Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 16 - Hari Istimewa


__ADS_3

Bunyi air dari kamar mandi menarikku ke alam sadar, aku membuka mata dengan malas. Aku melihat ke sisi tempat tidur yang kosong di sisi kiriku lalu ke arah jam kecil di atas nakas. Jam lima pagi. Aku mengerang pelan dan bangun dari tempat tidur.


Setelah menyiapkan pakaian kerja suamiku, Hendra muncul di ambang pintu ruang pakaian kami. Dia menciumku lalu aku menuju kamar mandi. Beberapa menit kemudian, aku keluar dan suamiku telah menungguku dengan sabar.


Mengerti apa yang harus aku lakukan, aku mendekat dan memasang simpul pada dasinya. Dia tersenyum kepadaku. Aku mengangkat kepala dan membalas senyumnya. Dari semua hal yang bisa dia lakukan, satu-satunya yang dia serahkan kepadaku adalah memasang dasi.


Pada awalnya aku berpikir bahwa dia tidak bisa melakukannya sendiri. Belakangan aku mengerti. Dia tidak memiliki dasi yang tinggal pasang, semuanya dasi yang harus disimpulkan sendiri. Itu artinya dia bisa menyimpul dasi. Dia hanya ingin memiliki satu hal di mana dia bisa bergantung kepadaku.


Hendra adalah pria yang sangat mandiri. Aku tidak pernah berkewajiban melakukan apa pun untuk melayaninya, dia bisa melakukan semuanya sendiri. Kadang-kadang saja aku memilihkan pakaian kerjanya meskipun dia tidak pernah memintaku untuk melakukannya. Memasang dasi adalah hal yang sepele, tetapi baginya merupakan hal yang intim.


“Nanti malam pakai gaun putihmu yang aku beli di Paris dan kalung berlian yang aku berikan kepadamu kemarin.”


Dia menyeka rambut yang menutupi pipiku.


“Untuk apa?” tanyaku tanpa menghentikan gerakan tanganku yang merapikan kemejanya setelah selesai memasang dasinya.


“Apa kamu lupa hari ini hari apa?” Dia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku, lalu mendekatkan tubuh kami. Aku mengerutkan kening.


“Hari Rabu,” jawabku pelan. Dia tertawa kecil. Aku semakin mengerutkan kening, tidak mengerti dengan apa yang ingin dia sampaikan.


“Hari ulang tahun pernikahan kita, sayang. Hari ini kita genap menikah selama enam tahun,” ucap Hendra dengan nada bahagia. Aku tersenyum lalu menelengkan kepalaku.


“Lalu apa hubungannya dengan memakai gaun putih?” tanyaku heran.

__ADS_1


“Kita akan makan malam di restoran kesukaanmu untuk merayakan ulang tahun pernikahan kita,” jawabnya sambil mencium ujung hidungku. Itu tawaran yang menggiurkan.


“Tapi, Hendra, semalam kita baru saja merayakan hari ulang tahunku. Mengapa kita tidak rayakan di rumah saja?” Aku mendesah pelan. Setelah perayaan ulang tahunku semalam, hari ini aku benar-benar tidak mau keluar rumah.


“Setelah semalam para pembantu kita bekerja keras untuk menyiapkan perayaan ulang tahunmu, aku ingin memberi mereka istirahat lebih cepat malam ini.” Dia tersenyum. Oh. Kalau alasannya itu, aku bisa bilang apa lagi? Aku juga ingin memberi mereka waktu untuk beristirahat.


“Baiklah.” Aku tersentuh mendengarnya. “Jam berapa kita jumpa di restoran?”


“Aku akan menjemputmu di rumah,” jawabnya. Aku mengangguk setuju. “Terima kasih sudah membuatku bahagia selama enam tahun ini, cinta.” Dia menunduk agar bisa mengecup bibirku.


“Kamu juga sudah membuatku bahagia, Hendra,” ucapku pelan. Memang aku tidak mencintainya, tetapi dia telah membuatku bahagia dengan cintanya.


Begitu Papa menyampaikan kepada Hendra bahwa aku bersedia menikah dengannya enam tahun yang lalu, keluarga besar Hendra tidak membuang-buang waktu. Mereka menyewa event organizer terbaik di kota kami untuk menyiapkan segala yang dibutuhkan dalam pernikahan tersebut.


