke kamar mandi.


Selesai joging pada pagi itu, aku menghubungi Papa dan mengingatkan dia agar mengosongkan wadah cairan Mama. Dia hanya tertawa. Karena sudah beberapa hari merepotkan Papa dan Mama, maka aku membawa Dira bersamaku ke rumah mertuaku.


Aku tahu bahwa aku tidak harus melakukan ini. Papa dan pelayan di rumah bisa membantu Mama, tetapi aku tidak tenang bila tidak ikut memerhatikan keadaannya. Lagi pula aku tidak berencana membuat buku untuk sementara waktu. Penerbit juga tidak memaksa aku untuk membuat buku baru segera, maka aku ingin menggunakan waktuku untuk merawat ibu mertuaku.

__ADS_1


Mengikuti jadwal di rumah sakit, aku dan Papa sepakat untuk mengosongkan wadah cairan Mama setiap pukul enam pagi, dua siang, dan sepuluh malam. Siapa saja yang melakukannya harus mencatat jumlah cairan tersebut pada buku yang sudah kami siapkan bersama. Lalu Mama akan senam ringan satu jam setelah makan. Selebihnya kami harus memastikan bahwa Mama beristirahat.


Aku hanya bisa membantu pada siang hari. Setidaknya Papa bisa beristirahat sejenak dan bermain bersama cucunya ketika aku yang menemani Mama. Dia tidak terlihat mengeluh atau menolak bantuanku. Meskipun kami tidak banyak bicara, aku senang Mama mau menerima kehadiranku.


Kami membawa Mama pada hari Senin berikutnya agar selang bisa dilepas. Cairan pada bekas luka operasinya sudah tidak keluar lagi. Dokter memeriksa keadaan Mama dan memberikan kabar baik kepada kami. Mama baik-baik saja dan dada kirinya tidak mengalami infeksi atau masalah lainnya.


Untuk menghindari sesuatu yang buruk terjadi pada luka, dokter meminta kami tetap berhati-hati pada saat melakukan senam. Gerakan yang diizinkan hanya yang sudah dilatih selama ini. Apabila Mama punya keluhan, kami diminta untuk segera menghubunginya. Kami tertawa bersama saat dokter menegaskan bahwa Mama masih perlu beristirahat penuh.


Kami hanya perlu menemui dokter bedah tetapi Mama mengajak kami untuk berkonsultasi juga dengan dokter onkologinya. Pria itu menyambut kedatangan kami di ruangannya, dan wajahnya berubah cerah saat melihat aku juga ikut bersama mertuaku.


Sudah terbiasa dengan perhatian dari lawan jenis, aku tidak menggubris sikapnya tersebut. Apa Mama sengaja melakukan ini? Hendra pernah mempertanyakan keputusan mamanya memilih dokter dan rumah sakit ini untuk pengobatannya. Padahal dokter dan rumah sakit langganan mereka jauh lebih baik. Apa dokter ini alasannya?


“Mamamu bahagia karena kamu menemani dia menemui dokter hari ini.” Papa menoleh ke arahku. Dia duduk di jok depan, sedangkan aku, Mama, dan Dira ada di jok belakang.


“Dokter Gerhard sepertinya tertarik kepadamu. Apa kalian saling mengenal?” tanya Mama. Apa aku sebaiknya menjawab jujur atau berpura-pura?


“Kita sama-sama tahu bahwa Zahara adalah wanita yang menarik, sayang. Wajar saja kalau banyak pria yang suka kepadanya. Sama seperti yang dialami oleh putra kita juga,” kata Papa dengan nada bangga. “Aku tidak heran kalau masalah rumah tangga mereka akan penuh drama. Vivaldo, Sherry, Dicky, lalu Nora. Entah siapa lagi yang akan mencoba untuk memasuki pernikahan mereka.”


“Tidak. Dokter Gerhard lebih dari sekadar tertarik kepadanya.” Mama menatapku dengan saksama. “Apa dugaanku benar?”


“Dokter Gerhard adalah teman sekelasku saat SMU, Tante.” Aku memutuskan untuk bicara jujur. Karena mendengar dari nada bicara Mama, sepertinya dia sedang menguji aku. Mungkin dia sudah menyelidiki siapa pria tersebut. Begitu mengetahui SMU asalnya, maka akan mudah saja untuk menghubungkan dia dengan aku.

__ADS_1


“Itu artinya dia juga sekelas dengan mantanmu.” Mama tersenyum. Aku mengangguk. “Pria yang suka kepadamu rata-rata bukan pria sembarangan. Seorang pengusaha, pegawai di kementerian, dan sekarang seorang dokter.”


“Sayang,” kata Papa mengingatkan Mama.


“Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Pa. Aku tidak sedang menyebar isu atau kebohongan,” kata Mama membela diri. Dia menoleh ke arahku. “Kamu tahu, saat aku datang menemuinya atau saat dia berkunjung ke kamar dan kamu tidak ada, dia menanyakan keadaanmu. Dia belum menikah, siapa tahu kamu tertarik kepadanya. Tidak ada salahnya memberi dia kesempatan.”


“Tante, aku sudah punya seorang suami.” Aku menatapnya tidak mengerti.


“Hal itu tidak menjadi penghalang bagimu sebelumnya …,” kata Mama yang segera dipotong Papa.


“Jadi, ini alasan kamu menemui dokter itu saat kita tidak punya janji untuk bertemu dengannya hari ini?” tanya Papa. “Hentikan, sayang. Walaupun kita adalah orang tua Hendra, kita tidak punya hak sama sekali untuk ikut campur dalam pernikahan mereka. Apalagi dengan sengaja merusaknya. Zahara mencintai putra kita, begitu juga sebaliknya. Hentikan ini.”


“Aku hanya menyampaikan pendapatku. Tidak perlu marah begitu. Mengapa kamu bisa memaafkan Zahara tetapi tidak dengan kesalahan Nora?” tanya Mama tidak mengerti. “Bila Nora tidak lagi mendapat kesempatan, mengapa Zahara masih diberi kesempatan?”


“Kesalahan Zahara hanya satu dan dia sudah membayarnya dengan sangat mahal. Kamu melihat sendiri bahwa dia tidak mengulanginya lagi. Kehidupan dia dan putra kita sekarang malah jauh lebih bahagia dari yang sebelumnya,” kata Papa.


“Jangan samakan Zahara dengan Nora yang tidak serius dengan penyesalannya dan yang tidak menghormati arti kata maaf. Bila benar dia punya perasaan bersalah, dia tidak akan mengulangi perbuatan jahatnya. Tetapi kamu sudah melihat sendiri bahwa dia tidak berhenti sampai apa yang dia inginkan dia dapatkan.”


“Mengapa kamu marah, sayang? Aku tidak mengatakan bahwa aku,” kata Mama membela diri.


“Lihat, siapa yang sekarang berdiri di depan rumah kita.” Papa menggeram tidak suka. Aku dan Mama serentak melihat ke arah kaca depan mobil.

__ADS_1


__ADS_2