
Pada pagi itu aku sarapan seorang diri. Dia sudah berangkat keluar kota tanpa pamit kepadaku. Dua minggu. Dia akan pergi selama dua minggu dan aku yakin dia juga tidak akan meneleponku seperti kebiasaannya. Berapa lama dia akan memperlakukan aku seperti ini? Dan berapa lama sampai semua orang tahu ada yang tidak beres dengan hubungan kami?
Untuk menghindari pertemuan tidak sengaja karangan Aldo, aku tidak berbelanja ke supermarket lagi. Aku serahkan tugas itu kepada Yuyun. Aku yang memasakkan makan siang untuk kami semua sebagai gantinya. Syukurnya, mereka tidak mengeluh dengan rasa masakanku.
“Nyonya, kedua ibu Anda datang berkunjung,” ucap Abdi memberitahuku. Aku segera keluar dari ruangan khususku dan menemui mereka.
“Cepat ganti pakaianmu. Kita akan berolahraga bersama hari ini,” ucap ibu mertuaku. Aku melihat dia dan Mama sudah memakai baju senam mereka.
“Kita akan berolahraga di mana, Ma?” tanyaku bingung.
“Kamu sedang hamil, jadi kamu membutuhkan olahraga yang teratur agar proses melahirkan nanti bisa lancar. Melahirkan anak pertama biasanya pengalaman yang paling sulit,” ucapnya.
“Ayo, cepat, Ara. Kamu tidak mau jadi pusat perhatian karena datang terlambat, ‘kan?” kata Mama mendesakku. Aku melihat mereka secara bergantian, lalu mendesah pelan dan menurut.
Semula aku berpikir bahwa aku tidak akan menyukai kegiatan baru tersebut. Ternyata ada banyak ibu muda hamil sepertiku di tempat itu. Olahraga yang kedua ibuku maksudkan adalah program senam untuk ibu hamil. Aku tidak canggung mengikutinya karena mereka juga melakukan gerakan senam tersebut bersamaku.
Mereka juga membawaku menemui ahli gizi yang membantuku memilih makanan yang sehat agar asupan yang aku butuhkan selama kehamilan tercukupi. Dia juga memberiku daftar menu sebagai acuan, beserta beberapa resep makanan sehat yang kelihatannya lezat.
Mereka tidak langsung mengantarku pulang tetapi berkunjung ke rumah orang tuaku. Kami makan malam bersama saat kedua ayahku juga Zach pulang. Aku tahu mengapa mereka melakukan ini. Mereka pasti mengetahui kepergian Hendra keluar kota dan menemaniku agar aku tidak sendiri.
__ADS_1
Kedua ibuku menjemput dan mengantarku untuk mengikuti senam setiap hari. Tetapi pada hari ini, aku meminta satu hari libur untuk bisa bertemu dengan para sahabatku. Kami sudah terbiasa makan siang bersama dua kali atau setidaknya sebulan sekali. Aku sudah sangat merindukan mereka.
Entah mengapa aku selalu saja menjadi orang terakhir yang tiba di restoran kesukaan kami. Mereka menyambutku dengan memeluk dan mencium kedua pipiku. Kami saling bercerita kesibukan kami masing-masing sembari menunggu makanan pesanan kami diantar.
“Aku tidak ingin kita membicarakan hal pribadi di tempat ini. Bisakah kita pindah ke taman yang ada di dekat sini? Kita bisa mampir membeli es krim atau kopi dan menikmatinya di sana,” ajak Darla usai makan siang. Kami bertiga segera menyetujui usulnya tersebut.
Darla membeli beberapa kue dan roti, sedangkan Lindsey membeli minuman dingin untuk kami. Aku tidak memesan kopi karena sedang hamil. Tetapi mereka belum mengetahuinya. Dan Qiana membeli es krim untuk kami nikmati bersama.
Suasana siang itu sangat panas, tetapi kami beruntung mendapatkan tempat duduk di bawah sebuah pohon rindang. Kedua kursi itu berada di sudut taman sehingga kami bisa saling melihat satu sama lain. Kami akan kesulitan berbincang bila posisi kursi disejajarkan.
“Helmut memutuskan untuk mempertahankan pernikahan kami,” ucap Qiana pelan. Kami menatap wajahnya baik-baik sebelum memberi respons. “Kalian jangan menatapku seperti itu. Aku lebih suka bila kami tetap bersama daripada menjalani proses perceraian yang melelahkan.”
