Hati Yang Tak Tersentuh

Hati Yang Tak Tersentuh
Bab 96 - Kita Sudah Bercerai


__ADS_3

“Dasar tidak kreatif. Bisanya hanya mengulang kalimat yang sudah aku ucapkan.” Aku mendengus pelan mengejeknya.


“Kamu seorang penulis, bukankah kamu sudah terbiasa melihat kalimatmu dijadikan kutipan?” katanya tidak mau kalah.


“Jadi, apa rencana kita besok?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.


“Kita akan pergi setelah sarapan. Jadi, pastikan Liando sudah mengantar bukunya sebelum kita berangkat. Kalau ada pakaian yang tidak ingin kamu bawa, segera berkemas ulang karena aku tidak tahu apakah Yuyun memasukkan semua baju yang kamu inginkan.”


“Setelah sarapan? Aku bahkan tidak punya cukup waktu untuk memandikan anak-anak. Bagaimana kalau kita berangkat sekitar jam sepuluh pagi?” tanyaku mencoba menawar. Dia menggeleng.


“Cukup urus Dira, biar aku yang membantu Hadi bersiap-siap.” Tentu saja dia akan menolak. “Aku ingin kita tiba di sana sebelum jam makan siang.”


“Kita akan ke mana?” tanyaku ingin tahu.


“Rahasia.”


“Lalu bagaimana aku tahu baju mana yang cocok untuk aku bawa jika kamu tidak memberitahuku lokasinya? Pantai? Hutan?” Aku harus meminta Liando untuk membawa piyamaku juga. Aku tidak nyaman mengenakan gaun tidurku saat bersamanya. Semua gaun itu terlalu menggoda.


“Tempat yang dingin pada malam hari,” jawabnya hanya memberiku sedikit petunjuk. “Jangan tanya lagi karena aku tidak akan memberitahumu.”


“Seharusnya kamu pergi sendiri saja bersama anak-anak. Aku mau tahu apa kamu bisa sehari saja bersama mereka.” Aku memasukkan sepotong keripik ke mulut dan mengunyahnya dengan cepat.


“Kamu merasa menang sekarang karena mereka dekat denganmu dan tidak mau berada di dekatku? Kita lihat saja nanti setelah mereka akrab denganku. Aku akan membiarkan kamu berurusan dengan mereka yang tidak mau berpisah dariku,” tantangnya.


Aku mendengus pelan. “Percaya diri sekali kamu. Aku tidak yakin mereka akan dekat denganmu hanya dalam satu atau dua hari saja.”


“Kita akan bersama selama satu minggu penuh, Za. Bukan satu apalagi dua hari.” Dia tersenyum penuh kemenangan.


“Tidak,” kataku pelan. Aku menatapnya tidak percaya. Bagaimana aku bisa menahan godaan berbentuk pria ini selama satu minggu, ya, Tuhan? Ujian apa ini? “Hadi sudah sekolah dan dia belum libur. Aku tidak bisa membiarkan dia tidak belajar selama lima hari berturut-turut.”

__ADS_1


“Aku percayakan kepadamu untuk meminta izin gurunya. Yang pasti, kita akan pergi besok setelah sarapan dan akan kembali pada hari Minggu depan,” katanya dengan nada tidak boleh dibantah.


Kalimat itu membuatku diam. Aku ingin membantahnya tetapi hari sudah malam dan anak-anak sedang tidur. Aku tidak ingin melalui malam yang panjang karena berusaha untuk menidurkan mereka kembali. Lagi pula Hadi masih TK, dia tidak akan ketinggalan apa pun di sekolahnya. Yang aku takutkan adalah runtuhnya benteng pertahananku.


Dia menegakkan duduknya, aku melihat ke arah kaki kami. Sejak kapan aku duduk dekat sekali dengannya? Paha dan lengan kami bersentuhan. Apa dia yang pelan-pelan duduk mendekat ke arahku? Oh. Aku yang melakukannya tadi karena dia mendadak menyebut tentang hantu. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa aku sebaiknya menjauh saja, berpindah ke posisiku tadi?


“Ada film lain yang ingin kamu tonton?” tanya Hendra. Aku menoleh ke arahnya dengan bingung. “Filmnya sudah habis. Kamu mau menonton yang lain?”


“Oh.” Aku melihat ke layar televisi. Saluran itu sedang menayangkan closing credit dari film yang baru saja selesai. “Ah, sudah larut. Aku harus bangun pagi besok untuk bersiap-siap.”


“Kamu melamun, ya? Kamu yang memilih film ini, kamu juga yang tidak memerhatikannya. Apa yang kamu pikirkan dari tadi?” Dia menatapku penuh arti. Aku segera berdiri.


“Aku akan ke kamar sekarang.” Aku mengambil gelasku yang sudah kosong, lalu berjalan ke konter dapur. Setelah meletakkan gelas di wastafel dan membuang kantong keripik yang kosong ke tempat sampah, aku berjalan ke kamar.


Hendra mengikutiku ke kamar, bahkan sampai ke kamar mandi. “Apa yang kamu lakukan?”


“Aku harus menyikat gigiku. Semua barang pribadiku ada di sini.” Dia mengambil sikat giginya dan pasta. Aku ingin mengatakan agar dia memindahkan semua keperluan mandinya ke kamar mandi di luar, tetapi itu tidak sopan. Ini adalah apartemennya, kamar tidurnya, aku yang menumpang di sini. Jadi, aku menyikat gigiku secepat mungkin.


Aku mengeluarkan semua pakaian yang tidak aku butuhkan dan hanya membawa pakaian yang praktis. Celana dan kaus lebih mudah dikenakan ke mana pun daripada dress. Teringat dengan ucapanku semalam, aku menelepon Liando dan memintanya membawa satu buku terbaruku, sepatu kets, dan beberapa piyamaku ke apartemen Hendra.