Di tengah-tengah kesibukannya dengan pekerjaan, Hendra menyempatkan diri untuk menemuiku agar kami bisa


saling mengenal. Kami memilih rumah beserta perabotannya bersama. Aku bahkan dipersilakan memilih mobil untuk diriku sendiri.


Perjalanan bulan madu juga kami pilih bersama, tetapi Hendra menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadaku. Bila sebelumnya aku begitu antusias ingin berjalan-jalan keliling Eropa, ketika hal itu sudah berada di depan mata, aku tidak bahagia sama sekali.


Pemberkatan pernikahan kami berlangsung dengan sakral di gereja di mana Hendra dan keluarganya menjadi jemaat tetap. Hanya keluarga dan sahabat yang menghadirinya. Resepsi pernikahan juga berjalan dengan lancar. Ribuan tamu yang hadir sebagian besar adalah kenalan keluarga Hendra. Aku baru pertama kali itu bertemu langsung dengan orang-orang penting dan terkenal di negeri ini pada hari yang sama.


Sejak sore hari di mana aku melihat Aldo mencium wanita lain, sejak itu pula aku tidak mau bertemu dengannya. Terluka dengan pengkhianatannya, aku membalas dengan tidak memberinya penjelasan apa pun mengenai berakhirnya hubungan kami. Dia bahkan menjadi orang pertama yang menerima undangan pernikahanku.

__ADS_1


Tentu saja dia memilih datang ke resepsi pernikahanku dengan membawa wanita yang diciumnya itu. Karena suamiku menyambut ucapan selamat mereka dengan wajah bahagia, aku juga melakukan hal yang sama. Aku tidak akan membiarkan Aldo dan wanita selingkuhannya merasa menang telah berhasil melukaiku.


Pada keesokan sorenya, kami berangkat untuk berbulan madu. Tujuan pertama kami adalah Paris. Hendra ingin menikmati malam pertama kami di kota yang disebut banyak orang sebagai lambang romantisisme itu. Aku


menyerahkan diriku dengan terpaksa kepada pria yang tidak aku cintai sama sekali. Walaupun dia tidak menyakitiku, aku menangis usai berhubungan intim, sedangkan dia tertidur pulas di sisiku.


Aku sangat menyesali keputusan yang aku ambil. Memutuskan untuk menikah dengan Hendra tanpa berpikir panjang lebih dahulu telah membuat hidupku menderita. Itu adalah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Dan aku tidak pernah mau mengulangnya lagi.


Aku tidak akan pernah mengambil sebuah keputusan besar dalam keadaan marah atau sedih. Dan sampai saat ini aku tidak pernah melakukannya lagi. Hasil dari sebuah keputusan yang diambil dalam keadaan emosional dan terburu-buru telah mendatangkan penyesalan besar dalam hidupku. Aku tidak bisa mengubahnya karena Hendra tidak akan pernah menceraikanku. Selamanya aku akan berada di dalam pernikahan tanpa cinta.


“Oh, iya. Hampir saja aku lupa.” Dia menghentikan langkahnya di dekat pintu. “Papa dan Mama mengajak kita makan siang untuk merayakan hari pernikahan kita. Tidak perlu merepotkan para pembantu, kita bisa makan di luar saja, di restoran dekat kantorku. Apakah kamu bisa bergabung bersama kami?”


“Papa dan mamamu atau aku?” tanyaku memastikan karena kami memanggil kedua orang tua kami dengan sapaan yang sama.


“Orang tuaku.” Dia tertawa kecil. Aku tersenyum.


“Tentu saja,” jawabku setuju. Pada siang hari ini, aku tidak ada janji dengan siapa pun. Biasanya hanya makan siang bersama ketiga sahabatku, dan itu bukan hari ini.


“Kamu mau aku jemput?” ucapnya menawarkan diri. Aku menggelengkan kepala.


“Tidak perlu. Aku bisa datang sendiri. Lagi pula hari ini aku ada janji dengan salon.”


“Berarti beres.” Senyumnya mengembang.

__ADS_1


__ADS_2