
Aku melihat ke arah suamiku. Dia diam menunggu aku menjawab pertanyaan mamanya. Mama juga menanti dengan pandangan matanya tertuju kepadaku. Papa tersenyum penuh arti. Bukannya melerai perdebatan mereka, Papa malah membiarkan aku berada pada posisi ini.
“Aku sedang dalam masa hukuman, jadi aku setuju dengan suamiku, Tante. Maaf, kami tidak bisa ikut makan siang bersama Tante dan Papa,” jawabku tanpa ragu.
Pertanyaan yang Mama ajukan adalah pertanyaan yang paling mudah untuk dijawab. Aku sangat sayang kepadanya dan ingin selalu menyenangkan hatinya. Tetapi aku tahu bahwa apa pun yang aku lakukan untuknya pada saat ini, dia masih berharap untuk memisahkan aku dari suamiku.
Lagi pula dia tahu bahwa setiap kali aku berada pada dua pilihan, aku selalu memilih Hendra. Aku tidak akan mengubah kebiasaan itu hanya demi memenangkan hatinya. Aku merasakan suamiku meremas pelan bahuku. Mama hanya mengangguk pelan, lalu menoleh ke arah Papa.
“Ayo, sayang. Kita makan sekarang. Biarkan mereka dengan dunia mereka sendiri.” Mama mengajak Papa dan mengabaikan kami berdua.
“Sampai hari Senin, Tante,” ucapku mengantar kepergian mereka. Papa mengingatkan Hendra agar menyetir dengan hati-hati saat mereka berjalan menuju ruang makan, sedangkan kami menuju pintu depan.
Hendra mencium pelipisku sebelum menolongku masuk ke mobil. Aku memasang sabuk pengaman dan kami pergi menuju tempat kencan kami. Seperti yang Mama katakan tadi, lalu lintas sangat padat sehingga mobil Hendra merayap di jalan raya. Tetapi ada mal yang jaraknya tidak jauh dari rumah Papa dan Mama yang bisa dijadikan pilihan. Ada bioskop di dalamnya. Hanya itu yang kami butuhkan. Untuk restoran, kami bisa memilih salah satu dari puluhan tempat makan yang tersedia.
Aku mengantri untuk membeli tiket saat Hendra membeli makanan ringan dan minuman untuk kami berdua. Kami menikmati makanan itu sambil menunggu giliran kami mencapai konter. Dari semua pilihan film, hanya film horor yang masih punya tempat duduk kosong yang cukup jauh dari layar. Kami memutuskan untuk menonton film tersebut.
Menunggu sampai film dimulai, kami makan siang di restoran pilihanku. Dia memesan begitu banyak makanan sampai aku harus memotong ucapannya sebelum pelayan mencatat semua masakan dalam menu yang dia sebutkan. Dia hanya tertawa kecil.
“Kita punya waktu satu jam lebih, mengapa tidak menunggu sambil mengisi perut di sini? Kalau kita hanya pesan seadanya, mereka akan mengusir kita keluar nanti. Jadi, memilih banyak makanan adalah jalan aman agar kita bisa duduk lama di sini.” Dia meletakkan ponselnya di atas meja.
__ADS_1
“Iya. Tetapi kita tidak mungkin memakan itu semua sekali telan. Pencernaan kita butuh waktu untuk mengolah makanan yang masuk sebelum kita menjejalinya lagi dengan makanan lainnya.” Aku menggeleng pelan, tidak percaya. Dia tertawa kecil.
“Apa kamu tahu apa yang ingin sekali aku lakukan sekarang?” tanyanya. Aku menggeleng pelan. Aku bukan pembaca pikiran, jadi aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya. “Aku ingin mencium setiap bagian tubuhmu dan membuat kamu ….”
“Hendra!” Aku segera menutup mulutnya dengan tanganku. Orang-orang di sekitar kami menoleh tetapi mereka segera kembali sibuk dengan makanan mereka masing-masing. Suamiku tertawa menggelitik telapak tanganku. “Kita sedang di tempat umum.” Aku menjauhkan tanganku darinya. Dia malah memegangnya dan mencium telapak tanganku itu.
“Aku mencintaimu, sayang. Terima kasih sudah memilih untuk kencan denganku.” Dia meletakkan telapak tanganku itu di pipinya.
“Kamu tahu bahwa aku akan selalu lebih memilih kamu dibandingkan dengan siapa pun di dunia ini.” Aku tersenyum. “Walaupun aku tidak mau melihat Mama kecewa, aku tahu bahwa aku tidak akan bersamanya sepanjang hari. Berbeda dengan kamu. Aku tidur dan bangun dengan ada kamu di sisiku. Kalau sampai kamu marah, aku tidak mau menatap punggung kamu sepanjang malam.”
