
Sebuah mobil diparkir di depan gerbang dengan Nora berdiri di antara mobilnya dan mobilku. Kami sudah tidak ada urusan lagi. Bahkan kami tidak pernah punya hal yang menjadi alasan bagi kami untuk bertemu. Lalu mengapa dia berada di sini?
Aku membuka kaca jendela mobil di sisiku. Nora segera mendekat. Pertanda bahwa dia sangat ingin bertemu denganku. Biasanya dia bersikap angkuh dengan membiarkan orang lain yang datang mendekat kepadanya. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanyaku tidak mengerti.
“Kita perlu bicara. Kamu harus menolong aku.” Dia menatapku dengan mata memelas. Aku menatapnya dengan saksama. “Aku mohon. Aku tidak akan pergi sebelum kamu mau mendengar apa yang aku butuhkan.”
“Sebaiknya kita bicara di dalam. Jangan di sini.” Aku berniat untuk menutup kaca jendela, tetapi dia menghalangi dengan tangannya.
“Petugas keamananmu tidak mengizinkan aku masuk.” Dia melihat ke arah pria yang mendesah pelan dan membuka gerbang meskipun aku belum memerintahkannya. “Ah, syukurlah.” Nora segera masuk ke mobilnya dan bergerak lebih dahulu.
“Nyonya, Tuan tidak akan menyukai ini,” ucap Liando mengatakan sesuatu yang sudah aku ketahui. “Bila petugas keamanan bersikeras tidak mengizinkan dia masuk, maka itu pasti atas perintah Tuan Besar. Melanggar perintahnya adalah sebuah kesalahan fatal, Nyonya.”
“Biar aku yang bicara dengan suamiku. Kamu jangan khawatir. Bila kita tidak mengizinkan dia masuk, dia akan terus berada di depan kita. Aku tidak mau menarik perhatian tetangga.” Aku melihat anak-anak masih tidur pulas. “Tolong bawa anak-anak ke kamar mereka. Aku akan bicara dengannya.”
“Baik, Nyonya,” ucapnya dengan enggan saat menghentikan mobil di depan rumah. “Nyonya harus berhati-hati. Wanita itu bukan wanita yang baik.”
“Aku tahu, Liando.” Aku membuka pintu dan menutupnya dengan perlahan agar anak-anak tidak terkejut dan terbangun.
Nora berdiri di dekat mobilnya, menunggu aku berjalan lebih dahulu ke pintu depan. Abdi membuka pintu dan menatap tidak suka ke arah wanita itu. Dia menyatakan protesnya lewat tatapan matanya kepadaku, tetapi aku tidak memberi respons apa pun. Ada apa dengan semua orang? Apa yang mereka takutkan dari seorang Nora?
__ADS_1
Aku mempersilakan dia masuk ke ruang tamu. Setelah dia duduk di salah satu kursi, aku duduk di sofa yang ada di depannya agar meja berada di antara kami. Yuyun masuk tidak lama kemudian membawakan makanan ringan dan minuman hangat.
“Bicaralah,” kataku tidak membuang waktu lagi saat kami hanya tinggal berdua saja.
“Aku membutuhkan bantuan Hendra. Tetapi dia tidak membiarkan aku memasuki gedung kantornya. Jika aku datang ke sini pada saat dia ada di rumah, aku yakin dia tidak akan memedulikan aku berdiri berjam-jam di luar sana. Jadi, aku terpaksa menemui kamu,” Wanita yang sangat percaya diri. Dia membutuhkan bantuan tetapi masih bisa bersikap arogan.
“Semua harta kami atas nama Ayah dibekukan. Apartemen, mobil orang tuaku, dan perhiasan disita. Kami sudah tidak punya tempat tinggal sekarang. Tolong, minta Hendra agar datang ke kantor polisi dan bicara atas nama ayahku. Semua barang bukti itu palsu,” ucapnya putus asa. Aku tidak mengerti dengan jalan pikirannya. Di mana letak kalimat yang tidak bisa dia pahami dari penjelasan Hendra?
“Kasus itu sudah ada dalam penanganan pihak yang berwajib. Tidak ada lagi yang bisa ikut campur tangan. Untuk apa Hendra datang ke sana dan mengatakan bahwa semua barang bukti itu adalah palsu? Polisi sudah menyelidiki dan penangkapan ayahmu adalah fakta bahwa bukti itu valid.” Aku mencoba memberinya pengertian.
