Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 204 - Objektif


__ADS_3

“Niatmu terlalu kelihatan, sayang. Jangan terlalu antusias membantu Will bisa dekat dengan Gista. Itu akan memengaruhi penilaianmu secara objektif,” ucap Hendra saat kami bersiap untuk tidur.


“Penilaian apa? Aku tahu bahwa Will adalah pria yang baik. Itu terbukti dari Colin yang tumbuh menjadi anak yang baik juga. Gista beruntung mendapatkan calon suami seperti dia. Dan, sayang,” aku menoleh ke arahnya. “Bisa jadi Colin akan menjadi menantu kita. Dira sangat menyukainya.”


“Dia hanya menyukainya sebagai teman. Masih terlalu dini untuk menentukan bahwa kedekatan mereka akan berubah menjadi cinta. Sayang, mereka masih dua dan lima tahun!” ucap Hendra mengingatkan. Aku memutar bola mataku.


“Kamu tidak keberatan saat kita mendekatkan Hadi dan Clarissa, mengapa kamu tidak suka dengan kedekatan Dira dan Colin?” protesku.


“Will hanya pekerja kontrakan. Kita tidak tahu sampai kapan dia akan berada di sini. Bagaimana kalau dia memilih kembali ke negaranya? Apa kamu mau bertanggung jawab melihat putri kita patah hati?” katanya lagi, masih saja dengan nada pesimis.


“Saat Hadi sedih kehilangan Clarissa, aku tidak meninggalkan sisinya. Jadi, bila Dira mengalami hal yang sama, aku akan berada di sisinya melalui rasa sakit. Kamu jangan khawatir. Patah hati dan rasa sedih akan mendewasakan anak-anak kita dan membuat mereka menjadi lebih kuat.” Aku mencium pipinya agar tidak terus memasang wajah cemberut.


“Kamu memuji Will sebagai ayah yang baik. Kamu tidak pernah memujiku begitu.” Ooo. Jadi itu sebabnya dia cemberut begini.


“Apa kamu masih perlu mendengar aku mengatakannya? Bukankah pelukan dan ciuman yang aku berikan sudah mengatakan dengan jelas kekagumanku kepadamu?” Aku mendekat untuk mencium pipinya. “Kamu ayah yang hebat, suami impian semua wanita, anak kebanggaan orang tuamu, dan menantu idaman papa dan mamaku.” Setiap kali aku memujinya, aku memberinya satu ciuman.


“Terima kasih, sayang.” Dia tersenyum, memeluk tubuhku, lalu berputar hingga punggungku menyentuh ranjang dan dia setengah berbaring di atasku.


“Tidak. Jangan lakukan ini, Hendra!” Aku marah tetapi tidak bisa menghentikan tawa yang keluar dari mulutku. Aku memang suka bermesraan dengannya, tetapi tidak sekarang. Aku benci setiap kali aku sedang menginginkannya, kami tidak bisa melangkah lebih jauh.


Karena Ara sedang manja dan sama sekali tidak mau jauh dari sisiku, maka aku membawanya saat kami berkunjung ke rumah Papa dan Mama. Dia melompat-lompat senang saat Papa menyambut kami di teras. Kami mengobrol sesaat di ruang keluarga sebelum menuju ruang makan.

__ADS_1


Seperti biasa, aku menemani Mama usai meminum obatnya. Sudah dua minggu sejak operasi, Mama masih terlihat bersemangat. Aku harap semangat itu tidak akan pernah padam. Mamaku dahulu sering mengeluh karena Papa melarangnya melakukan semua hal yang dia suka. Cukup lama juga Mama bisa menerima bahwa dirinya tidak sekuat dahulu lagi pascaoperasi pemasangan cincin.


Berbeda dengan ibu mertuaku yang masih bersemangat dan niatnya untuk segera pulih yang tidak tergoyahkan. Aku justru khawatir melihatnya. Dia tidak mungkin sekuat ini. Dia baru saja kehilangan hal yang sangat berharga. Melihatnya sedikit frustrasi lebih membuat aku tenang daripada melihat wajah bahagianya.


Pintu kamar diketuk pada saat kami sudah selesai senam. Mama kembali duduk di tempat tidurnya. Aku menyusun bantal di punggungnya agar dia bisa bersandar dengan nyaman. Mama mempersilakan masuk. Seorang pelayan membuka pintu.


“Nyonya, Dokter Gerhard sudah datang,” ucap pelayan tersebut. Mama mempersilakan masuk. Pelayan itu sedikit bergeser agar pria itu bisa masuk.


“Selamat siang, Dokter. Maaf, aku sudah merepotkanmu,” sambut Mama dengan ramah. Aku berdiri saat pria itu berjalan mendekati tepi tempat tidur.


“Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah mengatakan bahwa Ibu bisa menghubungi saya kapan pun Ibu butuh bantuan.” Gerhard duduk di tepi tempat tidur dan mengeluarkan peralatan dari tas yang dibawanya. “Jadi, apa keluhan Ibu?”


