Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 254 - Sesalku


__ADS_3

~Vivaldo~


Mengapa hidupku jadi begini, aku tidak tahu. Ini kedua kalinya aku mempermalukan keluargaku dan anak-anakku. Putriku sudah cukup besar untuk mengetahui ada yang salah pada papanya. Aku masih ingat tatapan matanya saat terakhir kali aku mengunjungi dia dan adik-adiknya di rumah orang tuaku.


Dia tidak lagi menganggap aku ayahnya. Dan aku menerima semua itu. Aku telah gagal menjadi ayah bagi mereka bertiga. Umur orang tuaku mungkin tidak panjang lagi, tetapi aku malah membiarkan mereka mengurus anak-anakku yang masih kecil.


Namun tidak ada yang bisa aku lakukan. Hanya mereka yang bisa aku percayai untuk mengurus ketiga anakku. Keluarga almarhumah istriku tinggal jauh, aku tidak yakin anak-anak akan suka tinggal di lingkungan baru yang mereka tidak kenali sama sekali.


Tujuh tahun. Itu artinya putriku sudah berusia delapan belas tahun saat aku keluar dari penjara nanti. Sudah terlambat bagiku untuk memperbaiki segalanya. Sejak aku masuk ke penjara saja, tidak ada keluarga, teman, atau rekan kerja yang mengunjungi aku.


Rekan kerja sialan. Aku melindungi mereka semua, tetapi aku dicampakkan begini. Dasar orang-orang bermuka dua. Meskipun mereka tidak ada di balik jeruji besai, mereka sama kotornya seperti aku. Semua orang juga tahu bahwa aku tidak mungkin mengerjakan semua ini seorang diri. Namun lagi-lagi aku yang dijadikan tumbal karena sudah pernah dipenjara.


Hendra juga tidak membuat segalanya menjadi mudah bagiku. Dia mengejar aku ke mana pun aku pergi. Aku juga bodoh, terpancing keluar dari tempat persembunyianku. Ara, aku tidak bermaksud menyakiti dia. Aku hanya ingin dia menjadi milikku. Hanya itu.


Aku mengumpulkan begitu banyak uang demi bisa hidup bersamanya. Dengan pekerjaanku ini, aku tidak akan pernah bisa menyamai kekayaan yang dimiliki Hendra. Aku harus lebih kaya darinya untuk bisa memenangkan hati Ara. Tetapi dia lebih memilih bersama laki-laki arogan itu.


Kini aku hanya bisa melihat dia dari jauh. Aku tidak menduga bahwa dia ingin menjadi seorang penulis. Mungkin aku memang tidak tahu banyak mengenai dia. Kami menjalin hubungan sejak SMU, semua itu demi memuaskan egoku semata.


Hampir semua teman laki-laki yang aku tahu ingin dia jadi pacar mereka. Menaklukkan hati seorang gadis bukanlah hal yang sulit bagiku. Rata-rata siswa di sekolah kami jatuh cinta kepadaku. Wajar saja, aku tampan dan cerdas. Walaupun aku tidak mendapatkan juara satu, aku selalu menempati posisi lima besar di kelas.


Kurang dari enam bulan mendekatinya, akhirnya dia mau menjadi pacarku. Sialnya, dia bukan perempuan gampangan. Dia tidak mau aku sentuh lebih dari pegangan tangan. Aku belum pernah ditolak gadis mana pun bila aku ingin mencium bibir mereka.


Bahkan sampai kami wisuda, dia tidak mau tidur denganku. Aku pikir ada yang salah pada diriku, tetapi tidak. Aku mengajak gadis lain untuk tidur denganku, mereka tidak menolak. Lalu apa yang membuat aku tidak bisa menaklukkan dia?

__ADS_1


Lebih sialnya lagi, dia terus saja mengajak aku datang ke rumah untuk menemui orang tuanya. Untuk apa? Kami hanya bersenang-senang, masih terlalu muda untuk menikah. Aku juga belum mau berhubungan hanya dengan satu perempuan saja seumur hidupku.


Tetapi kesombonganku itu harus aku bayar dengan mahal. Dia memergoki aku sedang berciuman dengan teman satu indekos yang kelak menjadi istriku. Ketika aku kehilangan dia, saat itulah aku sadar betapa berartinya dia bagiku.


Sayangnya, aku sudah terlambat. Dia tidak mau aku temui sama sekali, tidak mau menjawab telepon dariku, dan pada hari dia datang menemui aku, dia memberiku sebuah undangan pernikahan.


Wanita yang menjadi istriku hanya aku anggap sebagai penghapus dosa. Aku telah menghamili dia, dan aku tidak mungkin menelantarkan anakku. Apalagi aku telah bekerja sebagai aparatur sipil negara. Aku tidak boleh punya skandal.


