
Tidak ingin anak-anak juga ikut khawatir, aku mengajak mereka untuk makan malam lebih dahulu. Aku hanya mengatakan bahwa Papa mereka tiba-tiba baru ingat ada janji makan malam dengan temannya. Mereka tidak bertanya lebih lanjut.
Selesai makan, kami duduk bersama di ruang menonton. Aku berulang kali melihat ke arah ponselku. Dia pasti akan menghubungi aku begitu melihat ada panggilan tidak terjawab dariku. Hendra tidak pernah begini sebelumnya. Dia selalu memberitahu aku bila ada perubahan rencana.
Ya, Tuhan. Aku hanya bisa berharap semoga dia baik-baik saja. Semoga dia dan Kafin tidak sadar bahwa ponsel mereka sedang dalam profil diam sehingga tidak mendengar ada panggilan masuk. Semoga saja mereka hanya sedang terjebak kemacetan.
Aku menunggu di ruang keluarga setelah anak-anak tidur. Aku hanya menatap ponsel yang aku letakkan di atas meja di hadapanku. Bila Hadi dan Dira tidak merasakan ada yang aneh, maka berbeda dengan Ara. Dia mengeluh pelan di kakiku ikut khawatir bersamaku.
Dia pasti merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin sekali menangis. Aku benci dalam keadaan tidak berdaya begini. Aku tidak bisa keluar dari rumah dan mencari suamiku. Aku bahkan tidak tahu harus mencarinya ke mana.
Abdi, Liando, Yuyun, Fahri, Sakti, dan pekerja rumahku yang lainnya pasti sedang berkumpul di ruang belakang. Kafin belum juga ada kabarnya, mereka pasti menunggu dengan rasa khawatir sama seperti aku. Liando dan Sakti ingin keluar rumah dan pergi mencari mereka, tetapi aku melarang.
Fahri yang akhirnya mengusulkan agar menelepon semua rumah sakit untuk mencari tahu apa ada korban kecelakaan yang baru masuk ke UGD. Beberapa rumah sakit menjawab ada, tetapi ciri-cirinya tidak sama dengan suamiku.
Aku melompat terkejut saat pintu ruangan diketuk. Abdi masuk dan bergegas mendekati aku. Dia memberikan ponselnya kepadaku. “Telepon dari Kafin, Nyonya,” katanya. Syukurlah!
“Ha-halo, Kafin. Kalian ada di mana? Apa kalian baik-baik saja?” Jantungku berdebar begitu kencang sehingga dadaku terasa sesak.
“Maafkan saya, Nyonya. Tolong, maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu dari mana mobil itu datang. Tiba-tiba saja dia muncul dan saya harus menghindari tabrakan. Maafkan saya, Nyonya,” ucapnya yang menangis tersedu-sedu.
“A-apa? Bicara pelan-pelan, Kafin. Aku tidak akan menyalahkan kamu. Aku hanya ingin tahu, ap-apa kamu baik saja? Apa suamiku baik-baik saja?” tanyaku ketakutan.
“Tu-tuan Besar … Tuan Besar terluka parah, Nyonya. Mereka sedang mengoperasinya. Ma-maafkan saya. Saya tidak tahu harus melakukan apa, jadi saya menghubungi dokter keluarga Anda untuk mengambil keputusan,” jawabnya.
__ADS_1
“Aku segera ke sana.” Aku memberikan ponsel itu kepada Abdi. “Minta Liando segera mengeluarkan mobil. Aku akan mengambil tas di kamar.”
“Ba-baik, Nyonya,” jawabnya yang segera membukakan pintu untukku. Aku melesat ke tangga menuju kamarku, kemudian mengisi dompet dengan beberapa hal penting yang akan aku butuhkan.
Saat aku tiba di lantai bawah, semua pekerja rumahku sudah berdiri di dekat pintu. Aku mendekati Yuyun. “Tolong, jaga anak-anak. Segera hubungi aku jika mereka membutuhkan sesuatu. Lalu masukkan beberapa baju ke dalam sebuah tas, dan Sakti, bawa tas itu ke rumah sakit besok bersama Yuyun dan anak-anak. Fahri, siapkan bekal untuk kami besok, ya.”
“Baik, Nyonya. Jangan khawatirkan apa pun. Kami akan mengurus semuanya dengan baik. Anda harus pergi sekarang,” desak Fahri. Aku mengangguk.
“Maafkan aku, Ara. Aku tidak bisa membawamu. Kamu jaga Hadi dan Dira dengan baik selama aku tidak di rumah, oke?” Aku mengusap-usap kepala anjing setiaku itu. Dia mengeluarkan suara yang terdengar sedih. Tetap saja aku tidak bisa membawanya.
Selama dalam perjalanan, aku menelepon papa Hendra. Dia harus tahu apa yang terjadi kepada putranya. Bila aku menunggu sampai besok, mereka akan marah kepadaku. Mama pasti akan semakin membenci aku jika tidak mengabari hal ini segera.
