
“Apakah proyekmu dengan Xavier yang membuatmu begitu bahagia?” tanyaku ingin tahu. Hendra menatapku sesaat. Dia seperti sedang mencari sesuatu pada wajahku. “Ada apa?”
“Tidak apa-apa. Bagaimana pertemuan dengan teman-temanmu tadi? Lindsey memberikan apa untukmu?” tanyanya sambil mengajakku berjalan mendekati tangga.
Aku memberitahu apa saja yang kami lakukan dan bicarakan saat berada di rumah Lindsey. Aku menunjukkan langsung kepadanya oleh-oleh yang diberikan sahabatku untukku saat kami sudah ada di dalam kamar. Sebuah tas mahal dan sepatu bermerek terkenal.
Hendra mandi lebih dahulu dan aku mempersilakan Yuyun dan Liando yang membawa vas bunga dan koper masuk ke kamar. Aku meletakkan vas bunga di atas bufet, sedangkan Liando meletakkan koper suamiku di kamar. Aku mempersilakan mereka untuk beristirahat.
Ketika suamiku selesai mandi, aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajah dan menyikat gigi. Sampai saat ini semuanya lancar dan baik-baik saja. Aku dan Hendra akan baik-baik saja. Setelah mengenakan krim malam, aku keluar dari kamar mandi. Hendra sedang duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel berada di dekat telinganya. Dari kalimat berbahasa Inggris yang diucapkannya, sepertinya dia sedang bicara dengan Xavier.
Dia memegang tanganku, menahanku berjalan ke sisi tempat tidurku. Aku menurut saat dia menarik tanganku untuk mendekatinya. Ponsel yang tadi dipegangnya, diletakkannya di atas nakas. Dia melingkarkan kedua tangannya di tubuhku lalu meletakkan kepalanya di dadaku.
“Aku merindukan kalian berdua,” katanya pelan. Aku tersenyum mendengarnya.
“Kami juga merindukanmu,” ucapku membalasnya.
Meskipun dia baru saja melakukan penerbangan yang panjang, Hendra tidak mengambil cuti dan langsung kembali bekerja pada pagi itu. Aku tidak membujuknya karena tidak akan ada gunanya. Bila dia sudah memutuskan mengenai sesuatu, dia akan melaksanakannya apa pun rintangannya.
Sepulang kerja, dia menjemputku di rumah dan kami bersama menemui dokter untuk memeriksa kandunganku. Janin dalam rahimku sudah berusia sembilan minggu. Dia sehat, aku juga. Dokter tidak mengabulkan permintaan Hendra untuk melakukan ultrasonografi karena sudah dilakukan pada bulan sebelumnya.
Aku menanyakan mengenai kemungkinan melakukan perjalanan dengan pesawat. Dokter memberi izin karena kondisiku dan kandunganku sehat. Aku tersenyum bahagia mendengarnya. Aku bisa menghadiri pernikahan putri Darla dan berlibur bersama teman-temanku.
“Kamu senang sekali bisa berlibur bersama ketiga sahabatmu. Saat berlibur bersamaku, wajahmu tidak sebahagia ini,” ucap Hendra pura-pura kecewa. Aku menatapnya tidak percaya.
“Kamu serius dengan apa yang baru saja kamu ucapkan? Kamu tidak pernah merajuk sebelumnya.” tanyaku heran. Dia memajukan bibir bawahnya.
__ADS_1
“Mengapa? Apa hanya perempuan yang boleh merajuk?” katanya lagi. Aku tertawa melihatnya. Aku melingkarkan tanganku di pinggangnya, lalu berjinjit mencium pipinya. Dia membulatkan matanya. Aku hanya tertawa melihatnya.
“Aku lapar. Ayo, kita pulang. Yuyun sudah memasakkan makanan yang enak untuk kita semua.” Aku menarik tangannya agar mempercepat langkahnya. Dia melepaskan genggaman tangannya agar bisa merangkulku, lalu mencium pelipisku.
Hendra sangat ketat dalam memberi izin mengenai caraku berpakaian. Jadi, aku tidak bisa memakai celana pendek atau pakaian tanpa lengan di depan umum. Walaupun kami akan banyak berada di pantai, dia tidak mengizinkan aku untuk membawa pakaian renang.
Setelah perdebatan panjang memilih pakaian yang boleh aku kenakan, akhirnya koper kami pun terisi penuh dengan baju yang akan kami butuhkan selama berada di Bali. Mengepak koper adalah pekerjaan yang lebih berat daripada menulis blog. Biasanya dia tidak seketat ini. Mungkin karena para suami sahabatku juga ikut berlibur, maka dia menjadi lebih berhati-hati.
“Zahara! Sini, sini!” panggil Lindsey dan Qiana. Aku dan Hendra berjalan mendekati mereka. Aku terpaksa mengurangi kecepatan langkahku saat suamiku menarik tanganku yang ada dalam genggamannya. Padahal aku tidak akan apa-apa jika berjalan sedikit lebih cepat.
“Mana tanda pengenal kalian? Darla akan mengurus semuanya.” Lindsey mengulurkan tangannya. Aku membuka tas dan mengeluarkan tanda pengenalku dan Hendra.
