
“Aku tidak mau kamu salah paham, maka aku akan menceritakan beberapa hal yang belum kamu ketahui.” Dia berhenti memijat kakiku, lalu kembali duduk di sisiku. Aku ingin duduk di pangkuannya, dia tidak mengizinkan. “Kita akan membicarakan hal yang sangat serius, jadi aku tidak mau kamu mengalihkan pikiranku.”
“Oh. Kamu takut si Hendra kecil akan bereaksi.” Aku tersenyum penuh arti.
“Berhenti menyebutnya begitu. Dia tidak sekecil itu,” protesnya. Aku hanya tertawa. “Silakan tertawa, sayang. Aku akan memberi pelajaran kepadamu nanti.”
“Aku tidak sabar,” kataku tanpa takut.
“Mengenai wanita semalam.” Aku terdiam mendengarnya ingin membahas hal itu. Kedua tangannya segera melingkari tubuhku, dia tahu bahwa ini adalah topik yang tidak aku sukai. “Beberapa tahun terakhir setelah kita berpisah, Mama memperkenalkan dan mencoba mendekatkan aku dengan perempuan yang dikenalnya. Wanita ini salah satunya.
“Aku tidak pernah memberi mereka harapan sedikit pun. Karena aku masih mencintai kamu dan berharap entah bagaimana akan kembali bersamamu. Aku mohon jangan salah paham atau marah kepadaku jika suatu hari nanti kamu melihatku bersama wanita lain. Aku pastikan ini, bukan aku yang ingin bertemu dengan mereka.”
“Baik.” Aku tidak bisa protes karena kami memang telah berpisah dan wajar saja orang tuanya mendekatkan dia dengan wanita lain. Aku melihat ke arahnya. “Apa Papa dan Mama masih marah kepadaku?” Dia mengangguk pelan. “Bagaimana kalau kita coba bicara dengan mereka lagi?”
Aku ingat dengan pertemuan terakhir kami yang berakhir tragis. Mertuaku yang sangat sayang kepadaku berubah sikap dengan tidak menganggapku sebagai menantu mereka lagi. Maka tidak mengherankan jika mereka menjodohkan putra mereka dengan perempuan lain.
“Tidak sekarang. Kita akan biarkan keluargamu memproses hal baru ini dahulu, lalu teman-temanmu, baru kita temui orang tuaku.” Dia mencium pipiku. “Kamu akan berhadapan dengan banyak orang yang membencimu, Za. Orang tuaku tidak akan menerima berita kembalinya kita bersama dengan baik. Mereka akan menentang keras.”
“Karena aku sudah selingkuh darimu.” Aku sangat menyesali hal itu.
“Iya. Tetapi kamu jangan khawatirkan apa pun. Aku tidak akan membiarkan ada yang menyakitimu. Kamu juga jangan menanggung semuanya sendiri. Berbagilah denganku.” Aku tersenyum merasakan ciumannya di pipiku. “Ada satu rahasia penting yang harus kamu ketahui.”
Aku memasang wajah serius dan menatapnya. “Rahasia apa?”
__ADS_1
“Mantanmu itu membayar orang untuk mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Dia juga memotret setiap kali kalian sedang bersama. Baik saat kalian makan, bahkan kejadian di tempat parkir.”
“Tidak.” Aku tahu apa yang dia maksud dengan tempat parkir. Saat aku dan Aldo berciuman. “A-apa dia juga memotretku saat ka-kami ada di kamar ….”
“Tidak. Tidak, sayang. Tidak ada foto yang seperti itu.” Tangannya segera menutup mulutku. “Hanya foto yang masih bisa ditoleransi. Dan aku sudah mengambil semua foto itu darinya, juga bukti-bukti kebersamaan kalian dan pengawasan yang dia lakukan terhadapmu.”
Foto kami sedang berciuman saja sudah sangat memalukan, apalagi jika dia sampai menyuruh orang mengambil foto saat kami sedang melakukan hubungan intim. Aku lebih baik mati saja. Teknologi informasi sekarang sangat cepat. Segala hal bisa menjadi viral, entah itu akan merusak reputasi atau menaikkan popularitas seorang individu.
Aku ingat bahwa aku tidak mabuk pada saat itu. Aldo tidak memotretku atau merekam kejadian di kamar. Bila Hendra tidak menemukan bukti apa pun yang berasal dari dalam kamar, maka aku aman. Semuanya akan baik-baik saja. Semoga.
“Mengapa dia melakukan itu? Aku tidak pernah menyangka Aldo akan sanggup ….” Aku bahkan tidak tahu harus menyebut kata apa yang cocok untuk menggambarkan semua tindakannya itu. “Dia tidak berhenti, Hendra. Dia pernah menyapaku saat aku sedang di luar bersama anak-anak. Menurutmu, apa dia masih membayar orang untuk mengikutiku?”
