Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 206 - Kencan Ganda


__ADS_3

“Apa dokter itu melakukan sesuatu yang membuat kamu merasa marah atau takut? Apa ada emosi yang sama yang kamu rasakan seperti saat Vivaldo mengancam akan membunuhmu?” tanya Hendra. Aku mengingat-ingat apa yang aku rasakan siang tadi.


“Mungkin aku sedikit kesal. Gerhard tadi masuk ke kamar Mama untuk memeriksa keadaannya. Matanya berbinar bahagia saat melihat aku. Jadi, aku mengingatkan dia untuk tidak melakukan hal itu lagi.” Kalau aku tidak salah ingat, pada saat itulah aku mendengar salakan Ara pertama kali. “Aku sudah punya banyak masalah karena Vivaldo dan Dicky. Aku tidak mau hal yang sama terjadi lagi.”


“Golden Retriever bisa mengenali emosi manusia dengan baik. Ara sangat menyayangi kamu dan kita semua. Dia sudah membuktikannya dengan menolong kamu saat Vivaldo menyakiti kamu. Dia melakukan itu karena merasakan emosi kita semua yang sedang marah sekaligus ketakutan. Aku mengurung dia di ruang keluarga, tetapi dia berhasil keluar sendiri.


“Syukurlah aku tidak mengunci pintu, hanya menutupnya saja. Ternyata dia bisa membukanya sendiri. Jadi, hal yang sama yang mendorong dia segera berlari mendekati kamu untuk melindungi kamu, sayang. Karena itu sekali lagi, Ara baik-baik saja.”


“Apa itu tidak berbahaya untuknya? Bagaimana kalau suatu hari nanti dia menggigit orang, lalu dia dipaksa untuk disuntik mati?” tanyaku khawatir.


“Dia tidak akan menyakiti orang yang tidak bersalah. Jangan khawatir.” Hendra memeluk tubuhku. “Ayo, tidur. Aku punya banyak pekerjaan dan pertemuan besok.”


Hari Sabtu tiba, kami berkunjung ke rumah orang tuaku. Anak-anak akan merasa lebih nyaman berada di rumah mereka pada malam hari daripada kami tinggalkan bersama para pelayan. Malam ini kami akan makan bersama Gista dan Will.


Mama menanyakan kondisi ibu mertuaku, aku memberitahu perkembangan terakhirnya. Sayang sekali kami belum bisa membawa Papa dan Mama menemui mereka. Aku khawatir ibu mertuaku tidak akan suka melihat orang tuaku menjenguknya. Aku tahu bahwa Papa tidak akan keberatan karena hubungan kami sudah baik-baik saja. Mama yang belum juga memaafkan aku.


Will datang tepat pada pukul lima sore. Colin segera bergabung bersama Hadi dan Dira yang sedang bermain di atas karpet. Kami pamit kepada Papa dan Mama untuk pergi makan malam bersama. Rumah Gista tidak jauh jaraknya dari rumah orang tuaku. Tetapi dia menolak untuk dijemput di rumah, jadi dia menunggu kami di salah satu halte.

__ADS_1


Aku dan Hendra duduk di depan, maka Will bisa berdua saja dengan Gista duduk di jok belakang. Will banyak bicara mengenai kekagumannya kepada Gista dan rencana yang akan dilakukan saat bersamanya. Mereka kini duduk bersama tetapi dia hanya diam saja. Aku dan suamiku saling bertukar pandang penuh arti.


Kami berhenti di salah satu restoran terdekat agar tidak bergelut terlalu lama di jalan. Hendra menggandeng tanganku saat kami berjalan dari tempat parkir menuju tempat makan tersebut. Restoran itu cukup terkenal juga karena hanya ada beberapa meja yang masih kosong. Padahal belum tepat jam tujuh malam.


Pelayan mengantar kami ke meja untuk empat orang. Aku dan Hendra duduk berdampingan sehingga Will dan Gista terpaksa duduk bersebelahan di depan kami. Aku memerhatikan gerak-gerik Gista. Sepertinya dia tidak keberatan duduk bersama Will. Dia malah bersikap santai memilih makanan bersama pria itu.


Will yang tampan dan Gista yang cantik benar-benar pasangan yang serasi secara fisik. Semoga saja mereka juga cocok secara emosi. Hendra berdehem pelan menarik perhatianku. Aku menoleh dan tersenyum melihat wajah cemberutnya.


“Apa kamu lupa bahwa kamu sedang kencan dengan suamimu?” bisiknya. “Apa aku harus bersaing dengan Will untuk mendapatkan perhatianmu?”


