
Kami tidak sarapan di hotel, Hendra sudah memesan dua porsi roti isi dan minuman hangat untuk kami bawa. Kami menikmatinya di dalam mobil menuju Pelabuhan Ulee Lheue. Perjalanannya tidak lama, hanya sekitar dua puluh menit. Namun cukup bagi kami untuk menghabiskan sarapan sambil berbincang santai dengan sopir mengenai hal-hal yang perlu kami ketahui tentang kota ini.
Keramaian yang kami saksikan di pelabuhan bukanlah hal yang mengejutkan karena hari ini adalah akhir pekan. Tempat yang akan kami kunjungi adalah obyek wisata yang sedang populer belakangan ini. Hal yang menguntungkan dari bepergian ke tempat populer adalah kemudahan dalam menuju tempat wisata tersebut.
Ada banyak agen wisata yang siap membantu para wisatawan menikmati liburan mereka. Dan aku yakin, asisten Hendra sudah menyiapkan semuanya agar perjalanan kami ini pun lancar seperti perjalanan wisata yang sudah kami lakukan sebelumnya.
Hampir dua jam berada di kapal, kami akhirnya tiba di Pelabuhan Balohan. Aku tidak bisa berkata-kata melihat birunya langit serta biru dan kehijau-hijauannya laut yang memesona. Indah sekali. Hendra hanya tertawa melihat ekspresiku itu. Dengan mobil yang sudah disiapkan untuk kami, sopir pun mengantar kami menuju tempat penginapan berikutnya.
Aku tidak berhenti-hentinya kagum melihat pemandangan indah dari kaca mobil. Sopir tersebut dengan ramah memberikan jawaban atas setiap pertanyaan yang aku lontarkan setiap kali melihat hal-hal yang ada di sekitar kami. Aku tidak bertanya ke penginapan yang mana dia akan mengantar kami karena aku menyukai kejutan. Hendra selalu tahu memilih lokasi dan tempat yang terbaik.
Karena itu aku terperangah melihat tempat di mana kami akan bermalam. Dan pemandangan dari balkon kamar adalah yang terbaik. Aku bergegas menuju teras dan menikmati angin laut yang mulai hangat dengan pemandangan biru yang memanjakan mata. Aku sudah tidak sabar untuk melakukan apa pun untuk menjelajahi keindahan alam di tempat ini.
“Wow. Tempat ini indah sekali, Hen,” ucapku begitu merasakan dia berdiri di sisiku.
“Tidak seindah wanita dalam pelukanku,” godanya. Dia memelukku dari belakang. Aku tersenyum merasakan napasnya di leherku.
“Apa yang akan kita lakukan hari ini?” tanyaku tidak sabar.
__ADS_1
“Apa kamu suka menyelam?” Dia balik bertanya. Itu pertanyaan retorik, dia tahu bahwa aku suka melihat pemandangan di dalam laut. Aku membulatkan mata tidak percaya.
“Kita akan melihat terumbu karang? Ayo, aku sudah tidak sabar.” Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Ingin segera berada di tepi pantai dan mengenakan pakaian menyelam untuk segera menikmati pemandangan di dalam laut. Tetapi aku terpaksa menghentikan langkah ketika Hendra menangkap tanganku dan membawaku ikut bersamanya.
“Sabar, sayang. Jika kamu berlarian seperti itu, kamu bisa saja tersandung,” ucapnya sambil tertawa menggodaku. Tetapi aku tidak peduli, aku setengah menarik tangannya, mengajaknya segera keluar dari kamar. Kami tidak punya banyak waktu, dan aku ingin menggunakan setiap detiknya dengan baik. Dia hanya tertawa sambil mengikuti langkahku.
Kami membutuhkan waktu lebih dari satu jam mulai dari perjalanan menuju pantai, menyewa pakaian menyelam, menyewa perahu, hingga tiba di lokasi menyelam. Ini bukan pengalaman pertama bagiku juga Hendra, jadi kami tahu bagaimana menggunakan tabung oksigen dan bernapas selama berada di dalam laut.
Aku tersenyum penuh arti melihat ada seorang pria yang memegang kamera dan merekam semua kegiatan kami sejak tiba di pantai. Semoga saja hasil rekaman videonya bagus. Aku tidak akan bosan-bosannya melihat pemandangan indah di bawah laut yang serba biru itu dihiasi dengan kumpulan ikan-ikan kecil yang berenang bersama dengan terumbu karang yang berada di dasar laut.
Hendra tidak berenang terlalu dekat atau terlalu jauh dariku. Dia memberiku ruang untuk menikmati pemandangan dan menyelam ke mana saja yang menarik perhatianku. Setiap kali aku menoleh ke arahnya, dia selalu siap untuk datang mendekat dan menanyakan apa yang aku butuhkan. Kadang-kadang aku bertanya, apakah dia tidak ingin menikmati pemandangan juga? Mengapa setiap kali kami berlibur, dia selalu bersikap seperti penjagaku?