“Kami akan tetap bertanggung jawab atas bayi itu saat dia lahir nanti. Hanya bayinya. Kami tidak punya tanggung jawab apa pun terhadap Nidya karena dia tidur bersama suamiku atas dasar suka sama suka,” kata Qiana pelan. Dia menatap kami. “Kalian pasti berpikir bahwa aku jahat.”
“Tidak. Kamu berhak mempertahankan pernikahanmu. Kamu adalah istri sah Helmut. Yang kamu lakukan itu tidak jahat. Nidya yang jahat. Dia tahu bahwa Helmut sudah menikah, tetapi dia tetap saja mau tidur dengannya. Tentu saja suamimu juga salah. Apa pun pilihan yang dia ambil ada untung dan ruginya, baik dia memilih kamu atau perempuan itu,” kata Lindsey.
“Aku tahu mengapa kalian tetap bertahan. Demi karir Helmut di politik, ‘kan?” tanya Darla. Qiana mengangguk pelan. “Apakah ini yang kamu inginkan? Kamu tidak berkewajiban untuk menjaga nama baik suamimu jika kamu tidak mau bertahan dalam pernikahan kalian, Qiana.”
“Darla, apa yang dilakukan Helmut memang sulit untuk dimaafkan, tetapi bukan mustahil. Aku juga bukan istri yang sempurna. Lebih berat bagiku untuk berpisah dengannya daripada memaafkannya. Jadi, aku memutuskan untuk memperbaiki hubungan kami bersama,” katanya dengan yakin.
__ADS_1
“Sebenarnya, lebih mudah bagi kita para istri untuk memaafkan kesalahan suami kita. Termasuk perselingkuhan mereka. Jadi aku tidak heran kamu akan mencoba untuk memaafkannya. Namun andai kamu yang selingkuh, aku yakin Helmut tidak akan berpikir panjang untuk menceraikanmu.” Kalimat Darla itu membuat kami terdiam sejenak.
“Zahara, apa kamu baik-baik saja?” tanya Lindsey memecahkan keheningan. Aku mengangkat wajah dan menoleh ke arahnya. Aku mengangguk pelan. “Sudah lama kita duduk di sini tetapi Hendra belum juga menghubungimu. Apakah semuanya baik-baik saja?”
“Iya. Aku juga merasakan keanehan yang sama. Biasanya Hendra sudah meneleponmu membuat kami semua iri kepadamu,” goda Qiana. Aku tertawa mendengarnya.
“Kami baik-baik saja.” Aku segera merasa bersalah telah membohongi mereka. “Hendra sedang ada urusan di luar kota. Aku yakin dia sedang tidak bisa meninggalkan kliennya karena itu dia tidak meneleponku siang ini.”
“Hendra keluar kota lagi?” tanya Darla bingung. “Biasanya dia hanya pergi dua kali dalam satu tahun. Ini adalah kepergiannya ketiga dalam tahun ini. Dia bahkan baru kembali dari London bulan lalu. Apa ada masalah dengan perusahaannya? Ada yang bisa kami bantu?”
“Dia justru pergi untuk hal yang baik,” kataku menenangkan mereka. “Seseorang menawarkan untuk menjual hotelnya kepadanya. Hendra adalah orang pertama yang dihubunginya.”
“Wah! Dia sekarang merambahi bidang perhotelan? Itu kabar yang baik,” puji Qiana.
“Mendengar kabar baik dari kalian, aku juga punya kabar baik.” Aku mengambil sebuah buku dari tasku, lalu mengeluarkan sebuah foto yang ada di antara halamannya. “Kejutan!!” Aku mengangkat foto tersebut. Mereka segera mengarahkan pandangan mereka pada kertas yang ada di tanganku.
“Oh, Zahara! Akhirnya! Selamat untukmu!” Darla yang duduk di sisiku lebih dahulu memelukku. “Kamu akan menjadi seorang ibu! Aku akan menjadi seorang bibi lagi!” Aku terharu melihat responsnya itu. Lindsey dan Qiana juga melakukan hal yang sama. Mereka mengucapkan selamat sambil memeluk dan menciumku.
Perasaan bersalah menyusupi dadaku. Mereka sudah jujur menceritakan kehidupan pribadi mereka kepadaku. Tetapi aku masih menyimpan segalanya sendiri. Aku tidak cukup berani untuk berbagi masalah yang sedang aku hadapi. Aku takut, aku takut mereka juga akan meninggalkan aku seperti Hendra yang tidak lagi peduli kepadaku.
__ADS_1