Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 220 - Ancaman


__ADS_3

~Hendra~


Hilang sudah kesempatanku untuk bermesraan dengan istriku. Dia memasang wajah marah dan aku tidak bisa membujuknya dengan ciuman dan pelukanku. Dia bahkan melarang aku memeluknya saat kami tidur. Jadi, aku menunggu sampai dia pulas agar bisa merasakan dia ada di dekatku.


Perempuan lain lagi, perempuan lain lagi. Aku bosan memberitahu semua orang bahwa aku sudah menikah dan tidak tertarik punya selingkuhan. Kalau laki-laki di luar sana suka menyimpan wanita lain untuk sekadar menjadi pemuas nafsunya, aku tidak. Zahara saja sudah cukup bagiku.


Sebelum aku menikah dengannya, aku tidak pernah dekat apalagi memberi harapan kepada wanita mana pun. Lalu apa yang dipikirkan perempuan itu sehingga menggoda aku pada setiap kesempatan? Aku sangat bersyukur aku tidaklah tampan, tetapi entah mengapa kekurangan fisikku tidak menjadi penghalang lagi bagi mereka untuk mendekat.


Tidak peduli semalam dia merajuk, pada pagi hari saat dia membantu aku memasang dasi, aku menciumnya sampai kami berdua kesulitan bernapas. Aku ingin memberitahu dia bahwa tidak akan ada perempuan lain yang berhasil mengambil aku dari sisinya.


“Aku tidak mau ada rahasia lagi,” ucapnya dengan wajah cemberut. Aku tersenyum.


“Iya, sayang.” Aku mencium keningnya, lalu menggandeng tangannya. “Ayo, sudah saatnya kita sarapan. Anak-anak juga pasti sudah lapar.”


“Aku sudah mengantar mereka ke ruang makan sebelum membantumu memasang dasi.” Kami menuruni tangga bersama. “Jangan lupa kosongkan jadwalmu pada hari Jumat pagi. Kita akan ke sekolah Hadi dan mendengar laporannya selama belajar di sana.”


“Tidak terasa dia akan naik ke tingkat selanjutnya. TK B?” tanyaku. Za mengiyakannya. “Lalu dua tahun lagi giliran Dira yang masuk TK A. Anak-anak memang cepat sekali tumbuh besar.”


Sepanjang pagi itu, aku harus membaca tumpukan proposal dari setiap departemen yang telah diperiksa dan disetujui oleh setiap manajer. Beberapa aku setujui, beberapa lagi perlu diperbaiki. Aku menekan salah satu tombol pada interkom dan meminta Gista untuk datang.


Pintu ruanganku diketuk, aku mempersilakan masuk. Aku memintanya untuk mengurus setiap proposal yang sudah aku periksa. Dia mengambil tumpukan map tersebut, lalu keluar dari ruanganku. Selanjutnya, aku perlu memeriksa proposal yang datang dari luar perusahaanku.


Ajakan untuk melakukan sebuah kerja sama bisnis, permohonan bantuan dana dari organisasi sosial, bahkan permintaan bantuan proyek dari pemerintah setempat dikirim ke kantorku. Aku hanya mau bekerja sama dengan mereka yang satu bidang denganku atau yang menawarkan ruangan untuk membuka gerai baru. Permohonan bantuan dana biasanya tidak aku gubris karena itu adalah tugas Mama. Aku mengabaikan proposal bantuan proyek.

__ADS_1


Menjelang siang, Gista mengingatkan aku mengenai janji makan siang bersama kolegaku. Biasanya mereka membicarakan kerja sama bisnis juga, jadi aku mengajak Gista untuk ikut bersamaku. Aku membutuhkan seseorang yang bisa menjadi notulis.


Pelayan yang menyambut kami mengantar kami ke salah satu ruangan. Saat dia membuka pintu, aku tidak menyangka bahwa ada orang lain yang juga diundang. Aku menoleh ke arah dua kolegaku.


“Kami bertemu Keva di pintu masuk. Karena dia datang sendiri, kami pikir tidak akan ada masalah bila dia ikut makan bersama kita.” Aku melihat temanku memasang wajah tidak enak. “Maafkan aku. Apa kami telah melakukan kesalahan?” Aku tidak menjawab.


Ruangan itu terdiri dari meja dengan empat kursi. Karena tiga kursi sudah diduduki, maka aku mempersilakan Gista untuk duduk. Aku tahu wanita itu sengaja mengosongkan kursi di sampingnya. Aku melihat ke arah pelayan dan meminta agar dia mengambil satu kursi lagi.


Acara makan siang itu terasa canggung, namun aku tidak peduli. Kami berjanji untuk makan siang bertiga, mereka malah mengundang orang lain yang tidak ada hubungannya dengan kami. Syukurlah aku membawa Gista datang bersamaku. Jadi, aku bisa terhindar dari drama dengan istriku malam nanti. Karena aku sudah pasti tidak bisa menyembunyikan pertemuan ini darinya.


“Kalian pasti sudah mendapatkan proposal proyek berikutnya dari gubernur. Bagaimana tanggapan kalian?” tanya Keva mengalihkan topik pembicaraan. Kedua temanku menoleh ke arahku.


