
“Nyonya,” kata Kafin yang ternyata sudah membukakan pintu untukku, “sebaiknya Anda duduk di depan bersama saya. Biar mereka yang duduk di sini.”
“Ah, iya. Baik.” Pintu tetap dalam keadaan terbuka untuk memudahkan Aldo dan anak-anaknya masuk. Aku berpindah duduk di jok depan.
Setibanya di rumah sakit, Aldo mengucapkan terima kasih dan keluar dari mobil bersama anak-anaknya. Kafin ikut keluar. Dia memutar dan menolongku untuk kembali duduk di jok belakang. Beberapa orang suster menyambut kedatangan Aldo. Dia memberikan anak keduanya kepada mereka. Anak pertama dan bungsunya menangis mengikutinya dari belakang.
“Kafin, kamu parkirkan mobil. Aku akan antar anak-anak itu ke papa mereka,” kataku sambil memberikan tas sandangku kepadanya.
“Biar saya saja yang melakukannya, Nyonya. Tuan bisa marah besar jika Tuan sampai tahu bahwa Anda sedang bersama laki-laki lain,” ucap Kafin dengan nada khawatir. Semua orang tahu betapa ketatnya Hendra dalam menjagaku. Tetapi aku tidak bisa diam saja melihat kedua anak itu telantar.
“Mobil ini akan menghalangi kendaraan lain atau ambulans yang datang membawa pasien gawat darurat. Kamu tahu aku tidak bisa menyetir. Pergilah, aku hanya sebentar.” Aku mendekati kedua anak tersebut dan menggandeng tangan mereka. Melihat mereka tidak menolakku, mungkin mereka sudah mengenalku saat kami bersama di dalam mobil tadi.
Ya, Tuhan. Mereka masih kecil sekali. Apa yang bisa dilakukan anak berusia lima tahun menjaga kedua adiknya seorang diri? Mengapa mereka tidak dititipkan ke salah satu kenalannya saja? Aku yakin rekan kerjanya juga memiliki istri yang mungkin mau menjaga anak-anaknya sebentar.
Mereka masih menangis saat aku bertanya kepada seorang suster jaga mengenai anak kecil yang baru dibawa masuk ke ruangan. Dia menunjuk ke arah koridor di mana terdapat tulisan UGD. Aku berterima kasih kemudian membawa kedua anak itu ke sana. Ruangan itu tidak ramai, jadi aku tidak kesulitan menemukan Aldo dan putranya.
__ADS_1
Anak laki-laki itu menangis dan melihat dari kondisi tangannya yang sedang diperiksa oleh dokter, sepertinya dia tidak sengaja mematahkan pergelangan tangannya itu. Aku memanggil Aldo dan memberikan kedua anaknya kepadanya.
“Terima kasih, Ara. Maaf, aku sudah merepotkanmu.” Dia menggendong anak bungsunya dan menggandeng tangan anak perempuannya.
“Aku pulang.” Aku membalikkan badanku.
Kejadian itu segera aku lupakan. Aku tidak mau membebani pikiranku sendiri dengan masalah orang lain. Lagi pula aku tidak merasakan apa pun setelah bertemu lagi dengan Aldo. Aku tidak berdebar-debar atau merindukannya seperti yang selama ini aku bayangkan. Apakah itu artinya aku telah berhasil mengeluarkan dia dari pikiranku pada malam Hendra mengetahui rahasiaku?
Lalu jika bukan dia lagi yang mengisi hatiku, siapa yang berada di dalam sana? Aku tidak mencintai suamiku sama sekali. Aku bahkan tidak merasakan apa pun kepadanya selain ingin lari dan pergi jauh. Tidak. Ada satu perasaan lagi yang aku rasakan. Aku kasihan kepadanya, juga takut. Dia memegang kendali atas hidupku sepenuhnya sekarang.
Sudah lama tidak melihat keadaan Mama, aku menginap di rumah mereka. Aku sudah sengaja meminta mereka untuk tidak menyiapkan apa pun karena aku yang akan membawakan makanan. Kafin melarangku membantunya untuk menurunkan beberapa tas berisi makanan dan buah, tetapi dia tidak menolak bantuan dari Papa.
