Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 37 - Praduga


__ADS_3

Melihat tingkah istriku beberapa hari ini, sulit rasanya untuk percaya bahwa dia tidak mencintaiku. Dia begitu manja, tidak menolak sentuhanku, bahkan membalas ciumanku. Aku telah menyakitinya. Tetapi dia memaafkanku begitu mudah dan cepat. Sangat berbeda dengan kesalahanku yang aku lakukan ketika mencium wanita lain. Dia marah hingga bertahun-tahun.


Apa mungkin dia berubah sikap kepadaku karena kehamilannya? Menurut banyak buku para ahli yang aku baca, hormon wanita hamil membuatnya memiliki suasana hati yang tak terduga. Mungkin itu penyebabnya. Aku terlalu cepat menyimpulkan bahwa dia mungkin saja jatuh cinta kepadaku.


Zach ingin membicarakan sesuatu denganku, maka aku tidak segera kembali ke kantor. Akan lebih nyaman bagi kami untuk bicara sambil minum kopi. Aku suka temu janji dengannya karena dia selalu tepat waktu. Tidak seperti kebanyakan orang yang memperlakukan anggota keluarganya lebih kendor dalam hal menghargai waktu daripada terhadap rekan kerjanya.


“Kamu sudah memesan minumanmu?” tanyaku melihatnya berdiri menyambutku.


“Belum, aku baru saja sampai,” jawabnya. Kami berjalan menuju konter kasir dan memesan minuman serta makanan ringan kami masing-masing.


“Kakak baru menjenguk Mama dan menemui Kak Ara?” tanya Zach saat kami berdiri menunggu minuman kami selesai disiapkan.


“Iya. Kondisi Mama sudah baik dan dia meminta pulang hari ini.” Aku tertawa kecil.


“Begitulah Mama. Sifatnya itu menurun ke Kak Ara. Selalu saja merasa paling kuat dan tidak nyaman berada dalam keadaan lemah. Aku salut Kakak bisa tahan hidup dengannya.” Zach menggeleng pelan.


Kami membawa minuman dan makanan kami masing-masing ke meja, lalu duduk. Zach menuang gula serta krim sesuai seleranya. Aku lebih suka kopi hitam tanpa tambahan apa pun. “Kamu mengajakku bertemu bukan untuk membahas Mama dan Za. Ada apa?”


“Aku ingin berterima kasih. Pasti Kakak yang membantu mengatasi kasus yang aku ambil dengan ceroboh itu, ‘kan?” tanyanya retorik. “Pak Oscar memarahiku habis-habisan karena tidak konsultasi dahulu dengannya sebelum menjawab iya untuk mewakili mereka.”


“Kamu tergiur dengan uang yang mereka tawarkan. Itu reaksi yang normal.” Aku menghirup kopiku, lalu meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya. “Tapi jangan ulangi lagi. Kamu adalah penasihat hukum perusahaanku. Aku tidak mau mendengar kamu terlibat kasus yang serupa lagi. Aku mungkin tidak akan mau menolongmu untuk kedua kalinya.”

__ADS_1


“Aku hanya manusia biasa, Kak. Aku bisa khilaf,” katanya membela diri.


“Satu kali itu khilaf. Tidak untuk yang kedua kalinya, Zach.” Apa dia berencana untuk mengulangi kesalahan yang sama? Membantunya keluar dari kasus itu mengharuskan aku membayar sejumlah uang yang sangat banyak.


“Oke, oke. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi,” ucapnya berjanji. Jika dia tetap nekat mengulanginya, maka aku akan biarkan dia merasakan akibatnya sebelum menolongnya.


“Bagaimana dengan gadis itu? Sampai kapan kamu akan membiarkan dia mengejarmu?” tanyaku mengenai teman wanita yang dikenalnya sejak masih kuliah.


“Bisakah kita membahas topik yang lain saja?” ucapnya keberatan.


“Kamu tidak akan bisa menemukan wanita yang mencintaimu dengan sabar seperti dia. Jangan sampai ada laki-laki lain yang datang dan dia akhirnya berpaling hati karena kamu tidak memberi kepastian apa pun. Tetapi kalau kamu tidak keberatan dia bersama yang lain, aku bisa bilang apa.”


“Kak, kami dari latar belakang keluarga yang berbeda jauh,” katanya mengingatkan.


“Seharusnya aku tidak pernah mengatakan tentang dia kepadamu.” Zach menggumam sendiri.