Berikutnya, aku menghubungi Zach. Aku membutuhkan dia untuk melakukan sesuatu bila polisi menanyai Kafin atau Hendra saat dia sadar nanti. Kemudian aku menghubungi Papa agar mereka juga tahu apa yang sedang terjadi.
Kafin menyambut aku di pintu masuk rumah sakit. Aku terenyuh melihat kedua tangannya ditutupi perban, begitu juga dengan kepalanya. Melihat dia bisa berjalan dan hanya tubuh bagian atas yang terluka, aku sangat berharap hal yang sama juga terjadi kepada suamiku. Semoga saja lukanya tidak parah. Tetapi tentu saja harapanku itu tidak terjadi.
“Tuan Besar mengalami pendarahan hebat pada kepalanya, Nyonya. Mereka berusaha untuk mencari penyebabnya dan menghentikannya. Maafkan saya, Nyonya. Tolong, maafkan saya.” Kafin kembali terisak-isak. Ya, Tuhan. Semoga saja Hendra akan selamat.
“Apa yang terjadi? Lukamu masih bisa ditangani, mengapa Hendra sampai harus dioperasi?” tanyaku tidak mengerti.
“Karena menghindari mobil yang mendadak datang dari arah kanan, saya membanting setir ke kiri, Nyonya. Saya tidak memerhatikan ada truk yang datang karena panik. Tuan yang duduk di sebelah kiri belakang mengalami luka parah karena itu adalah bagian yang ditabrak oleh truk,” katanya menjelaskan. Kakiku tiba-tiba lemas. “Nyonya!”
“Ti-tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa.” Aku berusaha untuk berdiri dengan tegak. Kafin melepaskan tanganku. Mataku memanas, tidak bisa membayangkan luka yang dialami oleh Hendra. Pendarahan hebat di kepala, apakah dia akan selamat?
__ADS_1
Oh, Tuhan. Tidak. Tidak boleh terjadi. Jangan ambil suamiku secepat ini. Kami bahkan belum satu tahun kembali bersama. Ini kejam sekali. Ketika keadaan sedang baik-baik saja, mengapa kecelakaan ini bisa terjadi? Dia harus berjuang untukku. Hendra tidak boleh mati.
Kafin dan Liando mengajakku untuk duduk pada kursi yang tersedia di ruang tunggu. Kami sama-sama mengucapkan doa di dalam hati kami masing-masing. Mengharapkan Tuhan memberikan keajaiban kepada suamiku.
“Kafin!” Orang pertama yang datang adalah istri sopir suamiku. Wanita itu segera menangis dalam pelukan suaminya. Aku hanya bisa melihat mereka.
“Ibu Mahendra, tolong, jangan penjarakan suami saya. Kecelakaan ini tidak disengaja,” ucap wanita itu dengan suara lirih.
Aku sebenarnya tidak punya tenaga untuk bicara, tetapi aku tidak bisa membiarkan dia berpikir yang tidak-tidak. “Tidak akan terjadi apa pun kepada Kafin. Aku tahu bahwa ini bukan kesalahannya. Kamu jangan khawatir, ya.”
“Terima kasih, Nyonya. Terima kasih,” katanya sambil menjabat tanganku.
Papa datang kemudian bersama Mama. Wajah Mama sudah basah dengan air mata dan dia tidak berhenti menangis. Papa juga terlihat sangat sedih, tetapi dia mampu mengendalikan emosinya. Aku membiarkan Kafin yang menjelaskan keadaannya kepada mereka. Mama kemudian histeris sehingga Papa harus membawanya menjauh dari pintu ruang operasi.
Orang tuaku datang bersama Zach dan Rasmi. Sepertinya Papa meminta Zach menjemput mereka lebih dahulu agar berangkat bersama ke rumah sakit. Aku sekali lagi membiarkan Kafin yang menjelaskan segalanya kepada mereka.
“Mengapa kamu datang?” tanyaku kepada Rasmi. “Seharusnya kamu beristirahat saja di rumah. Kamu sedang hamil, Rasmi.”
“Aku tidak akan tenang berada di rumah, Kak. Jangan khawatirkan Zeph. Aku sudah meminta adikku untuk menjaganya sementara aku berada di sini,” katanya dengan nada sedih. “Aku tidak bisa membiarkan Kakak menghadapi ini sendiri.”
“Terima kasih.” Dan aku tidak lagi menahan tangisku. Aku menangis dalam pelukannya. “Dia akan baik-baik saja, ‘kan? Hendra akan baik-baik saja dan operasinya berhasil, ‘kan?” Semua orang hanya diam, tidak ada yang memberikan jawaban. Berbohong pun tidak apa-apa, tetapi mereka lebih memilih untuk menundukkan kepala mereka.
Keadaan pagi tadi sangat membahagiakan kami. Aku dan Hendra akhirnya bercinta lagi, dan kami memanfaatkan setiap detiknya dengan baik. Kami bahkan tidak bisa melepaskan satu sama lain. Bagaimana bisa pada hari yang sama, hal buruk menimpa kami?
__ADS_1