
Aku tidak bisa menjawab pertanyaan suamiku. Karena setiap kali aku membuka mulut ingin mengatakan sesuatu, mual itu datang. Darla segera mendekat dan memberikan segelas air hangat untukku. Aku meneguknya dan merasakan mual itu berkurang.
“Sayang?” tanya Hendra sambil mengusap-usap punggungku.
“Dia tidak apa-apa,” kata Mama. Dia membantu aku untuk berdiri membuat aku bingung melihat tindakannya. “Hendra, bawa makanan dan minuman istrimu ke dalam. Aku akan membawanya ke toilet sebentar. Kalian lanjutkan acaranya, Qiana. Za baik-baik saja.”
Aku menatap ibu mertuaku itu dengan heran. Tetapi aku menurut saat dia membawaku ke rumah Qiana dan aku mengarahkan jalan menuju toilet. Kami sudah biasa menghadiri acara di rumah ini, jadi aku menghapal letak semua ruangan, termasuk ruangan yang ada di lantai dua.
“Kita akan menggunakan ini,” kata Mama sambil menunjukkan dua buah kotak yang dipegangnya kepadaku. Aku membaca labelnya.
“Te-Testpack?” seruku terkejut. Mama mendorongku masuk ke salah satu bilik sambil memberi sebuah cangkir plastik kepadaku.
“Ayo, kamu pasti ingin buang air. Aku tunggu.” Aku belum sempat mengatakan apa pun, Mama menutup pintunya kembali.
“Apa Mama selalu membawa alat itu ke mana-mana?” tanyaku geli. Ya, Tuhan. Tingkah ibu mertuaku ini sungguh lucu. Apakah dia begitu menginginkan cucu lagi?
“Za? Ma? Apa kalian ada di dalam?” Terdengar suara Hendra dari luar pintu toilet.
“Masuklah, Nak,” kata Mama mempersilakan. Aku mendengar bunyi pintu terbuka dan langkah kaki mendekati pintu bilikku.
“Aku sudah meletakkan makanan dan minuman kami di ruang keluarga. Apa istriku baik-baik saja?” tanya Hendra masih dengan nada khawatir.
“Dia baik-baik saja,” kata Mama meyakinkannya. Terdengar ketukan lagi di pintu kamar mandi. Kali ini tidak ada pertanyaan, dan siapa pun itu langsung membuka pintu.
“Apa yang terjadi? Aku melihat putriku dibawa ke bagian dalam rumah. Apa sesuatu telah terjadi padanya?” tanya mamaku. Apa masih ada orang lagi yang akan datang dan menggangu privasiku?
“Dia baik-baik saja, Anya,” jawab ibu mertuaku. Aku keluar dari bilik dan memberikan wadah air kepada Mama. Dia menerimanya dengan senang hati.
Aku membersihkan tangan di wastafel. Mama meneteskan urine pada bagian yang tersedia pada alat tes kehamilan yang dibawanya sambil bersenandung pelan. Mamaku membulatkan mata menyadari apa yang sedang dilakukan oleh besannya. Suamiku tidak kalah terkejut.
Hasilnya belum keluar, Hendra sudah mendekatiku dan menciumku habis-habisan. Aku sampai tertawa dibuatnya. “Sayang, ada apa denganmu? Hasilnya belum muncul.”
“Aku tidak butuh konfirmasi dari alat itu. Aku sudah tahu bahwa kamu hamil. Gejalanya sama dengan kehamilanmu sebelumnya,” katanya yang kembali menciumku lagi. “Aku sangat mencintai kamu, sayang. Kita akan jaga dia baik-baik.”
Jantungku berdebar-debar saat kami menunggu alat itu menunjukkan hasilnya. Senyum di wajah Mama mengembang saat dia mengangkat alat tersebut dan menunjukkan hasilnya kepada kami. Mama dan ibu mertuaku serentak bersorak senang.
__ADS_1
“Selamat, Naava! Selamat, Anya!” kata mereka berdua saling berpelukan mengucapkan selamat. “Kita menjadi nenek lagi. Aku punya tiga cucu! Aku punya lima!”
