
“Aku tidak akan kembali kepadanya, bila itu yang kamu takutkan.” Hendra menatap kedua mataku dengan saksama saat aku mengucapkan kalimat itu. “Aku, Zahara Aprilia, sangat, sangat, sangat, sangaaat mencintaimu, Mahendra Satya Perkasa.” Dia tersenyum.
“Sekalipun ada yang berusaha memisahkan kita dan begitu yakin bahwa aku akan memohon agar dia kembali kepadaku, aku memilih mati daripada terpisah lagi darimu,” tambahku lagi.
“Jangan bicara sembarangan. Kamu tidak boleh mati.” Dia menatapku dengan tajam. Kemudian dia memicingkan matanya. “Hm. Aku jadi penasaran. Apa yang akan dia lakukan sehingga dia begitu percaya diri bahwa kamu akan memohon agar dia kembali kepadamu?”
“Aku tidak tahu.” Aku mengangkat kedua bahuku.
“Kamu saja tidak pernah memohon agar aku kembali kepadamu. Aku lagi, aku lagi yang memohon. Aku yang memohon agar kamu mau menerima cintaku. Aku yang memohon agar kamu mau menerima lamaranku. Aku juga yang memohon agar kamu mau kembali kepadaku.” Dia memasang wajah cemberut. Aku mengecup bibirnya itu.
“Sayang.” Aku memasang wajah memelas. “Jangan pergi lagi dari hidupku. Aku mohon, tetaplah di sisiku sampai akhir nanti. Cintai aku saja. Aku mohon, jangan sampai tergoda wanita lain. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu.” Dia tertawa. “Mengapa kamu malah tertawa?”
“Karena kamu sangat menggemaskan. Kamu belum pernah menurut begini. Biasanya ada saja bantahan yang kamu ucapkan setiap kali aku memintamu untuk melakukan sesuatu untukku.” Dia meletakkan salah satu tangannya di belakang kepalaku, kemudian memelukku dan mendorongku sampai kami berdua dalam posisi berbaring. Dia mencium bibirku saat aku memekik terkejut.
“Pelankan suaramu. Anak-anak bisa terbangun.” Dia menciumku lagi. “Aku lebih suka bermesraan denganmu daripada bicara.”
“Hendra, bagaimana kalau ada yang melihat kita?” tanyaku khawatir.
“Biar saja mereka melihat kita.”
Kami berempat menonton Hendra yang berusaha menyalakan api unggun. Dia melarang kami untuk ikut membantu. Aku mengejeknya karena aku pikir dia akan menggunakan cara yang keren untuk membuat api, ternyata hanya dengan menggunakan pemantik. Ngga menarik sama sekali.
Tidak terima dengan ledekanku itu, dia memelukku sampai aku terbaring di atas tikar. Aku segera tertawa menahan geli saat dia menyentuh bagian sensitif pada pinggangku. Anak-anak berpikir kami sedang bermain sehingga mereka ikut melakukan hal yang sama. Aku meminta ampun tetapi tidak ada yang peduli.
Aku menolong Dira meletakkan kentang yang ditusuk pada sebilah besi pada jarak yang cukup dari api. Dia memegang besi itu pada bagian pegangannya agar tidak terasa panas. Aku tersenyum melihat dia sangat konsentrasi menjaga agar kentangnya tidak gosong. Ara berdiri dengan resah, menunggu daging bagiannya matang.
__ADS_1
Hendra sudah meletakkan beberapa tusuk besi lainnya yang berisi berbagai makanan pada penyangganya sehingga kami tidak perlu memegangnya. Daging ayam, daging sapi, sayuran, dan umbi-umbian yang aromanya membuat perut kami semakin keroncongan. Kami serentak bersorak senang ketika dia menyatakan bahwa makanan kami sudah matang. Ara bahkan ikut menyalak.
“Enak, Pa.” Hadi menggigit paha ayam bakarnya dengan wajah bahagia.
“Enak!” ucap Dira tidak mau kalah. Dia kemudian menunjuk ke arah sebuah jagung. “Mau itu.”
“Boleh. Makan yang banyak, sayang.” Hendra meletakkan sebuah jagung bakar di atas piring putrinya. Dira mengucapkan terima kasih.
“Kita masih di sini besok, Pa?” tanya Hadi.
“Hanya sampai jam makan siang. Bahan makanan kita tidak cukup untuk satu malam lagi,” jawab Hendra. Hadi terlihat berpikir sejenak. Aku tersenyum melihatnya.
“Kita ambil bahan makanan lalu kembali ke sini lagi?” tanyanya.
“Oh, ya? Di mana, Pa? Apa kita akan berkemah lagi?” tanyanya penuh harap. Hendra tidak menjawab pertanyaannya itu, hanya memberinya sebuah petunjuk bahwa kami semua akan suka berada di tempat tersebut.
Dengan perut kenyang, kami duduk bersama menikmati kehangatan api unggun, mendengar bunyi hewan malam yang semakin nyaring, dan arus sungai yang semakin deras. Sepertinya hujan sedang turun di tempat yang lebih tinggi. Dira duduk di pangkuan papanya, sedangkan Hadi duduk di depanku sehingga aku bisa memeluknya dari belakang.
Hendra menyenandungkan nada sebuah lagu, lalu kami menyanyikannya bersama. Lagu anak-anak. Mulai dari “Cicak di Dinding”, “Sayang Semuanya”, “Burung Kakaktua”, “Pelangi”, yang kami nyanyikan satu-persatu. Dira menyukai lagu yang berjudul “Naik Delman” karena ada lirik lucu saat menyebut bunyi sepatu kuda. Kami sampai menyanyikannya beberapa kali.
