Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 140 - Sekolah Baru


__ADS_3

Yang Hendra lakukan ini sangat berlebihan. Mereka tidak perlu mengatakan maaf kepada putra kami. Yang penting mereka mengakui kesalahan mereka dan memperlakukan Hadi dengan baik, itu sudah cukup. Tetapi melihat pria muda itu tersenyum kembali dan tidak menundukkan kepalanya lagi karena penolakan dan kata-kata jahat mereka, aku mengerti.


Hendra tidak peduli dengan perasaan atau harga diri orang lain. Yang ada di dalam pikirannya hanya mengembalikan harga diri putranya. Hadi tidak bersalah, maka tidak seharusnya dia menerima semua perlakuan dan ucapan kasar mereka yang sebenarnya mereka tujukan kepadaku.


Setelah orang terakhir keluar, Hendra mengurus kepindahan Hadi ke TK lain. Pegawai administrasi tidak mengatakan apa-apa dan mengurus segalanya kurang dari lima menit. Putra kami yang berjalan dengan kepala terangkat saat memasuki sekolah, mengangkat kepalanya lebih tinggi lagi ketika kami berjalan keluar.


“Apa kamu sedih harus pindah sekolah?” tanya Hendra saat kami sudah berada di dalam mobil.


“Sedih, Pa. Aku tidak bisa bertemu dengan teman-temanku lagi. Tapi aku tidak mau dekat dengan orang yang tidak mau dekat denganku,” jawabnya pelan.


“Bagaimana kalau kamu satu sekolah dengan Colin?” tanya Hendra setelah melirik sesaat ke arahku. Aku mengangguk setuju. Dia tahu apa yang terbaik untuk anak-anak.


“Benar, Pa?! Horeee …! Mau, Pa. Colin anak yang baik!” sorak Hadi. Dia memeluk Hendra lalu asyik bercerita mengenai hal-hal yang pernah dibahasnya dengan teman barunya itu.


Mulutku menganga lebar melihat bangunan besar itu. Berapa biaya sekolah di tempat semegah ini? Ada lapangan bola basket, voli, juga lintasan untuk lari dan bersepeda yang di bagian tengahnya adalah lapangan sepak bola. Entah fasilitas apa lagi yang ada di sekolah ini.


Petugas keamanannya sangat ramah membawa kami menuju ruang kepala sekolah. Dan aku semakin terkejut melihat siapa yang menyambut kami di sana. Pria itu tertawa terbahak-bahak dan mempersilakan kami duduk.


“Ka-kamu pemilik sekolah ini?” tanyaku tidak percaya.


“Aku hanya kepala sekolah. Bukan pemiliknya.” Will masih tertawa. Pasti wajahku terlihat lucu.


“Berhenti menggodai istriku. Cepat selesaikan urusan administrasinya. Aku harus ke kantor,” ucap Hendra tidak sabar. “Dan jangan lupa bonus yang kamu janjikan bila aku berhasil membawa satu murid untuk masuk ke sekolah ini.”


“Apa? Hendra, ini anakmu sendiri,” kata Will tidak percaya.


“Kamu tidak menyebutkan ada syarat dan ketentuan yang berlaku saat mengatakan itu. Aku datang bersama pengacaraku, apa perlu kita bicara hitam di atas putih?” kata Hendra mengancam.


“Oke, oke. Kamu perhitungan sekali dengan teman sendiri.” Will melihat ke arah Hadi. “Hadi, kamu akan diperlakukan dengan sangat baik di sini. Kamu akan punya banyak teman, termasuk Colin, guru yang siap mengajar, dan staf yang akan membantumu. Bila kamu ada masalah, segera lapor kepada guru, staf, kepadaku juga boleh. Sampaikan ke petugas keamanan agar dia mengantarmu ke sini.”

__ADS_1


“Kalau kamu segan, kamu harus melapor kepada orang tuamu. Jangan takut dengan siapa pun. Oke? Kalau ada yang nakal, langsung laporkan saja,” ucap Will dengan nada serius tetapi santai.


“Oke, Pak Lewis.” Hadi tersenyum bahagia.


“Anak pintar.” Will mengusap-usap kepalanya.


Kami mengikuti Will saat dia menunjukkan di mana ruang kelas Hadi. Ruangan itu terlihat nyaman dan menyenangkan dengan lemari yang berisi penuh mainan dan buku bacaan anak. Dindingnya dipenuhi lukisan binatang dan tumbuh-tumbuhan.


Jam belajar untuk kelasnya sudah usai, jadi dia baru bisa memulainya besok. Will menawarkan Hadi ikut bersamanya saat berangkat ke sekolah selama kami masih tinggal di apartemen. Dia bisa pulang bersama sopirnya seperti biasanya. Hendra menyetujui usulnya tersebut. Will menyebutkan sejumlah uang sebagai biaya pengantaran. Suamiku menatapnya dengan tajam. Will tertawa dan mengatakan bahwa dia hanya bercanda.


“Apa Colin ada di apartemennya seorang diri?” tanyaku menyadari aku tidak melihat putranya dari tadi. Will menggeleng pelan.