“Ma, aku yang hamil, mengapa mama berdua yang saling mengucapkan selamat?” tanyaku geli. Mereka tertawa, lalu serentak memeluk aku dan Hendra. Aku sampai terharu melihat reaksi mereka berdua. Hendra kembali menghujani aku dengan ciuman.
Aku sudah bisa membayangkan kedua mamaku akan mulai mendaftarkan aku mengikuti senam kehamilan dengan mereka sebagai pendamping permanenku. Dan aku tidak akan sendiri lagi saat melahirkan karena Hendra akan ada di sisiku.
“Apakah itu benar?” tanya Qiana yang sudah berdiri di depan pintu saat kami akan keluar. Darla dan Lindsey juga berdiri di sisinya. “Kamu sedang hamil, Zahara?” Aku mengangguk.
Mereka bersorak senang, lalu memelukku dengan erat. Hendra yang tadi sedang merangkulku terpaksa menjauh sejenak. Mereka lalu membawaku ke ruang keluarga dan mempersilakan aku untuk melanjutkan makanku. Qiana bahkan meminta pelayannya untuk mengambilkan beberapa potong buah dan semangkuk es krim untukku.
Kami belum bisa sepenuhnya merayakan kehamilanku ini karena kami perlu memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan kepastian kondisinya dan usianya. Melihat dia sudah dicintai begitu banyak orang, aku yakin dia akan menjadi rebutan saat lahir nanti.
Zach, Rasmi, dan kedua papaku menyusul kami karena mereka heran melihat kami tidak bergabung bersama mereka di pekarangan. Setelah mereka tahu apa yang sedang kami rayakan, mereka bergantian memelukku dan tidak memedulikan larangan Hendra. Dia benar-benar marah saat papanya sendiri memeluk aku. Ya ampun.
Perayaan atas wisuda putra Qiana malah berubah menjadi perayaan kehamilanku. Ada-ada saja. Hendra cemberut karena dia tidak bisa duduk di sisiku. Keluarga dan sahabat kami berebut untuk duduk di sampingku dan membicarakan rencana kami selanjutnya agar si kecil bisa lahir dengan selamat dan dalam keadaan sehat.
“Akhirnyaaa … kita hanya berdua saja,” kata Hendra sambil memelukku dari belakang. Aku sedang memakai krim pada wajahku di depan cermin di kamar mandi.
“Bertiga,” ralatku seraya menyentuh perutku. Dia tersenyum bahagia.
“Sayang, aku sedang memakai krim wajah!” Aku tertawa geli.
“Kamu tidak memerlukan krim itu. Kamu sudah terlalu cantik.” Dia mengambil wadah krim dari tanganku, menutupnya, lalu menarik tanganku keluar dari ruangan menuju ruang tidur.
“Ada banyak perempuan lain di luar sana yang lebih cantik dariku. Kalau aku tidak merawat diri, bisa saja suatu hari nanti kamu berpaling pada yang lain,” kataku tidak terpengaruh dengan pujiannya.
“Aku tidak tertarik dengan mereka, aku hanya tertarik kepadamu.” Dia menyuruhku duduk di sisi tempat tidur di mana biasanya aku berbaring. “Kamu pasti sangat lelah setelah seharian ini diganggu oleh mereka semua.” Aku tertawa.
“Mereka bersama kita saat kita kehilangan calon anak ketiga kita. Wajar saja bila mereka sangat bahagia menyambut kesempatan kedua kita. Dia datangnya cepat sekali,” ucapku terharu. “Aku pikir kita akan menunggu sedikit lebih lama karena kamu baru saja pulih dari kecelakaan.”
“Untung saja kita menuruti perintah dokter. Apa kamu bisa bayangkan seandainya kita buka puasa lebih cepat dan kamu mendadak hamil? Kamu bisa keguguran lagi karena kandungan kamu belum pulih benar.” Hendra menaikkan kedua kakiku ke atas tempat tidur. “Ayo, kamu harus istirahat.”
“Aku hanya hamil, Hendra, bukan sekarat,” protesku.
“Kamu sudah merawat aku selama aku sakit, maka sekarang giliran aku merawat kalian berdua.” Dia mencium keningku, lalu memadamkan lampu nakas di sisiku.