Kami berjalan-jalan di tepi pantai setelah menghabiskan makanan kami. Hendra hanya mengajakku membicarakan hal-hal ringan seputar keadaan di sekitar kami. Terasa sekali bahwa hari ini adalah akhir pekan dengan banyaknya pengunjung yang datang ke pantai. Aku ikut tertawa melihat anak-anak melintas di depan kami dengan tawa mereka.
“Aku bahagia melihatmu bahagia.” Hendra merapatkan tubuh kami lalu mencium pelipisku. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
Setelah menikmati matahari terbenam, kami kembali ke hotel. Hendra mempersilakan aku untuk mandi lebih dahulu. Aku menggunakan waktu sebanyak yang aku butuhkan untuk membersihkan diri. Tubuhku terasa lebih segar dan tentu saja perutku lapar. Namun aku harus menunggu suamiku membersihkan dirinya sebelum kami bisa turun menuju ruang makan.
__ADS_1
Dan aku teringat kepada Mama. Aku masih belum menemukan cara untuk mendapatkan uang. Tetapi jika terpaksa, sepertinya aku harus menggadaikan beberapa perhiasan pemberian Hendra. Uangnya akan lebih dari cukup untuk membiayai operasi Mama hingga pulih total dan menebus rumah agar mereka tidak perlu lagi memikirkan tagihan bulanannya.
Untuk membayar cicilan perhiasan, aku bisa menggunakan uang bulanan pemberian Hendra yang biasanya aku tolak. Dia tidak akan curiga jika aku mendadak menerima uang yang selama ini aku tolak. Dia pasti akan merasa senang karena berpikir bahwa aku akhirnya bisa menerimanya sebagai suamiku dan bersedia menerima perhatian yang diberikannya dalam bentuk uang.
Tidak, aku tidak bisa melakukan ini. Bagaimana kalau mereka tahu siapa aku? Dan bagaimana kalau Hendra sampai tahu? Aku hanya akan mempermalukan namanya. Mengapa menjadi istri orang terpandang itu sesulit ini? Mendengar bunyi pintu kamar mandi terbuka, aku memadamkan televisi dan berdiri. Suamiku tersenyum penuh arti lalu menggandeng tanganku.
Hendra tidak membawaku ke ruang makan yang tersedia di bagian dalam hotel tetapi ke luar. Sudah ada beberapa meja yang terisi oleh tamu hotel. Mereka semua terlihat sangat menikmati makanan mereka masing-masing. Untung saja aku mengenakan pakaian hangat di luar dress yang aku pakai. Angin malam yang bertiup di ruang makan balkon hotel itu pun tidak terlalu menggangguku.
Aku tidak bisa melihat keadaan pantai dengan laut dan langit birunya, tetapi mencium aroma dan merasakan anginnya sudah cukup. Hendra berhenti pada sebuah meja kosong yang berada paling ujung dan aku bisa mendengar bunyi air laut beradu dengan tiang penyangga balkon tersebut. Ini lokasi yang sempurna untuk menutup hari.
“Sepertinya kamu menyukai posisi meja kita,” ucap Hendra setengah menggodaku.
“Ini sempurna.”
“Aku tidak pernah habis pikir. Kamu menyukai semua tempat yang kita datangi. Apakah tidak ada tempat yang kurang kamu sukai di dunia ini?” tanyanya penasaran. Tentu saja ada. Tetapi aku tidak akan mungkin memberitahunya hal itu.
“Jika kamu mau berdebat mengenai apa yang lebih baik, berlibur ke gunung atau pantai, maka aku akan menjawab, aku suka keduanya. Orang-orang sering sekali membandingkan dua hal yang jelas-jelas berbeda. Mengapa tidak menikmati keduanya sebagaimana adanya? Pantai dengan pasir, matahari, dan lautnya yang indah, dan gunung dengan udara, tanah, dan pepohonannya yang hijau.”
__ADS_1
“Apakah kamu sedang memberiku sinyal bahwa tujuan kita yang berikutnya adalah pegunungan?” Dia memberiku buku menu yang segera aku tolak. Aku persilakan dia yang memilih menu makan malam kami. Dan tentu saja dia menolak. Aku harus memilih makananku sendiri.
“Tidak. Tujuan kita yang berikutnya akan aku pikirkan nanti. Dan tentu saja tidak dalam waktu dekat. Asisten pribadimu bisa marah besar kepadaku jika aku terlalu sering membawamu jauh darinya.” Aku pura-pura bergidik ngeri. Hendra tertawa terbahak-bahak.