Mama mengatakan bahwa tangan kirinya sedikit kebas dan dada kirinya terasa nyeri. Pria itu segera memeriksa dada Mama menggunakan stetoskop, memeriksa tekanan darahnya, lalu gula darahnya. Dia tidak menemukan adanya masalah.


“Berkurang, Dok. Hanya nyeri tidak terlalu sakit,” kata Mama. Mendengar jawaban itu, aku tahu bahwa Mama sengaja memanggil dokter ini ke rumah. Gerhard datang pada saat aku sedang di sini adalah pertanda bahwa Mama serius ingin mendekatkan aku dengannya.


“Bila tidak ada lagi yang bisa saya bantu, saya pamit, Bu. Saya perlu ke rumah sakit kedua untuk mengurus pasien saya yang lain.” Gerhard berdiri setelah merapikan peralatan yang dibawanya.


“Terima kasih banyak, Dokter.” Mama tersenyum, lalu menoleh ke arahku. “Aku akan beristirahat. Tolong, antar Dokter Gerhard ke bawah, Zahara.” Aku menurut.


Aku membukakan pintu dan mempersilakan dokter itu keluar lebih dahulu. Kami menyusuri koridor bersama. Aku tidak merasa punya kewajiban untuk bersikap ramah kepadanya, jadi aku hanya diam saja. Lagi pula Mama yang membutuhkan kehadirannya, bukan aku.

__ADS_1


“Kamu tidak ingin menanyakan sesuatu mengenai cara merawat Ibu Naava?” tanya Gerhard saat kami berbelok menuju tangga.


“Tidak. Aku sudah mendapat semua instruksi yang aku butuhkan dari Dokter Rahmad.” Itu adalah dokter bedah Mama. “Terima kasih.”


Dia menatap wajahku dengan saksama. “Kamu kelihatannya tidak suka dengan kedatanganku. Apa ada masalah antara kamu dengan ibu mertuamu? Kamu tidak suka dia mengundang aku datang?”


“Gerhard, jaga sikapmu. Aku sudah menikah. Aku tidak membutuhkan seorang pria lain yang datang mendekat dan berpikir bahwa dia punya kesempatan untuk bersamaku.” Vivaldo dan Dicky sudah cukup membawa drama dalam rumah tanggaku. Tidak lagi.


“Hei, aku tidak bermaksud jahat. Hanya bertanya sebagai seorang teman,” ujarnya membela diri.


“Seorang teman tidak akan berwajah bahagia seperti melihat kekasihnya berdiri di hadapannya. Kamu tidak akan suka berurusan dengan suamiku, jadi hentikan apa pun yang sedang kamu rasakan untukku,” kataku dengan tegas. Dia mendengus pelan.


“Kamu berlebihan. Aku tidak punya perasaan khusus untukmu.” Suaranya terdengar aneh karena dia berusaha menyembunyikan antusiasmenya bisa dekat denganku.


“Kalau begitu, hati-hati saat bersikap. Jangan sampai ada yang salah paham,” kataku tidak mau memperpanjang masalah. Dia memegang lenganku, menghalangi aku untuk menuruni tangga. Aku terpaksa menghentikan langkahku.


“Sebentar. Apa kamu pikir aku suka kepadamu? Itu jugakah yang dipikirkan oleh Ibu Naava? Hanya karena aku bersikap ramah kepadamu? Zahara, kalian salah paham.” Dia tertawa kecil. “Aku seorang dokter, wajar saja bila aku bersikap ramah kepada semua orang.”


“Bagus kalau kamu tidak punya perasaan khusus untukku. Semuanya sudah jelas sekarang. Jadi, tolong, berlatihlah untuk berekspresi dengan benar.” Aku menepis tangannya yang masih berada di lenganku. Mulutnya bisa berbohong, tetapi tidak dengan matanya.


Aku kembali menuruni tangga. Sayup-sayup aku mendengar salakan anjing. Apa Papa dan Dira sedang bersama Ara di ruang keluarga? Aku sudah tidak sabar untuk bergabung bersama mereka. Tidak mendengar langkah kakinya, aku menoleh ke arah dokter itu. Dia masih berdiri di anak tangga tempat kami berhenti tadi.

__ADS_1


Dia sedang menatap aku dengan tatapan mata yang paling aku benci. “Ekspresi ini tidak aku buat-buat. Kamu perlu tahu satu hal. Kamu adalah ….”


Suara salakan anjing terdengar semakin besar ketika pintu ruang keluarga terbuka lebar. Ara melesat begitu cepat ke arahku. Ada apa dengannya? Dia hanya bersikap begini ketika aku tinggalkan di rumah seharian. Dia malah berbelok menaiki tangga. Tidak. Dia berlari dengan kencang ke arah Gerhard. “Ara, jangan …!”


__ADS_2