__ADS_1
Hal yang memalukan terjadi pada hari Senin ketika aku dan Hendra pergi ke dokter untuk memeriksakan kandunganku. Kedua orang tua kami ingin mengetahui keadaan cucu mereka. Kami memenuhi ruang praktik dokter dan mereka semua terharu mendengar detak jantung bayiku.
Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka semua. Mau bagaimana lagi? Semua orang sayang kepadanya dan ingin mengetahui semua perkembangannya. Ruangan itu kembali dipenuhi dengan sorakan bahagia saat dokter mengonfirmasi bahwa benar aku hamil dan usianya sudah tujuh minggu lebih.
“Mama, benarkah aku akan punya adik lagi?” tanya Hadi sambil meletakkan tangannya di perutku.
“Benar, sayang.” Kami baru saja selesai makan malam dan sedang bersantai di ruang keluarga. Hendra akhirnya memberitahu berita kehamilanku kepada kedua anak kami. Walaupun Dira belum paham benar, dia ikut senang bersama kami.
“Semoga adikku laki-laki supaya aku dan Colin punya teman bermain,” ucapnya penuh harap. Aku dan Hendra saling bertukar pandang. Dia mencium pelipisku, lalu memeluk kami berdua. Dira yang berada dalam pangkuannya tertawa kecil.
Hendra kembali bekerja dan Papa sudah bisa melanjutkan pensiunnya. Dia senang bisa menemani Mama lagi dalam proses pemulihannya. Mereka berhenti mempekerjakan perawat karena Papa sudah bisa fokus mendampingi Mama.
Mereka datang ke rumah setiap hari agar bisa menemani aku melakukan senam kehamilan. Anak-anak senang bisa ikut karena kakek mereka akan membawa mereka jalan-jalan di saat aku dan kedua mamaku mengikuti kelas.
“Ada apa, Ma?” tanyaku saat melihat Mama melihatku dengan intens dan keningnya berkerut. “Apa ada sesuatu pada wajahku?”
Sepulang dari kelas senam, kami makan siang bersama, kemudian duduk santai di ruang keluarga. Kedua papaku sedang bermain bersama kedua cucu mereka di atas karpet, sedangkan aku dan kedua mamaku duduk di sofa bersama. Kami menonton film drama di televisi, tetapi aku bisa merasakan Mama menatapku terus.
“Aku dari kemarin bertanya-tanya, dan pertanyaan ini tidak juga bisa aku temukan jawabannya,” kata Mama bingung.
“Pertanyaan apa, Anya?” tanya ibu mertuaku ingin tahu, sebelum aku sempat menanyakannya.
“Dira datang saat mereka hanya satu kali tidur bersama, jaraknya dengan Hadi juga cukup dekat. Hadi baru berusia dua tahun saat dia hamil lagi.” Mama menatapku dengan saksama. “Lalu pada kehamilan ketiga, mereka baru beberapa saat kembali bersama, Ara sudah hamil.” Mendengar namanya disebut, Ara menyalak senang.
Jantungku berdebar sedikit lebih cepat. Aku tahu ke mana arah pembicaraan ini. Dan sebelum Mama mengajukannya, aku sudah bisa menebak apa yang akan ditanyakannya. Hubunganku dengan ibu mertuaku baru saja pulih, apakah hubungan kami harus hancur lagi karena kebodohan yang aku lakukan di masa lalu? Bukan hanya ibu mertuaku, mamaku juga pasti akan kecewa berat.
...*******...
Sementara itu di sebuah ruang kerja yang sangat elegan dan mewah.
Gista membacakan jadwal kerja sepanjang hari itu untuk atasannya. Dia sesekali berhenti untuk mengulum senyum, berdehem, atau menarik napas panjang setiap kali tawanya akan meledak.
"Kamu sebaiknya kembali ke mejamu. Cukup kirim jadwal itu lewat surel, biar aku yang cek sendiri. Terlalu," ucap Hendra dengan kesal.
"Maafkan saya, Pak." Gista akhirnya tidak bisa menahan tawanya. "Tetapi saya tidak bisa menahan diri lagi. Bapak sungguh lucu dengan kepala botak."
__ADS_1
"Keluar!" seru Hendra.