“Kamu bisa berdiskusi dengan Za kalau itu bisa membuatmu merasa lebih baik,” ucapku penuh arti.


“Kak Ara, dia, wanita yang rumit. Aku tidak tahu apa yang telah mengubahnya menjadi seperti itu. Dia adalah gadis yang ceria, penuh semangat, selalu bersikap positif. Tetapi lihatlah dia sekarang. Dia berubah menjadi pemurung, pemarah, dan mudah curiga. Padahal Kakak sudah menjadi suami yang sangat baik untuknya.” Zach menggeleng pelan.


“Aku tidak bisa mendiskusikan apa pun dengannya yang sehubungan dengan asmara. Dia tidak akan bisa memberiku masukan yang aku butuhkan,” tambah Zach lagi.

__ADS_1


“Dia wanita yang pernah terluka. Setiap orang membutuhkan waktu yang berbeda-beda untuk pulih.” Aku mengangkat kedua bahuku.


“Kalau aku boleh tahu. Apa yang membuat Kakak begitu yakin untuk menikahinya? Kak Ara tidak mencintai Kakak sama sekali. Dia sudah punya pacar dan mereka berencana akan menikah,” tanya Zach ingin tahu. “Ng, Kakak tidak harus menjawabnya. Aku mengerti.”


“Kamu sudah tahu alasannya. Aku mencintainya dan aku yakin hanya aku yang bisa membuatnya bahagia. Bila pacarnya itu benar-benar mencintainya, dia pasti sudah lama menikahinya. Atau jika uang adalah masalahnya, setidaknya dia mengikatnya dalam sebuah pertunangan. Vivaldo tidak melakukan satu pun dari itu,” jawabku.


“Bukan hanya Kakak, aku juga kurang suka dengan laki-laki itu,” ucap Zach pelan. “Mereka sudah lama bersama tetapi dia tidak pernah datang memperkenalkan dirinya ke rumah.”


“Karena itu kamu harus belajar dari kesalahan yang dia lakukan. Jangan ulangi hal yang sama. Atau gadis itu akan pergi selamanya darimu.” Aku mengembalikan topik pembicaraan kami.


“Mengapa kita membahas ini lagi?” Dia melempar tangannya ke udara. Aku tersenyum melihatnya frustrasi begitu. “Baiklah. Aku dan dia sudah pacaran sejak minggu lalu. Apa Kakak puas sekarang?”


“Itu baru namanya laki-laki.” Aku merasa sangat bangga dia akhirnya memberanikan diri untuk maju mendekati wanita muda itu. “Kapan kamu akan menemui keluarganya?”


“Aku meminta waktu tiga bulan. Aku tidak punya perasaan apa pun kepadanya selain sayang. Aku belum mencintainya sebesar perasaannya kepadaku,” ucap Zach pelan.


“Masuk akal. Beritahu aku jika keluarganya memberimu kesulitan.” Aku kembali mengingatkannya bahwa aku ada untuknya.


Zach dan Za begitu mirip. Sepertinya sifat itu juga diturunkan dari Papa dan Mama. Mereka begitu sulit untuk jatuh cinta. Tetapi ketika mereka sudah mencintai seseorang, mereka mencintai sangat dalam. Itu sebabnya mereka akan sangat terluka jika dikhianati.


Aku tidak tahu persis apa yang menyebabkan istriku mau menikah denganku setelah dia menolakku mentah-mentah pada hari Sabtu sore itu. Kami tidak pernah membicarakannya. Aku juga tidak mau tahu alasan yang sebenarnya. Dia mau menikah denganku, itu sudah cukup.

__ADS_1


Namun melihat mantannya datang ke pernikahan kami dengan menggandeng seorang wanita, aku berasumsi bahwa perempuan itulah penyebab hubungan mereka hancur. Atau bisa jadi Vivaldo membawanya supaya tidak terlalu malu datang sendiri ke pernikahan mantannya. Entahlah. Aku tidak tahu apa yang sudah dilakukan laki-laki itu sehingga hubungan mereka berakhir.


Tetapi apa yang membuat Za tetap mencintainya? Bila benar hatinya masih milik pria itu, mengapa aku sering merasakan bahwa dia menyukai apa yang kami lakukan di tempat tidur? Apakah mungkin dia bisa bercinta tanpa melibatkan perasaannya sama sekali?


__ADS_2