“Dia ada di tempat penitipan,” jawabnya. Aku menoleh kepada suamiku. Dia menatapku dan Will secara bergantian sebelum mendesah pelan, mengalah. Lalu dia menganggukkan kepalanya.


“Kalau kamu tidak keberatan, Colin bisa tinggal bersama kami sampai kamu selesai bekerja. Hadi dan Dira pasti senang punya teman bermain di rumah.” Aku menawarkan usul itu kepada Will. Pria itu membulatkan matanya.


“Kamu serius? Colin bisa bersama kalian sampai aku pulang kerja?” tanyanya tidak percaya. Aku dan Hendra serentak menganggukkan kepala. “Colin akan sangat senang. Dia menyukai Hadi.”


“Terima kasih. Walaupun ini untuk sementara, aku sangat berterima kasih.”


Wah. Aku tidak menduga segalanya akan beres secepat ini. Suamiku benar-benar tahu bagaimana menggunakan kekuatan yang dia miliki. Uang dan pengaruh. Aku biasanya hanya protes ke sekolah saja dan tidak terpikirkan untuk memeriksa rekaman CCTV mereka. Hendra justru berpikir lebih jauh dariku. Mungkin karena dia sudah terbiasa berurusan dengan hal seperti ini.


Hadi terlihat sangat bahagia sekarang. Berbeda sekali dengan eskpresinya sejak pulang dari sekolah lamanya pada hari sebelumnya. Dia pasti sudah tidak sabar untuk belajar dan bermain bersama Colin di sekolah barunya. Sampai-sampai senyuman menghiasi wajahnya terus.


“Ah, sayang. Aku hampir lupa. Kita tidak punya camilan, biji kopi, dan sebagainya karena belum belanja. Kabinet di apartemen kita kosong.” Kami hampir sampai di gedung apartemen.


“Iya juga. Kita pindah mendadak dan belum membeli apa pun. Aku akan meminta Liando datang dan menemani kalian ke supermarket.” Hendra mengeluarkan ponselnya dari sakunya.


“Tidak perlu. Kami bisa berbelanja di supermarket dekat apartemen. Hanya sebentar, sayang. Anak-anak pasti meminta camilan dan kita tidak punya apa pun.” Supermarket itu akan segera kami lewati.

__ADS_1


“Sayang,” kata Hendra keberatan.


“Tidak akan terjadi apa pun. Aku akan melapor ke bagian keamanan jika sesuatu yang buruk terjadi kepada kami.” Hendra terlihat sedang mempertimbangkan kalimatku tersebut.


“Kafin, belok ke kiri.” Dia memberi perintah kepada sopirnya.


“Terima kasih, sayang.” Aku menyentuh tangannya.


“Horeee …! Ma, aku mau keripik kentang!” sorak Hadi melihat tempat yang kami tuju.


“Kamu boleh membeli apa pun, tetapi kalau Mama bilang tidak, kamu harus menurut. Papa tidak ikut, jadi kamu harus menjaga Mama dan Dira, jangan menangis atau merengek di sana. Apa kamu mengerti?” ucap Hendra dengan nada serius.


“Mengerti, Pa.” Hadi memeluk papanya. Kami saling bertukar pandang penuh arti. Mulutnya berkata mengerti, tetapi segalanya bisa berubah di dalam nanti.


“Terima kasih banyak untuk hari ini, Pak,” ucapku ke Pak Oscar saat akan keluar dari mobil


“Terima kasih kembali, Bu.” Dia tersenyum kepadaku.


“Terima kasih, sayang. Hati-hati di jalan.” Aku membalas ciumannya. Dia menatapku sesaat.


“Segera hubungi aku saat kalian sudah di apartemen,” katanya. Aku mengangguk. “Masuklah.” Dia memberikan pegangan troli di mana Dira sudah duduk manis pada dudukan khusus balita yang ada di dekat pegangannya dan Hadi memegang sisi kanan troli. Kami melambaikan tangan kepadanya.


Kami melewati rak demi rak di bagian makanan ringan. Hadi dan Dira menunjuk makanan yang mereka inginkan. Aku hanya menuruti beberapa yang pasti akan mereka makan. Selebihnya aku tolak karena mereka tidak akan menyukai rasanya. Aku tertegun merasakan rèmäsan pada bokongku. Aku menoleh dan melihat seorang pria berjalan bersama seorang wanita di sisinya.


“Maaf.” Aku memanggilnya. Pria itu berjalan terus tidak mendengarkan aku. Tidak ada orang lain di belakangku, maka dia adalah satu-satunya tersangka. Tidak mungkin wanita itu pelakunya. Aku memutar troli dan mengejar mereka. “Maaf, Pak. Halo! Bapak yang memakai kaus hitam.”


Wanita itu menoleh melihat ke arah kaus suaminya, kemudian dia melihat ke arahku. Pria itu masih berpura-pura tidak mengerti. Mereka membalikkan badan dan sama-sama menatapku dengan bingung. Aku berjalan mendekat.


“Apa maksud Bapak melakukan itu tadi?” tanyaku menahan amarah. Dia memasang wajah lugu.

__ADS_1


“Melakukan apa?” tanyanya bingung. Aku tertawa tidak percaya.


“Bapak meremas bokong saya.”


__ADS_2