“Kamu yakin? Dia masih menemuimu?” tanya Hendra khawatir. Aku mengangguk cepat. Dia terlihat berpikir sejenak. “Jangan pergi ke mana pun tanpa Liando ikut bersamamu. Dia tahu ilmu bela diri, dia akan menjagamu juga anak-anak dengan baik.”
“Dan satu hal lagi,” kata Hendra. Aku menatapnya tidak percaya.
“Masih ada lagi?” tanyaku tidak tenang.
“Tidak semua pelaku penculikan itu berhasil ditangkap oleh polisi. Ada satu orang yang lolos. Dan aku tidak suka dengan hasil interogasi polisi. Mereka mengatakan bahwa aksi itu dilakukan secara acak, bukan karena mereka ada dendam dengan kita.”
“Mereka sampai menggunakan senjata, maka ini adalah penculikan serius,” kataku pelan. “Aku tidak punya musuh, jadi aku tidak tahu siapa yang sedang marah kepadaku. Bagaimana denganmu?”
“Aku punya banyak musuh, tetapi aku butuh pernyataan resmi dari mereka untuk tahu siapa otak di belakang penculikan Dira. Kita tidak bisa bertindak tanpa bukti apa pun. Mungkin saja orang yang lolos ini adalah kuncinya.” Matanya berubah serius.
__ADS_1
“Bagaimana kamu bisa tahu bahwa ada satu orang yang lolos?” tanyaku bingung.
“Karena aku melihat wajahnya saat mengacungkan senjata di kamar di mana mereka menyekap Dira. Dan dia tidak ada pada daftar orang yang ditangkap polisi,” jawabnya. Dan itu membuatku takut.
“Apa yang akan kamu lakukan berikutnya?”
“Aku akan ke Bogor pada hari Senin untuk memberikan ciri-ciri fisik pria itu agar polisi bisa mencari keberadaannya. Aku membawa Oscar bersamaku.”
“Aku ikut!” kataku dengan cepat.
“Sayang,”
“Aku ikut. Aku akan menitipkan Dira kepada Mama. Dia pasti senang bisa bermain bersama Zeph. Aku ikut denganmu. Kalau kamu tidak mau mengajakku, aku akan pergi sendiri dengan Sakti.” Liando akan bertanggung jawab mengantar Hadi ke sekolah, maka aku hanya bisa mengandalkan Sakti.
“Baik. Kamu boleh ikut.” Hendra akhirnya mengalah. Aku mencium bibirnya. Aku senang melihatnya tidak berubah. Dia tidak akan menolak apa pun yang aku mau. “Giliranmu.”
Kepalaku berputar memikirkan apa yang menjadi rahasiaku. Selain menyembunyikan perasaanku kepadanya, aku tidak punya apa pun lagi yang aku sembunyikan darinya. Kini dia sudah tahu bahwa aku mencintainya, maka aku tidak punya hal lain yang belum dia ketahui.
“Aku tidak punya rahasia apa pun. Tetapi jika kamu mendengar sesuatu, tolong beritahu aku. Bisa saja aku lupa dengan hal itu. Bila kamu mau tahu tentang Dicky, aku tidak pernah memberi harapan kepadanya. Dia saja yang nekat terus mendekatiku dan anak-anak. Kamu sudah lihat sendiri bagaimana respons Dira ketika dia menyentuhnya.”
“Dan aku sangat bangga kepada putriku. Dia tahu pria mana yang pantas menyentuhnya dan mana yang tidak.” Dia mendekatkan bibirnya ke telingaku. “Tidak seperti mamanya yang ceroboh ini.” Dia segera mengaduh kesakitan karena aku mencubit tangannya dengan keras.
Mendengar ketukan pada pintu, aku segera menegakkan tubuhku. Meskipun aku berada di rumahku sendiri, aku tidak ingin pekerja di rumah kami melihat kami bermesraan seperti ini. Aku juga perlu menjaga perasaan mereka yang jauh dari keluarganya. Tetapi bukan Hendra namanya, kalau dia melepasku begitu saja.
__ADS_1
Pintu dibuka setelah Hendra mempersilakan masuk. “Ada Tuan dan Nyonya Besar, Tuan,” ucap Abdi. Aku menatap suamiku. Memang kami yang tinggal di rumah ini, tetapi di mata para pelayan, aku dan Hendra bukanlah majikan utama mereka. Hanya dua orang yang mendapat julukan itu. Papa dan mama Hendra. Mengapa dia tidak memberitahuku mengenai rencana kedatangan mereka?