Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 183 - Itu Komitmen Kamu


__ADS_3

Dia mencium bibirku yang tentu saja segera aku sambut dengan senang. Kecupan singkat itu sebentar saja berubah menjadi ciuman yang intens. Aku ingin melingkarkan tanganku di lehernya, dia memegang kedua pergelangan tanganku dan menekannya ke pintu sehingga aku tidak bisa menyentuhnya. Dia tahu bahwa aku benci tidak bisa menyentuhnya saat sedang berciuman begini. Tetapi aku membiarkan dia menang.


“Ini bukan bicara namanya.” Aku tertawa geli saat dia mencium pipiku. Dia menjauhkan dirinya sesaat agar bisa melihat wajahku. Jantungku berdebar semakin cepat menanti apa yang selanjutnya akan dia lakukan.


“Kamu pikir ini lucu, ya. Kalau bukan karena komitmen kita berdua, kamu tidak akan aku biarkan turun dari tempat tidur sampai besok pagi. Makan pun tidak boleh,” geramnya.


“Itu bukan komitmen kita. Itu komitmen kamu. Aku tidak keberatan bercinta denganmu sekarang.” Aku mendekatkan wajahku untuk menciumnya kembali, dia menjauh.


“Lama-lama aku bisa mati karena mengkhawatirkan kamu. Kamu pergi menemui Mama tanpa izinku sekali lagi, aku akan mengikat kaki dan tanganmu di tempat tidur sebelum pergi kerja. Dan aku akan membebaskan kamu setelah aku pulang,” ancamnya.


“Kamu tidak akan berani.” Aku tersenyum menantangnya.


“Kamu bebas untuk mencobanya.” Dia menarik aku menjauh dari pintu, lalu membukanya. “Aku masih punya pekerjaan dan pertemuan penting malam ini. Aku akan pulang terlambat. Jangan tunggu aku.” Dia mencium bibirku begitu lama, lalu melepaskan pelukannya. Aku tertawa kecil. Dia hanya menggeleng pelan.


“Aku mencintaimu, sayang,” kataku saat dia membuka pintu.


“Dan aku selalu mencintaimu.” Dia memberiku ciuman jarak jauh, lalu menutup pintu kamar. Aku menangkap ciumannya itu dengan kedua tanganku, kemudian mendekatkannya ke bibirku. Aku tersenyum bahagia. Tunggu sebentar.


Menyadari apa yang baru saja dia lakukan, membuat aku menginginkan dia lalu meninggalkan aku begitu saja, aku menggeram kesal. Mengapa aku tidak memahami maksudnya tadi? Dan dia akan pulang larut? Ukh. Mengesalkan sekali. Mengapa puasa ini masih lama berakhirnya?


Karena Hendra tidak pulang untuk makan malam, maka aku mengajak Will dan Colin untuk makan bersama kami. Pria itu selalu datang beberapa menit sebelum suamiku pulang, jadi tidak apa-apa sesekali makan lebih cepat dari biasanya.


“Aku turut sedih dengan apa yang terjadi pada konferensi pers beberapa yang lalu, Zahara,” kata Will bersimpati. “Ayah Hendra kelihatannya orang baik. Sulit dipercaya bahwa dia akan sanggup melakukan itu kepada istrinya. Apalagi melihat Hendra yang cinta mati kepadamu, aku yakin bahwa ayahnya juga demikian.”


“Terima kasih, Will. Kamu tidak percaya dengan berita bohong itu saja sudah cukup.” Aku tersenyum kepadanya. “Aku melihat kamu bicara cukup akrab dengan Mason. Apa kalian berteman?”


“Tidak. Aku hanya rindu rumah, jadi mendengar dia menceritakan kehidupan di sana bisa sedikit mengobati rasa rinduku,” jawabnya.


“Mengapa kamu tidak pulang saja ke sana? Bukankah sebentar lagi liburan musim panas?” tanyaku. Dia menggeleng pelan.

__ADS_1


“Musim panas sama saja dengan tidak pulang, Zahara. Rasanya sama seperti berada di sini. Mungkin kami akan pulang pada musim gugur nanti dan merayakan Thanksgiving bersama keluarga di sana. Aku belum memutuskan apa pun.” Dia menggeleng pelan.


“Kamu punya berapa saudara?” tanyaku ingin tahu.


“Hanya seorang kakak perempuan. Kedua orang tuaku pasti senang bisa melihat Colin yang sudah tumbuh besar. Mereka melihatnya terakhir kali saat masih berusia dua tahun.” Dia membersihkan mulut dengan serbet pertanda dia sudah selesai makan. “Jadi, Zahara. Apa kamu sudah punya calon istri untukku? Ada yang kamu lihat cocok denganku?”


“Aku tidak punya teman yang masih sendiri, Will. Bukankah aku sudah pernah mengatakan itu kepadamu?” Aku berterima kasih kepada Yuyun yang mengangkat Dira dari tempat duduknya untuk mencuci tangan dan mulutnya di wastafel. Dia mengangkat kedua alisnya. “Ada apa?”


“Gista masih sendiri.” Dia berdehem pelan. Aku tertegun sejenak.


“Kamu menyukai gadis itu?” tanyaku tidak percaya.


“Apa kamu tidak melihat betapa cantiknya dia membawa acara ulang tahun pernikahan kalian? Dia ramah juga cerdas. Aku yakin dia bisa menjadi ibu yang baik untuk Colin,” katanya penuh percaya diri. Sepertinya dia jatuh cinta pada pandangan pertama.