“Bagus. Kamu mengerti pihak mana yang harus selalu kamu pilih.” Dia tersenyum puas seraya melepaskan tanganku dari genggamannya. “Apa Mama masih membahas dokter onkologinya itu?”
“Setiap kali kami sedang berdua di kamar. Tetapi aku hanya diam dan tidak memberi tanggapan apa pun. Sikapku itu tidak mengendurkan niatnya sama sekali.” Aku mendesah pelan.
“Mama akan memperkenalkan seorang wanita lain kepadamu?” tanyaku tidak percaya.
“Iya. Aku tidak tahu kapan. Mungkin nanti setelah keadaannya lebih baik. Kapan Mama akan melakukan pemeriksaan lagi bersama Gerhard?”
“Akhir bulan ini.” Aku berterima kasih kepada pelayan yang datang mengantar minuman pesanan kami. “Apa hubungannya dengan pemeriksaan itu?”
__ADS_1
“Bila Mama terbukti sudah bersih dari kanker, maka dia pasti akan segera memulai aksinya. Kamu bersiap-siaplah. Jangan khawatir. Aku tidak akan tergoda dengan siapa pun. Hanya kamu wanita yang aku inginkan.”
“Walaupun kita sudah puasa begitu lama, kamu masih menginginkan aku?” tanyaku tidak percaya.
“Puasa ini hanya membuat aku semakin menginginkan kamu. Lagi pula aku selalu mendapatkan apa yang aku butuhkan sekalipun kita tidak bersatu secara fisik ….”
“Hendra!” Aku kembali menutup mulutnya dengan tanganku. Dia tertawa terbahak-bahak. Tidak biasanya dia bicara blak-blakan tanpa dipikirkan lebih dahulu.
Makanan pesanan kami mulai diantar, kami tidak menunda untuk menyantapnya karena sudah lapar. Topik pembicaraan kami hanya berfokus pada makanan yang kami nikmati. Rasanya tidak selezat buatan Fahri, tetapi aku tidak boleh mengeluh. Membiarkan koki kami itu beristirahat selama satu hari akan membuatnya bahagia.
Seperti dugaanku, semua makanan itu tidak bisa kami habiskan. Hendra meminta pelayan untuk membungkusnya agar bisa kami bawa. Dia tahu bahwa petugas keamanan di bioskop tidak akan mengizinkan kami membawa makanan tersebut. Maka sebagai jalan keluarnya, kami kembali ke tempat parkir untuk menyimpan makanan tersebut, lalu ke bioskop.
Dia melingkarkan tangannya di bahuku dan aku memeluk punggungnya. Kami berjalan sambil membicarakan mengenai film yang akan kami tonton. Dia menunjukkan trailer film tersebut lewat ponselnya. Tidak terlalu menakutkan. Tetapi aku tidak keberatan berpura-pura takut agar bisa memeluknya sepanjang film nanti. Rencana yang menarik.
Tidak jauh di depan kami ada sekelompok orang yang sepertinya sedang cekcok. Sepasang pria dan wanita berhadapan dengan tiga orang perempuan. Dilihat dari postur tubuh, mereka bukan anak-anak atau remaja lagi. Apa yang mereka lakukan dengan membuat keributan di tempat umum?
“Bukankah itu Gista?” tanyaku begitu mengenali wanita yang berdiri bersama seorang pria. Laki-laki itu berdiri di depan melindungi wanita itu dari tiga orang yang menghadang mereka. “Sherry? Apa yang dia lakukan dengan bertengkar di keramaian begini?”
“Sebaiknya kita tidak ikut campur.” Hendra membawaku berjalan menjauh dari mereka, tetapi aku tidak mau menurutinya kali ini. “Sayang, itu bukan urusan kita.”
__ADS_1
“Gista adalah temanku juga. Aku tidak akan membiarkan mantan sekretarismu itu menyakitinya.” Aku berjalan setengah menariknya untuk mau ikut denganku. Dia akhirnya mengalah.
Gista dan pria itu kelihatannya tidak mau ribut dengan berusaha untuk pergi, tetapi Sherry dan kedua wanita yang bersamanya terus saja menghalangi jalan mereka. Kasihan Will. Aku bisa melihat dari sinar matanya bahwa dia serius dengan perasaannya kepada Gista. Tetapi gadis itu sepertinya sudah punya kekasih. Bagaimana cara mengatakan fakta ini nanti tanpa menghancurkan hatinya?