“Kami biasanya menunggu respons Hendra. Bila proyek ini bisa dipercaya dan menguntungkan provinsi kita, mengapa tidak? Kami akan ikut memberikan dana.”


“Mengapa tergantung pada respons Hendra? Kalian tidak punya pendapat sendiri?” tanya Keva ingin tahu. Kedua pria itu lagi-lagi menoleh ke arahku.


“Kalau begitu, aku mau tahu. Apa penilaian kamu terhadap proyek baru itu, Hendra? Itu bisa jadi pertimbangan aku juga untuk memutuskan akan membantu atau tidak.”


“Kamu sudah selesai makan, Gista?” Aku melihat ke arah piring sekretarisku itu. Dia mengangguk sambil menjawab iya. “Aku dan Gista pamit lebih dahulu. Kami ada pertemuan siang ini, jadi aku tidak mau terlambat. Ini bagianku.” Aku meletakkan beberapa lembar uang berwarna merah di atas meja. Kedua temanku mengangguk merasa bersalah.


“Ada apa denganmu, Hendra? Mengapa kamu membuat semua orang merasa tidak enak?” kata Keva. “Bila kamu tidak suka aku makan di sini bersama kalian, mengapa kamu tidak terus terang saja? Lagi pula apa salahnya jika aku bergabung? Apa kalian punya percakapan rahasia? Kalau iya, teman-temanmu pasti sudah melarang aku untuk makan di sini dari awal.”


“Sampai nanti, teman-teman.”  Aku tersenyum kepada kedua kolegaku. Mereka mengangguk.

__ADS_1


Gista berjalan lebih dahulu untuk membukakan pintu, aku mencegahnya. Sejak kapan aku membiarkan perempuan yang membukakan pintu untukku? Kafin sudah menunggu di pintu depan. Aku membuka pintu dan mempersilakan sekretarisku masuk lebih dahulu.


“Hendra,” panggil seseorang dari arah restoran. Apa lagi yang dia inginkan? “Aku mengerti kamu menolak aku saat aku sudah bertunangan dengan laki-laki lain. Tetapi aku sudah sendiri sekarang. Mengapa kamu tidak memberi aku kesempatan?” Apa dia serius dengan pertanyaannya itu?


“Maaf, Bu Keva. Pak Mahendra sudah menikah. Ibu Zahara Aprilia adalah istri Bapak dan mereka sudah punya dua orang anak,” kata Gista menjawab pertanyaannya. Keva mengangkat tangannya agar Gista tidak bicara, tetapi sekretarisku tidak peduli.


“Aku tidak bicara denganmu.” Dia melihat ke arahku. “Apa kamu tidak salah dalam merekrut orang? Mengapa kamu membiarkan sekretarismu bersikap tidak sopan?”


“Kamu yang sedang bersikap tidak sopan. Aku tidak mau bicara denganmu, kamu masih saja memaksa. Aku tahu apa yang kamu lakukan kepada teman-temanku tadi. Kamu pasti memanipulasi mereka sehingga mereka terpaksa menerima kamu untuk makan bersama kami,” kataku.


“Aku tidak memanipulasi siapa pun, Hendra. Kamu bisa tanya sendiri kepada mereka,” tantangnya.


“Masuk, Gista,” perintahku kepada sekretarisku. Dia menurut dan masuk ke mobil.


“Apa yang dia miliki yang tidak aku miliki? Perempuan itu hanya anak orang miskin yang sama sekali tidak punya tempat di kelas kita. Aku jauh lebih baik darinya, Hendra. Kita adalah pasangan yang serasi. Apa kamu tidak bisa melihat itu? Tinggalkan dia dan menikahlah denganku. Kita bisa membangun usaha kita berdua pada puncak kesuksesannya bersama,” ucap Keva membujukku.


“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan anak-anakmu. Kita bisa membesarkan mereka bersama. Valeria pasti senang punya dua saudara. Aku sangat mencintaimu, Hendra. Beri aku kesempatan untuk membahagiakan kamu,” katanya yang membuat aku mual. Dia sudah gila.


“Aku hanya mencintai Za.” Aku masuk ke mobil dan menutup pintunya.


“Lihat saja, Hendra! Aku pasti akan menikah denganmu. Jika aku tidak bisa memiliki kamu, maka perempuan itu juga tidak! Kamu dengar itu?” Dia menepuk-nepuk jendela mobilku dengan kedua tangannya. Teriakannya tidak terdengar setelah Kafin mengendarai mobil menjauh dari restoran.


“Wow,” gumam Gista. “Saingan Ibu Zahara memang berat-berat, ya. Pertama Ibu Nora, sekarang Ibu Keva. Mereka kaya raya, cantik, dan pantang menyerah.”

__ADS_1


“Apa kamu mau aku pecat sekarang juga?” tanyaku dengan nada tajam.


“Ah, tidak, Pak. Jangan. Maafkan saya. Hanya bercanda, Pak.” Dia meringis menunjukkan giginya kepadaku. Aku menggeleng pelan melihat tingkahnya. “Tetapi Bapak tidak bisa menganggap angin lalu ancamannya tadi. Bapak dan Ibu harus berhati-hati.”


__ADS_2