“Wow, Will. Ng, aku tidak yakin dia sudah siap untuk menikah. Dia baru saja memulai karirnya, dia pasti masih ingin fokus dengan pekerjaannya,” kataku pelan. Dia memutar bola matanya.


“Hendra tidak konservatif. Aku masih bekerja walaupun di rumah,” kataku membela suamiku.


“Ah, iya. Aku lupa. Kamu seorang penulis.”


“Jadi, apa yang bisa aku bantu?” tanyaku setelah kami duduk di sofa dan anak-anak bermain di atas karpet bersama Ara, tidak jauh dari kami.


“Bagaimana caranya supaya aku bisa bertemu dengannya lagi?”


“Will, kamu salah memilih teman bicara. Seharusnya kamu membahas ini dengan suamiku.”


“Kamu tahu sendiri bagaimana dia. Dia hanya akan mengabaikan aku dan menyuruh aku untuk memikirkan sendiri bagaimana menyelesaikan masalahku. Dia itu teman yang egois.” Will melemparkan tangannya dengan frustrasi ke udara. Aku tertawa kecil.


“Kamu serius menginginkan gadis ini?”

__ADS_1


“Aku penasaran, oke? Dia adalah gadis pertama yang berhasil membuat aku memikirkan tentang menikah lagi. Dia juga terlihat baik kepada anak-anak. Jadi, dia adalah paket lengkap. Aku mohon, Zahara. Aku akan memberikan apa pun yang kamu mau asalkan kamu memberi jalan bagiku untuk bisa bertemu dan bicara dengannya.” Iya, dia serius dengan Gista.


“Aku tidak yakin bahwa aku bisa ….”


“Hendra pasti akan mendengarkan apa pun yang kamu katakan. Dia juga akan melakukan apa saja untuk kamu. Aku mohon.”


Bagaimana caranya bicara dengan Hendra tanpa membuat dia curiga bahwa aku dan Will tidak sedekat itu? Pria itu hanya meminta bantuanku bukan berarti kami adalah teman dekat. Hendra sangat ketat dalam urusan yang satu ini. Aku tidak boleh berteman dengan laki-laki.


Will hanya membuat aku berada dalam masalah saja. Pengobatan Mama belum berjalan, masalah isu hubungan ayah dan anak antara Gista dan Papa juga belum selesai, sekarang aku mendapat tugas untuk memenuhi permintaan seorang teman.


“Tidak.” Nah, benar, ‘kan? Hendra sama sekali tidak mau membantu agar Will bisa dekat dengan sekretarisnya. “Pantas saja pagi ini kamu bangun cepat dan mau joging tanpa paksaan.”


“Apa kamu tidak suka melihat Colin akhirnya punya seorang ibu? Dia tidak perlu merasa sedih lagi setiap kali melihat kedekatanku dengan Hadi atau Dira.” Aku berusaha untuk membujuknya. “Sayang, Will adalah temanmu. Dia sudah membantu kita mengenai pendidikan Hadi. Apa salahnya bila kita juga membantu dia menemukan belahan jiwanya?”


“Gista baru tiga bulan bekerja untukku. Dia melewati masa percobaan dengan mulus, aku tidak mau asmara merusak kinerjanya yang sempurna. Kita tidak tahu apakah Will pria yang baik atau tidak dalam urusan cinta. Bagaimana kalau nanti dia membuat sekretarisku patah hati? Aku kehilangan Sherry karena urusan perasaan. Aku tidak mau kehilangan Gista juga.”


“Mengapa aku merasa kedua wanita itu lebih penting bagimu daripada aku?” Entah mengapa, tetapi caranya menyebut nama Sherry dan Gista membuatku sedikit merasa cemburu.


“Tolong, Za, aku lelah dengan drama.” Dia melepaskan pelukannya, aku menahan kedua tangannya itu. Hadi dan Dira sedang menghabiskan Sabtu bersama Zach dan keluarganya di taman bermain. Jadi, kami hanya berdua saja di ruang keluarga. Menonton film sambil duduk berpelukan.


“Baiklah. Baik. Kita tidak akan membahas Will atau orang lain lagi.” Aku mengalah.


“Kita hanya akan menonton dan bersantai,” katanya menambahkan. Aku mengangguk setuju. Bunyi benda bergetar di atas meja menarik perhatian kami. Ponsel yang layarnya menyala adalah milik Hendra. Dia mengambil benda tersebut dan membaca nama pada layar. Papa.


“Ya, Pa?” jawab Hendra dengan santai. Dia kemudian menegakkan duduknya. “Baik, aku segera ke sana. Papa dan Mama baik-baik saja, ‘kan? Baik.”


“Ada apa, sayang?” tanyaku khawatir. Dia berdiri dan memasukkan ponsel itu ke dalam saku kausnya. Dia mengambil kunci mobil yang ada di dalam kotak khusus di atas bufet, lalu melangkah cepat, keluar dari ruang keluarga.


“Papa Gista datang melabrak Papa dan memintanya untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Papa sudah menjelaskan bahwa tidak ada hubungan di antara dia dan mama Gista. Tetapi pria itu tidak percaya. Keadaan di luar kendali karena Mama histeris.”

__ADS_1


__ADS_2