Kami mengikuti seorang pria yang berpakaian seragam maskapai yang akan kami tumpangi menuju executive lounge. Putri Darla yang sangat cantik sudah berada di sana dengan tunangannya. Kami saling menyapa sebelum mengambil tempat duduk kami masing-masing.
“Mengapa koper yang kamu bawa hanya satu, Zahara? Apakah kalian tidak membawa pakaian ganti?” tanya Qiana heran. “Aku dan teman-teman membawa masing-masing dua koper.”
“Kamu tidak membawa sepatu atau tas?” tanya Lindsey bingung. Aku mengangkat tas tangan yang aku bawa. Mereka tertawa kecil.
“Kamu benar-benar orang yang praktis,” ucap Qiana. “Aku tidak akan bisa menjadi sepertimu. Aku sudah mencoba, tetapi aku tetap saja memasukkan beberapa sepatu dan tas ke koperku.”
“Sepatu dan koper yang bahkan tidak akan kamu pakai selama berada di sana,” ujar Darla menimpali. Kami menoleh ke arahnya. Lalu tertawa bersama. Dia dan suaminya duduk di kursi yang kosong.
Percakapan kami terhenti sesaat ketika seorang wanita datang dan meletakkan minuman untuk kami di atas meja. Hendra berdiri setelah membisikkan bahwa dia akan mengambilkan makanan untukku. Syukurlah. Aku memang sudah lapar lagi.
“Bagaimana dengan persiapan pernikahannya, Darla? Apakah semuanya sudah beres?” tanyaku. Dia menganggukkan kepalanya, lalu mendesah lega.
__ADS_1
“Aku sudah tidak perlu menyiapkan apa pun lagi. Berikutnya, semua hal akan ditangani langsung oleh event organizer,” katanya puas.
“Aku perlu belajar banyak darimu, Darla. Sesaat lagi, aku juga harus mempersiapkan pernikahan putraku. Untung saja kami melakukannya di Jakarta. Aku tidak bisa membayangkan bila harus mempersiapkan pernikahan di luar kota.” Lindsey menggeleng pelan.
“Kamu tidak perlu mengurus semuanya sendiri, Ma. Kita bisa menyerahkan segalanya kepada event organizer,” ucap Edu memberi usul.
“Tetap akan ada detail yang harus kamu tangani sendiri, Edu. Bukan hanya istriku, aku pun punya tugas juga dalam mempersiapkan pernikahan putriku.” Gio menepuk punggung Edu. Wajah Edu seketika itu juga berubah pucat.
“Aku tidak suka mengurus persiapan pernikahan, Gio. Itu urusan perempuan,” ujar Edu keberatan. Kami tertawa mendengarnya.
“Nanti juga kamu akan mengalami sendiri apa yang aku katakan tadi. Kalau kamu ada pertanyaan mengenai apa pun, aku siap untuk membantumu.” Gio menawarkan diri.
Begitu pesawat lepas landas, aku tidur dengan pulas. Jadi, aku tidak tahu apa saja yang terjadi atau yang dibicarakan oleh teman-temanku. Aku terbangun karena perutku terasa tidak nyaman. Hendra memanggil pramugari dan meminta buku menu. Karena kami akan segera mendarat, aku hanya memesan satu porsi makanan.
Hotel di mana kami menginap juga tempat dilaksanakannya pernikahan berada di dekat pantai. Kami tinggal berjalan beberapa langkah dan kaki kami akan menyentuh pasir putih. Benar-benar tempat yang indah! Keluarga pihak laki-laki sudah tiba lebih dahulu. Kami saling berkenalan dan aku merasa tidak enak karena secepat aku mendengar nama mereka, secepat itu juga aku sudah melupakannya.
Kami ke kamar untuk membersihkan diri dan berganti pakaian untuk bisa mengikuti acara makan malam bersama. Kedua keluarga berbincang akrab dan saling berlomba memberi nasihat kepada kedua pengantin. Aku dan teman-teman yang lain sibuk dengan makanan kami masing-masing. Suasana laut yang sejuk menambah selera makan kami.
Usai makan, kami satu-persatu kembali ke kamar. Karena kamar kami berada di lantai yang sama, aku dan teman-temanku masih berada di dalam elevator ketika tamu lain sudah keluar di lantai sebelumnya. Kami berpisah di depan elevator. Aku dan suamiku berjalan bersama Darla dan suaminya karena kamar kami berada di koridor yang sama.
Dari arah depan kami, muncul seorang gadis yang berjalan dengan cepat sambil meletakkan tangan di depan mulutnya. Saat dia sudah dekat, aku segera mengenalinya. Dafhina, putri Darla. Lalu dari arah belakangnya, menyusul seorang pria yang aku kenali sebagai tunangannya.
“Sayang?” tanya Darla heran melihat ekspresi wajah putrinya. Dia sedang menangis.
“Mama!” Gadis itu segera memeluk Darla.
__ADS_1
“Ada apa, Nak? Apa yang terjadi?” tanya Darla bingung.
“Aku tidak mau menikah. Biar dia menikah dengan sahabat baiknya yang sempurna tanpa dosa itu. Aku sudah bilang bahwa aku tidak mau temannya datang ke pernikahan kami, tetapi dia tetap saja mengundangnya. Aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang lebih mencintai sahabatnya, Ma.”