Apa dia berpikir bahwa semua dokumen bisa dimanipulasi seperti yang dia lakukan pada hasil tes DNA anak-anakku? Apa dia juga berpikir bahwa semua perwira polisi atau siapa pun yang terlibat dalam penyelidikan bisa disuap untuk menghilangkan bukti?
“Suamiku bukan orang licik seperti kamu dan keluargamu. Kamu dan ayahmu sama saja. Kalian berdua berusaha lari dari tanggung jawab dengan melemparkan kesalahan kepada orang lain.” Aku menggeleng pelan. “Mulailah terima kenyataan bahwa Om Nelson telah melakukan kesalahan dengan terlibat pada kasus korupsi tersebut. Hendra tidak akan bisa berbuat apa-apa.”
“Dia bisa bila dia mau,” katanya bersikeras. “Dan ayahku bukan satu-satunya pelaku. Mengapa hanya dia yang dijadikan tumbal? Seharusnya semua pelaku lain juga ikut ditangkap.”
“Kalau kamu tahu ada orang lain yang terlibat, kamu bisa melaporkannya kepada polisi. Mengeluh di depanku tidak akan menyelesaikan apa pun.”
Wajah Nora memerah. “Karena itu aku membutuhkan bantuan Hendra. Aku akan memberitahu siapa saja orang lain yang terlibat, tetapi dia harus membantu membebaskan ayahku.”
__ADS_1
Aku menatapnya dengan bingung. “Mengapa dia harus melakukan itu? Ayahmu bukanlah ayahnya atau mertuanya. Mengapa dia harus membantu kamu dengan syarat itu? Tanpa bantuan kamu, aku yakin bahwa polisi akan menangkap pelaku lainnya yang terlibat. Suamiku sama sekali tidak ada hubungannya dengan semua ini.”
Dia menatapku sejenak, kemudian dia menggeleng pelan. Memangnya jawaban dan respons apa yang dia harap akan dia dengar dariku? Apa yang aku ucapkan adalah fakta. Itu bukan omong kosong. Hendra tidak akan sudi melakukan apa yang dia minta. Aku tidak perlu bertanya kepadanya lebih dahulu untuk mengetahui jawabannya.
“Sayang sekali. Kami tahu bahwa cepat atau lambat, keluarga orang tuaku akan tahu siapa aku yang sebenarnya. Karena itu kami menyusun rencana ini dengan baik. Ibu mendekati Tante Naava agar dia mendekatkan aku kepada putranya. Seharusnya aku sudah menikah dengan Hendra dan hidup di rumah ini bersamanya.
“Terkutuklah siapa pun yang telah membongkar rahasia kami secepat ini sehingga perusahaan itu jatuh ke tangan orang lain. Perusahaan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan perusahaan Hendra. Sepupu sialan itu menjadi direktur utama pun, aku tidak keberatan. Kekayaan keluarga ini juga jauh melebihi kami.
“Tetapi kamu … kamu telah merusak semua rencana kami. Kamu adalah pion yang tidak pernah kami perhitungkan sebelumnya. Seandainya kami tahu, kami sudah memasukkan kamu dalam rencana awal kami. Dan kami tidak akan gagal total begini.
“Apa yang dia lihat ada padamu sampai dia memaafkan perselingkuhanmu? Aku belum pernah mendengar ada laki-laki yang tidak jijik melihat istrinya yang pernah tidur dengan laki-laki lain. Apalagi sampai kembali lagi kepadanya seperti Hendra.
“Karena dia sudah mengambil segalanya dariku, aku juga akan mengambil semua miliknya. Aku akan mulai dari kamu.” Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Lalu bergerak cepat mendekati aku. Mengikuti insting, aku segera berdiri menjauh darinya.
“Nora, apa yang kamu lakukan?” Aku melihat ke arah benda tajam yang ada dalam genggamannya. “Turunkan pisau itu. Kamu tidak perlu bertindak sejauh ini. Ibumu membutuhkan kamu, jangan sampai kamu melakukan kesalahan yang membuat kamu dipenjara.”
“Aku tidak akan dipenjara. Aku tahu ke mana harus pergi agar tidak ada yang akan menemukan aku. Kamu harus mati. Hanya itu satu-satunya jalan untuk membalas penderitaanku dan orang tuaku.” Dia menatapku dengan mata berapi-api dan mendekat.
Mungkin karena dia sedang kalap, kecepatannya bergerak melebihi aku. Dia mengayunkan pisau itu dan mengenai sofa di belakangku. Dia menggeram marah dan mencoba untuk menusuk aku lagi. Aku segera menghindar dan berusaha berlari menuju pintu. Teriakanku memenuhi ruangan itu.
__ADS_1