Aku menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta dengan dia sebagai pemuas nafsuku semata. Saat dia sakit dan tidak bisa lagi melayani aku, ada banyak perempuan yang selalu siap untuk menjadi teman ranjang tanpa status atau ikatan.


Namun aku ingin hidup lebih baik saat tidak sengaja melihat dia. Ara sedang makan siang bersama suami dan mertuanya di rumah makan di mana aku  menemani atasanku. Dia semakin cantik dan aku tidak suka melihat laki-laki itu yang memilikinya.


Karena itu aku telah merencanakan segalanya dengan detail demi bisa mendapatkan hatinya kembali. Aku tidak akan pernah melupakan malam saat aku akhirnya bisa menikmati tubuhnya. Dia jauh lebih baik dari wanita mana pun dan aku menginginkan dia. Obsesi yang akhirnya melempar aku ke penjara ini lagi.


Kesialanku belum berakhir karena aku harus puas berada dalam penjara yang sama dengan laki-laki yang berpikir bahwa dia bisa menguasai dunia dengan uang dan nama besar keluarganya. Sampah. Aku menyesal bekerja sama dengannya dan ayahnya.


“Setidaknya aku pernah mencicipi tubuhnya.” Aku menyeringai puas. “Hal yang tidak akan pernah bisa kamu bayangkan nikmatnya.” Aku tersenyum melihat dia menggenggam erat tangannya.


“Dan kamu pikir dia menyukainya?” Dicky tertawa terbahak-bahak. Dia duduk pada kursi kosong di sampingku. “Dia tidak pernah kembali lagi kepadamu, itu artinya kamu tidak memuaskan dia sama sekali. Dan kamu anggap itu sebagai poin tambahanmu untuk menang dariku? Bila dia sekali saja tidur denganku, dia pasti akan memintanya lagi, lagi, dan lagi. Sayangnya, kita tidak akan bisa membuktikannya hal itu segera.”


“Kamu tidak akan pernah bisa mendekatinya. Selama delapan tahun ini kamu beruntung bila tidak ada orang yang menjadikan kamu pemuas keinginannya. Tetapi bila mereka mendapatkan kamu satu kali saja, kamu tidak akan tertarik untuk tidur dengan wanita mana pun lagi.”


“Kamu yang harus menjaga dirimu. Aku bisa menjaga diriku sendiri.” Dia menyilangkan tangannya di depan dadanya. “Hendra sangat beruntung. Tetapi keberuntungan itu tidak akan berlangsung lama. Selalu ada saat yang tepat untuk mendapatkan apa yang aku inginkan.”

__ADS_1


Aku tertawa mendengar ucapan laki-laki bodoh itu. “Aku keluar satu tahun lebih cepat darimu. Saat kamu keluar, Ara sudah menjadi milikku,”


...*******...


    Sementara itu di sebuah ruangan yang gelap.


    Gista berjalan hati-hati menaiki panggung. Dia menggunakan senter yang ada pada ponselnya untuk membantu menerangi jalan yang ditempuhnya. Seseorang memberinya sebuah mikrofon, dia memastikan bahwa alat itu bekerja dengan baik.


    Dia hampir melompat saat ponselnya bergetar. Melihat wajah pria berambut cokelat bermata hijau sedang tersenyum kepadanya, dia segera menggeser simbol telepon berwarna hijau. Will menatapnya dengan wajah mengantuk.


    “Hai, sayang! Apa yang kamu lakukan dengan menghubungi aku sepagi ini di sana?” tanya Gista dengan nada bahagia.


    “Aku tidak bisa tidur. Aku rindu kamu dan ingin segera pulang,” ucap Will dengan suara manjanya.


    “Apa yang menghalangi kamu untuk pulang? Kembalilah, aku juga merindukan kamu dan Colin,” kata Gista dengan nada sedih.


    “Mengapa kamu harus menyebut nama Colin juga?” protes Will. Gista memutar bola matanya.


    “Karena dia satu paket denganmu. Bukankah seharusnya kamu suka karena aku sayang kepadanya dan memikirkannya?” tanya Gista heran.


    “Gista, apa yang kamu lakukan? Cepat bersiap-siap,” ucap Ibu Qiana dari arah belakangku.


    “Ah, I-iya, Bu,” kata Gista menurut. “Aku harus pergi. Kita lanjutkan saat aku sudah di rumah, ya. Sampai nanti, sayang. Aku sangat mencintaimu.”

__ADS_1


    “Mengapa Hendra selalu saja mengganggu?” keluh Will sebelum Gista mengakhiri panggilan video mereka.


__ADS_2