Sebelum aku masuk kamar, Hendra menyempatkan diri untuk melakukan panggilan telepon agar kami bisa berbincang bersama. Aku hanya menatap penuh protes ke arah Zach yang masih saja suka menggodaku sepuasnya. Tetapi kali ini suamiku membela tanpa aku minta.
“Kamu yakin kamu akan baik-baik saja?” tanya Hendra saat aku sudah berbaring di tempat tidur.
__ADS_1
“Sikap kamu ini akan membuka rahasia kamu sendiri kepada keluarga kita.” Aku tertawa kecil. “Aku akan baik-baik saja. Aku sudah menyediakan air minum dan makanan kecil di atas nakas. Jadi kalau aku lapar pada tengah malam, aku bisa mengisi perutku.”
“Hubungi aku jika kamu terbangun nanti.” Aku menurutinya. “Tidurlah. Aku akan temani kamu sampai tertidur. Aku masih punya waktu dua jam sebelum jam temu berikutnya dengan Xavier dan Annora.” Aku mengangguk, lalu meletakkan ponselku pada penyangganya yang ada di atas nakas. Aku dan Hendra masih bisa saling berbicara sampai aku terlelap.
Bangun pada keesokan harinya, aku tidak mengalami insiden apa pun berkat makanan yang tersedia di kamar. Rasa mual bisa segera diobati sehingga aku tidak perlu ke kamar mandi dan mengeluarkan isi perutku. Mama sudah pasti akan curiga bahwa aku sedang hamil. Aku lebih beruntung di rumah mertuaku karena ada kamar mandi di dalam kamar tidur.
Kafin sudah datang dan dia sedang duduk menikmati sarapannya. Aku yakin pasti Mama yang memaksanya untuk masuk ke rumah saat dia memarkirkan mobil di depan. Tas berisi tempat membawa makanan kemarin sudah terletak rapi di dekat pintu.
“Kamu bisa menginap di sini satu atau dua malam lagi, Ra. Daripada hanya sendirian di rumah,” kata Mama dengan nada khawatir. Dia menambahkan jus jeruk pada gelasku.
“Aku tidak sendirian, Ma. Ada Kafin dan pekerja lainnya di rumah. Mama, ‘kan, tahu sendiri bahwa ibu mertuaku sangat pencemburu. Aku hanya menginap satu malam di rumah mereka. Jika aku menginap lebih lama di rumah Mama, maka mereka akan protes. Aku punya proyek tulisan baru yang harus segera aku publikasikan. Pembaca sudah meminta kelanjutan ceritanya,” ucapku pelan.
“Baiklah. Jangan segan menelepon kami bila kamu membutuhkan apa pun.” Mama menyentuh tanganku yang ada di atas meja. Aku mengangguk patuh.
Aku merasa sangat lega ketika bisa berada di ruangan khususku lagi. Kata demi kata yang ada di dalam kepalaku aku ketik menggunakan laptop. Sampai akhirnya tanpa aku sadari beberapa bab telah selesai aku tulis. Aku berhenti karena ide berikutnya belum aku dapatkan.
__ADS_1
Kesempatan itu aku gunakan untuk mengedit bab yang baru saja aku selesaikan. Beberapa kata yang penggunaannya berulang, aku ganti dengan sinonimnya. Info yang kurang akurat segera aku cari lewat internet dan bertanya kepada ketiga sahabatku yang selalu punya kenalan yang bekerja di berbagai bidang. Mereka tidak pernah bertanya aku membutuhkannya untuk apa.
Saat memeriksa surel yang aku gunakan untuk mendaftarkan blogku, ada beberapa surel masuk dari orang yang namanya tidak aku kenal. Aku membuka surel paling lama dan membaca isinya. Sendok berisi potongan kue hampir lepas dari tanganku ketika membaca posisi dan nama perusahaan dari pengirim surel tersebut.