Sayup-sayup terdengar suara tertawa dan pekikan bahagia anak-anak di luar ruangan. Tidak biasanya Hadi dan Dira tidak mencariku setelah mereka bangun tidur. Aku keluar dari kamar dan melihat pemandangan yang tidak aku duga-duga.


Hadi dan Dira sudah mengenakan pakaian olahraga juga sepatu kets mereka. Apa Hendra yang membantu mereka berganti pakaian? Dan yang paling mengherankan, mereka tertawa bersama Hendra. Sudah tidak ada lagi jarak di antara mereka.


Tetapi mendengar mereka menyebut-nyebut nama Ara diikuti dengan salakan anak anjing, darahku mendidih. Sekarang anak-anakku pun berani memanggil namaku. Aku melihat ke arah Hendra yang sedang tertawa bahagia sambil memegang tubuh Dira. Mereka bermain bersama anjing itu.


“Kalian dari mana?” tanyaku berusaha mengalihkan rasa kesalku.


“Mama!” ucap Hadi dan Dira serentak. Mereka baru menyadari kehadiranku setelah aku bicara? Hebat sekali pesona anak anjing itu.

__ADS_1


“Kami baru joging di taman bersama Papa dan Ara, Ma,” jawab Hadi. Aku mengernyitkan kening mendengar dia menyebut namaku. Aku menoleh ke arah Hendra yang hanya mengulum senyum. “Ada banyak anjing jenis lain, Ma. Aku juga dapat teman baru yang punya anjing besaaar sekali. Namanya Colin. Warna rambutnya cokelat dan matanya biru, Ma. Keren sekali!”


“Kalian joging bersama Papa?” tanyaku tidak percaya. Dira sibuk sendiri dengan anak anjing yang berputar-putar mengelilinginya sambil mengendus tubuhnya.


“Iya, Ma. Tamannya bagus. Ada banyak permainan. Ini lihat, bajuku basah karena berkeringat.” Bunyi bel memotong kalimatnya. Dia segera berlari menuju pintu. “Itu pasti Pak Liando.” Hendra menyebut barisan nomor kepadaku.


“Tolong, bukakan pintu. Aku masih memegang putriku,” katanya. Aku mengangguk.


Dugaan Hadi benar. Yang datang adalah Liando. Hendra memintanya meletakkan semua barang yang dia bawa ke konter dapur. Aku tersenyum senang melihat dia juga membawakan sarapan untuk kami. Aku akan sangat merindukan masakan Fahri selama seminggu ke depan. Hendra mengajaknya untuk sarapan bersama kami, tetapi seperti biasa, dia menolak.


Setelah Liando pergi, aku menuju konter dapur dan membuka semua kotak bekal berisi makanan. Hendra yang sedang menggendong Dira mendekatiku dan membuat kopi menggunakan alat pembuat kopi automatis. Aku membuat cokelat hangat untuk anak-anak.


“Hadi, duduk, Nak. Kita harus segera sarapan. Kamu pasti sudah lapar.” Aku mengangkat dua piring dan meletakkannya ke atas meja makan. Lalu aku mengangkat dua piring lagi, untukku dan Dira.


“Kata Papa kita akan pergi ke tempat yang menyenangkan, Ma. Ada banyak kejutan di sana. Kita juga akan bertualang. Aku sudah tidak sabar lagi.” Hadi mengunyah telur dadar sambil tersenyum.


“Bicaranya nanti saja, sayang. Habiskan dahulu sarapanmu.” Aku duduk di sisi kiri Hadi. Hendra meletakkan Dira di tempat duduk khusus bayi di sisi kiriku, lalu dia duduk di hadapanku. Aku meletakkan piring plastik berisi sarapan untuk Dira di atas meja kecilnya.


“Setelah sarapan, aku dan Hadi akan mandi, kamu mandilah bersama Dira. Aku akan menggunakan kamar mandi luar. Aku sudah mengurangi beberapa pakaian Hadi, jadi kamu tinggal mengurus pakaian Dira. Apakah kita membutuhkan popok bayi?” kata Hendra setelah beberapa saat kami hanya diam saja menikmati sarapan kami.


“Tidak. Dira tidak menyukainya dan dia sudah bisa mengatakan kapan saatnya ke toilet,” kataku dengan nada bangga.


“Itu baru putriku.” Hendra membelai pipi montok Dira.


“Putrimu? Kamu bahkan tidak ada saat dia melakukan toilet training. Setelah dia berhasil dengan baik, kamu memujinya seolah-olah kamu turut andil dalam keberhasilannya?” protesku. Hendra mengerutkan keningnya.


“Aku tidak membanggakan diriku sendiri. Aku bangga kepada putriku. Apa salahnya dengan kata itu? Dira memang putriku, bukan orang lain,” katanya bingung.


“Oh, begitu. Jadi kalau dia membuatmu bangga, maka dia adalah putri papa, sedangkan saat dia membuatmu kesal, dia adalah putri mama. Begitu maksudmu?”

__ADS_1


“Ada apa ini? Aku sama sekali tidak bermaksud begitu? Apa kamu akan datang bulan? Kamu sedang PMS?” Dia melihat ke bagian bawah tubuhku yang syukurnya ditutupi meja.


“Apa hubungannya PMS dengan semua ini?” Suara tawa mengalihkan perhatianku. Kami serentak melihat ke arah Dira. Dia memandangku dan papanya secara bergantian sambil tertawa bahagia. “Tidak salah lagi. Dia tertawa melihat kita berdebat.”


__ADS_2