“Kamu mau makan apa, sayang? Menu ikannya terlihat enak, apa kamu mau coba? Atau kamu mau udang? Oh, cumi-cumi ini kelihatannya enak.” Aku membuka-buka buku menu di depan kami. Dia menatapku tidak percaya. “Ada apa?” Aku pura-pura tidak mengerti.


“Maafkan aku, sayang. Aku sejenak lupa bahwa kita sedang puasa.” Aku memasang wajah merasa tidak bersalah. Dia mendekatkan wajahnya.


“Apa aku perlu menghukummu sebelum tidur, sayang? Hm? Itukah yang kamu inginkan?” Napasnya menggelitik pipiku. Aku tertawa kecil. Sebuah deheman menarik perhatian kami.


“Semoga kalian tidak lupa bahwa bukan hanya kalian berdua yang ada di meja ini.” Will menatap aku dan Hendra secara bergantian. Gista yang duduk di sisinya tertawa kecil.

__ADS_1


Hendra mendehem pelan. “Apa kalian sudah siap untuk memesan?” Dia mengangkat tangannya agar seorang pelayan datang mencatat pesanan kami.


Aku dan suamiku memutuskan untuk memesan paket daging ayam lengkap dengan nasi dan sayur. Dia menggeleng pelan pasti karena mengingat usulku untuk makan masakan hasil laut. Menunggu makanan datang, aku ingin membersihkan tangan sejenak di kamar mandi. Gista ikut bersamaku. Padahal aku berencana meninggalkan dia bersama Will.


Melihat tidak ada orang di dalam toilet, aku mendekati wastafel untuk mencuci tangan. Aku memerhatikan penampilanku di cermin. Masih rapi. Gista ikut membersihkan tangannya di sisiku. Dia tersenyum bahagia. Jenis senyum yang tidak pernah aku lihat sebelumnya di wajahnya.


“Ada apa, Gista? Apa yang membuat kamu begitu bahagia?” tanyaku dengan nada santai, tidak ingin memberi kesan bahwa aku sangat penasaran ingin tahu jawabannya.


“Saya teringat dengan perdebatan saya dengan kakak saya, Bu.” Dia berjalan ke mesin pengering, lalu meletakkan tangannya di bagian bawah benda tersebut. “Saya selalu bermimpi bahwa suatu hari nanti saya akan menikah dengan orang asing. Kakak menertawai impian saya itu. Menurutnya, hal itu mustahil karena saya tidak punya kenalan orang asing.”


Oh, Tuhan. Aku berusaha sangat keras untuk menyembunyikan senyum penuh kemenanganku. Gista ingin menikah dengan orang asing? Ini adalah berita yang sangat baik! Apa itu artinya Will punya peluang besar untuk mendapatkan hatinya?


“Tidak ada hal yang benar-benar mustahil di dunia ini kalau kita mau berusaha, Gista.” Aku mengedipkan mataku ke arahnya. Gadis itu tertawa kecil. “Tetapi apa kamu bahagia begini karena Will atau kamu sedang memikirkan pria asing yang lain?” Mendadak nyaliku menjadi ciut. Aku lupa bahwa belum tentu senyum itu ditujukan untuk pria itu.


“Ibu jangan menyebut namanya terlalu keras. Kalau dia sampai mendengar ini, dia akan berpikir bahwa saya bukan gadis baik-baik.” Dia menoleh ke arah pintu, khawatir ada yang mendengarkan percakapan kami. “Dia seorang duda. Sekian lama hidup sendiri, dia pasti sangat mencintai istrinya. Saya tidak yakin pria seperti dia akan tertarik dengan wanita seperti saya.”


Aku benar-benar harus menahan diri untuk tidak tertawa bahagia dan melompat-lompat di tempat mendengar pernyataannya itu. “Gista, umur kalian terpaut cukup jauh. Sepuluh tahun. Apa kamu yakin itu tidak masalah untukmu?”

__ADS_1


“Menikah dengan pria yang lebih tua justru lebih baik, Bu. Seperti Ibu dengan Pak Mahendra. Saya berharap bisa dimanja oleh suami.” Dia tersipu malu.


“Jarak usiaku dan Hendra tidak sejauh itu. Hanya berbeda dua tahun saja. Lagi pula apa kamu mau meninggalkan tanah airmu andai dia harus kembali ke negaranya nanti? Kamu siap untuk terpisah jauh dari keluargamu andai dia memboyong kamu ke Amerika setelah kalian menikah?” Aduh. Aku keceplosan. Melihat dia mendadak terdiam, aku menelan ludah dengan berat.


__ADS_2