“Aku telah kehilangan banyak momen dari pertumbuhan mereka berdua.” Hendra mengusap rambut Hadi yang tidur di sisinya. Kami sudah berbaring di dalam tenda, bersiap untuk tidur. Hadi dan Dira sudah terlelap setelah lelah bernyanyi bersama. Mereka berbaring di antara kami berdua.
“Kamu tidak akan kehilangan momen berikutnya.” Aku menyentuh tangannya. Dia tersenyum, lalu mencium punggung tanganku itu.
“Sayang sekali kita tidak sedang berada di kamar berdua saja.” Hendra menatapku penuh arti. Aku menggeleng pelan memahami maksudnya. “Hei, jangan salahkan aku. Aku hanya ingin membayar lima tahun tidak bisa dekat denganmu.”
__ADS_1
“Yang terjadi karena kesalahanmu sendiri.” Aku menjulurkan lidahku kepadanya.
“Kamu tidak boleh mengeluh besok malam. Aku akan membalas ejekanmu itu.” Dia memicingkan matanya. Aku tertawa kecil.
Hadi memanfaatkan hari terakhirnya berada di tempat ini dengan baik. Dia berenang sepuasnya, berlari-lari bersama Ara, juga bermain dengan adiknya. Aku membantu Hendra berkemas-kemas dan merapikan tenda kembali setelah kami selesai berenang.
Semua sisa bahan makanan yang ada dimasak dalam kuah kari yang tidak pedas. Kami memakan semuanya bersama dengan nasi yang ada pada piring kami masing-masing. Rasanya lezat sekali. Tetapi kami tidak bisa memberikan makanan itu untuk Ara, jadi dia harus puas dengan makanan khusus untuknya.
Perjalanan kembali ke vila terasa berbeda karena kami bernyanyi bersama. Tanpa terasa kami sudah sampai. Anak-anak segera berlari masuk ke rumah bersama Ara. Aku mengikuti mereka. Hendra hanya mau menerima bantuan dari pengurus rumah untuk menurunkan barang dari bagasi.
Pada malam harinya, kami duduk bersama di sofa sambil menonton televisi. Akhirnya anak-anak bisa juga duduk tenang setelah dari tadi begitu aktif bermain. Ara berjalan sempoyongan ke tempat tidur lucunya bersiap untuk tidur. Hendra memberikan Dira yang sudah lelap kepadaku, lalu dia membopong Hadi dan kami membawa mereka ke kamar mereka masing-masing.
Keluar dari kamarnya, aku melihat Hendra berjalan menuju konter dapur. Dia menawarkan minuman hangat yang tidak aku tolak. Aku berjalan menuju sofa dan mengganti saluran televisi. Melihat sesuatu yang tidak asing, aku kembali ke saluran yang aku lewati. Bukan video yang sedang diputar yang menarik perhatianku, tetapi fotoku dan Vivaldo yang terpampang berdampingan pada layar.
“Misteri kehidupan pernikahan Mahendra Perkasa dan mantan istrinya akhirnya terungkap. Setelah resmi bercerai pada tahun dua ribu sebelas yang lalu, tidak ada yang mengetahui dengan jelas alasan perceraian mereka. Namun sebuah video baru-baru ini menguak adanya perselingkuhan antara Zahara Aprilia dengan mantan kekasihnya di sebuah hotel bintang lima di Jakarta,” kata wanita pembawa berita tersebut.
“Belum ada pihak yang mau memberikan keterangan. Adhyana dan Naava Perkasa selaku orang tua Mahendra tidak mau memberi komentar, begitu juga dengan orang tua Zahara. Rumah kediaman Mahendra dan Zahara tidak menunjukkan adanya aktivitas dari kedua pasangan tersebut. Petugas keamanan menolak untuk menjawab pertanyaan wartawan perihal keberadaan mereka.”
“Berdasarkan keterangan yang kami dapatkan langsung dari bagian humas hotel di mana Zahara kedapatan menghabiskan malam dengan Vivaldo Chandra, rekaman CCTV itu benar berasal dari hotel mereka. Tetapi mereka membantah bahwa mereka yang menyebarluaskannya. Mereka sudah siap dengan bukti yang lengkap andai ada yang menuntut di kemudian hari.”
“Satya Perkasa Grup akan merayakan ulang tahun perusahaan mereka yang keempat puluh yang kabarnya akan dirayakan secara besar-besaran pada bulan Maret nanti. Perusahaan keluarga ini telah lama bergerak di bidang retail yang telah membuka seratus lima puluh gerai yang tersebar di tujuh puluh kota yang ada di Indonesia. Mereka bahkan sudah merambah pasar online sebagai perusahaan retail pertama yang meresmikan e-commerce di Indonesia.”
“Dari sumber yang bisa dipercaya, pada acara tersebut akan ditunjuk direktur utama yang baru untuk menggantikan Adhyana Perkasa. Putranya, Mahendra Perkasa, menjadi kandidat kuat, namun skandal dalam rumah tangganya membuat para pemegang saham mempertanyakan kembali pantas tidaknya dia menjadi pemimpin. Apalagi dari sumber yang terpercaya juga, Hadiyan Perkasa disebut-sebut bukanlah putra kandung Mahendra.”
Remote televisi yang aku pegang jatuh dari tanganku. Lantai yang aku injak serasa bergoyang. Aku tidak lagi mendengarkan kelanjutan berita tersebut. Siapa? Siapa yang dia sebut sebagai sumber yang bisa dipercaya itu? Siapa yang berani mengatakan di depan semua orang bahwa Hadi bukanlah putra kandung Hendra?
__ADS_1